My Fellas!

Now it's time to have healthy snack and fresh premium milk tea. My Fellas will be your next best friend. Check the products out!

Cat Valentine's Anti-Gambling Poem

It's one of my favorite scenes from all Sam and Cat episodes. This one is taken from episode #ToddlerClimbing. I wish you guys would stop gambling and.. stop laughing at the poem as well!

Short-stories by Klaus

Check some short stories written by me!

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Sunday, March 27, 2016

[Review] Captain's Seafood

Setelah lama tidak update apa pun di sini, post pertama di bulan (atau mungkin tahun ya?) ini adalah ulasan mengenai salah satu restoran boga bahari yang ada di Bandung. Karena kemarin ini saya sibuk dengan urusan skripsi dan tetek bengeknya, baru sekarang deh saya bisa merasakan kebebasan yang selama ini diidam-idamkan. 

Rencananya, hari ini saya mau bertemu dengan teman-teman di kelas Korea. Karena satu dan dua hal, reuni dengan teman-teman itu batal. Saya--yang sudah kagok lapar dan ingin main--akhirnya menghubungi salah seorang teman, sahabat lapar semesta, Bangun dan tanya apakah dia ada waktu luang. Mungkin hari ini memang hari makan seafood semesta. Kami pun akhirnya memutuskan untuk bertemu dan makan siang di salah satu restoran boga bahari di jalan Riau. Captain's Seafood, begitu nama restorannya, adalah restoran boga bahari yang (jangan ditanya lagi) menyajikan pilihan makanan dari hasil laut seperti ikan, cumi, udang, kerang, kepiting, dan rajungan. Buat yang belum pernah datang, restoran ini berlokasi di jalan L.L. R.E. Martadinata (Riau) nomor 217. Restorannya ada di satu row dengan restoran-restoran lain seperti Suis Butcher. Kalau yang suka wisata kuliner, kayaknya perlu main ke daerah situ buat ngenyangin perut. 

Dekorasi yang menyambut tamu. Jadi ingat Jinny, Oh Jinny! | ©2016 Klaus R Dewanto

Ahoy!
Pertama, saya (dan Bangun) mau membicarakan tentang tempatnya sendiri. Captain's Seafood berlokasi di daerah yang strategis dan merupaka surga buat para wisatawan kuliner. Selain itu, jalan R.E. Martadinata atau Riau ini banyak dikunjungi wisatawan, terutama di akhir pekan atau hari libur. Makanya pada jam-jam atau hari-hari tertentu kemungkinan besar restoran-restoran di daerah ini penuh. Untungnya, pas saya datang sama Bangun (sekitar jam 1), restoran masih sepi. Mungkin ramenya di malam hari ya, karena di dalam restoran ada stage untuk penampil. Oh ya, kata yang punyanya (ibunya ramah banget asli!), setiap Jumat dan Sabtu malam ada penampilan band. Jadi, buat yang seneng makan sambil ditemani alunan live music, kayaknya sabi (bisa) lah main dan makan di sini. 

Ada stage untuk penampilan. Sabi lah makan sama pacar sambil denger live music di sini | ©2016 Klaus R Dewanto
Oh ya, kalau Bangun sih tertarik dengan konsep restoran. Mengusung nama Captain, kita disuguhi tema bajak laut di restoran ini. Tema tersebut bisa dilihat dari pemilihan cat tembok, paneling, dan beberapa dekorasi lain yang memperkuat nuansa bajak laut. 

©2016 Klaus R Dewanto

©2016 Klaus R Dewanto

©2016 Klaus R Dewanto
Selain tema, ada satu hal lagi yang saya dan Bangun perhatikan. Restoran ini family-friendly. Saya dan Bangun perhatikan setiap meja itu dilengkapi dengan enam buah kursi, jadi cocok buat makan dengan satu keluarga di satu meja yang sama. Belum lagi dekorasi ruangan bertema bajak laut yang mencolok, bisa menarik perhatian anak-anak. Sayangnya, kami nggak tahu pasti mengenai area merokok dan non-merokok. Hanya saja, di meja tidak disediakan asbak dan ada seating area di bagian depan yang konsepnya semi-outdoor, jadi tebakan saya dan Bangun sih area merokoknya ya disana. 


Udang Telur Asin yang Menggoda Selera
Setelah mengulas tempat, sekarang mari kita bicara tentang makanannya. Sayang sekali saat berkunjung kami nggak memesan menu berbahan dasar ikan. Review-nya jadi kurang representatif dong? Ya nggak juga sih, karena kita memesan menu berbahan dasar cumi, udang, dan kerang. Yeeey! 

Lagipula kami sedang nggak mau makan ikan. Mungkin bosan. Entahlah. 

Apa saja yang kami pesan? 

L-to-R: Cumi goreng tepung, udang telur asin, kerang batik saus Padang | ©2016 Klaus R Dewanto
Untuk makanan, kami pesan cumi goreng tepung, udang telur asin, dan kerang batik saus Padang. Oh ya, for your information aja, semua pesanan kami itu berlabel recommended, meskipun kata Bangun sih cumi goreng tepung bukan menu yang terlalu 'spesial' karena di restoran boga bahari lain pasti ada menu yang sama. Untuk cumi goreng tepung, satu hal yang buat saya pas adalah perpaduan tekstur makanan. Kita semua tahu kalau daging cumi itu chewy alias kenyal. Nah, jujur saja saya paling nggak suka saat daging yang chewy, kayak daging cumi atau kerang, dipadukan dengan coating yang chewy juga (kayak coating tempe mendoan). Di Captain's Seafood, daging cumi dibalut tepung panir, jadi ada perpaduan renyah di luar, kenyal di dalam. Buat saya, perpaduan itu bikin sensasinya seimbang. Untuk bumbu sih, saya sama Bangun setuju gurihnya udah pas, meskipun kami menyayangkan tidak adanya saus khusus untuk menemani si cumi (misalnya, mayonnaise atau saus cocolan lain khas Captain's Seafood). Setelah cumi goreng tepung, kita beralih ke udang telur asin. Nah, ini yang bikin si Bangun ketagihan karena, menurutnya, perpaduan udang goreng tepung dan saus telur asin itu surprising! Sayangnya, saya nggak begitu suka telur asin karena baunya (meskipun tadi saya coba juga dan suka kok). Selain itu, udang gorengnya beneran udang goreng (ya iyalah masa udang bohongan). Maksudnya, daging udangnya tebal dan coating-nya tipis, jadi nggak menipu. Di beberapa restoran kita kadang disuguhi makanan berbalut tepung yang, ternyata, dagingnya kecil tapi tepungnya besar. Kalau di Captain's Seafood, menurut Bangun daging udangnya tebal, jadi nggak 'menipu'. Setelah udang, kita beralih ke kerang. Nah, untuk menu kerang, saya dan Bangun agak kecewa. Yang disayangkan adalah sausnya. Dengan nama saus Padang, saya dan Bangun nggak begitu merasakan spices yang khas Padang. Rasa saus tomat dan saus cabai-lah yang justru lebih kentara. 

Selain makanan, Captain's Seafood juga menawarkan minuman. Yang saya pesan saat berkunjung adalah es cokelat santan. Sebagai penyuka cokelat, minuman itu wajib saya coba. Rasanya? Hmm.. buat saya sih seperti es lilin rasa cokelat dalam bentuk cair. Mungkin karena santannya terlalu banyak, jadi rasa cokelatnya kurang menonjol (tapi overall unik kok, dan bisa jadi alternatif buat es cokelat biasa yang ditambahin krimer atau susu). 

Hal menarik lainnya yang saya dan Bangun perhatikan dari makanan adalah ragam bahan dasar yang tersedia. Untuk ikan sendiri, ada beberapa jenis ikan yang tersedia, dari mulai gurame, kerapu, ayam-ayam, dan lain-lain. Pilihannya lumayan banyak, jadi bisa ngasih warna berbeda. Pilihan kerang pun beragam, dari mulai kerang hijau sampai kerang batik (seperti yang kami pesan). Asyik lah kalau misalnya kita mau coba jenis boga bahari yang lain dengan adanya pilihan-pilihan yang lebih beragam. Selain hal menarik, ada juga hal yang disayangkan. Ragam boga bahari yang ditawarkan ternyata berbeda dengan ragam jenis saus atau masakan yang ditawarkan. Untuk menu kerang, misalnya, kami hanya melihat dua menu kerang saus: kerang saus Padang dan kerang saus tiram (loh, kerang pake kerang?). Kalau lebih banyak variasi saus, menurut saya akan lebih menarik lagi. 


Harga?
Ya, tentu saja harga jadi faktor yang memengaruhi proses nyam-marking (bukan benchmarking). Pada awalnya, saya pikir harganya bakalan mahal. Saat masuk dan lihat menu, ternyata menu-menu porsi individu (kecuali kepiting dan rajungan) masih terjangkau, bahkan lebih terjangkau dibandingkan dengan harga menu di salah satu restoran boga bahari lain. Sebagai contoh aja, cumi goreng tepung yang kami pesan, satu prosinya dijual dengan harga Rp 29.000,- saja. Saya jadi ingat ada salah satu restoran boga bahari yang menjual menu cumi yang sama, dengan harga yang lebih mahal (bedanya bisa sampai 10 ribu). Harga menu minuman pun relatif murah. Es cokelat santan yang saya pesan saja satu gelasnya dijual dengan harga Rp 12.000,- saja. Terjangkau, 'kan? Sayangnya, untuk harga kepiting, tidak ada harga pasti karena harganya mengikuti harga pasar. Bagi kami, ini bisa memengaruhi keinginan pelanggan untuk memesan menu berbahan dasar kepiting (fluktuasi harga, guys?). Tapi pas saya tanya, untuk bulan Maret (kurang lebih), harga kepiting per ons-nya adalah Rp 35.000,-. Menu makanan berbahan kepiting dijual dengan harga minimal Rp 70.000,- karena porsi paling kecilnya saja sekitar 2 ons. 


Overall Nyam-marking
Secara keseluruhan, saya dan Bangun mendapatkan kesan yang baik. Pelayanannya cukup cepat dan ramah. Nuansa tempatnya nyaman (ada TV dan Wi-Fi gratis juga). Makanannya pun lezat dan harganya relatif terjangkau untuk kelas restoran boga bahari. Untuk tempat, kami memberi nilai 8 dari 10, dan itu termasuk lokasi restoran. Untuk makanan, secara keseluruhan dan berdasarkan menu yang kami pesan, kami memberi nilai 7,5 dari 10 (nanggung ya skornya?). Terakhir, dari segi harga, kami memberikan skor 3 dari 5 (menengah - terjangkau). Kalau kami ke sana lagi, kapan-kapan akan coba menu ikannya dan kemungkinan akan ada update penilaian. So far sih kami merasa puas makan di sana. Mau balik lagi? Yup. Berani rekomendasikan Captain's Seafood ke orang lain? Yup

Nyam-marking
Ambiance: ★★★★★★★★☆☆ (8/10)
Taste: ★★★★★★★✬☆☆ (7,5/10)
Price: $$$--


Informasi lebih lanjut
Captain's Seafood
Jl. L.L. R.E. Martadinata no. 217
Tel: (022) 227201077
Twitter: @captainsbdg

Thursday, December 31, 2015

Klappermelk met Suiker

Semenjak memiliki laptop baru, saya belum sempat memindahkan semua data di komputer lama saya. Maklum lah, sekalinya menyalakan laptop biasanya saya langsung berkutat dengan skripsi atau kerjaan. Lagipula, data saya di komputer lama ada banyak dan saya agak malas untuk menunggu proses pemindahan data. Walhasil, saya harus cukup puas dengan koleksi lagu yang seadanya di laptop baru. 

Tapi saya bukan mau bercerita tentang laptop baru saya. 

Berhubung perpustakaan lagu di laptop saya belum lengkap, saya mulai melengkapinya dengan mengunduh atau membeli lagu-lagu. Salah satu koleksi yang saya unduh adalah koleksi lagu-lagu Belanda lawas yang dinyanyikan oleh Wieteke van Dort, seorang aktris, komedian, dan penyanyi Belanda yang dilahirkan di Indonesia. Wieteke van Dort sebelumnya tinggal di Indonesia, tapi terpaksa kembali ke kampung halamannya, Belanda, saat perjuangan bangsa Indonesia membuahkan hasil dan berbagai aset Belanda yang ada di Indonesia berhasil jatuh ke tangan bangsa Indonesia, termasuk rumah milik keluarga Wieteke van Dort saat itu. 

Di Belanda sendiri, Wieteke van Dort pernah menjadi host sebuah acara televisi yang cukup terkenal di tahun 1960-an, The Late Late Lien Show. Dalam acara itu, Wieteke van Dort berperan menjadi karakter tante Lien, seorang Indo (keturunan Belanda-Indonesia) yang sering mengadakan koempoelan dengan teman-temannya di rumahnya.


Bicara tentang acaranya, saya kagum dengan konsep acara tersebut dan cara Wieteke (mulai sekarang, saya akan memanggilnya tante Lien saja) membawakan acara. Dengan logat Indo yang kentara, reality show ini dibawakan dalam konsep koempoelan, sehingga penonton yang datang ke studio ikut 'berdrama' menjadi tamu koempoelan tante Lien. Rumah tante Lien cukup besar, dengan ruang kumpul yang dilengkapi kursi ottoman besar dengan pohon palem di tengahnya, area yang cukup luas untuk band keroncong, taman belakang yang terkadang digunakan untuk bintang tamu yang tampil, dan, tentu saja, kursi rotan milik tante Lien. Tante Lien tidak sendirian dalam membawakan acara ini. Ia ditemani oleh tante Toeti, kakaknya, dan The Sate Babi Boys, band keroncong yang setia mengiringi tante Lien saat ia mulai bernyanyi.


Saat The Kilima Hawaiians menjadi bintang tamu di episode 's Avonds bij candlelight

Setelah ngubek-ngubek Google dan iTunes, akhirnya saya menemukan album kumpulan lagu-lagu yang dibawakan oleh tante Lien. Dalam album 25 Jaar  Als Tante Lien, ada 36 lagu-lagu lawas yang dibawakan oleh tante Lien alias Wieteke van Dort. Beberapa lagu dibawakan dalam bahasa Belanda, tapi ada juga lagu-lagu yang dibawakan dalam bahasa Indo-Melayu. Selain itu, ada beberapa lagu yang dibawakan secara dwi-bahasa.



Di antara lagu-lagu tersebut, ada beberapa lagu yang menjadi kesukaan saya. Sebut saja lagu Boelang Pake Pajong yang ternyata cukup terkenal di Manado. Lagu Hallo Bandoeng merupakan piano ballad melankolis yang menceritakan tentang percakapan seorang ibu tua dan anaknya di Indonesia melalui telepon. Terang Boelan juga merupakan salah satu lagu kesukaan saya. Selain itu, ada satu lagu yang menarik perhatian saya. Berjudul Klappermelk met Suiker, awalnya saya kira lagu ini menceritakan tentang proses memasak kue. Namun saat saya membaca liriknya dan mencoba menerjemahkannya (thanks to Google translate, meskipun hasil terjemahannya agak aneh), saya jadi tertawa sendiri karena ternyata lagu ini bukan menceritakan tentang apa yang saya bayangkan. Terlebih lagi setelah mengingat aransemen musiknya yang ringan dan santai, saya bisa memahami titik lucu dari lagu ini.  


Op Ambon woont een meisje waar iedereen van zingt
Omdat ze heel erg mooi is en ook om wat ze drinkt
Reeds toen ze nog geen drie was en mama vroeg aan haar
"Wat wil jij nu eens drinken?", had zij haar antwoord klaar

Ik wil klappermelk met suiker
Want iets anders lust ik niet
Ik wil klappermelk met suiker
Want iets anders lust ik niet
Ik wil geen appelsap of limonade
Thee en koffie laat ik staan
En chocolademelk of orangeade
Smaken mij als levertraan
Ik wil klappermelk met suiker
Want iets anders lust ik niet

En dat is zo gebleven. Ze is nu achttien jaar
Een jongen is gekomen en hij houdt veel van haar
Maar als hij met haar uitgaat, is hij niet erg content
Steeds als hij om een kus vraagt, zegt zij op dat moment


Dari hasil penerjemahan dan interpretasi, lagu ini menceritakan tentang seorang anak perempuan di Ambon yang--katanya--sangat cantik. Saat itu ibunya bertanya kepada anak itu, "Mau minum apa?" Sang anak pun menjawab bahwa dia ingin minum klappermelk (santan) yang dicampur dengan gula, karena si anak tidak menyukai minuman yang lain. Ditawari jus apel, jus limau, kopi, teh, cokelat, dan jus jeruk, si anak tetap tidak mau (bahkan katanya jus jeruk itu rasanya seperti minyak hati ikan kod). Si anak hanya ingin minum santan yang dicampur dengan gula. Saat si anak perempuan tersebut beranjak dewasa, si anak bertemu dengan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki tersebut jatuh cinta pada si anak perempuan, namun sering merasa tidak puas atau gregetan setiap kali si anak laki-laki mengajak di anak perempuan kencan. Pasalnya, setiap kali diajak berciuman, si anak perempuan selalu menolak dan menjawab "Ik wil klappermelk met suiker." Dengan kata lain, si anak perempuan itu tidak mau ciuman; dia hanya mau minuman santan yang dicampur dengan gula. 

Sejujurnya, saya tidak paham apakah benar klappermelk di lagu itu mengacu pada santan. Setahu saya, yang biasa dijadikan minuman adalah sari kelapa (ditambah gula jika memang mau). Tapi, terlepas dari apakah yang diminum oleh anak perempuan di lagu itu adalah santan atau sari kelapa, lagu ini merupakan lagu lawas yang menyenangkan. Kalau saya pulang ke rumah oma saya, sepertinya saya akan senang mendengarkan lagu ini sambil menemani oma saya memasak. Ada semacam hawa nostalgia tersendiri saat mendengarkan lagu ini. 

Jadi, ada yang mau klappertaart?

Tuesday, December 22, 2015

100 Years of Beauty Series [Review]

Di sela-sela pengerjaan skripsi dan kerjaan terjemahan yang menumpuk, saya rasa cukup adil kalau saya rehat sebentar sambil menulis. Toh saat rehat pun saya masih bisa produktif dengan menuangkan ide saya ke dalam bentuk tulisan. Kali ini, saya ingin bicara tentang YouTube dan beberapa channel langganan saya. Salah satu channel langganan saya di YouTube adalah WatchCut Video. Channel ini mengunggah video dengan topik yang beragam, dari mulai dunia fesyen dan gaya sampai makanan. Secara umum, ini adalah channel gaya hidup yang menawarkan beberapa informasi menarik dan menghibur. 

Salah satu video yang mereka unggah adalah video bertema fesyen dan gaya bertajuk 100 Years of Beauty. Rupanya, mereka menjadikan ini semacam serial dan video-video baru biasanya diunggah setiap beberapa minggu sekali. Sejauh ini, sudah ada 15 video dalam serial 100 Years of Beauty, dengan 2 episode spesial yang menunjukkan tren tato selama satu abad dan tren penampilan pria (khususnya gaya rambut) di Amerika Serikat dalam satu abad. Video-video dalam serial ini menunjukkan perubahan tren fesyen dan gaya dalam satu abad, dimulai dari tahun 1910 sampai tahun 2010. Salah satu video dalam serial ini yang cukup viral adalah 100 Years of Beauty - Korea yang menampilkan perubahan tren gaya di negara Korea yang, menariknya, ikut ditampilkan perbedaan pergerakan tren di Korea Utara dan Korea Selatan. Videonya dapat dilihat di bawah ini.

100 Years of Beauty - Episode 4 - Korea (Tiffany Lee)

Saya tertarik melihat perubahan tren selama satu abad di negara-negara yang berbeda. Bahkan, dalam satu negara pun tren fesyen bisa berbeda, tergantung pada etnisnya. Seperti yang ditampilkan di video 100 Years of  Beauty episode 1 dan 2, tren fesyen dan gaya pada wanita kulit putih dan wanita kulit hitam di Amerika Serikat cukup berbeda. Hal tersebut tentunya menjadi hal menarik yang bisa didiskusikan, terutama oleh penggemar fesyen. 

100 Years of Beauty - Episode 1 - USA (Nina)

100 Years of Beauty - Episode 2 - USA (Marshay)

Saya tertarik saat menonton setiap video dalam serial itu. Perubahan tren fesyen dan gaya di setiap negara dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk di antaranya pergerakan politik. Bisa dikatakan perubahan tren fesyen berkaitan cukup erat dengan sejarah. Selain itu, ada banyak faktor lain yang mendorong perubahan tren, termasuk di antaranya adalah pengaruh budaya populer dari negara lain. Meskipun tidak ada dialog dalam video-video timelapse berdurasi 1 hingga 2 menit tersebut, serial 100 Years of Beauty juga mencakup video-video riset behind the looks yang akan memberi kita lebih banyak informasi mengenai tren fesyen yang ada di setiap tahun di video yang ditampilkan. 

100 Years of Beauty - Episode 10 - German (Brooke Williams)

100 Years of Beauty - Episode 9 - Russia (Anya Zaytseva)

100 Years of Beauty - Episode 13 - USA (Samuel)

Saat menjelajah forum komentar di video-video pada serial tersebut, saya banyak menemukan beberapa pengguna yang meminta WatchCut untuk membuat video 100 Years of Beauty versi negaranya. Sejauh ini, saya agak jarang menemukan pengguna yang meminta pihak WatchCut untuk membuat versi Indonesia dari serial ini. Padahal, menurut saya perubahan dan perkembangan tren fesyen dan gaya di Indonesia cukup menarik untuk dilihat. Indonesia kaya akan sejarah dan, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, sejarah memiliki kaitan yang cukup erat dengan perubahan tren. 

Kalau kita googling foto-foto Indonesia di era sebelum kemerdekaan (kira-kira di tahun 1910 sampai awal 1940-an), kita akan banyak menemukan foto-foto orang Indonesia yang penampilannya masih banyak dipengaruhi oleh pakaian-pakaian tradisional. Foto-foto tersebut kebanyakan dalam warna hitam putih, jadi kerasa sekali 'jadul'-nya. 

Perayaan oranje dag di Malang, circa 1910 | source: gahetna.nl  dari Indonesia Zaman Doeloe

Kelompok tunil atau grup sandiwara, circa 1910 | source: gahetna.nl dari Indonesia Zaman Doeloe

Wajah keluarga dokter di Jawa, circa 1920 | source: Indonesia Zaman Doeloe

Kalau dibandingkan dengan tren fesyen di Indonesia sekarang ini, jelas kita bisa melihat perubahan yang sangat signifikan. Di era 70 atau 80-an, kita bisa melihat tren fesyen dan gaya menjadi lebih modern dan berkiblat ke dunia barat. 

Iklan sepeda motor Honda C70 | source: Djejakmasa

Iklan sepeda motor Honda C70, 1979

Popular culture di Indonesia di era itu cukup banyak dipengaruhi oleh popular culture dunia barat, seperti yang saya bilang. Kalau dilihat di iklan, kita bisa melihat ada beberapa orang pria dan wanita yang penampilannya mengingatkan saya dengan beberapa drama Jepang lawas di awal tahun 1990-an. 

Sayang sekali karena saya bukan ahli dalam bidang perkembangan fesyen, saya jadi nggak bisa bicara banyak. Padahal sebetulnya, kalau didalami lagi perkembangannya, banyak hal menarik yang bisa kita pelajari dari perkembangan fesyen di Indonesia. Dan, kembali ke topik utama, serial 100 Years of Beauty yang diunggah WatchCut bagi saya worth watching. Meskipun saya juga bukan penggila fesyen, tapi video-video pada serial itu cukup menarik buat ditonton. Semoga saja ke depannya, WatchCut mau membuat video khusus Indonesia. 

Thursday, December 17, 2015

Mendengarkan 'Sore' di Sore Hari

Sepertinya saya cukup 'terlambat' untuk menjadi penikmati musik-musik karya band yang satu ini. Meskipun terbilang terlambat, saya sebetulnya dari dulu sudah pernah mendengar salah satu karyanya. Bagi yang pernah melihat iklan Coca Cola edisi Live Positively, kemungkinan pernah mendengar musiknya yang mengiringi alur cerita iklan tersebut. Kalau misalnya lupa-lupa ingat, mungkin bisa menonton video ini terlebih dulu: 


Sore adalah band indie asal Indonesia yang terbentuk pada tahun 2002. Band beranggotakan empat orang ini sepertinya cukup banyak dikenal oleh penggemar film Indonesia karena karya-karya mereka yang banyak menghiasi beberapa film seperti Berbagi Suami, Kala, dan film psychological thriller kesukaan saya, Pintu Terlarang. Di beberapa situs, nama Sore biasanya muncul dalam artikel-artikel tentang musik indie Indonesia, atau sebagai recommended artists yang muncul setelah Payung Teduh, Pure Saturday, atau Banda Neira. 

Beberapa bulan yang lalu, saya sedang cukup gencar mengunduh beberapa album khusus musik indie Indonesia. Salah satu yang masuk dalam daftar unduhan saya adalah Sore. Berhubung sudah jarang ke toko musik, akhirnya iTunes menjadi tujuan saya untuk mendapatkan album-album tersebut. Salah satu album yang saya unduh adalah Sorealist, album kompilasi Sore yang menghadirkan beberapa lagu dari album-album mereka sebelumnya, dan juga tiga buah lagu baru dan beberapa lagu yang menjadi soundtrack beberapa film. 


Sorealist berisikan 13 buah lagu; tiga di antaranya adalah lagu baru. Dirilis pada tahun 2013, album ini menghadirkan kembali beberapa lagu dari album Centralismo, Ports of Lima, serta lagu-lagu yang menjadi soundtrack film seperti Kala, Berbagi Suami, Janji Joni, dan Pintu Terlarang. Kalau penasaran dengan tracklist-nya, silahkan dilihat daftarnya di bawah ini: 
  1. Musim Ujan*
  2. Sssst...*
  3. Bantal Keras*
  4. Somos Libres
  5. No Fruits for Today
  6. Mata Berdebu
  7. Karolina
  8. Funk the Hole
  9. Nancy Bird
  10. Merintih Perih
  11. Setengah Lima
  12. Ada Musik di Dalam
  13. Pergi Tanpa Pesan
* lagu baru

Dalam album ini, secara umum Sore membawakan lagu-lagu bergenre pop, jazz, dan alternative. Di antara lagu-lagu tersebut, ada beberapa lagu yang jadi favorit saya. Sebut saja lagu No Fruits for Today yang diambil dari album Centralismo (2005). Dengan tempo yang sedang, lagu bergenre pop ini memberikan saya kejutan yang--pertama kali saya mendengarnya--membuat saya cukup merinding dengan suara teriakkan di tengah-tengah lagu. Musim Ujan menawarkan nuansa retro yang cukup kental. Lagu bernada dasar D mayor ini dihiasi oleh iringan paduan suara dan aransemen bertempo sedang; cocok untuk mereka yang senang berkendara di bawah hujan berkeliling kota. Nancy Bird merupakan karya jazz ringan membawa pikiran saya ke sebuah galeri seni besar, latar tempat pertama yang dimunculkan di film Pintu Terlarang. Dalam scene pameran seni, kita bisa mendengar lagu ini diputar dan, menurut saya, lagunya sesuai dengan suasana pameran seni mewah yang dihadiri oleh para penggemar karya seni dengan penampilan yang berkelas. Aransemen Nancy Bird didominasi oleh iringan piano yang melodi woodwind section, serta melodi gitar jazz pada bagian interlude yang cukup panjang.

Ada Musik di Dalam bisa dikatakan sebagai versi yang lebih lambat dan lebih santai dari Nancy Bird. Dengan aransemen yang cukup mirip, Ada Musik di Dalam menawarkan citarasa Nancy Bird, tentunya dalam atmosfer yang lebih santai (ditambah iringan paduan suara dan mandolin pada bagian chorus). Bahkan, saat saya mendengar Ada Musik di Dalam, saya seperti mendengar lagu-lagu Frank Sinatra atau Louis Armstrong. Funk the Hole adalah lagu bergenre pop-rock yang membawa sentuhan rock jadul, seperti beberapa lagu yang dibawakan oleh band seperti The Adams dan The Upstairs. Mata Berdebu memiliki aransemen yang ringan, dengan iringan tabla dan melodi yang diambil dari Gymnopédie No. 1 karya komposer Perancis Erik Satie.

Merintih Perih adalah lagu pop dengan vokal yang powerful dan tempo yang lebih lambat, namun tetap mempertahankan unsur-unsur woodwind instruments yang menjadikannya cukup unik. Lagu terakhir, Pergi Tanpa Pesan, merupakan lagu re-make dari sebuah lagu yang cukup populer di tahun 50an. Awalnya dipopulerkan oleh Nina Kirana, lagu ini diaransemen ulang oleh Sore dan dibawakan dalam aransemen midnight jazz yang mengingatkan saya pada lagu Gloomy Sunday versi Sarah Brightman. Sentuhan French jazz yang direpresentasikan dengan melodi akordion, progresi akord yang 'menipu', serta warna suara Ade yang lembut dan misterius membuat lagu ini cukup haunting

Meskipun 'baru' menjadi pendengar karya-karya Sore, namun saya berani mengatakan bahwa Sore berhasil memikat saya dengan karya-karyanya. Album Sorealist bisa saya definisikan sebagai teman perjalanan yang misterius, namun menyenangkan. Beberapa lagu dalam album ini menawarkan nuansa yang ceria, ada pula yang menawarkan semangat, dan ada pula yang justru membuat saya cukup merinding (bukan dalam konteks hal metafisika tentunya). Dengan harga Rp 49 ribu (di iTunes, atau Rp 5 ribu per lagu), saya rasa album ini layak untuk bersanding di library iTunes komputer, atau setidaknya perpustakaan musik di komputer. 


Tautan iTunes: Sorealist by Sore
Penilaian personal: 4,5 out of 5 (highly recommended)

Saturday, August 15, 2015

Lemantun dan Rahim Ibu

Setelah cukup lama vakum dari dunia Soundcloud, hari ini saya mengunggah piano cover dari lagu Jepang berjudul Nada Sousou. Bagi saya, lagu tersebut begitu menyentuh, terutama dari segi lirik. Lagu yang menceritakan tentang seseorang yang mengenang sosok tercinta yang telah pergi mendahuluinya itu ditulis oleh Ryoko Moriyama dan BEGIN, band asal Jepang, namun popularitasnya melejit saat lagu itu dipopulerkan kembali oleh Rimi Natsukawa di tahun 2001. 

Setelah selesai mengunggah lagu, saya sempat melihat-lihat koleksi karya-karya yang saya sukai. Salah satunya adalah lagu berjudul Lagu Ibu, yang merupakan soundtrack dari sebuah film pendek berjudul Lemantun. Lagu tersebut ditulis oleh Gardika Gigih. Diaransemen dengan sederhana, Lagu Ibu berhasil menyajikan nuansa teduh dan menyentuh. Dentingan piano yang melankolis berhasil membuat saya teringat akan masa kecil saya yang, notabene, banyak dihabiskan bersama ibu saya karena ayah saya pada saat itu bekerja di luar kota.



Film Lemantun sendiri belum pernah saya tonton. Film yang disutradarai Wregas Bhanuteja ini menjadi salah satu nominator di ajang XXI Short Film Festival 2015 dan, menurut beberapa sumber, berhasil memenangkan festival tersebut. Salah satu sumber yang saya baca adalah sebuah artikel dari majalah Provoke yang mengupas filosofi lemari dari film tersebut. Lemantun, dalam bahasa Jawa, berarti lemari, dan dalam film ini, lemari menjadi key item yang mengantarkan makna untuk para penonton. Saat membacanya, tiba-tiba saya teringat dengan materi psikoanalisa yang sempat saya pelajari di semester 5 dan 6 kemarin. 


