My Fellas!

Now it's time to have healthy snack and fresh premium milk tea. My Fellas will be your next best friend. Check the products out!

Cat Valentine's Anti-Gambling Poem

It's one of my favorite scenes from all Sam and Cat episodes. This one is taken from episode #ToddlerClimbing. I wish you guys would stop gambling and.. stop laughing at the poem as well!

Short-stories by Klaus

Check some short stories written by me!

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label personal. Show all posts
Showing posts with label personal. Show all posts

Monday, November 30, 2015

Slowpoke

I don't think it's necessary to tell you all about what I am, what I've been (actually) feeling all this time but since I can't hold it anymore, I'm just gonna spit it out here. I'm sad. I actually feel sad. I've been actually feeling sad for about two months. I might not show the world that I'm sad, but deep inside my heart, I feel hurt. Not broken tho, but quite hurt. 

What happened? Who hurt me? 

I'm disappointed in myself. I must have been slowpoke all this time, doing everything slowly, lazily as if I had much time yet, in fact, I didn't have much time and now I realize I'm gonna miss the train. When I see my friends, one by one, finish their final research and graduate, I feel happy for them and, at the same time, feel broken. Why can't I be like them? I once thought of reasons why I couldn't finish my research as soon as possible. I might be a slowpoke, or I might have short-span attention, turning my attention from my research to something else within seconds, or I might be just too stupid to conduct a research. 




Shit! I wish I can say more but I don't know what else to say. 

Wednesday, April 15, 2015

Kebahagiaan dan Gaji Pertama

Setelah sebelumnya saya bercerita tentang pekerjaan baru yang saya punya, akhirnya setelah menunggu beberapa minggu saya mendapatkan gaji pertama saya yang bisa saya gunakan. Sebetulnya saya gajian setiap dua minggu, dan setiap dua minggu pula uang mengalir ke akun Paypal saya. Akan tetapi, karena status akunnya masih belum terverifikasi, si uang yang terkumpul itu belum bisa dikirim ke rekening bank saya. Otomatis, nganggurlah dollar di Paypal saya dan bokek lah saya di dunia nyata. 

Tapi kini tidak lagi! 

*SFX: Orchestral Hit



Saya akhirnya merelakan 65 ribu rupiah saja untuk beli virtual credit card, dan keikhlasan itu berbuah manis karena saya akhirnya bisa memindahkan 360 ribu rupiah ke rekening bank saya. Saya putuskan untuk tarik 360 ribu saja karena nggak mau boros. Biasanya kalau ada banyak uang, saya malah jadi suka boros. Sekalian belajar berhemat. Maklum, saya masih suka kalap kalau tahu ada uang banyak di rekening dan diajak main sama teman-teman. Lihat T-shirt bagus, langsung beli. Lihat jaket bagus, langsung beli. Tahu-tahu di rekening sisa sedikit dan bahkan, buat ongkos pun ngap-ngapan. 

Berbicara tentang gaji pertama, saya selalu bahagia dan terharu kalau mendengar gaji pertama. Akhirnya, kerja keras kita membuahkan hasil. Gaji pertama ini terdengar seperti ranking 1 yang kita dapat saat kita masih kelas 1. Kayak gitu sih kalau buat saya. Rasanya senang karena akhirnya ada uang yang bisa digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari. Terharu, karena kerja keras kita dibayar dan kita dihargai. Juga, terharu karena mengingat usaha keras kita untuk mendapatkan uang. Hey, jaman sekarang nyari duit itu nggak gampang. Kamu bisa nemu lima ratus perak di jalanan, tapi jaman sekarang lima ratus perak bisa buat makan apa? Bahkan Chitato bungkus kecil aja sekarang dibanderol seharga 2 ribu. Gila banget ini jaman. 

Kebahagiaan saat dapat gaji pertama itu susah untuk didefinisikan. Bukan kebahagiaan yang bikin saya bersorak sorak bergembira, tapi semacam kebahagiaan yang cukup bikin saya tersenyum aja, tapi sangat lega di dalam hati. Rasanya kayak ada kembang api di dalam diri ini yang meledak dan membuat tulisan "C-O-N-G-R-A-T-U-L-A-T-I-O-N" di langit. Saat lihat jumlah uang di akun Paypal bertambah, rasanya greget jadi ingin menambahkan lagi, lagi, dan lagi. Gaji pertama jadi semacam penyemangat bahwa saya harus bekerja lebih giat dan lebih keras supaya bisa menghasilkan uang lebih banyak. Apalagi saya tipe orang yang banyak keinginannya. Ingin ini ingin itu banyak sekali. Keinginan yang banyak itu bisa terpenuhi salah satunya ya dengan mendapatkan uang. Duh jaman sekarang semuanya pake price tag. Lagunya Jessie J yang judulnya Price Tag, yang menceritakan tentang kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan price tag, sebenernya ujung-ujungnya pake tag harga juga. Tuh buktinya di iTunes ada harganya, satu lagu 8 ribu. Jadi, dengan adanya sumber dana saya bisa membeli barang-barang yang saya impikan. 


Menikmati kebahagiaan ini kayaknya nggak enak kalau sendiri aja. Bukannya mau jadi sombong, tapi saya cenderung seneng bagi-bagi kebahagiaan sama orang lain. Orang-orang lain juga saya rasa begitu. Gaji pertama biasanya dipakai buat beli sesuatu buat keluarganya. Kalau saya sendiri sih, gaji pertamanya saya pakai buat belikan pizza buat keluarga saya. Memang sih cuma pizza, tapi kan yang penting niat baiknya. Lagian pizza juga nggak murah. Yang terpenting adalah bagaimana kita mencoba berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Salah satu kebahagiaan yang bisa didapat adalah dengan melihat orang-orang yang kita sayangi bahagia. Begitu kan? 

Dan setelah mendapat gaji pertama, saya diingatkan saya mama saya buat bersedekah. Katanya, kalau bersedekah nanti rezekinya jadi semakin berkah dan bisa dilipat gandakan. Saya selalu percaya dengan hal itu. Memang sih bagusnya kalau bersedekah jangan minta imbalan, tapi toh memang ada janjinya bahwa bersedekah bisa melipatgandakan rezeki (dan pahala juga kan), jadi ya kenapa tidak? Toh kita dapat rezeki juga ada campur tangan Tuhan. Saya yakin bersedekah adalah salah satu cara saya bersyukur sama Tuhan untuk berkat yang diberikan untuk saya. Bersedekah juga semacam pengingat bahwa dengan rezeki yang kita dapat, kita nggak boleh sombong. 

Semoga saya bisa bekerja dengan lebih giat, mendapatkan lebih banyak uang dan bisa terus bersedekah dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar saya. Amin. 

Saturday, April 11, 2015

That uneasy feeling

Lately I've been feeling uneasy, like something has been following me everywhere. No, it's not about supernatural stuffs. I didn't commit any crimes either. I just, I've been feeling that way, that something has made me feel so uneasy. Or rather, I've been haunted. 

My mom wants me to graduate soon. That's why I was quite depressed back, like three months ago because I had to finish the research proposal when I, actually, still needed more time to refine it. For your information, I submitted my research proposal like a month ago and the department demanded me to revise the proposal so I could continue doing my research. The problem came when they told me that the topic I chose was something difficult and, due to some reasons, I was given options, whether to keep the topic or change it. I ended up deciding to change the topic, which means that I had to start over, yeah, like starting back from the scratch and finding another idea for my research. I came up with the idea of doing research on translation field and my friends said that it was a good idea because they knew I'm a freelance translator and, even, a lecturer who is an expert in translation field supported my decision. 

I joined an internship program starting from February to April. It required me to focus on my tasks. I worked in a group alongside five other girls in a radio station. I went to the radio station where I worked as a member of creative team for a program (almost) every day, from Monday to Friday. I had to leave at four and it took an hour to reach my workplace. I worked for two hours, from 5 to 7. Sometimes they extended the work hour and that was a great pain. It took another one, oh no, two hours to reach home so I spent like two hours on public transportation, sitting and listening to the same playlist every single day. I was really tired I got no much time to even 'touch' and 'make out' with my research proposal. It has been obviously neglected. 

I received an e-mail from WikiHow like one month ago (almost at the same time I started the internship program), informing that I have become a part of translator family for WikiHow, English-to-Indonesian translation. The job offered me great deal of money and I liked it. I like it. I really really like it. I really really really fucking like it. Who doesn't like money? Who doesn't need money? Even if you're a billionaire, it's a bullshit if you say that you don't need money. Without money, you ain't no goddamn billionaire. So I worked my ass off, day and night to translate some articles worth some bucks. I have earned a hundred bucks and I've told myself to work my ass off even harder so I can earn some more. 

I eventually realize that working on the translation project seems like drinking a bottle of Manischewitz. It's so sweet that I can't tell if I'm already drunk or not because I enjoy it so much. Sometimes sweetness makes people oblivious to the real situation. So does job (and money). I realize that I've been so busy working my ass off, day and night, and neglected my research proposal. As I tried to do what I should have done earlier, I felt like I didn't want to do it. I don't want to do it for now because I'm not ready yet. Starting over means I have to learn new theories, find new research objects, and... yeah... basically do everything from the very beginning.It's not a simple and easy thing to do. It's not something that you can do in 5 minutes, like cooking an instant noodle and brewing nice tea. Collecting data and source books are not as easy as collecting beautiful corals while walking on the beach, and the pressure from my parents just make things more difficult for me. 

I kind of need fresh air. I need to relax. I need to retreat for a while, undisturbed. I need to find a place where I can just sit and enjoy fresh air (maybe a secluded beach resort would do). I can't do it in this very kind of condition, as I'm not ready and I (have to admit it) feel a bit lazy to start. The previous tasks from the internship program are not as easy as I thought and I need to improve my translation skill in order to make better translations. Shit why are things so much more complicated when I have reached 20? Sometimes I wish I was still eighteen. Yeah. Maybe things would just be easier for me, though it sounds like things would be just the same. Okay. Whatever. 

Sunday, March 22, 2015

Once upon a dream

I feel like swallowing thorns. Thousands of thorns. They're stuck there in my throat, so my throat bleeds. I can't scream. I can't ask for help. I feel like two black buttons have been sewn to my eyes, blocking my sight. I can't open it. I wish I was able to cry but I am not. My tears are now boiling, like the water of hell. It burns me. I feel like my head is going to explode. I can feel the crack in my skeleton. My brain is dysfunctional. I feel like dying. 

But you wouldn't understand. You would never understand. Crying is not your thing and you hate it when someone's crying. Well I feel like crying but I can't cry, because I don't want you to hate me. Why can't you just stab my back, or cut my throat? I'd die for you, but would you do it for me? You think you know what's happening inside of me, but actually you don't. I don't know what's going on, too. What's happening? Why am I being like this? Why do I hate myself so bad? 

Monday, January 26, 2015

Kebiasaan Menabung Semasa Kecil

Saya iseng-iseng lihat-lihat foto-foto di Instagram saya (wait a minute.. kata-kata yang dipake di kalimat saya berrepetisi and they sound funny) dan lihat foto hasil tantangan #20FactsAboutMe yang dulu sempat tenar di kalangan pengguna Instagram. Saya baca-baca lagi dan ketawa saat lihat komentar-komentar yang masuk. 

Salah satu hal yang bikin saya ketawa (sekaligus takjub) adalah salah satu poin di antara 20 poin yang saya buat, dimana pada poin itu saya bilang bahwa dulu saat saya masih kecil saya sering menabung dan dari hasil tabungan itu saya beli sesuatu yang nggak lazim dibeli untuk anak-anak seumur saya. Buat saya itu nggak lazim ya karena kalau saya bandingkan dengan apa yang teman-teman saya beli, mereka cenderung beli mainan seperti konsol game atau (kalau jaman dulu) CD Playstation. Ada juga temen-temen saya yang nabung untuk beli kaset lagu (karena saat saya beranjak kelas 5, sudah mulai ada tren beli kaset lagu, termasuk VCD karaoke). Tapi saat saya seumur mereka (bahkan lebih muda deh kalau nggak salah), saya justru nabung untuk beli chandelier dan cuckoo clock. Ya! Chandelier! Cuckoo clock! Kalian nggak salah baca kok! Serius! Saya beli dua barang itu, barang-barang yang lebih cocok dibeli sama orang dewasa dan orang yang lagi mikir untuk renovasi rumah. 



Untungnya saya nggak sampai kayak gitu setelah ada chandelier di rumah, apalagi seperti ini.. 



Minat Pada Desain Interior
Saya rasa alasan saya memutuskan untuk nabung beli chandelier adalah salah satunya karena minat saya pada desain interior. Jaman SD dulu saya rela begadang nonton Titanic hanya demi lihat interior kapal yang super megah (sampai saya saking seringnya berhasil gambar kapal Titanic, dua lembar sekaligus di buku gambar ukuran A3, tanpa banyak lihat contoh gambar). Saya suka buat cocok-cocokin barang-barang, semisal chandelier dengan ceiling dan wall covering, atau chandelier dengan furnitur yang lain. Hasil kreasi saya bisa dilihat di Facebook saya, ada beberapa album desain interior dengan menggunakan media The Sims 3 (sayangnya di-uninstall karena alasan habis memori)

Dulu saat saya tinggal di Kuningan, rumah saya sangat dekat dengan rumah kerabat saya yang buka toko peralatan listrik dan lampu. Setiap lewat toko itu saya selalu memperhatikan berbagai jenis chandelier yang ada dan terbayang untuk punya satu di rumah (karena pada saat itu saya ngerasa bahwa parlor rumah jaman Belanda yang saya tempati terasa biasa-biasa aja). Dan setelah ngobrol tentang keinginan yang terdalam itu pada papa dan mama, akhirnya mereka menyarankan saya untuk nabung supaya bisa beli chandelier sendiri. 

Dan saya pun nabung.. 

Jaman dulu harga barang-barang nggak semahal sekarang dan saya masih ingat ada banyak sekali chandelier di toko itu yang harganya cuman 150 ribu atau 200 ribu. Yang paling mahal ada yang seharga 1 juta rupiah dan tingginya sekitar satu meter lebih, dan lebih cocok dipasang di rumah dengan langit-langit yang tinggi atau di langit-langit void. Lewat satu lebaran dan satu imlek, saya berhasil mengumpulkan uang sekitar 200 ribu lebih dan, diantar sama ayah saya, ke toko milik kerabat saya untuk beli chandelier yang sudah saya incar. Desainnya sendiri sebetulnya sederhana dan nggak ribet, karena menurut saya cocok dengan desain parlor rumah saya saat itu yang menurut saya agak 'nanggung' (renovasi ini itu bikin ke-Belanda-an parlor itu jadi berkurang, jadi saya coba untuk cari chandelier yang desainnya sedikit modern). Pada hari itu juga chandelier yang saya beli dipasang dan sore harinya, kerabat saya yang punya toko alat-alat listrik itu berkunjung ke rumah dan terkagum-kagum dengan adanya chandelier di parlor rumah saya. Langit-langit parlor rumah saya dulu bergaya (menurut saya sih) modern atau art-deco, dengan pola rounded square bercat coklat tua. Untuk lantainya sendiri masih asli lantai saat pertama kali rumah dibangun dan jendela-jendelanya sangat besar. Desain interior parlor saya itu semacam transisi dari gaya kolonial ke gaya modern, memadukan unsur-unsur kolonial Belanda dengan unsur-unsur art-deco

Dan chandelier yang saya beli itu dirasa sifatnya netral untuk kedua gaya interior yang berbeda itu. 

Kepindahan saya ke Bandung walhasil membuat pertanyaan tentang chandelier itu. Mama saya tanya tentang nasib chandelier itu, apakah akan dibiarkan saja atau bagaimana. Saya jelas-jelas tidak mau chandelier sebagus itu dibiarkan nggak terurus di rumah kosong. Akhirnya, chandelier itu dilepas dari langit-langit dan dipasang di rumah nenek saya. Sementara itu, beberapa chandelier lain (yang saya beli dan ada juga yang dapat minta dari nenek) dibawa ke Bandung. Sayangnya, usia chandelier yang sudah bisa dibilang tua itu bikin chandelier itu jadi rusak dan bahkan beberapa potong kristalnya sudah patah dan pecah. Sedihnya, sekarang saya nggak punya chandelier di rumah yang saya tempati. Rumah bergaya minimalis ini nampak nggak cocok kalau harus dipasang chandelier bergaya klasik seperti yang saya punya dan.. orangtua saya nampaknya nggak ada pikiran sama sekali untuk beli chandelier bergaya modern. 

Cedih :(



Bunyi "Kuk Kuk!"
Selain chandelier, barang lain yang pernah saya beli dengan hasil uang tabungan sendiri adalah jam kukuk. Cuckoo clock. Sayangnya si jam sudah entah kemana, jadi kini hanya tinggal kenangannya saja. 


Kalau lihat jam begitu jadi kangen.. 

Jam kukuk itu buat saya menarik. Burungnya keluar setiap jam (oke saya tau ini ambigu), dan manggut-manggut tergantung jam yang ditunjukkan (ini juga sama ambigunya). Ukiran kayu di jam kukuk itu klasik banget, meskipun yang sekarang biasanya dibuatnya dari bahan plastik, termasuk burungnya juga dari plastik, bukan dari kayu diukir. Saya suka dengan suara kukuk yang khas dan menggemaskan, apalagi dengan penampilan burung (sepertinya sih hummingbird atau lovebird) dengan bulu warna-warni dan mata yang diukir dan dicat sedemikian rupa sehingga nampak realistik. 

Saya sempat nabung sampai berapa puluh ribu dan sisanya dibantu sama orangtua saya karena jam kukuk itu harganya bahkan lebih mahal daripada chandelier yang saya beli. Setelah beli, ya saya cukup puas dengan apa yang saya punya. Meskipun jam kukuknya bukan yang seharga jutaan, tapi saya sudah cukup bahagia setiap jam lihat burung keluar masuk (ambigu lagi). 


Ingin Beli Grandfather Clock
Siapa sangka saya juga sempat ingin nabung untuk beli grandfather clock. Ya, jam besar yang kalau kamu masih kecil itu sebetulnya bisa masuk ke dalam kotak bandulnya. Entah ya tapi keinginan saya jaman kecil itu memang aneh-aneh, dari mulai ingin grandfather clock, ingin cuckoo clock, ingin chandelier, sampai pernah kepikiran ingin punya lantai marmer di rumah. 

Gila ya? 

Nah, tentang grandfather clock itu memang sebetulnya saya sudah suka sejak awal. Bentuknya yang besar, kokoh dan mewah selalu bikin saya tertarik. Kadang saya suka sengaja masuk ke masjid dan duduk sebentar disana nunggu sampai waktu menunjukkan waktu tertentu dan mendengarkan dentangan jamnya. Jaman dulu, sekitar tahun 2000an harga grandfather clock masih ada di kisaran jutaan, semisal 3 juta. Yang paling mahal itu dulu saya lihat harganya 18 juta rupiah. Kalau sekarang sih pasti sudah jauh di atas itu. Jam yang ingin saya beli pada waktu itu adalah jam dengan bagian atas yang menyerupai atap rumah, dengan tiga pemberat bandul. Saya lupa harganya berapa tapi kalau nggak salah sekitar 6 atau 8 juta rupiah, pada kurs tahun 2000an. 

Nggak ngerti ya sama keinginan saya jaman dulu? Sama. Saya juga gitu. 

Oh ya, keinginan untuk beli grandfather clock ini belum juga terrealisasi. Mungkin karena saat itu saya udah punya chandelier dan cuckoo clock jadi saya rasa udah cukup bagi saya dan nggak mau kepikiran untuk punya grandfather clock (meskipun sering muncul lagi keinginan untuk beli grandfather clock). Kesininya keinginan saya lebih ke arah sesuatu yang mendukung minat saya seperti piano akustik dan biola dan.. puji Tuhan, saya punya dua-duanya sekarang :)


Jadi Jarang Menabung
Entah semenjak kapan kebiasaan menabung saya jadi menghilang. Saya jadi konsumtif dan lebih banyak jajan, terutama saat dapat uang. Padahal kalau dipikir-pikir lagi dengan kebiasaan menabung saat saya kecil, sekarang saya udah bisa beli banyak barang yang saya mau dengan uang saya sendiri. Ya ini mungkin salah satunya karena faktor lingkungan yang konsumtif juga, dan faktor diri sendiri juga yang memang gampang kebelet ingin jajan ini itu. 

Kalau dilihat jaman dulu, perjuangan saya untuk nggak jajan dan bisa berhasil ngumpulin uang sebanyak itu perlu diapresiasi. Jaman dulu juga mungkin karena nggak ada terlalu banyak hiburan (dan saya dulu nggak begitu tertarik dengan Playstation), jadi uang yang bisa dipake jajan atau main saya alokasikan untuk sesuatu semacam chandelier dan jam kukuk. 


Ah jadi ingin nabung lagi.. 

Wednesday, January 7, 2015

What do you expect?

Saya, sebagai manusia biasa, nggak hanya mendengarkan cerita dan permasalahan orang lain. Saya nggak hanya datang untuk menenangkan dan menghibur orang lain yang sedang dalam masalah. Saya juga nggak hanya meluangkan waktu saya untuk orang-orang lain. Sebagai manusia biasa, saya juga punya masalah dan kehidupan saya sendiri yang harus saya selesaikan. Saya punya hal-hal yang harus saya lakukan untuk kebaikan saya sendiri. 

Mungkin beberapa orang lupa bahwa setiap orang punya kehidupannya masing-masing. 

Apa yang mereka harapkan? Mau berapa lama mereka selalu bergantung pada orang lain dan berharap bahwa orang lain akan selalu ada untuk mereka, meluangkan waktu untuk mereka, mendengarkan cerita-cerita mereka dan mau memberi saran atau sekedar menghibur mereka? Apa mereka nggak sadar bahwa dengan membiarkan ketergantungan mereka pada orang lain, mereka juga secara nggak langsung telah bersikap begitu posessif? Sejujurnya ini yang saya rasakan selama ini. Ada beberapa orang yang nampaknya terlalu memikirkan dirinya sendiri dan kebutuhan sosialnya, sampai lupa bahwa saya juga adalah individu yang bebas, yang punya kehidupan dan masalahnya sendiri. Beberapa orang nampaknya mengharapkan saya untuk selalu ada dan membantu mereka, selalu meluangkan waktu saya untuk mereka dan selalu melibatkan mereka bahkan dalam hal-hal yang menurut saya tidak mesti juga mereka ikut terlibat. Saat ada yang tidak sesuai dengan keinginan mereka dan saya nggak bisa berbuat apa-apa, mereka jadi marah dan kecewa, dan melampiaskan dalam bentuk apapun dan saya tahu itu. Saya terpaksa berada dalam posisi yang bersalah, meskipun saya sadar memangnya apa salah saya? Semisal, saat saya pergi dengan seorang teman lalu seseorang yang lain tiba-tiba menyindir saya dan bilang bahwa ketidakterlibatannya dia dalam acara saya bersama teman saya membuat dia sangat kecewa. Memangnya saya harus selalu melibatkan dia? Terus, saya harus gimana? Maunya dia apa? 


Lantas kalau saya pergi dan nggak ajak dia, itu salah saya? 

Bukannya saya juga punya acara sendiri, permasalahan sendiri dan hal-hal lain yang bisa saya lakukan dengan siapapun dan kapanpun yang saya inginkan? Kenapa harus marah saat saya tidak ajak? Kenapa harus marah saat saya nggak bisa mendengarkan masalah-masalah orang lain sementara saya sendiri sedang berkutat dengan masalah saya sendiri? Kenapa saya harus selalu berusaha keras membantu orang lain sementara saya sendiri perlu ditolong? Bukan tentang saya dan keegoisan saya, tapi ini tentang bagaimana saya mencoba menyeimbangkan kebutuhan saya dan bagaimana saya ingin mencoba membantu orang lain. 

Saya punya masalah yang harus saya selesaikan dan jangan pernah menganggap bahwa masalah saya selalu ringan. Jangan pernah memaksa saya untuk selalu membantu dan mendengarkan masalah-masalah anda dan kalau anda rasa tidak akan pernah bisa menerima saran-saran saya, berhenti meminta saran dan menceritakan permasalahan saya pada anda kalau anda mengharapkan saya untuk memberi saran. 

Saya punya perasaan dan saya harus menangani perasaan saya sendiri, jadi jangan pernah memaksa saya untuk selalu bisa tampil layaknya orang yang sedang bahagia di depan anda karena saya juga bisa merasa sedih dan marah. Jangan juga selalu menganggap bahwa saat saya sedang sedih atau marah, itu semua disebabkan oleh anda karena anda tidak tahu apa-apa. 

Saya punya kerabat-kerabat dan sahabat-sahabat dan saya berhak untuk berbicara, berteman dan meluangkan waktu saya dengan mereka. Saya juga berhak untuk memutuskan dengan siapa saya ingin pergi, kemana saya ingin pergi dan kapan. Jangan paksa saya untuk selalu harus mengajak anda untuk ikut dalam acara saya dan berhenti memaksa saya untuk menemani anda kapanpun anda mau dan jangan langsung begitu saja marah saat saya tidak bisa meluangkan waktu dengan anda. 

Saya secara pribadi tidak akan memaksa orang untuk berteman dengan saya. Dengan kata lain, saat ada yang ingin berteman dengan saya, ya saya terbuka untuk pertemanan (meskipun awalnya saya sedikit dingin karena nature saya yang seperti itu terhadap orang-orang baru). Saat ada yang tidak ingin berteman dengan saya, ya saya pun terima karena saya sendiri punya pilihan dengan siapa saya ingin berteman dan siapa saja yang tidak ingin saya anggap sebagai teman. Orang-orang bisa punya ekspektasi mereka terhadap saya, tapi saat saya tidak bisa memenuhi ekspektasi itu jangan langsung menilai saya buruk karena saya sendiri punya ekspektasi terhadap orang lain dan diri saya sendiri. Kalau masih menuntut bahwa saya harus memenuhi ekspektasi mereka, saya sangat terbuka untuk orang-orang meninggalkan saya daripada mereka harus terus dikecewakan oleh saya yang mereka anggap selalu gagal memenuhi ekspektasi mereka. 

Mereka harusnya tahu bahwa saya juga punya ekspektasi tersendiri. 

Tuesday, November 4, 2014

Over-anxiousness

Lately I've dealt with the loss of beloved belongings, as well as relatives or friends. Somebody stole my jacket which was a gift from my mom. My uncle passed away two days ago which shocked me. Some friends of mine posted statuses and photos of the death of their relatives. I have to be honest (as much as I wanted). I fear death and I fear losing people I love. What has happened lately has made me kind of scared. Yeah.. it has made me scared, as badly scared as a human being can be. 

The fear has made me so anxious. My mom goes to work every day and ever since I dealt with the loss, I have been asking her too many questions like "Where are you going?" or "When are you going to be home?" Well, seriously I've been feeling scared and the fear haunts me every day like a nightmare. I don't tell people that I've been feeling scared. Nor I show them how I'm so scared. But I think the way I ask people too many questions on such thing must have given them clues on my over anxiety. 


My parents attended my uncle's funeral and they had to stay in my grandma's house for a couple days since the family decided to bury my uncle in the hometown of my grandparents. My uncle died of heart attack and his sudden, unimaginable demise shocked me so bad that I ran from my home to met my friends and cried. Before leaving home, I repeatedly asked my mom when she and dad would be home and how long they would stay there in my grandma's hometown. I didn't contact my parents while they were away but I kept thinking of them and felt scared every night. I didn't want to lose my parents. I prayed to God that no harm could hurt them. 

It's not only about my parents. I've been worrying about my close friends as well. It scares me to know that a close friend of mine got caught in the rain in the night. I've kept praying to God that He will protect my family and my friends and that I don't have to deal with such loss again. 

Is it normal to feel this way? When I told my mom that I had this kind of over-anxiety, she told me it was normal to feel that way. Now the question is, how long would I have this kind of extreme anxiety? 

Monday, October 20, 2014

Nesa's Day

Beberapa hari yang lalu, sepupu saya berulang tahun. Beberapa hari yang lalu. Ya, karena saya lupa tanggal berapa tapi yang jelas di bulan Oktober (dan saya malas buat buka Facebook, just to find out his birthday). Sebetulnya ada beberapa orang spesial yang berulangtahun di bulan Oktober dan salah satunya adalah ayah saya yang kemarin sempat merayakan pesta ulangtahun kecil di rumah. Ada nasi kuning tumpeng, ayam goreng, sambal, salad.. 

Sebetulnya post ini akan menceritakan tentang sepupu saya, Nesa. 

