My Fellas!

Now it's time to have healthy snack and fresh premium milk tea. My Fellas will be your next best friend. Check the products out!

Cat Valentine's Anti-Gambling Poem

It's one of my favorite scenes from all Sam and Cat episodes. This one is taken from episode #ToddlerClimbing. I wish you guys would stop gambling and.. stop laughing at the poem as well!

Short-stories by Klaus

Check some short stories written by me!

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label random. Show all posts
Showing posts with label random. Show all posts

Tuesday, September 29, 2015

MTV, Radio, and Indie Pop

Though it was not the first rain this month, but the rain coming down this afternoon brought some kind of memories. No, I'm not trying to be melancholic; it really brought me some kind of memories. I was downloading The Adam's Hanya Kau (Only You) when it started raining. Not heavy rain, though, but it was calming and refreshing, for it hasn't rained for weeks. The Adams is an Indonesian power pop indie band, formed in 2001. Their single, Hanya Kau, was released in 2006 as a single from their second album, v2.05


The Adams - Hanya Kau (Music Video)

The video stars Rachel Maryam, an Indonesian actress and model who has starred a number of films and soap operas including Medley, Sepuluh, Arisan!, and Strawberry. Maryam also has appeared in a number of CFs, including Jus Berri CF series as a girl who witnesses a man's suicide trial and attends a funeral of--surprisingly--a cat (it's a plot twist). 


Listening to The Adams' song on a rainy day, it reminds me of my adolescence memories. I moved back to Bandung in 2006, attending primary high school as a second grader. Living in Bandung, I was introduced to indie music. I also watched MTV on daily basis (and weekend is the happiest time I could sit and watch MTV all day long while enjoying my favorite snacks--simply being a potato couch). The Adams was one among indie bands I knew during that time. My musical taste was quite vast at that time, ranging from baroque classical to punk rock. Note that when I was in the first year of primary high school, I listened a lot to R&B, dance, punk rock, alternative, and even hip-hop as an extreme escape from baroque classical. I listened to My Chemical Romance (Helena, anyone?), Good Charlotte, and Green Day; I listened to music full of distortion. When I saw The Adams' Hanya Kau music video for the first time in 2006, I was captivated by how much more mellow music could be much more interesting than the music I used to listen to. I started to search for more music similar to Hanya Kau and the search led me to the joy of radio. 

I remember one morning I was watching MTV with a friend and it was playing Goodnight Electric's Laser Gun Electro Boy. My friend, Rahardan, called the music as catchy and futura-music, while I called it as weird and confusing (turned out I bought their CD in 2008 because I finally found their music catchy and sophisticated). On the evening, I tuned in 99ers and Electro Boy was played on-air. I was about to tune into another station when the intro of Hanya Kau started playing. So staying tune, I listened to Hanya Kau and turned out the playlist for that evening was Indonesia indie-pop. The station played music from The Adams, Goodnight Electric, Homogenic, White Shoes and the Couples Company, and so on. Since that day, I always tuned in 99ers and listened to what was new. Radio and MTV introduced me to L.A Lights Indiefest and I was so captivated by Kiss the Pain Away by Holywood Nobody. That was the song I always listened to in nighttime while doing my homework. Indie pop was soon no longer unfamiliar for me. It was like wherever I went, I would listen to, at least, one indie pop song. I love the ambiance the music created. Indie music has its own special ambiance that I could easily differ from non-indie music. 

So how did the rain bring me the memories? 

I have 'befriended' indie music since October 2006. We were having rainy season that month which lasted until April. On weekends I used to go downtown with my family. Sitting on the front seat, I'd tune in my favorite radio station and listen to what was played. I remember that afternoon rain was pouring down the downtown and I was on my way to a shopping mall. Kiss the Pain Away and Hanya Kau were played and I really loved the ambiance the songs created. It was raining quite hard outside, but inside the car I felt some kind of tranquility. I loved seeing out the window on rainy days, with indie music playing on the background. 

I think that's great. 

Wednesday, August 19, 2015

Takhayul

Lima belas tahun yang lalu, saat saya masih duduk di kelas satu sekolah dasar, saya masih ingat jelas betapa teman-teman saya menertawakan dan 'memojokkan' saya yang, saat itu, duduk di atas meja. Engké manéh loba hutang (nanti kamu banyak hutang), kata mereka. Saya, yang saat itu tidak paham apa yang terjadi, langsung menepis pernyataan mereka, menegaskan bahwa saya tidak suka berhutang di kantin sekolah dan tidak mau sampai berhutang. Tawa mereka saat itu menghantui saya dan membuat saya, akhirnya, tidak mau duduk di atas meja lagi. Meskipun demikian, dalam hati saya menanyakan hubungan antara duduk di atas meja dengan banyaknya hutang yang dimiliki. Apa hubungannya? 


Superstition, atau takhayul dalam bahasa Indonesia, merupakan salah satu artefak budaya yang, mungkin, paling kita kenal di masyarakat. Berbeda budaya, berbeda juga takhayulnya (meskipun beberapa budaya memiliki takhayul yang kurang lebih sama). Mengenai duduk di atas meja, saat itu saya belum paham bahwa duduk di atas meja dapat membawa banyak hutang merupakan salah satu takhayul. Di keluarga, saya tidak banyak dikenalkan dengan takhayul (mungkin karena kedua orang tua saya juga bisa dikatakan tidak percaya dengan takhayul). Jadi, saat saya tiba-tiba dikatai "banyak hutang" karena duduk di atas meja, saya tidak percaya dan tidak memahami hubungan antara duduk di atas meja dengan banyak hutang. Setelah beberapa lama, akhirnya saya diberi tahu oleh guru saya bahwa teman-teman saya rupanya percaya dengan takhayul tersebut. Guru saya, untungnya, memberi saya "pilihan" untuk ikut percaya atau tidak. Saya memutuskan untuk tidak percaya dan mencari sendiri penjelasan yang lebih masuk akal daripada sekedar ditakut-takuti "banyak hutang." Takhayul merupakan kepercayaan yang, pada dasarnya, dibuat demi kebaikan. Larangan mengenai duduk di atas meja karena nantinya dapat membawa banyak hutang, misalnya, ternyata dibuat karena alasan kesopanan. Terlebih lagi, meja bukan tempat untuk duduk. Toh sudah ada kursi, jadi kenapa masih duduk di atas meja? 

Sayangnya saat itu teman-teman saya tidak tahu alasan sebenarnya mengapa duduk di atas meja dilarang. 

Mungkin kita tahu tentang larangan berdiri atau duduk di depan pintu. Katanya, kalau seseorang duduk atau berdiri di depan pintu, dia akan nongtot jodoh (susah mendapatkan jodoh). Faktanya, larangan tersebut dibuat karena jika seseorang duduk di depan pintu, orang tersebut menghalangi jalan keluar masuk orang lain. Jujur saja, saat tidak pergi ke kampus dan bisa menikmati siang atau sore di rumah, saya senang duduk di depan pintu samping yang menghadap ke taman di depan rumah. Suasana yang tenang serta angin segar yang berhembus membuat saya betah duduk di depan pintu. Ditambah lagi, kucing-kucing komplek yang bertandang membuat saya semakin senang duduk di sana. Depan pintu menjadi spot yang nyaman untuk sekedar bersantai menikmati angin sambil mendengarkan lagu, atau membaca buku sambil bersandar pada frame pintu. Seandainya saya percaya dengan takhayul tersebut, mungkin saya pernah bisa merasakan 'sensasi' nyaman saat duduk sambil membaca buku dan bermain dengan kucing-kucing yang sering mampir ke rumah saya. 

Saya juga ingat saat itu saya sedang pergi tamasya bersama keluarga. Saya ikut mengajak seorang teman sekelas. Saat makan siang di semacam pendopo kecil, teman saya melihat ke arah langit dan tiba-tiba meringis ketakutan. Rupanya ia melihat seekor burung elang yang terbang berputar-putar di langit. Katanya, jika ada burung elang yang terbang berputar-putar di langit, ada seseorang yang meninggal tak jauh dari tempat elang tersebut terlihat. Saya, yang pada saat itu tiba-tiba percaya begitu saja, menebak-nebak bahwa di perjalanan pulang nanti, kami akan melewati rumah yang di depannya terdapat bendera kuning. Pada kenyataannya, sepanjang perjalanan saya tak melihat bendera kuning sama sekali. Teman saya bersikeras bahwa ada seseorang yang meninggal saat saya (akhirnya) memojokkannya dengan berkata bahwa yang ia katakan hanyalah omong kosong. Teman saya tetap percaya dengan apa yang ia percaya, sementara saya akhirnya tidak mempercayai apa yang ia percaya, tapi hal tersebut tidak lantas membuat kami tidak berteman lagi. Kalau boleh saya tebak, sepertinya sampai sekarang ia masih mempercayai hal tersebut. Mungkin juga hal tersebut yang membuatnya cukup takut terhadap burung elang. 

Mengingat burung elang adalah karnivora, saya juga harus waspada terhadap burung tersebut. 

Dunia tanpa takhayul sepertinya kurang seru. Kurang greget. Takhayul menyuguhkan semacam larangan yang, menurut saya, unik. Saat mengetahui satu takhayul, saya biasanya langsung mencari tahu alasan yang logis untuk takhayul tersebut. Larangan membuka payung di dalam ruangan, misalnya, ternyata dibuat demi alasan keselamatan. Ujung-ujung payung yang tajam dapat membahayakan orang jika payung dibuka di dalam ruangan; oleh karenanya larangan mengenai membuka payung di dalam ruangan pun dibuat. Di sisi lain, ada saat-saat dimana takhayul justru, menurut saya, merepotkan. Kepercayaan bahwa membakar kemenyan dapat menangkal hujan, misalnya, justru bagi saya merepotkan dan menyusahkan diri sendiri. Saya ingat betul saat itu adalah hari pernikahan paman saya. Pernikahan diadakan di rumah nenek dari ayah saya. Tetangga-tetangga nenek saya rupanya sangat percaya akan takhayul dan, demi 'menyelamatkan' hari pernikahan paman saya, di pagi hari sebelum resepsi dimulai para ibu memasak di dapur di tengah kepulan asap kemenyan yang menyesakkan. Saat saya melangkah ke dapur untuk mencari kudapan yang bisa saya makan, saya terkejut dengan bau menusuk yang berasal dari sebuah wadah tanah liat kecil. Bau tersebut benar-benar menusuk hidung dan membuat saya cukup trauma sampai sekarang. Pada kenyataannya, hujan tetap turun di sore harinya, meskipun memang tidak sampai begitu mengganggu resepsi pernikahan. 

Ada beberapa hal yang saya 'kecam' dari aksi pembakaran kemenyan di pagi itu: 
  • Asap kemenyan yang begitu banyak dapat berbahaya bagi pernafasan
  • Di pagi hari ada baiknya kita banyak menghirup udara segar yang tak berbau, bukan asap dengan bau yang menusuk
  • Mereka membakar kemenyan sambil memasak di dapur untuk tamu-tamu resepsi. Bukankah asap kemenyan itu bisa menempel pada makanan yang dibuat? Bagaimana jika racun yang terbawa oleh asap itu menempel di makanan? 
Mempercayai takhayul merupakan pilihan. Tapi, jika takhayul yang dipercaya dapat 'menjauhkan' seseorang dari bahaya justru menjadi bahaya tersendiri, mengapa masih dipercaya? Sebagai bagian dari budaya, mungkin mempercayai takhayul sama artinya dengan menjaga budaya itu sendiri. Jika saya tidak percaya pada takhayul, apakah itu artinya saya tidak menghargai budaya saya? Saya rasa ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghargai dan menjaga budaya sendiri, selain mempercayai takhayul. Saya tidak bermaksud untuk menjadi sompral atau sombong, tapi saya menginginkan adanya penjelasan yang logis mengenai kepercayaan-kepercayaan tersebut. Mungkin, kepercayaan bahwa saat ada tiga orang berfoto bersama, orang yang berdiri di tengah akan mati muncul karena ada seseorang yang merasa iri tidak bisa berfoto bersama dan, untuk mengungkapkan kekesalannya, membuat kepercayaan tersebut. Bisa jadi, 'kan? Apakah posisi kita saat berfoto bersama menentukan jatah usia kita? Kalau seperti itu sih, bisa-bisa semua orang tidak mau berfoto bersama. 

Sebagai (setengah) keturunan Tionghoa, saya sangat mengenal takhayul yang satu ini: angka 4. Saat naik lift di mal atau bangunan-bangunan bertingkat, tidak jarang saya melihat tombol lantai 4 digantikan oleh tombol lantai 3A. Selain itu, tombol lantai 13 juga kadang-kadang digantikan dengan tombol lantai 12A. Mengapa bisa seperti itu? 

Bahasa Mandarin merupakan tonal language. Ini artinya, perbedaan nada mempengaruhi makna kata. Dalam bahasa Mandarin terdapat 5 nada yang berbeda untuk setiap kata. Jika diucapkan dengan nada yang berbeda, satu kata yang secara bunyi terdengar sama dapat memiliki makna yang berbeda. Kembali ke masalah tombol lantai lift, angka 4 dalam bahasa Mandarin adalah "Sì" (四). Sayangnya, verba mati dalam bahasa Mandarin adalah "Sǐ" (死). Memiliki bunyi yang sama, mencantumkan angka 4 dapat dianggap membawa kesialan karena angka 4 dalam bahasa Mandarin, jika dibaca dalam nada yang berbeda, dapat memiliki arti yang lain (dalam hal ini, mati). Oleh karena itulah, pada lift dan bangunan seringkali sebutan lantai 4 digantikan dengan sebutan lantai 3A (bahkan ada juga yang melewati angka empat begitu saja, sehingga setelah lantai 3 adalah lantai 5). 


Di gedung fakultas saya, pada lift tidak terdapat tombol lantai 3A; kami menyebut lantai 4 sebagai lantai 4, sebagaimana mestinya. Apakah hal tersebut lantas memberikan kesialan bagi semua pengguna gedung fakultas? Entahlah, tapi (puji Tuhan) selama ini tidak ada hal-hal yang benar-benar buruk menimpa kami sebagai pengguna gedung. Terlepas dari adanya kejadian-kejadian metafisika yang, konon, sering terjadi di lantai 4, penggunaan 'lantai 4' dan adanya tombol lantai 4 di lift tidak sampai membuat gedung fakultas saya mendapatkan kesialan. Mungkin karena mayoritas pengguna gedung fakultas (dosen dan mahasiswa) bukan merupakan keturunan Tionghoa? Entahlah, namun saya, selaku (setengah) keturunan Tionghoa pun tidak percaya dengan takhayul tersebut. Atau mungkin, takhayul hanya 'bekerja' pada orang-orang yang memang percaya pada takhayul tersebut? Katanya, kekuatan pikiran itu sangat besar. 

Katanya. 

Wednesday, July 1, 2015

Being grown up does not mean not having fun

Being grown up does not mean not having fun.

Sederhana, tapi ngena. Kadang-kadang kita terlalu sibuk mikirin gimana caranya supaya kita bisa dianggap dewasa, atau setidaknya, nampak dewasa di depan orang-orang banyak. Kadang kita mencoba menjadi dewasa dengan meninggalkan berbagai hal yang kita sukai--yang membuat kita bahagia. Saya nonton video dari Buzzfeed Violet dan it sums up everything. Untuk menjadi dewasa kita nggak bisa bersenang-senang. Loh, kenapa kayak gitu?


Masih ada orang yang mengaitkan kedewasaan dengan umur. Buat saya secara pribadi, menjadi dewasa dan menjadi tua itu dua hal yang berbeda. There's a fine line between growing old and growing up. Growing old is like you are aging over time, while growing up is like being mature. Bertambah tua itu lebih ke arah fisik, sementara bertambah dewasa itu lebih ke arah mental. Am I correct? Betulkan aja deh kalau salah, toh nggak ada orang yang sempurna. 

Ya setidaknya buat saya sih seperti itu. 

Saya masih ingat dulu ibu saya pernah ngomel karena saya sering main ke arcade. Kata ibu saya, di umur saya yang udah masuk kepala dua, saya nggak seharusnya masih main ke arcade. "Do something people my age do," my mom said. Bukannya nurut, saya malah kesal dan bingung. Kesal, karena saya merasa bahwa apa yang saya lakukan menjadi kebahagiaan buat saya DAN tidak mengganggu kebahagiaan orang lain. Bingung, karena saya nggak tahu standar kegiatan yang harus dilakukan oleh orang-orang berusia 20 tahun itu seperti apa. Sejauh ini saya menjalani hidup layaknya orang-orang lain: makan, minum, tidur, buang air, dan lain-lain. Apa setelah melakukan itu saya masih belum dianggap melakukan sesuatu yang people my age do? Kejadian seperti ini juga nggak hanya terjadi sekali. Dulu di semester satu, ada teman kuliah saya yang berfikir bahwa main ke arcade itu adalah hal yang way too childish dilakukan oleh anak kuliahan. Does going to arcade and playing some games make you childish? 

Jaman SMP dulu ada seorang teman sekelas yang, pada saat tahu bahwa saya dan sahabat-sahabat saya suka main ke arcade, bilang bahwa kami belum dewasa. Plus, karena saya main Pump It Up, he told me to play games boys play

Jadi itu artinya kalau anak laki-laki main Pump It Up, dia nggak laki? Coba pelorotin aja celananya. Kalau dia punya penis, berarti dia masih laki-laki. Kenapa orang harus didikte untuk memilih permainan yang dia inginkan? Apa karena ada anak laki-laki, semisal, main Barbie satu kali, dia lantas jadi perempuan? Apa karena ada anak perempuan yang hobinya panjat tebing dia lantas jadi laki-laki? Laki-laki, walaupun main masak-masakan, tetap masih punya kemungkinan bikin perempuan hamil. Dan perempuan, walaupun main tinju, tetap masih punya kemungkinan hamil. If a girl plays Beyblade and it makes her happy, so why bother yourself dictating her to do what she got to play?

Beberapa orang terlalu senang mendikte orang lain, menentukan kebahagiaan apa yang orang lain harus dapatkan dan menentukan apa yang harus orang lain lakukan. Who the fuck are you? Mungkin terkadang kita juga begitu. Kita terlalu sibuk ngurusin orang lain, menentukan orang lain harus bahagia dengan cara yang sesuai dengan yang kita pikirkan. Ada sebagian orang yang bahagia saat baca novel kesukaannya. Ada yang bahagia saat nonton kartun kesukaannya. Ada yang bahagia saat main musik. Masing-masing orang punya caranya masing-masing untuk bahagia. Sekali lagi, seperti kata Shim Ha Na di The Queen's Classroom, happiness is not something which is set in a stone. Apa yang menurut kita bahagia, mungkin orang lain biasa saja. Begitu juga sebaliknya. Kebahagiaan itu relatif dan manusia itu berbeda-beda. Kenapa kebahagiaan mesti dibuat absolut? Buat teman saya, makan sushi itu jadi kebahagiaan tersendiri buat dia. Lalu, apa lantas saya juga harus makan sushi supaya saya bisa bahagia? Kalau saya bisa bahagia dengan makan kentang goreng McDonald's ukuran reguler, ya kenapa nggak dilakukan? 

Seorang teman me-repath sebuah post di akun Path-nya. Katanya, "Do whatever floats your boat, as long as it doesn't sink mine." Cerdas! Kita bisa melakukan apapun yang membuat kita bahagia SELAMA hal itu nggak mengganggu hak dan kebahagiaan orang lain dan nggak melanggar hukum dan norma-norma yang ada. Memangnya kalau saya main ke arcade, saya bikin kelaparan besar? Nggak, kan? Saat ada yang nggak suka melihat kita bahagia, masalahnya ada di orang itu. Dia yang bermasalah. Dia yang nggak suka melihat kita bahagia ATAU dia yang berpikiran sempit karena setiap orang harus melakukan segala sesuatunya sesuai dengan standar dia. 

Ini jadi lebih banyak membicarakan tentang kebahagiaan daripada growing up-nya. 

Oke kita kembali ke growing up. Main ke arcade, berenang, main Beyblade, main gundu, atau apapun lah nggak lantas bikin orang tidak dewasa. Kalau menjadi dewasa itu artinya having no fun, saya sih nggak mau deh menjadi dewasa. Hidup bakalan sangat membosankan. Kalau menjadi dewasa artinya selalu serius, menanggapi semua dengan serius, menutup kemungkinan-kemungkinan yang ada, menolak masukkan dari orang... rasanya membosankan buat jadi orang dewasa. BUT HEY! Being grown up does not mean not having fun, and you can do anything you want to have some fun, as long as it's not against other people's rights! 

Jadi intinya apa? 

Berhenti mendikte orang. Jangan ngatur-ngatur orang dan mencekoki dengan ide bahwa "Kalau mau hidup bahagia itu kamu harus kerjanya blablabla" atau "Hidup yang bahagia itu kalau kamu bisa menghasilkan blablabla." Ada textual evidence-nya nggak itu? Itu hasil riset mana? Menjadi dewasa itu proses yang berjalan seumur hidup. Kita semua pasti punya sisi kekanak-kanakan dalam diri kita (don't you dare say no!). Tapi kalau kamu berfikir bahwa menjadi dewasa itu artinya nggak bisa bersenang-senang dan mendapatkan kebahagiaan, coba mandi dan cuci muka dulu deh biar seger.

Sunday, May 24, 2015

Do I hate kids?

Salah satu pertanyaan yang dari dulu masih belum bisa saya jawab adalah, 

"Do I hate kids?

Mama saya bilang katanya kalau cinta itu nggak boleh terlalu cinta, dan kalau benci juga nggak boleh terlalu benci. Pada dasarnya, rasa cinta dan rasa benci itu kan bukan dikotomi, atau kiri kanan, atau utara selatan, dan pokoknya nggak strukturalis deh; rasa cinta dan benci itu lebih semacam ke arah degree, ke arah mana kita cenderungnya. Bingung ya? Gitu deh intinya. 

--------
1 Cinta
--------
2
3
4
--------
5 Netral
--------
6
7
8
--------
9 Benci
--------

Kalau dibikin diagram, mungkin cinta dan benci itu kayak di atas itu. Kita ada di titik mana, apakah titik yang lebih ke arah cinta atau ke arah benci. Intinya sih nggak bisa selalu totally cinta atau totally benci. Sampai sekarang saya masih belum bisa menentukkan ada di skala berapa saya, apakah saya cinta atau benci... sama anak-anak. 

Why kids?! 

Saya juga nggak tahu. Makhluk berusia masih dibawah 10 tahun itu kadang-kadang aneh. Saya juga bingung. Anak-anak itu kadang-kadang ada yang baik banget, dan ada yang nakal banget. Ya pusing sih intinya, dan itu yang bikin saya sulit menentukkan di skala berapa sikap saya terhadap anak-anak. 

Tinggal di kompleks yang banyak anak kecilnya bikin saya sering mesuh-mesuh karena mereka biasa menginvasi teras depan dan main-main di kolam ikan (dan mengotorinya, dan mencelupkan kaki-kaki kotor mereka ke kolam ikan, sampai akhirnya digigit ikan lele dan menangis dan saya tertawa puas). Kadang-kadang mereka juga bisa baik, hanya duduk di dekat kolam ikan lalu mengobrol biasa, dan tidak sampai mencelupkan kaki ke kolam. Beberapa anak-anak itu menggemaskan, dan sisanya lebih pengen dipukul pantatnya ala Misae dan Shinchan. Setiap saya lapor ke mama saya kalau saya kesal karena anak-anak kecil tetangga-tetangga saya pada berisik dan suka bikin kotor pekarangan rumah-rumah orang, mama cuman jawab bahwa dulu juga saya seperti mereka. But at least, I didn't throw mango fruits into someone's fish pond loh. Maksudnya, seinget saya dulu saya nggak sebandel itu--seperti anak-anak tetangga-tetangga saya sekarang. Bandelnya mereka ini sudah bikin beberapa tetangga saya juga jengah. Pernah suatu hari tetangga depan saya marah dan lapor ke babysitter yang anak asuhannya bandelnya minta ampun karena mangga-mangga di pohon tetangga saya, yang sudah berbuah tapi belum matang, sudah pada dipetik sama anak-anak kecil itu. Kan bete tuh, pasti tadinya niatnya mau bikin jus mangga. 

Saya dikenal sebagai 'koko galak' sama anak-anak kecil itu. Kalau lewat atau ketemu, saya jarang senyum dan biasanya melototin mereka (I do my best buat bisa melotot, dan jangan tanya alasannya kenapa ya). Saya juga sering menegur mereka kalau udah ngotorin kolam ikan atau memberantakin teras depan (I'm not sure whether the word 'memberantakin' does exist in KBBI or not). Pokoknya, saya dikenal sebagai koko galak yang suka marahin anak-anak kecil. I don't care. Punya image galak nggak lantas membuat saya jadi pusing kok. Ya, setidaknya saya galak juga karena ada alasan tertentu. Tapi di sisi lain, ada beberapa anak yang bilang kalau saya nggak galak. Anak-anak yang mana?


Foto itu jadi bukti kalau saya juga bisa get along sama anak-anak dan mereka juga menganggap kalau saya nggak galak. Bingung? Nggak yakin? Terserah.

Yang jelas saya nggak suka dengan haircut saya di foto itu.

Mungkin untuk bisa suka sama anak-anak, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi sama anak-anak itu. At least kalau nggak terpenuhi semua, terpenuhi setengahnya deh. Kriterianya apa aja?

  1. Nggak terlalu berisik, nggak banyak teriak-teriak
  2. Nggak gampang nangis dan kalaupun nangis, nggak mewek manja atau nangis yang sampai tendang-tendang
  3. Nggak ngamukan kalau marah (kalau ngamuk, bisa saya sentil soalnya)
  4. Nggak kebanyakan nanya-nanya yang aneh-aneh, apalagi kalau sampai nanya yang niatnya buat cari perhatian (anak-anak jaman sekarang banyak yang punya motive loh bro!)
  5. Nggak kurang ajar dan kalau ngomong bahasanya baik (aduh, sekarang banyak anak-anak kecil yang masih SD tapi udah tau kata fuck atau asshole)
  6. Nggak kutuan (ini crucial banget karena kutuan itu nular!)
  7. Menjaga kebersihan
  8. Menunjukkan antusias, apalagi kalau konteksnya lagi belajar (semisal ngajarin bahasa Inggris ke anak-anak)
  9. Tau jokes yang lucu tapi nggak offensive (anak-anak jaman sekarang kan suka ada yang pinter nge-joke)
  10. Suka mau kalau disuruh nyanyi (yang gini nih yang namanya hiburan)
Kriterianya terlalu perfeksionis ya? Terserah dah. 

Jadi, intinya apa? Entahlah. Saya masih bingung menentukan apakah saya suka atau benci sama anak-anak kecil. Basically, gimana situasi dan kondisi sih. Ada orang yang nanya, apakah nanti kalau saya udah menikah dan punya anak, masih bakal tetap punya pandangan kayak gini. Saya sih bisa bilang pandangan saya bisa berubah. Ya maklum lah udah dewasa udah punya anak, mau sampai kapan sih benci sama anak kecil. Toh saya juga nggak mau jadi orang yang childless. Kan kata orang-orang tua juga anak itu berkah. Banyak anak banyak rejeki, eh tapi nggak selalu gitu juga sih, toh rejeki yang ngatur kan Tuhan, bukan anak. 

Jadi kesimpulannya? 

Nggak ada sih. Cuman curhat saja. 

Saturday, May 23, 2015

Ditilang dan Pragmatics

PS: Kalau ingin tahu sisi pragmatics-nya di sebelah mana, harus baca sampai akhir biar paham.


Di usia yang sudah memasuki kepala dua ini (tapi bukan ular berkepala dua ya), untuk pertama kalinya saya kena tilang. Do I sound happy and proud of it? Nope. Biasanya saat orang ditilang, responnya cenderung ke arah marah atau kesal. Tapi saat itu, dan sampai sekarang, pengalaman ditilang pertama itu justru jadi sesuatu yang menurut saya unik, walaupun tentu saja saya nggak mau kena tilang lagi (syukur-syukur nggak pernah ditilang lagi seumur hidup.)

Jadi saya ditilang pas hari Jumat kemarin ini (22/5), sekitar jam 5 sore di persimpangan Gegerkalong dan Setiabudhi. Tahu kan persimpangan itu? Itu loh yang kalau ke utara dikit ada kampus Enhaii, terus ke utara lagi ada UNPAS, dan ke utara lagi ada UPI kampus tercinta aku *apasih*. Kalau bicara tentang siapa yang salah, harus saya akui memang saya yang salah. Tapi ada alasan kok kenapa saya ngebut di persimpangan itu. Bener deh.

*defense mechanism pun muncul* 

Jadi saya ditilang karena mengebut pas traffic light udah berubah ke merah. Sebetulnya pas saya sampai traffic light, semua lampu mati (dan timer-nya juga mati). Saya kira memang traffic light saat itu sedang tidak berfungsi. Eh, pas sampai di tengah-tengah persimpangan, tiba-tiba lampu berubah merah. Ani dan Muthia, yang saat itu ikut sama saya, langsung kaget, terutama pas ada seorang polisi yang udah dari jauh melambaikan tangannya (mungkin kangen?) dan nyuruh saya minggir. Mengaku salah (karena memang ngebut juga sih), akhirnya saya diminta turun. Awalnya si polisi yang nyuruh saya minggir itu bicara ke saya dengan nada tegas dan galak. Gak ada ramah-ramahnya sama sekali (awas dia kalau ketemu lagi, saya jutekin)

*Nggak ngaruh juga sih dan pasti dia nggak bakalan inget muka saya* 

Saya disuruh datang ke pos polisi yang letaknya nggak jauh dari tempat saya diberhentikan. Saya minta Ani buat nemenin saya ke pos polisi (dan Ani mau!). Saat itu, pikiran saya lagi agak aneh karena.. ya, bisa dibilang blank sih. Perasaan saya waktu itu percampuran antara waswas dan bingung. Saya pun turun dan ke pos polisi dengan Ani. Saat itu, polisi yang menangani saya bukan polisi yang memberhentikan saya. Ada petugas polisi lain yang, saat saya dan Ani masuk, langsung nyengir dan nyuruh saya duduk. Saya mulai ngerasa gugup, walaupun ekspresi muka saya sih masih menunjukkan kalau saya lagi bingung. Did I look fershimmeled? Only God knows deh. 

Saya diminta buat menunjukkan surat-surat dan SIM saya. Saya pun mengeluarkan semua kartu-kartu yang ada, kecuali kartu Game Master dan Chatime karena dua kartu itu mah nggak ditanyain (nggak usah disebut juga sih). Si bapak melafalkan nama saya, mengernyitkan dahinya, dan mengklarifikasi nama saya. Saya tentu saja mengkonfirmasi bahwa "Yes, that's my name!" soalnya kalau si bapak tanya "Nama kamu Joe Taslim?" pasti si Ani udah ngakak sampai ngompol. Saya pun ditanya alasannya kenapa saya ngebut, dan saya jelaskan alasannya. Ditambah lagi, saya emang pengen buang air (alasan klasik, which to some extent works sih). Saya dan Ani kaget karena respon pak polisi itu justru diluar dugaan. Saat saya bilang saya mau buang air, pak polisi itu nyengir dan menjawab, 

"Wah, saya juga nggak punya" 

Der fick?! 

Saya sama Ani pun lantas ketawa. Pak polisi itu terus menjelaskan lagi tentang peraturan dan denda yang harus dibayar. Awalnya saya kaget karena si pak polisi itu sempat nyuruh saya untuk ke persidangan di tanggal 6 Juni. Disitu saya gugup, bukan karena nggak mau disidang, tapi karena saya nggak yakin tanggal segitu kosong apa nggak (sok sibuk sih memang). Ditambah lagi, ya malas juga sih. Saya pun dikasih pilihan untuk bayar denda di tempat atau melalui ATM. Saya dan Ani kaget saat ditunjukkan bahwa denda pelanggaran itu besarnya 500 ribu rupiah. Ya, 500 ribu rupiah dan duit saya sudah mengalir ke rekening tabungan koh Hendi karena saya beli sepatu ke dia. Ani pun tiba-tiba bermetamorfosis menjadi advokat saya, melobi pak polisi supaya biaya dendanya dikurangi. Singkat cerita sih, pokoknya pak polisi itu baik sama saya dan Ani karena si bapak akhirnya bilang bahwa kita bisa bayar denda yang paling minimal (apalagi ini kali pertama saya ditilang dan alasan buang air itu memang.. ya.. daripada ngompol di pos kan?). Yang saya lihat waktu itu nominal paling kecil itu ya seratus ribu. Untunglah uang selalu siap sedia, dan saya pun bisa bayar denda di tempat. 

Sudah bereskah? Belum! 

Si bapak malah ngajak ngobrol lagi. Si bapak tiba-tiba menanyakan sesuatu yang bikin saya ketawa on the spot. Mungkin karena Ani banyak menjelaskan daripada saya, si bapak pun nanya ke Ani. 

"Kamu ibunya?" 

Saya pun ketawa on the spot dan Ani nampak shock. Saya langsung mengklarifikasi bahwa Ani itu sahabat saya, dan di-iya-kan juga oleh Ani. Si bapak malah gantian meng-ciye-ciye-kan saya dan Ani. Disitu pun saya dan Ani jadi kaget. 

Ditanya juga saya dan Ani habis dari mana. Ani, yang saat itu masih jadi advokat, langsung bercerita panjang lebar, bilang kalau kami habis makan siang. Lengkap dengan keterangan tempat bahwa saya, Ani, dan Muthia habis makan sore di McDonald's. Pak polisi itu lagi-lagi menanyakan sesuatu yang mengejutkan, yang bikin jaw dropping

"Ih, kok makan disana nggak ajak-ajak saya?" 

Der fick?! (2)

Singkat cerita deh ya. Urusan ditilang beres. Saya bisa mengantar Ani dan Muthia kembali ke apartemen mereka yang nyaman dan aman. Saya pun bisa pulang ke rumah. Ada dua pelajar yang saya ambil dari kejadian ditilang itu, yang akan dijabarkan dalam bullet di bawah ini: 

  • Kalau memang dengan sengaja melanggar lalu lintas dan ketahuan salah, mengaku saja salah dan jangan banyak alasan. Wajar juga sih kita beralasan, ya selama alasannya memang masuk akal dan nggak aneh-aneh (semisal, nggak lihat lampunya merah atau apa lah). Dalam kasus saya, si lampu kuning dan timer saat itu memang nggak nyala, jadi saya kira memang traffic light sedang mati. Ditambah lagi, urgensi untuk buang air kan sesuatu yang inevitable. Selain itu, kalau memang harus bayar denda, ya bayarlah. Intinya sih, harus lebih disiplin dengan aturan lalu lintas. Jangan nerobos lampu merah, muter balik di tempat yang nggak seharusnya, berhenti di tempat yang dilarang, atau semacamnya. Aturan lalu lintas kan dibuat untuk keselamatan semua pengguna jalan. Saya bayar bukannya biar nggak usah dibawa ke pengadilan atau biar cepat, tapi karena memang saya mengaku salah dan kalau di aturannya harus didenda, ya saya harus bayar denda. Tapi polisi kan memberi pilihan, mau bayar di pengadilan, di tempat, atau lewat ATM. Saat itu memang saya bisa bayar di tempat, jadi ya sudah bayar di tempat. Lagipula selama ini saya jalan kaki ke Gerlong dan lewat pos polisi itu, para polisinya nampak baik kok (you know what I mean kan, bukan polisi palsu yang 'malak' duit)
  • Polisi ramah, sahabat rakyat. Polisi pertama yang memberhentikan saya itu orangnya galak. Tegas sih, tapi nggak bersahabat dan banyak membentak. Ani sama Muthia sudah wanti-wanti saya supaya nggak kebawa emosi. Dan disitu, pilihan saya untuk nggak banyak ngomong dan langsung ke pos merupakan pilihan yang tepat. Lebih males lagi kan kalau harus berurusan dengan polisi yang nggak ramah. Polisi yang satu laginya, yang jaga di pos, menunjukkan keramahannya. Bahkan di momen-momen menegangkan seperti itu, pak polisi itu masih sempat bikin suasana lebih adem dengan guyonan-guyonannya. Lagi ditilang aja saya sempet ketawa. Bukannya menganggap remeh hukum, tapi kan kalau begitu juga saya yang ditilang nggak merasa benar-benar tersudutkan. Intinya sih, polisi yang ramah pasti lebih disukai masyarakat. Apalagi kalau polisinya ternyata sama-sama suka makan burger di McDonald's. Mungkin pak polisi itu juga sering beli Rice Box rasa teriyaki di KFC.

    Kalau dilihat dari sudut pandang pragmatics, apa yang dilakukan polisi itu (semua guyonan dan pertanyaan konyolnya) merupakan tindakan FSA atau face-saving act (tindakan menyelamatkan wajah). FSA ini merupakan konsep yang ada dalam bahasan politeness (kesopanan) di lingkup pragmatics. Wajah disini maksudnya apa ya, kayak perasaan kita terkait rasa malu. Ditilang itu kan kejadian yang memalukan buat kebanyakan orang. Saat saya ditilang, ya saya juga malu lah pasti karena ada beberapa orang lihat. Tapi rasa malu itu nggak bikin saya merasa totally uneasy karena keramahan dan guyonan dari pak polisi yang bikin saya dan Ani merasa bahwa, meskipun kita ditilang dan bersalah pak polisi ini nggak lantas menjatuhkan harga diri kita. Dan karena itu pula, win-win solution bisa didapatkan. Saya bisa membayar denda dan menjalani proses tilang dengan baik tanpa merasa benar-benar dipermalukan, dan polisi itu juga menjalankan tugasnya dengan baik dan mendapat kesan baik dari masyarakat--saya dan Ani. 
Udah sih sebetulnya gitu ceritanya. Ambil hikmahnya, dan lebih banyak senyum dan ramah sama orang lain. Saya juga lagi belajar supaya lebih ramah sama orang lain hehehe

Saturday, April 11, 2015

That uneasy feeling

Lately I've been feeling uneasy, like something has been following me everywhere. No, it's not about supernatural stuffs. I didn't commit any crimes either. I just, I've been feeling that way, that something has made me feel so uneasy. Or rather, I've been haunted. 

My mom wants me to graduate soon. That's why I was quite depressed back, like three months ago because I had to finish the research proposal when I, actually, still needed more time to refine it. For your information, I submitted my research proposal like a month ago and the department demanded me to revise the proposal so I could continue doing my research. The problem came when they told me that the topic I chose was something difficult and, due to some reasons, I was given options, whether to keep the topic or change it. I ended up deciding to change the topic, which means that I had to start over, yeah, like starting back from the scratch and finding another idea for my research. I came up with the idea of doing research on translation field and my friends said that it was a good idea because they knew I'm a freelance translator and, even, a lecturer who is an expert in translation field supported my decision. 

I joined an internship program starting from February to April. It required me to focus on my tasks. I worked in a group alongside five other girls in a radio station. I went to the radio station where I worked as a member of creative team for a program (almost) every day, from Monday to Friday. I had to leave at four and it took an hour to reach my workplace. I worked for two hours, from 5 to 7. Sometimes they extended the work hour and that was a great pain. It took another one, oh no, two hours to reach home so I spent like two hours on public transportation, sitting and listening to the same playlist every single day. I was really tired I got no much time to even 'touch' and 'make out' with my research proposal. It has been obviously neglected. 

I received an e-mail from WikiHow like one month ago (almost at the same time I started the internship program), informing that I have become a part of translator family for WikiHow, English-to-Indonesian translation. The job offered me great deal of money and I liked it. I like it. I really really like it. I really really really fucking like it. Who doesn't like money? Who doesn't need money? Even if you're a billionaire, it's a bullshit if you say that you don't need money. Without money, you ain't no goddamn billionaire. So I worked my ass off, day and night to translate some articles worth some bucks. I have earned a hundred bucks and I've told myself to work my ass off even harder so I can earn some more. 

I eventually realize that working on the translation project seems like drinking a bottle of Manischewitz. It's so sweet that I can't tell if I'm already drunk or not because I enjoy it so much. Sometimes sweetness makes people oblivious to the real situation. So does job (and money). I realize that I've been so busy working my ass off, day and night, and neglected my research proposal. As I tried to do what I should have done earlier, I felt like I didn't want to do it. I don't want to do it for now because I'm not ready yet. Starting over means I have to learn new theories, find new research objects, and... yeah... basically do everything from the very beginning.It's not a simple and easy thing to do. It's not something that you can do in 5 minutes, like cooking an instant noodle and brewing nice tea. Collecting data and source books are not as easy as collecting beautiful corals while walking on the beach, and the pressure from my parents just make things more difficult for me. 

I kind of need fresh air. I need to relax. I need to retreat for a while, undisturbed. I need to find a place where I can just sit and enjoy fresh air (maybe a secluded beach resort would do). I can't do it in this very kind of condition, as I'm not ready and I (have to admit it) feel a bit lazy to start. The previous tasks from the internship program are not as easy as I thought and I need to improve my translation skill in order to make better translations. Shit why are things so much more complicated when I have reached 20? Sometimes I wish I was still eighteen. Yeah. Maybe things would just be easier for me, though it sounds like things would be just the same. Okay. Whatever. 

Saturday, February 28, 2015

Jai guru deva, om..

Most of times, when visiting my favorite coffee shop, they play some rock music with the varied subgenres from 70s rock to 90s brit-rock. I'm not really into rock music, though I can't deny listening to some rockin' tunes. The atmosphere built through the music in the coffee shop is so different, so unlike-me-but-somehow-me-gusta. Well I went there to enjoy my favorite iced chocolate drink while (sometimes) reading a novel or some e-Magz and then they played some 90s brit-rock tunes then people started singing along and I'd be like Oompa Loompa lost in Bikini Bottom but then deciding to live there because he was like "Oh! I love Fancy! I love Krabby Patty!"

I've never thought 90s brit-rock would be that awesome.. Well they have such charms that I could hardly explain, like a magic forcing you to keep listening to the music and absorb the magical lyrics. Magical? I'm not really sure about it but The Beatles' Across The Universe has been haunting me for days like "Hey! You can never forget me because I'm gonna linger on your mind until the end of the world!" 

Jai Guru Deva, Om

So the lyrics say "Jai Guru Deva, Om" which means something like "I thank Guru Dev. Om" or "Salutation to Guru Deva. Om", while Om itself is a kind of hum, a mantra, or rather, a natural vibration. Reading on Wikipedia, it is said that "Om" is a sacred, mystical sound. The song haunts me. It HAS BEEN haunting me for days and "Jai Guru Deva, Om" pops into my head like every single day. 

This morning, Radiohead's Karma Police just popped into my head and I felt the urge to go to iTunes store and buy the music. So there it is, now playing in my iTunes. Karma. Police. So there is a police regulating all karmas all around the world, eh? I mean, when you do something bad to others, you'll get what you've done. You'll pay for it. The song is what I'll be most likely listening to before sleeping (well it's not a lullaby anyway) and it's in my special playlist designed to accompany my study-time. Arranged in mid-tempo, this alternative rock song kind of reminds me of Dewa 19's Dua Sejoli, despite the clear differences between the two songs in terms of composition. I think the reminiscent is based on my idea that they're both alternative rock songs I'd love to hear while studying because they give me such indescribably nuance. 


Karma police! Please arrest those who have wronged me! If you do something good, then the goodness would come back to you in ways you might have never expected before. If you do something bad, then the badness would come back to you someday. Karma does exist. 

And when trouble comes, what you have to do is to keep your chin up and say "Let it be". The Beatles' Let It Be is actually my favorite one. It's like a song you'd love to hear when you feel sad and depressed. "Mother Mary comes to me speaking words of wisdom "Let It Be". What a powerful line. Its piano riffs are the best! I love to play it on my piano and sing to the piano accompaniment. The chorus echoes in my mind, telling me to.. well, just let things happen, let them be because "there will be an answer"


I love Talbot's version. She's really got the talent! 

Tuesday, February 24, 2015

Time flies fast. Can I have my Nutella?

It's already February, I mean, it's going closer to the end of February. 

Seriously? Wow!


I can't believe it's already February, it's 2015 and it's going closer to the end of February which means that March will come soon. Time flies so fast, so fast that I didn't realize May is coming. May. Yes, May! My birthday, and it means another preparation for my birthday party which, I hope, would be much merrier. A number of close friends would be invited and I already started saving some money for the birthday party. I guess there would be pizza and root beer for this year (and maybe ice cream!) and some small games for the party but I don't expect there would be Pinata. 

Any suggestions for the birthday venue around Bandung? 

But mentioning pizza then the party would be likely to be held somewhere like nearby pizzeria, though actually I don't like pizza. Ice cream! Ice cream! I scream for ice cream! But wait! Too much ice cream won't kill you, will it? Because every spoon of McFlurry is sooooo a-mew-zing and I can't resist the temptation! I NEED MY MCFLURRY RIGHT NOW CUZ IT MAKES ME DANCE LIKE PHINEAS! 


Not a really good dance, though. Ferb dances better anyway. 

So that's all. I just want to say that time flies fast and it means early preparation for my birthday party. Way too early to think of such thing actually but I don't care. I want this year to be much merrier, so special that the party would be memorable for me myself and my friends. 

So where's my Nutella? 

Tuesday, January 6, 2015

Family Farm

Setelah sekitar tiga bulan kemarin mengalami tekanan fisik dan mental yang cukup berat (baca: tugas dan proposal skripsi), akhirnya semester 7 berakhir dan saya bisa bernafas lega.. setidaknya untuk sejenak. Berakhirnya semester 7 tidak lantas menandai kebebasan saya karena setelah ini saya masih ada internship program selama kurang lebih satu semester (syukur-syukur kalau bisa lebih cepat sih). Tapi sebelum masuk semester 8, nampaknya saya punya waktu libur sekitar 3 minggu yang sampai sekarang masih bingung mau dipakai untuk apa saja. 

Lepasnya diri dari tugas bikin saya, somehow, merasa aneh. Rasanya seperti gigi yang ompong dan kita selama beberapa hari kedepan akan sering mainin lidah untuk menyentuh tempat dimana biasanya ada gigi yang akhirnya ompong itu; saya jadi bingung karena nggak ada tugas untuk dikerjakan. Sekarang saat nyalakan komputer saya nggak lagi buka software penyunting kata karena sudah nggak ada lagi tugas untuk diketik. Senang sih karena akhirnya bisa blogging lagi (dan ini ternyata post pertama di tahun 2015.. Yay!), dan juga bisa browsing yang lain-lain.. 

Browsing apa hayoh.. 

Saat saya buka Facebook, saya iseng-iseng buka section permainan dan akhirnya mencoba beberapa games di Facebook. Yay! Akhirnya saya main game di Facebook lagi! Sebetulnya sejak jaman SMA (karena saya salah satu pengguna pertama Facebook di kalangan teman-teman saya) saya sudah mulai main game yang ada di Facebook. Tapi karena faktor kesibukan, lama kelamaan saya jadi jarang main dan pada akhirnya tidak main sama sekali. Sekarang ini berhubung kesibukannya sudah mulai berkurang, saya jadi bisa kembali main game yang ada di Facebook

Dan saya pilih permainan bercocok tanam.. 


Game yang di atas namanya Family Farm. Permainan ini semacam Farmville (kalau yang sudah pernah main Farmville sepertinya tahu seperti apa game rules-nya). Saya juga coba main lagi Farmville tapi entah kenapa achievement yang dulu pernah saya raih seperti hilang, dan otomatis harus mulai lagi dari awal (kecewa). Akhirnya karena kekecewaan itu saya putuskan untuk fokus di Family Farm saja. Family Farm punya interface yang menurut saya lebih ringan dibandingkan Farmville jadi loading pun lebih cepat. Untuk grafis sendiri sih lebih mirip Farmville 2, lengkap dengan animasi-animasi seperti gerakan ayam atau putaran Dutch mill


Seperti permainan bercocok tanam lainnya, Family Farm punya banyak varian sayur-mayur dan buah-buahan untuk ditanam seperti tomat, mentimun, apel, ceri, anggur, dan lain-lain. Ada juga pilihan untuk bertanam gandum yang nantinya dikirim ke Dutch mill untuk diproses jadi tepung. Saya sendiri rencananya ingin mengubah peternakan Animikins (nama peternakan saya) menjadi perkebunan anggur. Karena ternyata, hasil jual dari wine (setelah anggur dimasukkan ke wine processor) itu tinggi. Biasalah.. biar tidak amsiong. Tidak hanya sayur-mayur dan buah-buahan biasa, sayur dan buah spesial pun ada. Memang ya namanya game kemungkinan untuk adanya unsur-unsur magis itu.. ya ada lah pokoknya. Ada bibit-bibit tanaman yang bisa menghasilkan produk yang nantinya bisa diubah menjadi batu safir oleh sapphire unicorn. Ada juga bibit labu Halloween yang kalau sudah jadi, keluarlah labu-labu Halloween lengkap dengan mata dan mulutnya dari tanah. 


Main bercocok tanam tanpa kehadiran hewan-hewan ternak rasanya kurang greget. Di Family Farm kita bisa pilih mau beternak hewan apa, dari mulai unggas seperti ayam sampai sapi pun ada. Sapi-sapi pun ada yang dijadikan untuk ternak susu dan ternak daging. Oh ya, hewan magis seperti unicorn juga ada, hanya saja saya sih tidak kepikiran untuk ternak unicorn. Kalaupun ada ternak putri duyung, saya mau kembalikan saja ke laut. Kebayang kalau nangis keluar mutiara.. 

Tapi jadi tajir sih kalau gitu. 

In-ta-na... 

Yang lucu adalah di Family Farm ada ternak lebah dimana lebah-lebah ini bisa menghasilkan madu setelah mereka membantu penyerbukan beberapa tanaman seperti bunga atau semanggi. 


Lebah-lebah yang keluar dari sarangnya itu berjumlah tiga ekor dan akan langsung mendatangi bunga atau tanaman yang mekar (semisal semanggi). Setelah membantu penyerbukan, tiga ekor lebah itu akan kembali ke sarangnya dan membuat madu (hasilnya langsung dalam bentuk botolan loh!). Satu botol madu dijual sekitar 5 koin dan tanaman-tanaman yang telah diserbuki biasanya akan ditandai pollinated. Berhubung sapi ternak susu itu makannya semanggi dan semanggi itu tanaman untuk diserbuki lebah, jadi saat kita panen semanggi dan punya ternak lebah, biarkan dulu lebah-lebahnya menyerbuki semanggi. Nanti beres mereka menyerbuki semanggi, barulah kita panen semangginya. Lumayan loh nanti bisa dapat susu dari si sapi dan madu dari lebahnya. 

So far sih permainan ini mengasyikkan dan tentu saja kita perlu kesabaran karena tanaman-tanaman yang ada biasanya perlu waktu untuk bisa panen, dari mulai 15 menit sampai berhari-hari. Permainan ini juga menawarkan kenangan masa lalu (ciye bahasanya) karena dulu semasa SMA saya senang sekali main permainan di Facebook, terutama yang berbau bercocok tanam dan pembangunan kota. Grafis yang bagus dan animasi yang menggemaskan bikin kita bisa tahan bercocok tanam. Walaupun nggak panen betulan, ya setidaknya kita merasakan bercocok tanam secara virtual dan menjadi pemilik peternakan (atau perkebunan) milik kita sendiri. 

Friday, November 7, 2014

Pump It Up 2015

Waktu pertama kali dengar bahwa Pump akan mengeluarkan sekuel terbarunya, Pump It Up 2015, ekspresi saya kurang lebih seperti ini.. 


Entah kenapa saya ngerasa cepat aja gitu update ke sekuel terbarunya. Rasa-rasanya baru kemarin ini membuat semacam selebrasi untuk kedatangan Fiesta 2 dan main I'm The Best sampai mabok. Awalnya saya masih ragu-ragu bahwa sekuel itu bakalan ada dan saat saya cek, ternyata memang benar rencana untuk rilis sekuel itu ada dan katanya di luar sih sudah rilis. Kata teman saya sih Pump 2015 masuk ke Indonesia nanti sekitar bulan Februari tahun 2015, which means masih cukup lama--sekitar 3 bulan lagi. 

1st teaser screen shot
Andamiro sudah merilis so far dua teaser video untuk Pump It Up 2015. Teaser pertama hanya menampilkan nama-nama musisi yang karyanya bakalan muncul di sekuel terbaru dari seri Fiesta. Waktu nonton teaser pertama, saya cukup terkejut karena nama-nama musisi kece seperti M2U dan Paul Bazooka muncul di video tersebut. Mereka berdua selama ini dikenal sebagai musisi yang berkontribusi di DJMAX. Mungkin karena popularitas DJMAX mulai menurun (dan Technika 3 server shutdown sepertinya jadi alasan yang cukup signifikan), jadi dua musisi itu hijrah ke Pump. From fingers to feet. Saya jadi ga sabar mau dengar musik-musik yang Technika-ish di Pump. 


Pump It Up rasa Technika
Lagu-lagu baru yang disiapkan untuk Pump 2015 menurut saya adalah yang terkece dibandingkan dengan lagu-lagu untuk rilis dasar versi sebelumnya (meskipun saat Fiesta 2 dirilis, saya harus akui lagu-lagunya memang menarik karena cakupan Kpop yang lebih luas). Saya rasa Pump 2015 jadi versi pertama yang punya musik bergenre dubstep (Paul Bazooka - Meteorize). Ada cukup banyak lagu-lagu baru yang memberikan sentuhan musik Technika ke Pump. Ya, sebut aja Paul Bazooka dengan Meteorize yang kalo menurut saya sih lebih cocok dijadikan lagu untuk Technika (dan kebayang deh ribetnya karena kemungkinan akan banyak variasi tap notes + repeaters dan jackhammer notes). