My Fellas!

Now it's time to have healthy snack and fresh premium milk tea. My Fellas will be your next best friend. Check the products out!

Cat Valentine's Anti-Gambling Poem

It's one of my favorite scenes from all Sam and Cat episodes. This one is taken from episode #ToddlerClimbing. I wish you guys would stop gambling and.. stop laughing at the poem as well!

Short-stories by Klaus

Check some short stories written by me!

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label music. Show all posts
Showing posts with label music. Show all posts

Thursday, December 31, 2015

Klappermelk met Suiker

Semenjak memiliki laptop baru, saya belum sempat memindahkan semua data di komputer lama saya. Maklum lah, sekalinya menyalakan laptop biasanya saya langsung berkutat dengan skripsi atau kerjaan. Lagipula, data saya di komputer lama ada banyak dan saya agak malas untuk menunggu proses pemindahan data. Walhasil, saya harus cukup puas dengan koleksi lagu yang seadanya di laptop baru. 

Tapi saya bukan mau bercerita tentang laptop baru saya. 

Berhubung perpustakaan lagu di laptop saya belum lengkap, saya mulai melengkapinya dengan mengunduh atau membeli lagu-lagu. Salah satu koleksi yang saya unduh adalah koleksi lagu-lagu Belanda lawas yang dinyanyikan oleh Wieteke van Dort, seorang aktris, komedian, dan penyanyi Belanda yang dilahirkan di Indonesia. Wieteke van Dort sebelumnya tinggal di Indonesia, tapi terpaksa kembali ke kampung halamannya, Belanda, saat perjuangan bangsa Indonesia membuahkan hasil dan berbagai aset Belanda yang ada di Indonesia berhasil jatuh ke tangan bangsa Indonesia, termasuk rumah milik keluarga Wieteke van Dort saat itu. 

Di Belanda sendiri, Wieteke van Dort pernah menjadi host sebuah acara televisi yang cukup terkenal di tahun 1960-an, The Late Late Lien Show. Dalam acara itu, Wieteke van Dort berperan menjadi karakter tante Lien, seorang Indo (keturunan Belanda-Indonesia) yang sering mengadakan koempoelan dengan teman-temannya di rumahnya.


Bicara tentang acaranya, saya kagum dengan konsep acara tersebut dan cara Wieteke (mulai sekarang, saya akan memanggilnya tante Lien saja) membawakan acara. Dengan logat Indo yang kentara, reality show ini dibawakan dalam konsep koempoelan, sehingga penonton yang datang ke studio ikut 'berdrama' menjadi tamu koempoelan tante Lien. Rumah tante Lien cukup besar, dengan ruang kumpul yang dilengkapi kursi ottoman besar dengan pohon palem di tengahnya, area yang cukup luas untuk band keroncong, taman belakang yang terkadang digunakan untuk bintang tamu yang tampil, dan, tentu saja, kursi rotan milik tante Lien. Tante Lien tidak sendirian dalam membawakan acara ini. Ia ditemani oleh tante Toeti, kakaknya, dan The Sate Babi Boys, band keroncong yang setia mengiringi tante Lien saat ia mulai bernyanyi.


Saat The Kilima Hawaiians menjadi bintang tamu di episode 's Avonds bij candlelight

Setelah ngubek-ngubek Google dan iTunes, akhirnya saya menemukan album kumpulan lagu-lagu yang dibawakan oleh tante Lien. Dalam album 25 Jaar  Als Tante Lien, ada 36 lagu-lagu lawas yang dibawakan oleh tante Lien alias Wieteke van Dort. Beberapa lagu dibawakan dalam bahasa Belanda, tapi ada juga lagu-lagu yang dibawakan dalam bahasa Indo-Melayu. Selain itu, ada beberapa lagu yang dibawakan secara dwi-bahasa.



Di antara lagu-lagu tersebut, ada beberapa lagu yang menjadi kesukaan saya. Sebut saja lagu Boelang Pake Pajong yang ternyata cukup terkenal di Manado. Lagu Hallo Bandoeng merupakan piano ballad melankolis yang menceritakan tentang percakapan seorang ibu tua dan anaknya di Indonesia melalui telepon. Terang Boelan juga merupakan salah satu lagu kesukaan saya. Selain itu, ada satu lagu yang menarik perhatian saya. Berjudul Klappermelk met Suiker, awalnya saya kira lagu ini menceritakan tentang proses memasak kue. Namun saat saya membaca liriknya dan mencoba menerjemahkannya (thanks to Google translate, meskipun hasil terjemahannya agak aneh), saya jadi tertawa sendiri karena ternyata lagu ini bukan menceritakan tentang apa yang saya bayangkan. Terlebih lagi setelah mengingat aransemen musiknya yang ringan dan santai, saya bisa memahami titik lucu dari lagu ini.  


Op Ambon woont een meisje waar iedereen van zingt
Omdat ze heel erg mooi is en ook om wat ze drinkt
Reeds toen ze nog geen drie was en mama vroeg aan haar
"Wat wil jij nu eens drinken?", had zij haar antwoord klaar

Ik wil klappermelk met suiker
Want iets anders lust ik niet
Ik wil klappermelk met suiker
Want iets anders lust ik niet
Ik wil geen appelsap of limonade
Thee en koffie laat ik staan
En chocolademelk of orangeade
Smaken mij als levertraan
Ik wil klappermelk met suiker
Want iets anders lust ik niet

En dat is zo gebleven. Ze is nu achttien jaar
Een jongen is gekomen en hij houdt veel van haar
Maar als hij met haar uitgaat, is hij niet erg content
Steeds als hij om een kus vraagt, zegt zij op dat moment


Dari hasil penerjemahan dan interpretasi, lagu ini menceritakan tentang seorang anak perempuan di Ambon yang--katanya--sangat cantik. Saat itu ibunya bertanya kepada anak itu, "Mau minum apa?" Sang anak pun menjawab bahwa dia ingin minum klappermelk (santan) yang dicampur dengan gula, karena si anak tidak menyukai minuman yang lain. Ditawari jus apel, jus limau, kopi, teh, cokelat, dan jus jeruk, si anak tetap tidak mau (bahkan katanya jus jeruk itu rasanya seperti minyak hati ikan kod). Si anak hanya ingin minum santan yang dicampur dengan gula. Saat si anak perempuan tersebut beranjak dewasa, si anak bertemu dengan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki tersebut jatuh cinta pada si anak perempuan, namun sering merasa tidak puas atau gregetan setiap kali si anak laki-laki mengajak di anak perempuan kencan. Pasalnya, setiap kali diajak berciuman, si anak perempuan selalu menolak dan menjawab "Ik wil klappermelk met suiker." Dengan kata lain, si anak perempuan itu tidak mau ciuman; dia hanya mau minuman santan yang dicampur dengan gula. 

Sejujurnya, saya tidak paham apakah benar klappermelk di lagu itu mengacu pada santan. Setahu saya, yang biasa dijadikan minuman adalah sari kelapa (ditambah gula jika memang mau). Tapi, terlepas dari apakah yang diminum oleh anak perempuan di lagu itu adalah santan atau sari kelapa, lagu ini merupakan lagu lawas yang menyenangkan. Kalau saya pulang ke rumah oma saya, sepertinya saya akan senang mendengarkan lagu ini sambil menemani oma saya memasak. Ada semacam hawa nostalgia tersendiri saat mendengarkan lagu ini. 

Jadi, ada yang mau klappertaart?

Thursday, December 17, 2015

Mendengarkan 'Sore' di Sore Hari

Sepertinya saya cukup 'terlambat' untuk menjadi penikmati musik-musik karya band yang satu ini. Meskipun terbilang terlambat, saya sebetulnya dari dulu sudah pernah mendengar salah satu karyanya. Bagi yang pernah melihat iklan Coca Cola edisi Live Positively, kemungkinan pernah mendengar musiknya yang mengiringi alur cerita iklan tersebut. Kalau misalnya lupa-lupa ingat, mungkin bisa menonton video ini terlebih dulu: 


Sore adalah band indie asal Indonesia yang terbentuk pada tahun 2002. Band beranggotakan empat orang ini sepertinya cukup banyak dikenal oleh penggemar film Indonesia karena karya-karya mereka yang banyak menghiasi beberapa film seperti Berbagi Suami, Kala, dan film psychological thriller kesukaan saya, Pintu Terlarang. Di beberapa situs, nama Sore biasanya muncul dalam artikel-artikel tentang musik indie Indonesia, atau sebagai recommended artists yang muncul setelah Payung Teduh, Pure Saturday, atau Banda Neira. 

Beberapa bulan yang lalu, saya sedang cukup gencar mengunduh beberapa album khusus musik indie Indonesia. Salah satu yang masuk dalam daftar unduhan saya adalah Sore. Berhubung sudah jarang ke toko musik, akhirnya iTunes menjadi tujuan saya untuk mendapatkan album-album tersebut. Salah satu album yang saya unduh adalah Sorealist, album kompilasi Sore yang menghadirkan beberapa lagu dari album-album mereka sebelumnya, dan juga tiga buah lagu baru dan beberapa lagu yang menjadi soundtrack beberapa film. 


Sorealist berisikan 13 buah lagu; tiga di antaranya adalah lagu baru. Dirilis pada tahun 2013, album ini menghadirkan kembali beberapa lagu dari album Centralismo, Ports of Lima, serta lagu-lagu yang menjadi soundtrack film seperti Kala, Berbagi Suami, Janji Joni, dan Pintu Terlarang. Kalau penasaran dengan tracklist-nya, silahkan dilihat daftarnya di bawah ini: 
  1. Musim Ujan*
  2. Sssst...*
  3. Bantal Keras*
  4. Somos Libres
  5. No Fruits for Today
  6. Mata Berdebu
  7. Karolina
  8. Funk the Hole
  9. Nancy Bird
  10. Merintih Perih
  11. Setengah Lima
  12. Ada Musik di Dalam
  13. Pergi Tanpa Pesan
* lagu baru

Dalam album ini, secara umum Sore membawakan lagu-lagu bergenre pop, jazz, dan alternative. Di antara lagu-lagu tersebut, ada beberapa lagu yang jadi favorit saya. Sebut saja lagu No Fruits for Today yang diambil dari album Centralismo (2005). Dengan tempo yang sedang, lagu bergenre pop ini memberikan saya kejutan yang--pertama kali saya mendengarnya--membuat saya cukup merinding dengan suara teriakkan di tengah-tengah lagu. Musim Ujan menawarkan nuansa retro yang cukup kental. Lagu bernada dasar D mayor ini dihiasi oleh iringan paduan suara dan aransemen bertempo sedang; cocok untuk mereka yang senang berkendara di bawah hujan berkeliling kota. Nancy Bird merupakan karya jazz ringan membawa pikiran saya ke sebuah galeri seni besar, latar tempat pertama yang dimunculkan di film Pintu Terlarang. Dalam scene pameran seni, kita bisa mendengar lagu ini diputar dan, menurut saya, lagunya sesuai dengan suasana pameran seni mewah yang dihadiri oleh para penggemar karya seni dengan penampilan yang berkelas. Aransemen Nancy Bird didominasi oleh iringan piano yang melodi woodwind section, serta melodi gitar jazz pada bagian interlude yang cukup panjang.

Ada Musik di Dalam bisa dikatakan sebagai versi yang lebih lambat dan lebih santai dari Nancy Bird. Dengan aransemen yang cukup mirip, Ada Musik di Dalam menawarkan citarasa Nancy Bird, tentunya dalam atmosfer yang lebih santai (ditambah iringan paduan suara dan mandolin pada bagian chorus). Bahkan, saat saya mendengar Ada Musik di Dalam, saya seperti mendengar lagu-lagu Frank Sinatra atau Louis Armstrong. Funk the Hole adalah lagu bergenre pop-rock yang membawa sentuhan rock jadul, seperti beberapa lagu yang dibawakan oleh band seperti The Adams dan The Upstairs. Mata Berdebu memiliki aransemen yang ringan, dengan iringan tabla dan melodi yang diambil dari Gymnopédie No. 1 karya komposer Perancis Erik Satie.

Merintih Perih adalah lagu pop dengan vokal yang powerful dan tempo yang lebih lambat, namun tetap mempertahankan unsur-unsur woodwind instruments yang menjadikannya cukup unik. Lagu terakhir, Pergi Tanpa Pesan, merupakan lagu re-make dari sebuah lagu yang cukup populer di tahun 50an. Awalnya dipopulerkan oleh Nina Kirana, lagu ini diaransemen ulang oleh Sore dan dibawakan dalam aransemen midnight jazz yang mengingatkan saya pada lagu Gloomy Sunday versi Sarah Brightman. Sentuhan French jazz yang direpresentasikan dengan melodi akordion, progresi akord yang 'menipu', serta warna suara Ade yang lembut dan misterius membuat lagu ini cukup haunting

Meskipun 'baru' menjadi pendengar karya-karya Sore, namun saya berani mengatakan bahwa Sore berhasil memikat saya dengan karya-karyanya. Album Sorealist bisa saya definisikan sebagai teman perjalanan yang misterius, namun menyenangkan. Beberapa lagu dalam album ini menawarkan nuansa yang ceria, ada pula yang menawarkan semangat, dan ada pula yang justru membuat saya cukup merinding (bukan dalam konteks hal metafisika tentunya). Dengan harga Rp 49 ribu (di iTunes, atau Rp 5 ribu per lagu), saya rasa album ini layak untuk bersanding di library iTunes komputer, atau setidaknya perpustakaan musik di komputer. 


Tautan iTunes: Sorealist by Sore
Penilaian personal: 4,5 out of 5 (highly recommended)

Wednesday, April 1, 2015

Oldies But Goodies

Jadi, sejak kapan ya saya mulai bergelut lagi sama musik tahun 70an dan 80an? Yang jelas sih sejak tadi nonton Charlie's Angels: Full Throttle, saya jadi mendadak mainkan playlist lagu-lagu taun 70an dan 80an. Waktu saya browse di 8tracks untuk cari playlist disko dan pop tahun 70-80an, kebanyakan pakai lagu-lagu yang sama. Dari 4 playlist yang saya dengar, pasti aja ada Born to Be Alive. Rasanya kayak denger iklan Lipton berkali-kali. Kenapa iklan Lipton? Lihat aja nih: 


Saya nggak ngerti kenapa itu banteng tiba-tiba hidup begitu setelah minum teh. Ngeri aja kalau tehnya tumpah ke atas tanah kuburan. 

*mendadak merinding*

Kembali ke topik awal deh. Jadi demam disko 70an itu melanda begitu saja dan music library di ponsel pun mulai dipenuhi lagu-lagu dari era 70an dan 80an. Yang awalnya ngerasa agak ilfil sama lagu jadul, sekarang malah jadi suka. Tapi musik-musik lawas ini saya batasi wilayah genrenya, which means saya cuman suka musik pop dan disko saja. Dan yang baru saya sadari adalah, ternyata disko itu nggak sekedar nari heboh, kayak waktu Natalie nari di pesta reuni sekolahnya di Charlie's Angels: Full Throttle.

Donna Summer
Last Dance
[Charlie's Angels: Full Throttle - cut]


Dari awal saya mulai ngumpulin lagu-lagu disko 70an, saya udah suka sama lagu ini. Apalagi pas tahu lagu ini nongol di Charlie's Angels, saya jadi semangat kalau nonton filmnya. Di film itu, cukup banyak lagu-lagu tahun 70an dan 80an, seperti I Just Wanna Be Your Everything punya Andy Gibbs atau You Can't Touch This punya MC Hammer. Musik sama filmnya cocok aja sih kalau menurut saya. Apalagi filmnya kan nggak melulu action, tapi ada komedinya juga. 

Selain Charlie's Angels, saya juga dapat referensi pop dan disko 70an dari koleksi musik mama saya. Saya dapat Bee Gees sama Samantha Sang. Lumayan kece deh, apalagi Samantha Sang dengan Emotion yang selama ini mungkin kita dengar versinya Destiny's Child aja.

Samantha Sang
Emotion


Ternyata saya lebih suka versi aslinya. Lebih kerasa diskonya dan lebih ramai aja. Kalau versi Destiny's Child kan lebih ke arah R&B, sementara versi aslinya semacam bisa dipakai dansa di disko. Selain Emotion, saya dapat Bee Gees yang I Started A Joke dari koleksi musik mama saya. Nggak terlalu disko sih, lebih ke arah pop, cuman saya suka aja sama aransemennya. 

Ada yang pernah denger Reality punyanya Richard Sanderson? Lagu ini lumayan populer di drama-drama Korea. Pernah denger sih masalahnya ada lagu ini di salah satu drama Korea. Tapi emang sih ini lagu, walaupun temponya lambat, dapet banget deh nuansa 70annya. Semacam lagu pengantar tidur, tapi kadang kalau lagi galau dengar lagu ini ikut galau. Dan informasi aja sih, lirik lagunya nggak galau-galau amat. Malah nggak galau deh. Efek aransemen aja sih ini. 

Richard Sanderson
Reality


Sebenarnya masih banyak sih yang ingin diceritakan tapi berhubung ngantuk, nanti lagi deh sharing tentang musiknya.

Saturday, February 28, 2015

Jai guru deva, om..

Most of times, when visiting my favorite coffee shop, they play some rock music with the varied subgenres from 70s rock to 90s brit-rock. I'm not really into rock music, though I can't deny listening to some rockin' tunes. The atmosphere built through the music in the coffee shop is so different, so unlike-me-but-somehow-me-gusta. Well I went there to enjoy my favorite iced chocolate drink while (sometimes) reading a novel or some e-Magz and then they played some 90s brit-rock tunes then people started singing along and I'd be like Oompa Loompa lost in Bikini Bottom but then deciding to live there because he was like "Oh! I love Fancy! I love Krabby Patty!"

I've never thought 90s brit-rock would be that awesome.. Well they have such charms that I could hardly explain, like a magic forcing you to keep listening to the music and absorb the magical lyrics. Magical? I'm not really sure about it but The Beatles' Across The Universe has been haunting me for days like "Hey! You can never forget me because I'm gonna linger on your mind until the end of the world!" 

Jai Guru Deva, Om

So the lyrics say "Jai Guru Deva, Om" which means something like "I thank Guru Dev. Om" or "Salutation to Guru Deva. Om", while Om itself is a kind of hum, a mantra, or rather, a natural vibration. Reading on Wikipedia, it is said that "Om" is a sacred, mystical sound. The song haunts me. It HAS BEEN haunting me for days and "Jai Guru Deva, Om" pops into my head like every single day. 

This morning, Radiohead's Karma Police just popped into my head and I felt the urge to go to iTunes store and buy the music. So there it is, now playing in my iTunes. Karma. Police. So there is a police regulating all karmas all around the world, eh? I mean, when you do something bad to others, you'll get what you've done. You'll pay for it. The song is what I'll be most likely listening to before sleeping (well it's not a lullaby anyway) and it's in my special playlist designed to accompany my study-time. Arranged in mid-tempo, this alternative rock song kind of reminds me of Dewa 19's Dua Sejoli, despite the clear differences between the two songs in terms of composition. I think the reminiscent is based on my idea that they're both alternative rock songs I'd love to hear while studying because they give me such indescribably nuance. 


Karma police! Please arrest those who have wronged me! If you do something good, then the goodness would come back to you in ways you might have never expected before. If you do something bad, then the badness would come back to you someday. Karma does exist. 

And when trouble comes, what you have to do is to keep your chin up and say "Let it be". The Beatles' Let It Be is actually my favorite one. It's like a song you'd love to hear when you feel sad and depressed. "Mother Mary comes to me speaking words of wisdom "Let It Be". What a powerful line. Its piano riffs are the best! I love to play it on my piano and sing to the piano accompaniment. The chorus echoes in my mind, telling me to.. well, just let things happen, let them be because "there will be an answer"


I love Talbot's version. She's really got the talent! 

Monday, February 9, 2015

[Review] Indo Top40 (Raisa, Potret, Rafael Tan, Dygta, Yuka Tamada)

Udah lumayan lama saya nggak buat review musik. Kemarin-kemarin ini sibuk bikin short stories terus dan juga dibayang-bayangi proposal skripsi dan kesibukan program internship (doakan lancar ya!), jadi belum sempat bikin post yang membutuhkan konsentrasi lebih (padahal buat short stories juga harus konsentrasi). 

Kali ini saya mau kasih review untuk lima lagu Top40 Indonesia yang dirilis di awal 2015. Lagu-lagu ini bisa kita dengar di radio-radio dan beberapa masuk chart (ada juga yang baru masuk ke chart di beberapa stasuin radio). Genrenya sih masih berputar di kawasan easy listening sampai pop alternatif. Untuk sesi review ini saya punya lagu-lagu dari Raisa, Potret, Rafael Tan, Dygta, dan Yuka Tamada. 


Potret
Gimana Caranya 
2015



Mengawali tahun 2015 ini, teh Melly Goeslaw bersama band Potret mulai menginvasi lagi chart lagu Indonesia dengan tembang pop alternatif mereka, Gimana Caranya. Lagu berdurasi sekitar 4 menit ini menyuguhkan lirik dengan bahasa yang santai (terlihat dari pemilihan diksi 'gimana', instead of 'bagaimana') dan aransemen yang bisa dibilang sederhana, dengan iringan piano riffs yang mendominas di sepanjang lagu (meskipun kalau buat saya sih piano riffs yang dimainkan, karena ada di oktaf yang cukup rendah, kesannya jadi berat). Di interlude menjelang chorus terakhir ada progresi akord yang menurut saya menarik karena ada transisi ke akord minor, lalu kembali ke akord aslinya (pas pertama kali dengar saya langsung ingat progresi akord di beberapa piece klasik). 

Gimana Caranya menceritakan tentang seseorang yang mencari cara supaya bisa mendapatkan perhatian dan cinta dari orang yang dia sukai (mungkin bisa dibilang juga orang ini frustrasi dengan repetisi kata tanya 'gimana'). Selain frustrasi, lagu ini juga mengindikasikan possessiveness, tergambar dari baris terakhir chorus lagu "Gimana caranya sepenuhnya aku dapat jiwa dan ragamu hanya milikku saja"

Agak ngeri sih sebetulnya kalau sudah posesif begitu (jadi baper nih gue). 

Mungkin lagu ini pas banget ya kalau didengerin saat kita lagu frustrasi banget, udah mampet nih otak buat cari cara supaya orang yang kita sukai mau ngelirik kita dan membalas rasa sayang kita. Kalau didengerin malam-malam mungkin bisa jadi bahan galau sebelum tidur (LOL). 


Link untuk beli lagu: iTunes


Dygta
Cinta Aku Menyerah
2015


Mengusung genre pop alternatif, Dygta muncul dengan lagu Cinta Aku Menyerah di awal 2015 ini. Lagunya mejeng di chart beberapa stasiun radio dan memang pas didengar.. worth listening (and requesting). Secara aransemen, temponya bisa dibilang lambat (mungkin sekitar 80 BPM, more or less sih) dan iringan piano mendominasi. Bagian intronya dibuka dengan melodi piano dan melodi cello yang bisa jadi early warning buat yang belum siap dengan after-effect dari lagu ini (badai galau melanda dimana-mana ini sih kayanya). Di chorus pun kita masih bisa dengar melodi cello, terutama di chorus pertama dan kedua dan melodi cello itu jadi semacam point of interest di lagu ini yang, menurut saya sih, ngasih sentuhan manis dan melankolis (bahasa gue...)

Berbeda dengan Gimana Caranya, lagu ini bercerita tentang seseorang yang menyerah dengan hubungannya karena si kekasih sudah "terlalu dalam" melukai hati. Meskipun rasanya sakit, si orang ini sebetulnya nggak mau berpisah. Bisa dibilang mungkin lagu ini mendeskripsikan dilema seseorang yang disakiti. Ingin putus sih karena udah disakiti, tapi sebetulnya nggak mau pisah. Tapi kalaupun bertahan juga nggak bisa karena sudah terlanjur sakit. Jadi maunya gimana? Semoga pas dengar lagu ini nggak sambil bawa perasaan ya. 

Sambil nulis review sambil baper



Yuka Tamada
C.I.N.T.A
2015


Jebolan Indonesian Idol ini mewarnai chart lagu Indonesia di awal tahun 2015 ini dengan C.I.N.T.A, lagu yang sebelumnya kita tahu dibawakan oleh d'Bagindas. Dengan sentuhan yang berbeda, lagu C.I.N.T.A ini menawarkan atmosfer yang lebih ringan dan lebih santai. Dalam interview dengan Yuka di Pro2 96 FM Bandung beberapa hari yang lalu (Selasa, 3 Februari), Yuka bilang kalau lagu ini bisa dibilang masuk kategori easy listening, sementara kalau saya sendiri bisa bilang ini lebih ke arah pop dengan sentuhan slow bossanova. Aransemennya ringan banget dan dijamin bakalan ngasih listening experience yang berbeda dengan lagu aslinya yang dibawakan d'Bagindas. Dengan rhythm yang mendayu-dayu, warna suara Yuka yang manis dan petikan gitar yang romantis, lagu ini cocok banget buat didengerin saat lagi santai minum teh atau menemani perjalanan di mobil. 



Raisa
Jatuh Hati
2015


Jatuh Hati-nya Raisa cukup sering diputar di radio-radio dan mejeng juga di beberapa chart lagu Indonesia. Aransemen ringan, tempo yang santai, warna suara Raisa yang manis, dan petikan gitar yang lagi-lagi manis dan melankolis cukup menjadi alasan kenapa lagu ini bisa nongol di chart. Dengan nada dasar di C mayor dan, later, ada progresi ke D mayor, kita akan disuguhkan dengan petikan folk guitar yang santai dan bikin adem. Worth listening lah pokoknya! 

Liriknya sendiri menceritakan tentang seseorang yang bukan jatuh cinta pada kekasihnya, tapi jatuh hati, dan perasaan ini dia dapat karena si kekasihnya ini punya charm spesial yang bikin si seseorang itu terpikat, dari mulai tutur katanya sampai cara pandangnya terhadap dunia. Si orang ini bahkan bilang bahwa kekasihnya ini menginspirasi dia. Quite romantic, isn't it? 



Rafael Tan
Tiada Kata Berpisah
2015


Tiada Kata Berpisah awalnya dipopulerkan oleh Rio Febrian, dan sekarang dinyanyikan kembali oleh Rafael Tan, salah satu anggota boyband SM*SH, dengan aransemen yang berbeda. Petikan folk guitar yang mendominasi aransemen lagu mengingatkan saya dengan lagu-lagu seperti Ksatria Cinta milik Glenn Fredly atau I'm Nothing At All milik Thomas Cook. Di bagian chorus juga bisa kita dengarkan aransemen strings section. Lagu ini bakalan nongol di album kompilasi #Y2Koustic. Jadi nggak sabar ingin dengar lagu-lagu lain di album itu. Ya, ditunggu saja deh sampai rilisnya. 


Monday, November 3, 2014

[Review] Mom's Records

First, I have to admit being born into an artsy family. My dad is good at drawing (mostly simple sketches of inanimate objects) and my mom is very fond of music. When I was 9 years old I enrolled in art class and the instructor taught me the basics of drawing and painting. I befriended oil pastels and acrylic paints. I was really good at drawing and painting but my interest in visual art didn't last long. As I grew older, I realized that my drawings became more and more absurd that I ended up giving up on drawing. 

Speaking of music, it was my uncle who introduced me to piano for the first time. Looking at some photos in old photo albums of my family, it's known that I played piano for the first time when I was three years old. Thanks to my mom, I learnt some basics of piano from her. Back then I had a toy piano which sounded like honky-tonky one and as I grew older, my mom bought me portable keyboard and eventually, an upright piano. My mom supported me a lot, encouraging me to enroll in music class. All the things that my mom has done has grown a huge interest in music in me. I've grown up into a musical person. 

Being a musical person makes me sensitive to music around me. My mom has a large music collection and back then she listened to her collection of '70s and '80s music a lot--an exposure to '70s and '80s music for me. When going out with my friends and having a nice coffee at a coffee shop where some oldies-but-goodies music is played, I'd be like "Oh this music is the one my mom listens to at home", leaving my friends confused. It's kind of funny to realize that when I was a kid, I didn't like such music. I found it boring--mom listening to Arjan Brass' "Leonie" while slowly enjoying his coffee (and sometimes, singing along and.. well honestly I find the song somewhat creepy), or my uncle going to disco and dancing to Summer's "Last Dance", wearing extravagant clothes. Now every time I listen to '70s and '80s music, especially disco ones, I reminisce my childhood listening to the songs and seeing my mom singing along while doing something like sewing clothes or baking a cake. What a classic picture of 90s family. 

I made a playlist of '70s and '80s music on 8tracks entitled 'Mom's Records'. The playlist contains some fancy 70s & 80s music inspired from my mom's records collection. The playlist was published in August and has so far reached 213 plays (well I need more plays to make it gold!). 



Well ten tracks of oldies music won't kill you, right? Or perhaps that's not enough, ar?

There are five songs out of ten from the playlist which I like the most. Richard Sanderson's "Reality" is the first track in the playlist (well the position may change but I put it in the first anyway). The slow disco track is the soundtrack of a 1980 French comedy movie titled La Boum. The song is sweet in nature and I think it's kind of popular among Koreans for the song appears in several Korean dramas. Andy Gibb's "I Just Want To Be Your Everything" is such a cute disco track. The tempo is moderate--which is faster than Sanderson's "Reality"--and the composition is somewhat merrier (at last for me). Lionel Richie's "My Love" is another cooling down moment in the playlist (and I should have not put "Reality" in the beginning actually for some reasons). I heard the song for the first time from the radio and asked my big brother to get the music for me and voila! He got it. For me, the best time to listen to this sweet ballad track is during afternoon tea time but first make sure that it's a sunny afternoon. Every time I listen to the song, I remember my big brother and.. yeah.. it's just.. oh I miss him so much.

He is so damn busy! I kind of curse his tight schedule.

I include Donna Summer's "Last Dance" in the playlist because I think I need something faster and more cheerful to balance the atmosphere (because slow ballad tunes can eventually become lullabies for me and that'd be so uncool to fall asleep and miss the rest of the tracks while trying so hard to enjoy the whole playlist). "Last Dance" is a perfect track to have some cute and energetic disco dance with your friends and beloved one. The track is used in Charlie's Angels movie; it's in the scene where Natalie dances in a high school reunion party. And... the last track of my very favorite tracks in the playlist is Samantha Sang's "Emotion". The song is so popular that it is covered by many artists (well my favorite cover version is MYMP's version, which was performed live in a radio program).

You can listen to the playlist online and reveal by yourself the rest of the songs included in the playlist. I'd love to hear any comments about the playlist. 

Sunday, November 2, 2014

[Review] The Chainsmokers - Kanye (featuring Siren)

I have never wished on hope,

didn't need a telescope
to see where I am going


Akhir-akhir ini Channel [V] Asia sedang sering memutar single terbaru The Chainsmokers yang judulnya Kanye. Lagu tersebut masuk ke dalam Top5 jadi wajar aja sering nongol di TV. Setelah sukses dengan single #SELFIE yang  sering dipake di video lawak di Vine, sekarang The Chainsmokers menawarkan sesuatu yang menurut saya berbeda dan inspiring. Melihat dari judulnya, kita mungkin ingat dengan seorang rapper Afro-Amerika, Kanye West. Dan memang benar, bahwa lagu ini kurang lebih menggambarkan tentang Kanye West, terlepas dari sosoknya yang kontroversial. Sebetulnya yang membuat saya suka dengan lagu ini adalah MVnya, meskipun liriknya juga bagus (cuma sayangnya saya memang tidak mengidolakan Kanye West). 


Komposisi
Dari segi lirik, memang lirik Kanye kurang lebih menggambarkan tentang sosok Kanye West yang optimistik. Sosok yang bisa melihat kemana arah tujuan dia dan yakin bahwa, terlepas dari kehidupan yang sulit, dia bisa sampai di puncak kesuksesan yang dia inginkan. Dan apapun achievement yang didapat, dia yakin bahwa dia bisa menjadi raja buat dirinya sendiri. 

Bicara tentang aransemen musik, Kanye adalah lagu bergenre EDM dengan tempo yang nggak ngebut, mungkin di kisaran Allegro kalau boleh menggunakan istilah tempo dalam musik. Yang saya suka dan menurut saya haunting dari lagu ini adalah piano riff dan vokal yang muncul di awal lagu. Dengan vokal di nada yang cukup tinggi (tapi warna suaranya masih tetap halus) dan piano riffs sederhana yang bermain pengulangan akord I - vi sampai sebelum chorus, saya merasakan dream-like effect, terutama kalau dikaitkan dengan scene yang ada di videonya. Bagusnya sih sambil mengikuti videonya supaya bisa lebih terbayang seperti apa. 


Overall sih yang saya baca dari beberapa komentar, ada yang bilang bahwa Kanye ini 'nanggung'. Mungkin nanggung sih karena menurut saya di chorus pertama ada unsur dubstep, sementara di bagian lagu yang lain unsur electrohouse-nya lebih kentara. Mungkin semacam dengar lagu Hello Kity punya Avril Lavigne dimana unsur dubstep muncul di bagian chorus sementara di bagian lainnya lebih kentara unsur gabungan antara rock dan electro. Tapi menurut saya sih, lagu ini sangat potensial buat haunting di pikiran, dan bagian yang haunting itu adalah bagian awal lagu, bagian piano riff dan vokal, bukan bagian chorus atau sebagainya. 

Seenggaknya buat saya sih begitu. Kadang sambil jalan, saya suka sambil nyanyi bagian awal lagunya. Dream-like dan.. kadang suka merasa merinding.


Plot video
Saya secara pribadi punya beberapa alasan untuk menyukai lagu. Pertama, karena aransemennya yang bagus. Kedua, karena pola akordnya (dan pola yang paling saya suka ada pola "Canon", seperti pola akord di karya Canon in D punya mbak Pachelbel). Ketiga, karena vokalisnya (apalagi kalau sudah suaranya bagus, orangnya cantik, itu sudah bonus banget). Keempat, karena music videonya. Kadang saya malah suka sama lagu karena kepincut oleh music videonya. Untuk Kanye, saya suka karena music videonya sebetulnya. Karena keseringan nonton, maka lagu itu pun semacam terus berputar-putar di benak saya, terutama di bagian awal lagu yang, seperti saya bilang sebelumnya, so haunting. MV untuk Kanye ini menceritakan tentang seorang chambermaid (atau cleaning service girl lah ya istilah yang lebih gampangnya) yang dalam satu malam merasakan kehidupan mewah dan pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke kehidupan normalnya sebagai seorang chambermaid. Elizabeth Lancaster (2014) dalam artikelnya bahkan mengatakan bahwa MV dari Kanye ini totally a Cinderella story. Seorang chambermaid yang menjadi ratu pesta semalam, lalu keesokan paginya kembali menjadi seorang chambermaid.


Suatu malam di sebuah kamar hotel, seorang chambermaid sedang membersihkan bagian luar kamar mandi sementara ada dua orang perempuan dengan pakaian glamor (possibly tamu hotel) di kamar mandi tersebut sedang ngobrol. Saat kedua perempuan tersebut pergi, si chambermaid masuk ke kamar mandi dan mencoba-coba pakaian. Momen mencoba pakaian itu pada akhirnya menjadi momen metamorfosa dari seorang chambermaid menjadi seorang wanita glamor (atau mungkin sosialita?)







Si chambermaid-turned-socialite itu pun bertemu dengan beberapa orang di koridor hotel dan akhirnya pergi bersama mereka ke sebuah pesta dimana dia duduk di satu kursi--semacam singgasana--lalu dimahkotai.







Di scene dimana si chambermaid di mahkotai, kita lihat bahwa semua orang yang lain nampak inanimate sementara si chambermaid melihat ke sekelilingnya dengan takjub. Pencahayaan diberikan kepada si chambermaid sementara pencahayaan untuk karakter-karakter lain yang ada diredupkan, memfokuskan kita pada si chambermaid yang sekarang telah menjadi ratu pesta. Penonton diajak untuk merasakan apa yang chambermaid itu rasakan. It's like dreams come true and.. is this so real?




Si chambermaid dan teman-temannya akhirnya pergi ke sebuah house party dimana pestanya nggak kalah meriah dengan pesta yang ada di klub yang didatangi sebelumnya. Si chambermaid duduk bersama teman-temannya, mengobrol sambil minum sampanye. Sampai pada akhirnya seorang pelayan yang membawakan minuman terjatuh dan menumpahkan minuman yang dibawa ke lantai. Si chambermaid, yang kebetulan berada dekat di lokasi, refleks segera membantu si pelayan merapikan kekacauan. Si chambermaid melihat si pelayan dan disitulah momen dimana dia sadar bahwa.. well I was like her; I was a chambermaid. No. I am actually a chambermaid.













Mungkin bisa dikatakan bahwa momen pemberian mahkota kepada si pelayan merupakan momen dimana si chambermaid menyadari bahwa dia harus kembali ke realita--bekerja sebagai chambermaid. Atau.. it might sound like "Well it's over. Now your turn to be the queen". Setelah kejadian itu, si chambermaid meninggalkan pesta dan satu persatu melepaskan atribut 'ratu' yang ia kenakan, dari mulai syal bulu, sepatu, dan perhiasan yang ia kenakan. Si chambermaid berjalan semalaman dan pada akhirnya di datang ke satu tempat yang.. ya mungkin kalau kita nonton videonya kita bisa tebak tempat apa yang akhirnya ia kunjungi.







Si chambermaid pun pulang ke rumahnya.





Chambermaid tidak lagi menjadi ratu, seperti halnya Cinderella yang setelah lewat pukul dua belas malam pergi dari pesta dan kembali menjadi sosok pelayan. Ia kembali ke rumahnya, mencium si anak yang masih tertidur, melepas gaun pestanya dan kemudian tidur bersama suaminya. Di akhir video, kita akan melihat satu set pakaian kerja yang nampak baru saja di-laundry. Pakaian itu bisa kita lihat di awal video dikenakan oleh si chambermaid--pakaian seragam pelayan.


Sense of belonging
Pernahkah kita dapat kesempatan dimana apa yang kita mimpikan kemudian menjadi nyata, tapi nggak lama kemudian saat kita menikmati mimpi itu kita sadar bahwa.. well actually this is not my place atau I'm happy my life has changed but I think I want my old life back. Karakter chambermaid di video Kanye menggambarkan hal ini--hal yang buat saya secara personal pernah terjadi di hidup saya. Having a glamorous life and attending amazing parties, only to realize that I just wanted to go home and listened to music while reading magazines on my bed. Terkadang kehidupan yang dijalani saat ini bukanlah yang sesuai dengan kehidupan yang kita impikan, tapi kehidupan seperti ini bisa jadi adalah hal yang membuat kita merasa paling nyaman.

Menurut saya, si chambermaid sangat beruntung karena pernah mengalami dua kehidupan yang berbeda, realita dan mimpinya. Meskipun hanya untuk satu malam, si chambermaid, at least, pernah merasakan jadi ratu pesta dan berkumpul bersama orang-orang keren sambil minum sampanye. Sebetulnya bisa aja si chambermaid tinggal lebih lama di pesta (dan kasus ekstrimnya, tidak pernah kembali untuk bekerja sebagai chambermaid), tapi kadang nggak ada sense of belonging di tempat yang kita anggap sebagai tempat yang kita impikan. Nggak ada masalah dengan orang-orang yang ada dan segala sesuatunya nggak bermasalah dengan kita, hanya saja kita merasa bahwa.. ya, tempat kita bukan disini. Thank you people for the champagne and the music but I think I gotta go home now.

Mungkin si chambermaid tidak merasakan sense of belonging yang kuat. Mungkin. Sekali lagi, di video kita bisa lihat si chambermaid menikmati pestanya dan orang-orang yang ada pun bersikap ramah. Tidak ada masalah dan well semua orang tenggelam dalam euforia pesta. Tapi pada akhirnya si chambermaid meninggalkan pesta dan melepas semua atribut ratu yang dia kenakan saat pesta.

Seperti ada suara yang mengatakan bahwa lebih baik menjalani hidup seperti biasanya.


Konflik internal
Konflik yang dialami si chambermaid lebih ke arah konflik internal dimana dia sadar akan posisi dia yang sebenarnya dan harus memilih kehidupan mana yang ingin dia jalani dengan berbagai konsekuensinya. Dan si chambermaid lebih memilih untuk turun dari tahtanya sebagai ratu pesta lalu pulang ke rumah dan kembali ke kehidupannya sebagai seorang ibu dan chambermaid di salah satu hotel. Di video, kita akan lihat si chambermaid tinggal di rumah yang sederhana. Ya, bukan rumah mewah. Rumah sederhana. Tapi kita lihat bahwa si chambermaid saat pulang ke rumah datang ke kamar anaknya dan mencium si anak, lalu setelahnya berganti baju dan tidur di samping suaminya. And she seems just happy.

Mungkin saja dia berfikir bahwa, as long as I have family, my life is okay.

Jadi intinya, si chambermaid merasa bahwa kembali ke realita sebagai seorang chambermaid adalah keputusan yang terbaik. Dia memang nggak jadi ratu, tapi setidaknya dia sudah punya harta yang paling berharga... adalah keluarga ~ dan setidaknya dia juga pernah merasakan rasanya jadi ratu dan hidup di kehidupan yang mewah.


Be the king or the queen of yourself
Ada satu scene dimana si chambermaid membantu pelayan pesta merapikan gelas-gelas yang jatuh dan setelahnya si chambermaid memberikan mahkotanya dan memakaikannya ke si pelayan. Prosesi pemakaian mahkota itu saya anggap sebagai bukan hanya serah terima jabatan, tapi juga simbol penghargaan kepada pelayan (dan secara umum, berarti untuk seluruh pelayan di dunia atas bantuannya selama ini) dan simbol bahwa terlepas dari jabatan yang dimiliki, semua orang bisa menjadi raja atau ratu, setidaknya untuk dirinya sendiri. Seperti baris yang ada di lirik lagunya, I'll be the queen of me, semua orang bisa menjadi raja atau ratu bagi diri mereka sendiri.

Saya senang dengan penggambaran bagaimana pelayan dihargai di video Kanye. Seringkali kita lupa bahwa pelayan banyak berjasa dalam hidup kita. Bantu kita bawakan makanan, atau masak makanan, atau bersih-bersih. Kadang kita lupa bahwa mereka juga punya hak untuk menjadi raja atau ratu. Mungkin sesekali kita bisa kasih mereka kesempatan untuk jadi raja atau ratu.. mungkin pinjamkan mereka pakaian yang kita punya, atau gaun pesta? He he he..


Overall
Secara keseluruhan Kanye merupakan lagu yang buat saya sih inspiring. Akhir-akhir ini saya banyak lihat MV dari lagu-lagu yang plotnya nggak melulu tentang cinta. Sebut aja Superheroes milik The Script yang menyadarkan saya tentang cinta seorang ayah yang mungkin seringkali kita lupakan, atau kembali ke 2013, Popular Song milik Ariana Grande dan MIKA yang menceritakan tentang korban bully yang pada akhirnya sukses, meskipun di videonya titik balik itu ditandai oleh pembalasan dendam. Secara aransemen, Kanye berhasil bikin saya merasa dihantui oleh piano riffs dan vokal yang so dream-like. Secara lirik, Kanye mencoba mengajak pendengar untuk bisa optimis dalam menjalani hidup dan terlepas dari permasalahan atau rintangan dalam hidup, seseorang bisa mencapai puncak kesuksesan.

Bicara tentang MVnya, ini pasti kompleks karena ada beberapa poin yang saya dapat dari plot ceritanya. Pertama, MVnya mengingatkan saya (dan mungkin kita semua sebagai penonton) bahwa terkadang apa yang kita impikan bukanlah yang terbaik buat kita. Apa yang selama ini kita dambakan bisa saja baik, tapi belum tentu kita mau untuk selamanya berada di posisi yang didambakan tersebut. Kedua, keluarga itu penting karena tanpa keluarga, saya rasa sia-sia aja pencapaian yang didapat. Keluarga adalah tempat dimana kita bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang. Si chambermaid menunjukkan bahwa nggak perlu menjadi ratu pun dia sudah bisa menjadi 'ratu', bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Ketiga, ingatlah jasa orang-orang yang selama ini melayani kita. Tanpa mereka kita bisa kerimpungan, apalagi kalau makan di restoran. Kebayang deh kita yang harus menyajikan makanan pesanan kita dan bawakan ke meja kita.

Dan stanza pertama lagu itu pun kembali menghantui saya..
I have never wished on hope, 
didn't need a telescope
to see where I am going

Referensi
Lancaster, Elizabeth. (2014). The Chainsmokers' 'Kanye' Video Is A Total Cinderella Story. Retrieved on November 1 2014 from http://www.mtv.com/news/1915039/the-chainsmokers-kanye-video/