Umur si Nesa itu sebetulnya lebih muda dari saya, tapi berhubung orangtuanya adalah kakaknya ayah saya mau nggak mau harus nyebut kakak atau mas ke dia, meskipun pada kenyataannya saya manggil dia dengan nama dia, Nesa, atau Agnesa. Katanya sih beberapa hari yang lalu dia ulangtahun. Katanya. Loh, kok? Kalau anda salah satu pengikut atau penggemarnya Nietzsche mungkin akan setuju dengan ucapannya yang bilang bahwa tidak ada fakta, yang ada hanya interpretasi. Maksudnya, semisal si Nesa dikatakan di akte ulang tahunnya tanggal 17 Oktober, itu 'kan realita menurut yang nulis akte atau realita menurut orang yang percaya bahwa dia ulang tahun tanggal 17 Oktober. Kalau ternyata dia sebetulnya bukan lahir tanggal segitu, bagaimana? 

Bingung ya? Emang out of topic sih.. 

Baiklah. Jadi Nesa itu seperti apa orangnya? Yang jelas sih kata teman-teman saya dia seksi, baik, langsing, tinggi, putih, pokoknya lumayan lah kalau buat ikutan girlband. Pada kenyataannya, Nesa adalah sepupu saya dan dia laki-laki (kalau nggak percaya bisa langsung sentil aja apa yang ada di antara selangkangannya) [R-18 ALERT!]. Urusan langsing, putih, dan cantik, ya itu sih gimana pendapat yang melihat mukanya saja. Tapi sejauh ini buat saya kondisi fisik dia bukan jadi masalah; yang bermasalah itu tingkat kesintingannya. Bahkan setelah dia berulangtahun pun dia masih belum menunjukan adanya indikasi perbaikan dari segi psikis. 

Agnesa. Tampak depan

Sebetulnya kalau bicara tentang hubungan darah saya dan Nesa, saya bisa jadiin itu sebagai skripsi saking panjangnya. Kalaupun ada yang melihat saya dan Nesa sedang gila-gilaan di mal atau restoran, yakinlah sumpah inyong mereka tidak akan menyangka bahwa semasa kecil dulu, saya dan Nesa hobinya bertengkar, dari mulai masalah remote TV sampai asal-usul petir yang kata Nesa waktu itu, munculnya karena dewa sedang marah. 

Mungkin dia sejak dulu sudah dicekoki Mahabarata. 


Hobi: Bertengkar
Saya sendiri nggak ngerti kenapa waktu dulu sering sekali bertengkar sama Nesa. Kami berdua memang dulu kalau marah dan saling hina, wih kata-katanya cukup pedas. Apalagi Nesa sih, yang lama tinggal di Kalimantan dan terbiasa keluar masuk hutan untuk berburu. Kebayang dong teriakannya seperti apa, secara jarak dari satu hutan ke hutan sebrangnya yang terpisah satu sungai itu lumayan jauh. Hawa-hawanya, kalau ketemu Nesa itu ingin berantem, ingin gampar dan ingin mukul. Mungkin karena aura dari wajahnya kah? Entahlah, yang jelas aura wajahnya sekarang berubah. Buktinya dia bisa nge-fans sama JKT48 dan AKB48. 

[out of topic]

Jaman dulu yang saya lihat (berarti ini sudut pandangnya saya), saya ini sangat sensitif dan gampang kesal, sementara Nesa ini tempramennya jelek. Setali tiga uang sih sebetulnya. Kami sering bertengkar dan semenjak Nesa masuk SD, tempramennya mulai membaik meskipun kadang masih pundung (apalagi waktu dia nggak saya kasih lihat mainan Tazos hadiah dari makanan ringan, wuih pundungnya..). Tapi sekalinya kami akur, entahlah kami bisa akur banget. Obrolan jadi nyambung dan di beberapa momen, kami bisa ngobrol tentang topik-topik yang serius... semacam politik atau pembagian harta gono-gini (apa sih). Tapi memang betul demikian. Asalkan mood sedang bagus dan ada topik yang cocok, kami bisa akur dan satu pikiran. Sama rasa istilahnya. Kalau Nesa sedang bahagia, saya juga bahagia. Kalau Nesa sedang jomblo, ya itu sih lebokin aja. 

Sejarah pertengkaran masa kecil saya dan Nesa ini sudah melekat dalam pikiran para orangtua. Karena saya lebih dewasa pada saat itu dan nature saya yang menghindari konflik, sebisa mungkin saya sering menghindari pertemuan dengan Nesa saat itu. Setiap ketemu pasti bertengkar. Setiap ketemu pasti bertengkar. Oleh karenanya saat Nesa pindah (lagi) ke Kalimantan, saya sempat merasa tenang karena nggak perlu bertengkar, meskipun dalam hati jujur saja ada yang hilang.. 

*muntah air raksa*


Si Bolang
Jaman SD, Nesa ini bisa dibilang si bolang--bocah petualang. Nesa lebih banyak terekspos dengan dunia luar dan hidup di alam ketimbang saya yang semasa SD menghabiskan 80% kesehariannya di lingkungan perkotaan. Selama beberapa tahun sempat Nesa dan keluarganya tinggal di rumah nenek (dari garis ayah) saya. Rumah nenek berada di satu desa yang, menurut saya sih, nanggung untuk dibilang desa. Dibilang desa tapi jalan raya beraspal sudah banyak dimana-mana, tapi dibilang kota juga (saat itu) belum banyak public spots dan tempat nongkrong (walhasil anak-anak gawl jaman dulu banyak nongkrong di pinggir jalan, atau di pinggir jembatan dengan sungai super lebar di bawahnya, atau di pinggir jalan di samping areal persawahan). Kebetulan sekali di bagian belakang rumah nenek itu ada kebun yang cukup luas dan nyambung dengan hutan bambu. Setiap saya datang, seringkali saya lihat Nesa baru pulang dari kebun-kebun itu, atau sedang melakukan apapun di kebun di rumah nenek. Oh ya, rumah nenek bisa dibilang besar dan rumahnya berbentuk bungalow, dengan tanah yang besar digunakan untuk taman dan kebun. Kalau saya datang, biasanya muncullah dari balik semak-semak daun cincau si Nesa, dengan telanjang kaki atau pakai sendal jepit dan kulit yang terbakar cahaya sang mentari. 

Meskipun jarang terekspos dengan alam, saya pernah nge-bolang dengan Nesa. Mungkin lebih tepatnya saya dan Nesa ikut ayah saya memancing di kolam-kolam pemancingan di tengah hutan. Keluarga kakek saya bisa dibilang berkecukupan (puji Tuhan) sehingga punya cukup banyak kolam-kolam ikan yang ada di tengah hutan. Salah satu kolam yang paling dekat dari rumah jaraknya cuma beberapa ratus meter dan tepat di samping kolam itu, ada sebuah kolam kecil dengan air bersih (entah sumbernya dari mata air pegunungan atau apalah, tapi yang jelas airnya bersih). Di area kolam kecil itu (nggak bisa dibilang kecil juga sih sebetulnya karena bisa dipakai berenang bolak-balik) ada pula bak-bak air untuk mandi atau mencuci pakaian yang biasa digunakan oleh anggota keluarga atau warga sekitar. Biasanya saat ayah saya mancing, saya sama Nesa berenang di kolam kecil itu. Sebetulnya kolamnya nggak begitu dalam tapi ayah saya selalu mewanti-wanti supaya saya berenang di pinggirannya saja. Air kolam yang jernih dan segar (karena cuaca di desa tempat tinggal nenek itu panas) pastinya mengundang anak-anak untuk bermain air dan berenang. Tenggelamlah saya dan Nesa di euforia kolam kecil. 

Sekarang kalau saya ingat-ingat lagi, kolam kecil itu jadi mengerikan di benak saya. Dengan kedalaman yang saat itu sekitar satu  jengkal lebih tinggi dari tinggi saya, dibatasi oleh sebuah tebing berlumut di satu sisinya dan dengan alas bebatuan hijau, kalau ingat dulu pernah menyelam disana saya jadi ngeri sendiri. Saya jadi terbayang salah satu episode Supernatural di season pertama dimana ada satu arwah yang membalas dendam dengan menenggelamkan orang-orang di sebuah danau. 

Saya aja mungkin ya yang terlalu paranoid


Kuliah
Sebelum Nesa kuliah, saya hanya bisa ketemu saat libur lebaran atau liburan apapun dimana Nesa main untuk berkunjung. Tapi sekarang setelah Nesa kuliah, kami bisa ketemu kapanpun asalkan janjian, atau saat si Nesa disuruh ayah saya untuk datang ke rumah (biasanya karena ada beberapa hal semacam kasus penculikan atau pemerkosaan yang memposisikan Nesa sebagai pelakunya). 

Sekarang si Nesa kuliah di Telkom dan ambil jurusan desain.. Desain apa ya? Yang jelas sih memang jurusan yang dia pilih sesuai dengan passion dan bakatnya. I might be careless to say this but, tadinya saya nggak nyangka ternyata dia hobinya ngegambar. Lha wong dulu dia hobinya main ke kebun, dan sekarang dia mainannya sudah drawing pen, aplikasi visual editing, dan semacamnya.. Keren kalau menurut saya yang memang nggak jago menggambar, dan saya senang aja lihat dia bisa ambil jurusan yang memang sesuai dengan passion dia sejak awal. 


Seharusnya post ini jadi semacam tulisan selamat ulang tahun buat Nesa, tapi saya jatohnya malah bikin mini-biografi tentang si Nesa. Mungkin judulnya "si anak kebon", karena gelar "si anak singkong" sudah diambil dan "si anak betawi" sudah terlalu melekat pada sosok si Doel. Jadi, at last, selamat ulang tahun yang ke dua puluh berapa entahlah, Agnesa Aji Wijaya. Semoga ekspektasimu tercapai di tahun ini dan segera mendapatkan zodoh sesuai dengan kriteria yang dicanangkan oleh Veno (atau semoga langgeng dengan Veno? atau.. ya baiklan terserah). Cepat lulus dan selalu sukses. IP lo naikin, Nes! 

Kebacanya malah birthday happy. Gak ngerti ah ini susunannya gimana sih

Nih, gue kasih kue virtual buat lo, Nes. Cara makannya sih diulik-ulik sendiri aja, yang jelas dihabisin ya. Habisin sama lilin-lilinnya juga! Mubazir loh kalau nggak habis. Nanti dimarahin Allah loh kalau buang-buang makanan. 

Sunday, September 28, 2014

Aku yang ketiga

  • Ada yang senang bermain di luar saat hujan turun, berlarian menerjang rintik hujan, melompat riang di atas genangan air, atau berbaring di rumput hijau dan membiarkan setiap tetes air yang jatuh mengecup wajah. 
  • Ada yang senang untuk tinggal di dalam rumah, bernaung dan berselimut sambil membaca buku dan mendengarkan alunan petikan gitar yang melankolis, dan berteman dengan secangkir coklat panas. 
  • Ada yang terpaksa tinggal di dalam rumah, menikmati hari hujan dengan secangkir coklat panas dan alunan musik melankolis. Terpaksa berselimut tebal meskipun ingin sekali rasanya menelanjangi diri lalu berlari keluar dan menikmati setiap tetes air hujan yang jatuh dari langit. 
Aku yang ketiga. 

  • Ada yang senang berpetualang, mendaki gunung, menjelajahi rimba, dan berkawan dengan alam. Mencicipi segarnya mata air, menghirup udara pagi yang sejuk, menyapa matahari saat ia tiba dan berkesempatan untuk mengantarnya pulang kembali ke peraduannya. Membuat jejak di atas pasir hangat, bermain layang-layang, dan mencium aroma garam. 
  • Ada yang senang berpetualang, mendaki dari satu lantai ke lantai lainnya dengan eskalator, menjelajahi hutan beton, dan berkawan dengan hingar bingar si metropolitan. Mencicipi makanan berkolestrol tinggi, menghirup udara pagi yang menyesakkan, sebisa mungkin menyapa matahari meskipun terhalangi oleh gedung-gedung tinggi dan tak sempat mengantarnya pulang karena berada di dalam ruangan berpendingin udara. Membuat jejak di media sosial, bermain dengan uang dan mencium baunya. 
  • Ada yang ingin berpetualang, mendaki gunung, menjelajahi rimba, atau sekedar membuat jejak kaki di atas pasir yang hangat, mengejar ombak dan menghitung bintang di malam hari, namun terpaksa harus berada di dalam ruangan berpendingin udara, menoleh ke arah jendela dan melihat pemandangan yang sama setiap hari--hutan beton, sekawanan kuda besi, dan bintang-bintang palsu--mereka menyebutnya neon atau LED. Menikmati lukisan Tuhan yang agung melalui foto dan merasakan sejuknya udara pagi melalui cerita-cerita mereka--yang telah berpetualang sebelumnya, yang merupakan petualang sesungguhnya. 
Aku juga yang ketiga. 

Friday, September 19, 2014

#20FactsAboutMe

Social media timelines have been flooded with photos hashtagged #20FactsAboutMe. The photos--which are usually selfies--are not spam; people who uploaded the photos are the one who have been challenged to do the #20FactsAboutMe challenge, which is, a challenge to post a selfie (the most gorgeous one would be preferable, of course) and twenty points of facts about the person challenged. I personally find it quite entertaining, and thanks to #20FactsAboutMe photos of my friends, now I know some facts about them (if they consider the points as facts) which I've never known and expected before. I found out that my dad was a mischievous one back then when he was a highschool student.  Koh Zen was.. well.. is actually a tsundere (ke ke ke). Teresa is a DOTA player (and I hardly believed it at first!). Well yeah I got to know my friends better through the challenge and I think it's good and exciting thing to do; it's kind of unique way to know more about a friend. 

My classmate Agistya tagged me in her #20FactsAboutMe selfie and challenged me to do so. I was surprised, but then so excited to do the challenge. I posted a photo of me (with my sister together drinking at J.Co) and mentioned twenty facts about me. So here I'd like to repost the photo and probably, I'll explain something more from each points. 


#20FactsAboutMe

1. I was born into a Sundanese-Chinese family. I got the 'emperor' blood in my vein from my mom since my dad is purely Sundanese. Purely. And oh, hey! I'm closer to my mom than to my dad. Probably it's because my dad is often times busier than my mom and he goes here and there working with his research team so when he comes home my dad and I often times fight over lots of things. 

2. The Chinese surname I got--which, unfortunately, is not inscribed in my birth certificate--is Ng. 

3. I often times complain about my complexion. Since I'm a Chinese descent, I think the issue of skin complexion is quite important for me. Often times I compare my complexion to my Chinese relatives and the result would drive me crazy. My complexion is darker than theirs and sometimes people don't recognize me as a Chinese (yeah and it's happened lots of times). 

4. I watch The Amazing World of Gumball and Phineas and Ferb every night. Well, almost every night. I really am into cartoon shows, especially children cartoon shows like Phineas and Ferb, Adventure Time, and even, Malaysian cartoon Upin & Ipin. It's always a fancy thing to watch cartoon while eating something fanciful like ice cream or bonbons. 

5. I love doing code-switching like hell! I speak some kinds of English: standard English, American English, British English, and Singaporean English. I also speak some languages after my mother-tongue language, Indonesian: Malay, Sundanese, simple daily Hokkien phrases, and some basic Korean, as well as little Japanese and French (and German). Sometimes when I'm talking, I can't find a proper word in the language being used at the time to explain something so I use code-switching in order to mention the proper word for what I'm talking about. Also, I like doing code-switching because.. it's just a fun thing to do. For example:

  • "Why is she so angkaribung?" 
  • "Make it two bucks je la. Wo mei you qian. Okay?" 
6. I'm a chocolate lover. YES! CHOCOLATE! It is, and would always be, a good idea to give me chocolate bars and chocolate cakes for my birthday gift. I love chocolate drinks and usually order it whenever I visit my favorite coffee shops. I'm not an expert in analyzing the taste of chocolate drink but I can tell whether a cup of hot chocolate is good or not, in terms of taste and quality. 

7. I was a masochist. I've posted something about it in the blog a few months ago. It's a fact that most people haven't known--and the fact got them shocked. I used to have a cutter in my pencil case and cut (or let's call it 'slice', since I always felt like slicing chocolate bars when doing it) my arm whenever I felt down and depressed. 

8. I have some alter-egos in me and often times they appear in such a wrong time. 

9. I hate: cheese, bread, vanilla milk, and SNAKES! 

10. I love doing impersonations, especially those of comedians and cartoon charas, either mimicking their expression or imitating their voices. I'm currently impersonating the Indonesian version of Darwin from The Amazing World of Gumball. 

11. I'm an introvert--melancholic one and I get hurt easily. I overthink things and I think I'm a fool--I've been a fool and sometimes I'm so easy to be fooled. Some people say I've been too kind to people but.. is that true? 

12. I write short stories. Whenever I have free time I try to write one or some short stories. Well, they're not cheesy I think. 

13. I play piano, violin, and guitar (a bit). I want to learn flute, drum, and cello anyway. 

14. This is one surprising story of mine: Back then when I was a little kid, my parents told me to save some money so I could buy things I wanted. At that time, I was fond of classic interior designs and I always wanted to have some classic and rich items to place at my home. So I saved some money and with the money I had, I could afford a chandelier and a cuckooclock, and I, really, bought them. My family moved to Bandung in 2006 and my grandma decided to uninstall the chandelier from the parlor of my former house and installed it at her parlor instead. 

15. Wanderlust.. wanderlust.. I always want to go somewhere I've never been. My mind is so full of thoughts of taking vacation, and still, money and time are the main problem. 

16. I'm superstitious. Yes. Have you ever feel like someone is walking right behind you? Wait? Someone? Or.. something? I've heard my piano played by itself in my former house and about five years ago, I heard someone was singing in my living room and I was home alone. Always remember to burn a joss-stick when it's raining. Yea! 

17. This one problem would be quite important: I treat people coldly when I feel like they're not in my small circle of close companions, or when I don't feel like treating him/her warmly. Basically I treat strangers coldly and it's always difficult for me to start a conversation with strangers, for I'm an introvert. But trust me. TRUST ME. Once you're in my circle, you'll find out that I'm a crazy person; I can do crazy things you might have never expected before! 

18. I love plushies. They're mementos from my childhood. I keep Curious George plushie with me. 

19. I love cats.. and dogs as well. They're my furry friend. You may see me playing with cats (even in parking lots). Sometimes I bring a stray cat to the classroom and I've once cried seeing a stray black cat trapped in the third floor balcony of my faculty building. 

20. I'm in love with... Peranakan cuisine! Well I love Singaporean cuisine as well like.. Chicken with lemon sauce, eh?

So that's all the #20FactsAboutMe written by me, based on the facts about me, of course. Now I dare whoever reading this post to do the same.

Have a good evening, everyone!

Thursday, September 11, 2014

Hai, Kamu--Yang Dulu Pernah Bersamaku

Sebetulnya ini post isinya curhatan, jadi maaf saja kalau tiba-tiba aneh karena saya bicarakan hal-hal yang begini. Dan sudah jelas ini post ada di bawah kategori personal, jadi jangan aneh kalau isinya curhat begini. Post ini juga bisa dikatakan post balasan buat dia, maksudku, kamu, maksudku, kakak, yang sebelumnya sudah menulis tentang satu hal--tentang kita. Sebelumnya harus digarisbawahi dulu bahwa kita dulu pernah bersama, beberapa tahun yang lalu dan kebersamaan kita berakhir dalam waktu beberapa bulan saja. Dan sekarang, saya sejujurnya merasa nyaman dengan hubungan kita yang nampaknya lebih-baik-seperti-ini. 

----

Hey, kamu, yang dulu pernah bersamaku. Maaf aku belum pernah sama sekali ngajak kamu jalan bareng. Kamu pasti bingung dan kesal, kenapa aku nggak pernah ajak kamu jalan bareng; makan bareng; nonton bareng; basically all the stuffs young couples usually do. Kamu juga pasti kesal karena aku jarang kirim pesan singkat dan telpon, sampai harus kamu yang telpon aku di malam itu. Maaf. Maaf sekali lagi. Maaf juga aku nggak pernah sekalipun antar atau jemput ke dan dari sekolah. 

But I got the reasons. 

Sebelum pacaran dengan kamu, aku pacaran dengan satu cewek yang.. well.. dia itu cuek dan nggak begitu concerned tentang hal-hal yang biasa dilakukan orang pacaran pada umumnya. Kita jarang kirim pesan singkat atau telpon-telponan, karena menurut kita nggak harus setiap hari kirim pesan atau telpon dan ribet aja kesannya. Meskipun begitu, setidaknya satu sama lain saling tahu kondisi masing-masing. Mungkin karena masing-masing dari aku dan dia juga sudah saling paham aktivitas keseharian masing-masing dan dengan siapa biasanya beraktivitas, jadi kami nggak perlu terlalu khawatir tentang ini itu, apalagi sampai khawatir selingkuh. Kecuali kalau salah satu dari kami sakit atau ada masalah yang cukup serius, langsung biasanya berhubungan lewat telpon. 

Saat aku pacaran dengan kamu, masing-masing dari kita pasti terkejut. Kamu terkejut dengan dinginnya aku, dan aku terkejut dengan kamu yang menginginkan komunikasi yang sangat intens setiap harinya. Saat itu aku merasa seperti diberikan tugas harian tambahan: mengirim pesan singkat atau menelpon kamu, untuk entah memberi kabar aku dimana atau apapun yang semacamnya. Aku nggak terbiasa sebelumnya dengan mengirim pesan semacam itu setiap hari. Ya, aku nggak terbiasa. Sampai akhirnya aku tanya sama teman-temanku dan jawaban mereka bervariasi; ada yang setuju bahwa pasangan pacaran harus selalu kirim kabar setiap hari, dan ada yang bilang bahwa ideku tentang memberi kabar seperlunya itu lebih fair. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, meskipun pada akhirnya aku mencoba untuk kasih kamu kabar setiap harinya dan berujung dengan aku yang lupa kasih kamu kabar dan kamu marah. 

Masalah utama yang terjadi di hubungan kita saat itu sebetulnya kekurangpahaman kita tentang kebiasaan dalam berpacaran. Mungkin kamu terbiasa dengan pacaran yang seperti A, dan aku terbiasa dengan pacaran yang seperti B. Aku terbiasa dengan pacaran yang nggak harus ketemuan, dan kamu mungkin lebih senang jika kita ketemuan. Salahku juga, karena harusnya aku ajak kamu ketemu, satu atau dua kali, dan bukan bersama-sama orang lain--just like what we did on my birthday. Aku yakin kamu ingin waktu berdua untuk kita; makan atau nonton bareng. Aku sempat terpikir untuk pergi bareng tapi terkadang aku berfikir apakah harus seperti itu? Dan juga jam sekolahku yang padat bikin aku sulit untuk atur jadwal. Ya, sebetulnya bisa sih di akhir pekan tapi entahlah, kadang ada satu dan dua hal yang bikin aku membatalkan rencanaku untuk kirim kamu pesan untuk ajak kamu pergi bareng. Aku minta maaf. 

Sampai sekarang perasaan bersalah itu masih sering muncul. 

Saat kamu terluka karena sikap cuek aku, aku terluka karena perasaan bersalah aku. Ada semacam perang batin di dalam diriku yang membagi dua sisi: cuek dan perhatian penuh. Saat aku berfikir untuk "Ya sudahlah nggak perlu makan bareng, toh masing-masing sedang sibuk", sisi lain berkata bahwa "Kamu tega memangnya bersikap cuek begitu sama pacarmu?"

Bodohnya, aku pada akhirnya nggak melakukan apa-apa karena kebingungan itu. Dengan kata lain, I should have decided something.

Secara keseluruhan, hubungan kita hancur karena itu--perbedaan pandangan tentang pacaran. Aku biasa pacaran seperti ini, dan kamu punya proposisi tersendiri tentang bagaimana pacaran itu. Proposisi kita berlainan dan kita nggak pernah bertemu untuk diskusi seperti apa pacaran seharusnya, yang hasilnya jadi win-win solution buat kita. Kamu semakin terluka dengan dinginnya aku, dan aku semakin terluka--oleh rasa bersalah dan kekesalan karena nggak paham dengan inginnya kamu yang bertentangan dengan proposisi aku. Kita sama-sama terluka dan nggak paham satu sama lain. Dan munculnya dukungan-dukungan dari teman kamu yang semakin menyudutkan posisi aku semakin bikin aku kesal dan marah, yang berfikir bahwa kamu kenapa nggak mau coba untuk memahami posisi aku seperti apa.

Dan akhirnya kita berpisah, tidak dengan baik-baik.

Dan waktu berjalan dan, hey, kamu--yang dulu pernah bersamaku, kita kembali berteman, menyandang kembali predikat kakak adik yang pernah kita sematkan satu sama lain sebelumnya. Aku merasa nyaman dengan hubungan seperti ini. Aku merasa aku bisa lebih banyak cerita tentang ini itu, meskipun kadang-kadang ada satu momen dimana kita merasa kaku; kita mungkin teringat dulu kita pernah bersama dengan status sebagai pasangan pacaran.

Tapi apa kita akan terus kaku seperti ini? Di saat aku benar-benar nyaman dengan hubungan seperti ini, aku harap kita nggak akan sekaku dulu. Aku harap kita--dan terutama aku yang saat ini sudah bisa lebih mobile--masih bisa tetap bertemu untuk berbagi cerita, over nice coffee and jazzy tunes.

Dan kalau tentang perasaan, aku masih sayang kamu, tentunya sayang dari adik ke kakaknya. Atau, sayang dalam konteks persahabatan. Dan aku rasa ini yang (mungkin kata Tuhan) terbaik.

----

Pengakuan saya cheesy nggak sih? Saya grogi sendiri jadinya. 

Wednesday, September 3, 2014

Waas

Sebelumnya, saya mau mengakui satu hal. Saya mengakui bahwa penggunaan beberapa istilah bahasa Sunda itu dirasa lebih praktis saat saya mencoba menggambarkan sesuatu. Dan pengakuan ini didasari oleh sebuah post di Facebook yang mengatakan hal demikian, serta mencantumkan alasannya. Dan kurang lebih dari beberapa gambar yang beredar mengenai isu tersebut penampakannya seperti ini: 

credit: Itateanese

Nah, dari penjelasan di gambar di atas bisa kita ketahui bahwa ada beberapa istilah dalam bahasa Sunda yang menjelaskan suatu keadaan yang kalau digambarkan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris akan sangat loba omong. Semisal istilah 'angkaribung' di bahasa Sunda bisa berarti carrying a great number of things, looking so ripuh. Sementara itu, istilah 'ripuh' bisa berarti being bothered tapi lebih ke.. Ya, gitu lah. Saya juga bingung jelasinnya kudu kumaha

Dari berbagai istilah bahasa Sunda yang menggambarkan situasi-situasi yang kompleks itu, ada satu istilah yang baru saya pahami maknanya akhir-akhir ini dan saya sadar bahwa saya sedang dalam keadaan tersebut. Parahnya, saya bukan sekali dua kali mengalami itu tapi sering, dan saya nggak tahu apa istilahnya untuk menggambarkan situasi seperti itu. 

I've been so waas

Kalau menurut auntie saya, waas adalah situasi dimana kita melihat atau mendengar sesuatu yang mengingatkan kita pada sebuah memori dan kemudian kita tersentuh hati dan rasa dan terharu karena di memori itu terekam satu momen yang berkesan. Sebagai contoh, saya dulu pernah ikut les melukis waktu saya kelas 4 SD, dan walhasil setiap saya main ke art gallery, saya suka merasa waas saat melihat lukisan, ingat dulu waktu kelas 4 SD pernah melukis cukup banyak lukisan. Kalau saya mudik saat lebaran, saya sering mengunjungi rumah peninggalan oma opa dari garis mama saya yang dulu pernah saya tempati selama beberapa tahun. Setiap kali masuk ke rumah kosong itu, saya pasti merasa waas, ingat dulu pernah tinggal disana beberapa tahun dan menikmati masa kecil saya disana. Saya pasti mencoba mengingat letak-letak benda seperti sofa, radio tua jaman beuheul, meja makan antik, sampai lemari baju besar peninggalan jaman Daendels. Pokoknya, kunjungan ke rumah itu pasti bikin saya waas

Melihat dari definisi kata waas, saya yakin kita semua pernah merasakan hal yang sama. Selalu ada satu tempat, atau satu barang khusus, atau satu lagu, atau objek apapun yang menyimpan kenangan tertentu untuk kita. Mungkin kita punya satu mainan yang sangat spesial buat kita karena ada banyak kenangan yang disimpan di mainan tersebut, misalnya kenangan saat main bersama teman-teman masa kecil kita. Kalau saya sendiri sih untuk mainan, saya sampai sekarang masih menyimpan boneka George si monyet karena kenangan tentang masa kecil saya sangat banyak tersimpan. Saya sampai pernah rela hujan-hujanan, mengeluarkan tangga portable untuk naik ke atap demi menyelamatkan hiasan di mobil (itu loh boneka atau figur apalah yang tangannya atau kepalanya bisa gerak-gerak sendiri karena ada panel suryanya) berbentuk Spiderman. Sebetulnya mainan itu biasa-biasa saja, tapi karena saya tahu itu hadiah dari mama saya buat saya dan belinya jauh, saya rela basah kuyup demi menyelamatkan kenangan itu. 

Dan saya yakin, nggak hanya saya saja yang rela berkorban dan melakukan ini itu demi menyelamatkan sebuah 'kenangan indah'. 

Waas, buat saya, adalah momen dimana saya merasa terharu saat teringat satu kenangan tertentu, merasa ingin merasakan dan mengulang kembali kenangan tersebut, yet I'm so helpless, doing nothing but letting the memory bring me to my tears. Ya, beberapa kenangan memang--karena saking berharga dan berkesannya--bisa bikin kita menangis terharu. Terutama kenangan tentang orang-orang yang biasanya ada bersama kita lalu tiba-tiba menghilang (entah pergi jauh atau pergi dan tak kembali lagi), pasti kenangan itu yang membuat kita lebih mudah tersentuh. 

Sejujurnya akhir-akhir ini saya sedang gampang merasa waas. Di jalan pulang melihat sesuatu, saya waas. Saat beli makan siang dan melihat sesuatu, saya waas. Mendengar satu lagu, saya waas. Ada banyak hal yang membuat saya waas, terkenang teman-teman KKN saya dan satu yang paling penting adalah kenangan tentang kakak saya. Bisa dibayangkan biasa (hampir) setiap harinya bertemu dan berinteraksi secara intens, lalu tiba-tiba saat perkuliahan dimulai saya kehilangan sosok kakak saya. 

Saya dan mas Ezar (karena kalau saya sebut koh justru saya yang merasa awkward) bisa dibilang sangat intens berinteraksi, dan itu yang berefek pada kedekatan kami. Seusai bubar anak-anak dari posko KKN, saya makan baso sama mas Ezar dan beberapa teman KKN yang masih bertahan di posko. Kalau pulang dan kebetulan mas Ezar menginap, saya biasanya kabur lagi sama mas Ezar untuk makan seafood lalu ngopi di gerobak kopi Jenggo yang lokasinya nggak jauh dari warung seafood yang penjualnya ternyata orang Korea (asli loh!). Biasanya lewat tengah malam, saya sudah mulai ngantuk dan mas Ezar sih masih santai dengan laptopnya, entah main DOTA 2 atau buka-buka apa lah (seringnya sih dia main DOTA 2 dan saya nggak ngerti jadi tidur saja). Saya dan mas Ezar sering berkunjung ke satu warung pempek dan makan siang disana, sampai ibu penjualnya hapal pesanan kesukaan saya. Mas Ezar kadang suka ceplos ngomong apa dan itu bikin saya ketawa puas. Kadang-kadang ada juga kelakuan mas Ezar yang konyol, tapi ya kembali bisa bikin saya ketawa puas. 

Sekarang saat KKN berakhir dan kuliah dimulai kembali, saya jadi nggak sering bertemu sama mas Ezar karena kesibukan masing-masing. Saya rindu kakak saya dan banyak hal yang terkait dengan kakak saya yang bikin saya merasa waas. Kalau main ke gerobak kopi Jenggo, si bartender akan nanya tentang mas Ezar dan saya cuma bisa bilang kalau saya datang sendiri karena kakak saya sibuk. Saat makan di warung pempek langganan, ibu penjaganya nanya kemana mas Ezar dan saya cuma bisa bilang kalau mas Ezar sibuk. Saat saya dengar lagu dan nggak sengaja terputar satu lagu soundtrack dari film Architecture 101, saya jadi ingat mas Ezar pernah berkomentar tentang film ini dan kembali, saya merasa waas. Apalagi film itu punya ending yang sebetulnya miris dan soundtrack-nya begitu menyentuh, perasaan waas saya pun semakin menjadi. 

Waas. I've got a lot of things reminding me of my alter Bruder

Perasaan waas yang saya alami ini membuat saya pada akhirnya benar-benar merindukan sosok kakak saya. Mas Ezar yang biasanya pergi kesana kesini dengan saya, baik naik mobil ataupun naik motor, sekarang sudah tidak lagi di rumah. Sebelum tidur saya nggak punya teman ngobrol karena mas Ezar tidak di rumah lagi. Ngopi Jenggo sendiri, makan pempek sendiri, nonton Sule sendiri.. karena kakak saya sudah mulai kembali dengan dunia perkuliahannya. Saya rasa empat puluh hari belum cukup. It's kinda useless when I told my big brother that "my piano is your piano, too", karena pada kenyataannya yang pakai piano cuma saya aja. Mas Ezar sudah mulai sibuk dengan matakuliah desain lansekap atau apalah saya nggak ngerti. Dan yang membuat saya tersiksa adalah, I can't even cry. Nggak seperti waktu saya kangen sama auntie, Andra, Gea, Dilla, dan teman-teman KKN lainnya, kerinduan saya terhadap kakak saya ini.. Ya, saya rasa sama besarnya dengan mereka tapi karena kedekatan kami dan hubungan adik-kakak yang erat ini membuat saya memberi nilai lebih terhadap kakak saya. My alter Bruder ist so special. Dan kenyataannya meskipun saya rindu sekali, saya nggak bisa menangis, though I want to cry it out. Waas. Mungkin waas se-waas waas-nya. 

Rasa rindu yang tidak bisa terungkapkan, dan hanya bisa dipendam. You know how it hurts. Dan saat saya bilang sama mas Ezar kalau saya sering waas taraf ekstrim akhir-akhir ini, dia--yang seorang plegmatis--dengan santai bilang bahwa saya terlalu berlebihan. Melancholic vs. Phlegmatic. Me vs. my big brother. Yeah, that's us. Di posko pun kami begitu. Di rumah pun kami begitu. 

L to R: auntie, mas Ezar, me

Pasti kalau mas Ezar tahu saya bikin post ini, dia bakal bilang: 

"Euh naon meni kitu ah kamu mah" 

Oh, saya harap mas Ezar paham bahwa orang melankolis itu ya.. begini. 

Friday, August 29, 2014

Jalan (lebih) santai

Jalan santai.. Jalan lebih santai lagi. 

Bukan, disini saya bukan mau bercerita tentang program kerja jalan santai yang saya dan tim KKN saya canangkan di program KKN yang saya ikuti. Saya sebenarnya mau cerita tentang pace saya dalam dunia perkuliahan yang saya geluti. Kenapa judulnya jalan santai? Kalau semisal temanya tentang perkuliahan, kenapa saya justru nggak pakai kalimat lain yang lebih berbau akademik atau berbau kampus? Memang sengaja saya pilih judul seperti itu karena buat saya, istilah 'jalan santai' sudah menggambarkan seperti apa sih saya dan pergerakan saya di dunia perkuliahan. 

Sejauh ini saya bukan tipe orang yang 'maksa' dalam dunia perkuliahan. Saya sebisa mungkin mencoba untuk dapat kehadiran 100% di kelas, tapi saat saya lagi jenuh saya bisa saja skip kelas. Saat saya merasa sakit dan kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk pergi ke kampus, saya akan skip kelas dan istirahat di rumah. Saya nggak pernah ambil matakuliah di semester atas meskipun sebetulnya saya bisa, dan orang lain sah-sah saja untuk ambil matakuliah di semester atas. Buat saya secara pribadi, saya mau menikmati apa yang ada dulu di semester yang saya jalani. Kalau saya ternyata dapat 18 SKS di semester itu, ya saya ambil 18 saja. Walaupun saya bisa ambil lebih, tapi saya merasa ah sudah saja 18 SKS dulu dinikmati. Saya menilai diri saya bukan orang yang sering slack off di kelas, tapi ada kalanya saya nggak memberikan konsentrasi 100% di kelas, apakah karena lelah atau karena sakit. Kalau bicara tentang attitude terhadap perkuliahan, saya rasa saya bisa bilang kalau saya dalam level average; di matakuliah yang saya sukai saya bisa sangat excited dan bersemangat, sementara di beberapa matakuliah lainnya saya ya biasa-biasa saja, nggak terlalu bersemangat tapi tidak juga malas-malasan. 

That's why I said 'jalan santai'. 

Untuk saya, dunia perkuliahan nggak perlu diburu-buru. Dari jatah 7 tahun yang diberikan oleh universitas, saya nggak mau memaksakan diri harus cepat mikirin tentang skripsi, atau harus sudah bikin proposal skripsi di semester 7, atau harus lulus empat tahun. Buat saya, lulus dalam waktu 4,5 atau 5 tahun masih sah-sah saja, selama kita nggak kebablasan. Lima setengah tahun pun sebetulnya masih fine kalau untuk saya, selama memang benar waktunya 5,5 tahun dan nggak bablas jadi enam tahun. Saya nggak suka untuk taruh ekspektasi yang terlalu tinggi dalam dunia perkuliahan saya. Dari mulai nilai sampai waktu kelulusan, saya secara pribadi merasa bahwa selama nggak dapat D atau E, dan selama lulus tepat waktu, everything's fine

Sometimes we put high expectations on things and we're hurt really bad when we can't meet the expectations. 

Saya akan gambarkan nilai saya di semester 3 & 4, dan yang terbaru di semester 6. Dan dengan menunjukkan nilai-nilai ini saya nggak bermaksud untuk menyombongkan diri ya. 

nilai semester 3 & 4

nilai semester 6

IP saya anjlok di semester 6 (kemarin), dan saya tidak mencapai ekspektasi yang saya taruh. Ditambah lagi semester 6 (dan 5) merupakan semester yang menguras banyak tenaga dan bikin saya exhausted lahir batin. Di semester 3 & 4, memang nilai saya bagus dan itu merupakan yang tertinggi dari semua nilai yang ada. Setelah kasus semester 6 kemarin, saya mulai sadar bahwa sepertinya saya kemarin ini memaksakan diri untuk bisa mencapai ekspektasi, dan hasilnya, saat muncul nilai C, saya jadi kecewa sendiri dan marah (meskipun marahnya hanya beberapa hari), Saya terlalu berharap dapat nilai minimal B, tapi memang usaha saya segitu-gitunya, jadi saat dapat C, saya yang kecewa sendiri (padahal 'kan hasil berbanding lurus dengan usaha). Lalu setelah saya pikir-pikir lagi, ya memang usaha saya seperti itu jadi mungkin saya memang deserve nilai segitu, dan itupun sudah syukur saya nggak dapat D, E, BL, atau K (kosong). Orangtua saya pun rupanya nggak mempermasalahkan nilai C itu. Akhirnya, saya rasa mungkin memang harusnya begini dan, ya sudah jalani saja. Yang penting adalah, bagaimana ke depannya saya bisa meningkatkan nilai-niai saya. 

Balik lagi ke topik 'jalan santai'. Hantaman keras yang dikasih semester 6 ke saya membuat saya seolah sadar bahwa mungkin saya memang lelah di semester kemarin ini. Di semester 3 sampai 5 saya bisa bilang saya cukup (atau mungkin terlalu) serius dalam perkuliahan. Mungkin di semester 6 kemarin sebetulnya adalah indikasi bahwa saya mulai jenuh dengan dunia perkuliahan. Saya butuh istirahat, saya butuh liburan. Ya, beristirahat sejenak sampai energi cukup pulih untuk kembali kuliah. I guess I worked my butt off at the last 3 semesters and now I need recess

Tapi kalau saya liburan, itu artinya skip kuliah.. 

Nah, saya rasa cara yang paling tepat untuk pulih dari tekanan semester ber-IP buruk adalah dengan jalan lebih santai. Dengan jalan lebih santai, saya bisa punya waktu lebih untuk istirahat, mengerjakan kegiatan yang sesuai dengan passion saya, tanpa harus melupakan tugas atau fokus di kelas. Saya nggak mau terlalu maksa harus jadi anak yang sangat rajin. Kalau memang saya sedang jenuh, saya akan cari ketenangan dan istirahat sejenak, lalu setelah bugar, langsung kembali fokus ke perkuliahan. Saya nggak mau dulu mikir tentang skripsi ataupun kepancing untuk cepat-cepat mikir tentang skripsi saat yang lain sudah mulai bicara tentang skripsi sementara saya memang belum siap untuk mulai bikin proposal skripsi. Saya percaya skripsi ini bukan tentang ide, tapi juga kesiapan fisik dan mental. Saya juga nggak mau terlalu memikirkan apa kata orang tentang kelulusan. Gak perlu diburu-buru lulus, yang penting lulus tepat waktu dan saat lulus, saya memang benar-benar sudah siap untuk terjun ke masyarakat, baik berkontribusi dalam pekerjaan ataupun membuat lahan pekerjaan baru untuk orang-orang banyak. 

Intinya sih, saya nggak mau diburu-buru. Yang penting saya tetap fokus dan harus bisa juga menikmati hidup di tengah dunia perkuliahan. Saya rasa banyak orang yang berfikir demikian. Toh masa muda 'kan harus jadi masa yang menyenangkan, bukan selalu tentang mikirin kuliah harus dapat A atau skripsi cepat beres. 

Sunday, August 10, 2014

Congratulation, Giovanni and Doni!

I still can't believe it. When I heard about it, I was surprised, thinking that my dad was just joking--but he wasn't. The wedding invitation came, and the party was on August 10. I was like "Really?" but I ended up leaving for Tangerang on Saturday morning, stayed at nearby hotel for one night, and attended your wedding party on Sunday morning, watching you and now-is-your husband sitting there saying that holy promise to love each other in good times and bad times. Now I'm home and I can't believe it happened--that I received your wedding invitation and attended it, and shook your and your spouse's hands wishing you two a happy marriage life. I can't believe time has flown so fast. Well, it has, don't you think? 

Do you remember back then we fought a lot over silly things--kids' play, puppets, and Lego bricks? It was about fifteen years ago, when we were six. People say kids fight a lot, but they make up easily. So did we. As we grew older, we didn't fight as often as we had done before. Do you remember the time your parents left for Europe and you and Hansen stayed at grandma's house for two weeks? I went to visit you two and ended up staying with you two, spending time playing games like Bishi Bashi or watching Hansen playing GTA Vice City everyday that we both remembered the song played on the radio in the game. I also remembered when we were so excited to play Bishi Bashi that we broke your PlayStation controller--the X button didn't work. 

Do you remember back then when I moved to Bandung and you visited me in my new home, you asked me whether or not I got Friendster? I said "Well, try to find it around this house"; the fact is I didn't know what Friendster was. I hadn't been into using social network so that was why I said like that. But we ended up finding each other's profile or Friendster and chatted on Y!, and this afternoon I added you on Path in hope that we can keep in touch though now you're a wife and will be busy living a new life as kak Doni's spouse. 

Do you remember back then I asked you what color your hair was--whether or not it was burgundy? You said it was maple red and I replied "The color didn't really fit your complexion". I was so stupid to say such thing since I didn't know anything about hair color and complexion--I knew nothing about trends. The fact is you looked amazing with your maple red hair, though darker shade of red would fit you better (IMO). But stay the same--the way you are right now. That's the best thing you can do. 

Do you remember that we've lost contact for years, seeing each other only at annual family gathering (or when you visited me in Bandung)? I wish I could find you on Facebook and I did; the problem is just that you added my old Facebook profile, and when I added you on Facebook using my new profile, you didn't confirm the request (well you haven't). We've lost contact for years that every time we met, we got nothing to say to each other. There'd be no topic for conversation, resulting on awkwardness between us. When you came to me asking where could you plug your charger to charge your phone battery at my home, all I could do was pointing at nearby socket and said "There". The awkwardness has made us apart. 

Don't you--don't we--remember that back then we played PlayStation together, just like how cousins should play together? 

Today is August 10 and neng Vani is no longer a little girl. You've become a wife for your husband. Time flies so fast. It has flown so fast don't you think? Giovanni Anggasta, a cousin of mine, my childhood friend, and the one who fought a lot with me over silly things, has stepped into a higher level of life. 



So I officially congratulate you two for your marriage. Live a happy life, love each other, and be 'home' for each other, for you know home is where you love and are loved, when there is warmness in your heart. When you have a bunch of things on your to-do list, just remember to thick this thing on your list. 

[✔] Marry the one I love

or, let's make it perky.. 
  • Marry the one I love: NAILED IT! 

Okay, I must have talked too much and you--if you read this post--would be surprise that your cousin would be this talkative on his blog. 

At last, live a happy life. You only live once. Love your life.. and your husband :)

Wednesday, July 30, 2014

Get Up

First, before I start my long-as-hell speech, I gotta tell you that this is gonna be a personal thing. Well, not so personal actually. This is about someone I know. Someone I know well; someone I've known for years. Yeah, I can say I know her well, quite well. 

So that girl, yeah, I've known her for years. We're close to each other and she's told me lots of secrets. I can say that I'm the one whom she relies on. I'm one of her greatest listeners. I've listened to her stories all night long on phone. But what happened to her recently has shocked me and eventually it led me to.. Well, I'm not saying that I hate her but I just don't like it when she starts being so blue over problems she should have solved much much much earlier. 

Okay. Let's say that she has fallen into the same fire pit over and over again. That's the problem.

The problem is not that people keep bothering and hurting her; the problem itself actually lies in her. She has let negativity empower her and it results on her rejecting people's advice. I wish she would really listen to me when she came to me and asked me for advice but she didn't. She would come up with lots of excuses and I'd eventually have nothing else to say so what remained was "I'm so sorry to hear that. Cheer up. Be tough, girl". It has happened for times so I can say that I'm kind of fed up of that. Then what was the purpose of me giving her advice while she herself didn't want to listen to it and thought that everything was wrong? Then what was right? What is right when everything's so wrong? 

When you have problems and you come to your friend, asking him or her for advice, then he or she gives you one but you reject it, and there comes another one and you reject it again, how does your friend feel? Or let's say that your friend has given you advice so that you won't fall into the same problem but you do and you complain like falling into the same problem is not your problem--it's someone else pushing you into that problem. If you were that friend, how would you feel? Well if I were that friend, I'd feel disappointed and disrespected. Where have you been? Were you really listening to my advice? Wasn't it you who came to me and ask for advice so that you won't fall into the same problem over and over again? 

She's told me several times that she'd give up on life. She's told me several times and that has made me numb. Sometimes it comes to my mind that.. Well, do whatever you want, girl. Jump over the bridge, or hang yourself, or sip a cup of cyanide.. oh I don't care. She's been complaining about life too much and it bothers me like fuck. 

Remember this. Giving up on life and committing suicide would just show the world that you're a coward. It's okay if you fail or if you don't get what you want. It's okay to feel hurt. It's okay to cry. But remember that you are not going to feel hurt and cry for the rest of your life so get up and make your own happiness. When you fail and you think of yourself being a loser.. That's okay. At least you've tried, and you should not stop trying. When problem comes to you, solve it. When it keeps disturbing you, try hard to make it go away. Don't give up on life because it means that you just quit the game and that's so coward. 

Life sucks and everyone knows it, even rich people know that life sucks. Problems are always there and they would come to you, no matter if you're rich or poor, young or old. The moment I think of this sinister world sucking my life, I remember the lives of poor people I've seen living under flyover bridges and how they wish to have life like mine. 

When problem comes, face it. Solve it and make it go away. Get up. 

Oh, I thought this is gonna be a long-as-fuck speech. I end up typing this long, and.. being speechless.