Sinopsis
Lemantun menceritakan tentang seorang ibu yang meminta kelima anaknya berkumpul untuk membagikan warisan kepada masing-masing anak. Tri, anak ketiga, merupakan anak yang bisa dikatakan tidak sesukses kakak dan adiknya. Saudara-saudaranya memiliki kehidupan yang bisa dikatakan mapan. Ada yang bekerja menjadi kontraktor, ada yang bekerja menjadi dokter, ada yang mendalami dunia fotografi, dan lain-lain. Dibandingkan empat saudaranya, Tri hanyalah seorang penjual bensin yang membuka usahanya di depan rumah orang tuanya. Tri bahkan masih tinggal bersama sang ibu dan belum berkeluarga. 

credit: http://jaff-filmfest.org/open-air-cinema-lemantun/

Sang ibu pun mewariskan lemari, satu untuk masing-masing anaknya. Lemari-lemari warisan tersebut merupakan lemari yang dibeli untuk masing-masing anaknya saat mereka lahir. Setiap anak diharuskan untuk membawa lemari tersebut di hari yang sama karena, jika tidak, si ibu mengancam akan memberi denda. Anak-anaknya pun mencari berbagai cara untuk bisa membawa lemari tersebut, tapi berbeda dengan Tri yang, notabene, belum mempunyai rumah sendiri.
credit: http://jaff-filmfest.org/open-air-cinema-lemantun/

Lemari-lemari warisan tersebut memiliki akhir yang, bisa dikatakan, agak ironis. Lemari yang seharusnya menjadi kapsul waktu tersebut ada yang dibiarkan saja tak dipakai. Ada juga yang dijual. Berbeda dengan lemari yang lain, lemari milik Tri justru disimpan dan dirawat. Lemari yang didapat oleh Tri merupakan lemari yang biasa digunakan Tri saat masih kecil dulu untuk bersembunyi. Tri bahkan sempat masuk ke dalam lemari dan diam di sana--sebuah scene yang melankolis. Pada akhirnya, lemari yang diwariskan untuk Tri digunakan untuk berjualan bensin. 


State of Jouissance
Seperti yang saya katakan sebelumnya, artikel yang diterbitkan oleh Provoke tersebut mengingatkan saya dengan materi psikoanalisa yang saya dapatkan di semester 5 dan 6. Psikoanalisa sendiri, seperti yang bisa ditebak dari namanya, merupakan cabang ilmu psikologi, namun juga bisa dijadikan sebagai pendekatan untuk menelaah karya-karya sastra. Menurut Bressler (2007:149), dengan menerapkan teknik-teknik psikoanalisa pada karya sastra, sebuah karya dianggap sebagai mimpi-mimpi si penulis karya yang, di dalamnya, terdapat keinginan dan dorongan-dorongan yang selama ini disembunyikan. Akan tetapi, Tyson (2006:35) berpendapat bahwa pendekatan psikoanalisa tidak dapat efektif membongkar keinginan tersembunyi si penulis karya melalui analisa karakter dalam karya tersebut karena karakter-karakter tersebut bukanlah sosok nyata dan, oleh karena itu, tidak memiliki jiwa nyata yang dapat dianalisa. Meskipun demikian, untuk mempelajari penerapan teori psikoanalisa, kita dapat mencoba menganalisa perilaku karakter dalam karya sastra dengan menggunakan pendekatan psikoanalisa. 

Dalam Lemantun, ada satu scene yang menggambarkan karakter Tri masuk kembali ke dalam lemari. Seperti yang dikutip oleh Provoke, Wregas mengatakan bahwa lemari merupakan gambaran dari rahim. Sejalan dengan ini, di salah satu sesi perkuliahan dosen saya mengatakan bahwa dalam psikoanalisa terdapat sebuah konsep yang disebut sebagai Lustprinzip, atau yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai pleasure principle. Konsep ini berkaitan dengan keinginan yang ada dalam setiap diri manusia untuk mencapai state of jouissance, keadaan di mana manusia selalu merasa puas dan nyaman. Kepuasan dan kenyamanan tanpa batas tersebut didapat manusia saat ia masih berada di dalam rahim ibunya. Bayangkan bayi yang masih berada di dalam rahim ibunya. Saat ia lapar, ia tak perlu bersusah payah mengambil piring, menyendok nasi, atau bahkan mencari uang untuk bisa mendapatkan makanan; makanan bisa ia dapat dari ibunya. Si bayi tidak akan merasa kedinginan karena rahim ibu memberikan kehangatan yang membuatnya merasa nyaman. Tidak ada rasa takut atau ketidaknyamanan yang mengancam; rahim ibu pun menjadi semacam surga kecil. Kelahiran si bayi menandakan akhir dari kenyamanan dan kepuasan tanpa batas yang sebelumnya ia dapatkan. Si bayi kini masuk ke dunia, sebuah tempat baru yang berbeda. Bayi yang baru lahir untuk pertama kalinya merasakan udara luar yang mungkin dingin, tidak sehangat saat ia berada di dalam rahim. Saat ia lapar, ia harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang ia inginkan (kita tahu bayi kalau lapar biasanya menangis). Segala sesuatunya menjadi berbeda. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka muncullah apa yang disebut sebagai kecemasan atau anxiety

Kecemasan itu sendiri merupakan 'peringatan' yang menandakan adanya ancaman yang dapat mengakibatkan perasaan tidak nyaman, dan ancaman tersebut dapat datang dari luar (lingkungan sekitar dan orang lain) atau dari dalam (Emanuel, n.d.). Kembali ke Lemantun, sosok Tri mengalami kecemasan yang datang, tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam. Dari luar, karena ia merasakan sentimen saudara-saudaranya yang telah bekerja dan memiliki kehidupan yang mapan terhadap dirinya yang hanyalah penjual bensin dan belum berrumah tangga. Tri juga mengalami konflik batin yang disebabkan oleh perasaan 'minder' karena kondisinya yang belum mapan dan kenyataan bahwa ibunya semakin tua. Pewarisan sesuatu, mau tidak mau, mengingatkan kita akan sebuah kenyataan pahit bahwa setiap manusia akan meninggal. Bagi Tri, pewarisan lemari tersebut bisa saja memicu kecemasan dan ketakutan akan kehilangan sosok sang ibu yang selama ini tinggal bersamanya. Perlu diingat bahwa Tri, sampai usianya yang dewasa itu, masih tinggal bersama sang ibu dan merawatnya. Kita bisa membayangkan sendiri kedekatan antara Tri dan sang ibu. Oleh karena itu, pewarisan lemari tersebut sudah tentu bukanlah sekedar pemberian barang peninggalan bagi Tri; ada peringatan awal terhadap ancaman 'kehilangan sosok yang dicintai' di balik pewarisan tersebut.

Kehidupan yang kurang mapan, belum berkeluarga, serta ketakutan akan kehilangan sang ibu yang sangat disayanginya menjadi ancaman besar yang memberikan Tri kecemasan. Saat kecemasan muncul, secara alamiah seseorang akan menunjukkan apa yang disebut sebagai mekanisme pertahanan diri atau defense mechanism. Mekanisme pertahanan diri merupakan dorongan yang dapat mencegah munculnya pikiran-pikiran atau perasaan yang tidak menyenangkan (McLeod, 2009). Mekanisme tersebut muncul secara otomatis dan bekerja tanpa disadari, seperti halnya sistem imun pada manusia (Vaillant, 1994 dalam Bowins, 2004). Pada tahun 1977, seorang psikiater bernama George Eman Vaillant mengatakan bahwa mekanisme-mekanisme pertahanan diri dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelas, yaitu pathological (primitif), immature (belum matang), neurotic (menengah), dan mature (matang/dewasa). Masing-masing kelas memiliki beberapa jenis mekanisme. Salah satu mekanismenya adalah regresi, yang diklasifikasikan ke dalam mekanisme kelas menengah. Saat seseorang mengalami regresi, ia akan menangani atau menghadapi masalahnya dengan cara yang dilakukannya saat ia masih berada di tahap perkembangan awal (semisal, anak-anak). Masuknya Tri ke dalam lemari seperti memutar kembali waktu saat Tri masih anak-anak dan sering masuk ke dalam lemari untuk bersembunyi. Hal ini semacam menggambarkan regresi yang ditunjukkan oleh sosok Tri sebagai mekanisme pertahanan dirinya dalam menghadapi kecemasannya. Di sisi lain, analogi lemari sebagai rahim ibu juga menyiratkan keinginan Tri untuk bisa kembali ke state of jouissance. Karena tidak mungkin bagi Tri untuk kembali masuk ke dalam rahim ibunya, lemari warisan ibunya-lah yang akhirnya berperan sebagai 'rahim' bagi Tri. 


Cinta Ibu
Membaca artikel-artikel mengenai film Lemantun membuat saya secara pribadi tersadar akan kenyataan bahwa, terlepas usia saya yang tak lagi bisa disebut anak-anak, saya masih menginginkan dan (akan terus mencari) suasana tenang dan hangat yang diberikan oleh sosok ibu. Lemari warisan yang dimiliki oleh Tri dari ibunya seperti menjadi simbol akan cinta dan kasih sayang seorang ibu yang tak ada akhirnya. Dari Lemantun, saya menangkap pesan bahwa, meskipun suatu hari si ibu akan pergi meninggalkan Tri, ia tidak akan begitu saja meninggalkan Tri. Lemari warisan itu seolah menjadi simbol cinta sang ibu yang tidak akan ada habisnya, serta menjadi 'rahim' di mana Tri dapat menenangkan diri dari kehidupan nyata yang mungkin tidak seindah yang dibayangkan. Singkatnya, jika Tri tidak bisa kembali ke dalam rahim ibunya, ia masih bisa mendapatkan pelukan dari sang ibu. Dan nanti, saat Tri tak bisa lagi mendapatkan pelukan dari ibunya, ada 'rahim' ibunya yang dapat ia kunjungi untuk menenangkan diri. 

Secara pribadi, saya pernah bersembunyi di dalam lemari saat saya masih kecil. Kalau tidak salah, saat itu usia saya sekitar 6 atau 7 tahun. Dulu saya tinggal di rumah peninggalan nenek saya. Rumah antik itu memiliki cukup banyak kamar dan di salah satu kamar terdapat sebuah lemari kayu raksasa. Lemari dua pintu itu memiliki sebuah cermin kaca besar berbentuk oval di salah satu pintunya. Saat pintu bercermin itu dibuka, ada sebuah ruang yang cukup besar yang digunakan untuk menggantung jas atau gaun. Saya dulu sering bersembunyi di dalam lemari itu, biasanya saat takut mendengar suara petir atau dentuman lodong atau meriam bambu yang diarak saat pawai menjelang Hari Kemerdekaan. Setiap saya menutup telinga, ibu saya selalu memarahi saya, memaksa saya agar mau berani menghadapi ketakutan saya. Namun, ada masa di mana saya benar-benar tidak tahan lagi mendengar suara-suara itu. Di saat itu-lah saya biasanya akan bersembunyi di dalam lemari itu dan, setelah beberapa saat, ibu saya akan menemukan saya di dalam lemari itu dan menenangkan saya. 

credit: thankx4stayin

Saya memang belum setua Tri. Saya bahkan belum menonton filmnya. Namun dari pembahasan film Lemantun, saya dapat merasakan apa yang Tri rasakan. Saya rasa kita semua bisa merasakannya, ketakutan akan kehilangan sosok yang disayangi, yang memberikan kita kenyamanan dan ketenangan. Sayangnya, semua manusia akan mati, termasuk ibu kita. Dan pada akhirnya, pembicaraan mengenai kerinduan akan kasih sayang ibu tidaklah melihat berapa usia kita. Terlepas dari kehidupan kita sebagai orang dewasa dan seberapa mapannya hidup yang kita jalani, kita tak bisa mengelak bahwa tidak ada ketenangan dan kehangatan yang dapat mengalahkan ketenangan dan kehangatan yang kita dapat di dalam pelukan seorang ibu. 


Referensi
  • Bowins, B. (2004, Maret). Psychological Defense Mechanisms: A New Perspective. The American Journal of Psychoanalysis, 64(1). Diambil dari http://bowins.com/downloads/psychological_defense_mechanisms.pdf pada tanggal 21 Desember 2014.
  • Bressler, C. E. (2007). Literary Criticism (4th ed.). New Jersey: Pearson Prentice Hall.
  • Emanuel, R. (n.d.). Anxiety. Diambil dari http://www.freud.org.uk/education/topic/10575/subtopic/40014/ pada tanggal 15 Agustus 2015
  • McLeod, S. A. (2009). Defense Mechanisms. Diambil dari Simply Psychology: http://www.simplypsychology.org/defense-mechanisms.html pada tanggal 5 Desember 2014.
  • Tyson, L. (2006). Critical Theory Today (2nd ed.). New York: Routledge.
  • Vaillant, G. E. (1977). Adaptation to life. Boston: Little, Brown [artikel didapat dari http://en.wikipedia.org/wiki/Defence_mechanisms]

Tuesday, August 4, 2015

[Review] Bloemen

Minggu lalu saya dan ayah pergi makan siang. Sebetulnya bukan makan siang sih karena jatuhnya jadi sebatas ngemil, tapi ngemil agak berat (loh?). Rencana awalnya memang mau sebatas ngopi sambil ngobrol (mungkin tentang skripsi saya atau hal-hal semacamnya), tapi terus saya bilang ke ayah ada restoran unik bergaya kolonial Belanda dulu di Cipaganti. Walhasil, kami jadi pergi ke restoran itu. 

Bloemen. Nama restorannya adalah Bloemen. Berlokasi di jalan Bosscha no. 45 (pas persimpangan SPBU Cipaganti langsung belok kiri dan belok kiri lagi), Bloemen mencoba menghidupkan kembali suasana jaman kolonial Belanda dulu, Dari mulai desain interior ruangan sampai menu makanan dan minuman yang ditawarkan, makan di Bloemen ini serasa turn back time beberapa puluh tahun yang lalu saat para meneer dan mevrouw sore-sore menikmati teh sambil ngemil kue-kue. 

©2015 Klaus R Dewanto

Teduh
Kesan pertama yang saya dapat pas tiba di Bloemen adalah teduh. Berlokasi di jalan Bosscha yang banyak pohon-pohon besar, serta adanya awning merah marun yang menghiasi teras depan membuat restoran ini terkesan teduh. Meskipun demikian, jarak antara teras dengan tempat parkir yang menurut saya terlalu dekat membuat fasadnya terkesan riweuh, meskipun sebetulnya kalau di area parkir tidak ada banyak kendaraan sih kita bisa melihat dan menikmati keindahan fasad depannya dengan lebih baik. 

Bloemen sendiri dalam bahasa Belanda berarti bunga (or at least something floral). Di bagian depan restoran memang tidak banyak tanaman bunga, tapi di taman belakang dan sampingnya ada, jadi nama tidak menipu. Di teras depan ditanami semacam tumbuhan paku setinggi perut orang dewasa yang menjadi pembatas alami antara teras depan dengan area parkir. Awalnya saya dan ayah mau makan di teras depan, tapi berhubung saat itu cuaca sedang cukup panas, jadi kami memutuskan untuk makan di dalam. Area makan di teras depan dan teras samping menggunakan kursi-kursi rotan warna putih yang mengingatkan saya dengan Café Parisien di kapal pesiar mewah RMS Titanic. 

"Titanic Cafe Parisien" by Robert John Welch (1859-1936), official photographer for Harland & Wolff


Rumah Oma
Bagian dalam restoran didominasi oleh dinding berwarna gading, meskipun pada salah satu sudut ruangan temboknya dicat merah terang (dan jadi focal point yang unik). Lantainya pakai ubin abu-abu tua dan ubin bermotif khas rumah-rumah peninggalan jaman kolonial (dan katanya sekarang susah loh cari ubin itu). Ubin abu-abu tua itu biasa saya lihat di rumah oma saya, jadi ada semacam feeling seperti berkunjung ke rumah oma saat kami masuk ke dalam ruangan. 

©2015 Klaus R Dewanto

Berbeda dengan seating area di teras, di bagian dalam furnitur yang digunakan sedikit lebih modern karena menggunakan kursi-kursi makan kayu yang desainnya cukup kontemporer. Ada juga sofa di beberapa sudut ruangan yang menambah kesan kontemporer pada ruangan, meskipun sebetulnya saya expect something more classic. Lampu-lampu gantung dengan kaca patri menambah sentuhan bohemian tersendiri, kalau kata ayah saya. Foto-foto jaman dulu dipajang di hampir semua sudut ruangan. Ada juga semacam lemari kaca besar yang menyimpan fine china. Selain foto, ada juga beberapa barang antik seperti radio tua dan pesawat telpon yang memperkuat kesan seolah-olah saya benar-benar ada di rumah oma. 

Di teras belakang, di dekat pintu menuju seating area teras belakang, ada sebuah piano upright. Meskipun pianonya tidak nampak jadul (Yamaha tipe-tipe yang cukup baru, mungkin keluaran tahun 2000an awal), tapi keberadaan piano dan foto-foto yang dipajang di atasnya menjadi focal point tersendiri di seating area teras belakang. Piano ini bisa dimainkan. Kebetulan sambil nunggu makanan datang, saya main piano. Keasyikan main piano, saya sampai dipanggil sama ayah karena katanya makanannya sudah datang. Jadi seperti anak kecil yang keasyikan main sampai harus dipanggil ibu atau ayahnya buat makan. 

©2015 Klaus R Dewanto


Mixed fries dan chocolade mint
Karena niat awalnya hanya sekedar ngopi dan ngobrol dengan ayah, kami tidak pesan makanan yang berat (toh di rumah juga sudah makan). Like father like son, saya pesan chocolade mint seperti ayah saya. Untuk light meal, saya pesan mixed fries dan ayah saya pesan risoles (saya lupa isinya apa). Chocolade mint adalah minuman coklat dingin dengan daun mint yang ikut di-blend bersama coklat. Biasanya kalau pesan minuman chocolate mint, yang digunakan itu kan sirup mint atau ekstraknya, kalau ini justru daunnya langsung dan ikut di-blend dengan minumannya. Walhasil, minumannya terasa seperti ada rasa daunnya (kebayang kan seperti apa rasa daun?), tapi tetap enak kok. Kata ayah saya, rasa mintnya jauh lebih authentic daripada kalau pakai sirup mint. 

Mixed fries dan chocolade mint©2015 Klaus R Dewanto

Restoran ini menjual juga steak, tapi berhubung sudah makan ya terpaksa tidak pesan steak. Mungkin lain kali kalau ke sana coba pesan steak deh, and I'll tell you what I think of it, okay? Nah, untuk mixed fries sendiri menurut saya dari segi kandungan gizi, saya dapat karbohidrat dan protein. Karbohidrat saya dapatkan dari dua jenis kentang goreng, shoestring dan potato wedges. Potato wedges-nya sudah berbumbu. Rasanya lumayan, sedikit spicy tapi tidak sampai pedas banget. Untuk level cemilan, porsinya cukup banyak jadi bisa saya bagi dua dengan ayah. Nah, selain goreng-gorengan kentang, ada dua jenis gorengan lain yang turut disajikan bersama gorengan kentang. Yang bentuknya lebih pipih itu ternyata jamur yang digoreng tepung. Tapi jangan bayangkan jamur crispy yang biasa dijual di stan-stan. Saya nggak yakin jenis jamurnya apa, antara jamur merang atau shiitake. tapi yang jelas sensasinya mengejutkan. Dari luar memang renyah, tapi saat digigit ternyata jamurnya masih basah dan sensasi juicy-nya jadi semacam taste twist buat saya. Untuk yang bola-bola itu, ternyata isinya daging sapi yang dihaluskan. Teksturnya lembut dan rasanya cukup lezat. 


Untuk ayah saya, ada risoles yang cukup besar dan, ternyata, meskipun berhasil dihabiskan tapi ayah saya cukup kekenyangan. Saya lupa isiannya apa tapi seingat saya sih looks creamy and cheesy (dan itulah sebabnya saya nggak mau nyoba). Risoles disajikan dengan sambal Bangkok. Kata ayah sih lumayan rasanya. Mungkin kapan-kapan saya harus coba juga. 

Bicara tentang harga, range-nya dari mulai belasan ribu sampai puluhan ribu (atau mungkin ratusan ribu ya, saya lupa karena nggak banyak memperhatikan harga-harganya dan lebih fokus ke desain interior restoran). Untuk steak sih harganya di kisaran puluhan sampai ratusan ribu. Yang jelas sih, seingat saya untuk light meal kisaran harganya dari mulai 20 ribu sampai sekitar 30 ribuan. Kalau dibandingkan dengan porsi dan rasa, menurut saya sih cukup worthy harga segitu. Saya lupa harga risoles yang dipesan ayah berapa tapi kalau tidak salah sih di kisaran 20 ribuan juga. Harga minumannya dari mulai belasan ribu hingga 30 ribuan. Range-nya di kisaran standar restoran kalau menurut saya dan kalau dilihat dari kenyamanan tempat, restoran ini worth visiting loh. Sayangnya, saat berkunjung musik yang diputar itu nggak begitu pas dengan suasana. I was expecting something like Nederlands-Oost-Indië songs (semisal lagu-lagunya Wieteke van Dort atau Ben Snijders), tapi ternyata lagu yang diputar genre-nya lebih kontemporer, dari mulai dance sampai brit rock. Mungkin kalau saya berkunjung lagi, saya coba bilang ke pelayan atau manajernya buat lebih menyesuaikan musik yang diputar dengan suasana restoran. 


Overall commentary
Bloemen menyajikan tidak hanya masakan dan minuman ala Indo-Belanda, tetapi juga suasana yang membuat kita seolah dibawa kembali ke era penjajahan Belanda (tapi bukan berarti disiksa ya). Suasana restoran yang tenang dan teduh, serta desain interior yang sangat mencerminkan konsep Indo-Belanda bikin pengunjung nyaman buat berlama-lama disana. Secara keseluruhan harga makanan dan minuman yang ditawarkan juga nggak mencekik. Anak kuliahan boleh lah sesekali makan di sini, karena nggak akan sampai bikin bangkrut juga kok (kecuali kalau sekali pesan langsung habis ratusan ribu). Jaringan wi-fi tersedia di sini, jadi buat ngopi atau ngemil sambil ngerjain skripsi di sini bakalan nyaman banget. 


By the way, itu foto saya dan ayah saat di sana. Maafkan muka kami ya. Saya yang di kiri, ayah yang di kanan. Awas salah orang (loh?). 


Nyam-marking
Ambiance: ★★★★★★★★☆☆ (8/10)
Taste: ★★★★★★★✬☆☆ (7.5/10)
Price: $$$--



Bloemen
Jalan Bosscha no. 45
Ph: 022-2032035

Thursday, July 23, 2015

[Review] CUPS Coffee & Kitchen

Sudah lama nggak bikin review tempat ngopi dan ngadem. Maklum lah deadline terjemahan benar-benar mencekik. Belum lagi revisi skripsi dan PR dari les piano yang masih numpuk. Masih untung ini masih bisa ngemil. 

Jadi sore ini saya dan koko saya pergi ke CUPS Coffee & Kitchen yang berlokasi di jalan Trunojoyo no. 25. Lokasinya menurut saya cukup strategis, terutama kalau kalian sedang atau hobi belanja karena di jalan Trunojoyo dan Sultan Agung ada banyak distro yang bisa dikunjungi. Tapi saran saya sih kalau mau belanja dulu, baru ngopi. Anggap saja singgah di oasis setelah berburu diskon. Awalnya saya memang nggak ada rencana khusus buat datang ke CUPS. Hari ini saya dan koko saya keliling Sultan Agung dan Trunojoyo, singgah dari satu distro ke distro lain, siapa tahu ada kaus atau jaket bagus dan kita bisa beli (angbao lebaran masih ada nih!). Setelah makan siang, mulut masih gatel nih karena ingin minum kopi dan walhasil, mendadak mencari tempat yang dekat untuk ngopi. Koko saya tiba-tiba mencetuskan CUPS karena sebelumnya kami pernah lewat saja, tapi penasaran dengan tempatnya. Maka akhirnya diputuskanlah kami ngopi di CUPS. 


Lokasi dan desain interior bangunan
Terletak di jalan Trunojoyo nomor 25, CUPS Coffee & Kitchen cocok dijadikan rest area buat para shoppers yang kelelahan setelah mengunjungi distro-distro dan belanja. Lokasinya yang berada di distrik distro juga memudahkan saya yang, pada saat itu, harus balik ke Blackjack untuk beli jaket yang akhirnya saya putuskan mau beli. Saya dan koko datang sekitar pukul tiga sore dan cuaca saat itu berawan (which is a good weather to sip some coffee). Kami disambut dengan interior minimalis yang manis. Dinding ruangan utama berwarna abu-abu muda. Lantainya pakai parquet dengan warna coklat tua, cukup kontras dengan dinding. Beam warna hitam juga dibiarkan saja terekspos, menyokong atap dan lantai dua yang merupakan area minum terbuka. 

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto

Untuk seating area, bisa dibilang ada empat area. Area yang pertama adalah area terdepan (paling dekat dengan pintu masuk). Ada split level, naik sedikit, kita sampai di area kedua--ruang utama yang bentuknya memanjang, dengan deretan jendela-jendela kaca di dinding atas sehingga ada banyak cahaya yang bisa masuk ke ruangan. Disini ada lebih banyak meja dan kursi. Selain itu ada juga tempat yang sedikit mojok, di sisi kiri ruangan utama. Yang terakhir, seating area juga ada di lantai dua. Kalau di sana, karena tempatnya di luar ruangan mungkin lebih cocok untuk suasana yang lebih berisik (semisal kalau bawa banyak teman buat ngobrol-ngobrol). Di ruangan utama dan area yang agak mojok, menurut saya sih cocok kalau kita ingin ngopi dengan suasana yang lebih kalem. Tapi kayaknya kalau lagi jam-jam ramai atau weekend sih buat nyari suasana yang lebih tenang agak susah karena banyaknya orang yang datang. 

Yang bikin saya dan koko saya amazed adalah adanya tanaman-tanaman dan props yang berkaitan dengan berkebun. Sisi naturalis saya pun keluar deh saat saya lihat ada beberapa tanaman anggrek yang ditanam di dalam pot tempel di dinding. Ada juga semacam tanaman rambat yang ditanam di dinding kiri ruangan utama (kalau dari arah pintu masuk). Di setiap meja, diletakkan sebuah vas tanaman kecil. Selain itu juga ada tanaman-tanaman semacam sukulen dan kaktus yang ditanam dalam pot-pot kecil. Jadi gatel ingin nyiram tanaman. Yang jelas tanaman-tanaman tersebut menjadi pemanis ruangan utama CUPS Coffee & Kitchen.

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto

Oh ya, saat saya keliling ruangan utama, saya menemukan sebuah pintu yang menghubungkan CUPS dengan Flower Shop yang lokasinya bersebelahan. Namanya juga Flower Shop, yang dijual pastinya bunga. Nah kita bisa pesan bouquet bunga, dari mulai mawar sampai bunga-bunga yang diimpor dari luar negeri. Di sana juga ada beragam pilihan vas yang bisa kita pilih. Selain itu, ada juga semacam display kecil yang memuat mainan dari clay yang menggemaskan! Yay! Habis ngopi, kita bisa beli bunga buat orang yang kita sayangi! Atau mungkin sambil ngopi, diam-diam kita menyelinap ke toko bunga itu, beli satu bouquet bunga terus kembali ke kafe dan kasih surprise buat orang yang kita sayangi. Bisa jadi surprise plan yang kece tuh!

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto


Kopi Magic
Karena judulnya ngopi, maka kami harus pesan kopi. Ralat: salah satu dari kami. Berhubung koko saya lebih suka kopi daripada saya, jadi koko saya yang pesan kopi. Sementara itu, seperti biasa saya pesan minuman yang berbahan dasar coklat. Karena kami sudah makan siang, kami pun memutuskan untuk beli light meal saja. 

Koko saya pesan minuman kopi bertajuk Magic. Dari nama turun ke hati, koko saya langsung penasaran dengan minumannya setelah baca namanya. Saya sendiri pesan iced chocolate. Untuk light meal, kami pesan french fries yang disajikan dalam semacam ember berbahan logam yang bagian dalamnya dilapisi oleh semacam kertas. Gemes deh penampilannya. 

Kiri ke kanan: Magic dan Iced ChocolateCopyright © 2015 Klaus R Dewanto

Untuk rasa sendiri, saya sempat cicipi Magic dan, bagi saya yang bukan penggila kopi, rasa kopinya sangat dominan (ya iyalah). Bittersweet, tapi jatuhnya lebih ke pahit sih (dan itulah kenapa si waiter memberikan gula tambahan). Tapi saat saya coba, ada semacam rasa coklat. Kalau saya bisa tebak, mungkin Magic itu semacam kopi moka. Harusnya koko saya sih yang kasih penjelasan tapi dia sudah keburu tidur jadi.. ya sudahlah. 

Untuk iced chocolate sendiri sih menurut saya oke. Iced chocolate-nya bukan susu coklat (you know what I mean, kan?), dan rasa manisnya juga pas karena saya memang nggak begitu suka yang terlalu manis. Untuk french fries yang kami pesan, dari segi rasa sih lumayan lah ya karena si kentang dikasih seasoning yang bikin rasanya nggak flat atau sebatas asin karena garam aja. Sayangnya karena kami sudah makan siang, kami nggak sanggup buat mencicipi main course. Lha wong perutnya sudah penuh. Tapi semoga saja di lain kesempatan saya dan koko saya bisa kesana lagi dan mencicipi main course-nya (dan tentunya tulisan ini nanti di-update lagi). 

Gimana dengan harganya? Nah, kalau soal harga sih saya dan koko saya sepakat, ada harga ada rupa, meskipun memang urusan rasa sih subjektif. Tapi setidaknya buat saya dan koko saya, rasa makanan dan minuman serta suasana yang ditawarkan cukup lah sebanding dengan harga makanan dan minuman. Magic sendiri harganya Rp 25.000,- per cangkir dan iced chocolate harganya Rp 27.000,- per gelas. Untuk french fries, per 'ember mini' itu harganya Rp 22.000,-. Harga makanan utama seingat saya sih berada di kisaran 30 ribu ke atas (lupa harga paling mahalnya berapa). 


Overall commentary
Secara keseluruhan buat saya dan koko saya, CUPS Coffee & Kitchen merupakan semacam sanctuary saat kami mulai~lapar~mulai~lapar dan mulai haus setelah berburu ke distro sana sini. Lokasinya yang dekat dengan distro-distro (apalagi dari Screamous, Cosmic, dan Babybones) membuat CUPS Coffee & Kitchen ini strategis. Orang nggak perlu jalan jauh buat makan. Parkir motor atau mobil di depan Screamous, terus nyebrang jalan sedikit eh sampai deh di CUPS. 

Desain interior tempatnya kece! Tanaman-tanaman yang ada menambah suasana adem pada desain interior bernuansa rustic. Belum lagi musiknya yang nggak bikin sakit kepala (saya sih berharapnya mereka mau muter mixtape Quiet Storm), ngopi di CUPS jadi lebih nyaman lagi. Waiter dan barista yang ada juga ramah-ramah (saya malah sempat dibantu dicarikan gunting untuk motong label baju). So, kalau ditanya apakah saya dan koko saya mau kesana lagi, jawaban kami adalah ya.

#teamlapar | Kiri ke kanan: saya, koko saya


Nyam-marking
Ambiance: ★★★★★★★★★☆ (9/10)
Taste: ★★★★★★★☆☆☆ (7/10)
Price: $$$--


CUPS Coffee & Kitchen
Jl. Trunojoyo no. 25, Bandung
Opening hours: 10a.m - 10p.m (Minggu-Kamis), 10a.m - 11p.m (Jumat-Sabtu)
Twitter: @CUPSCoffeeShop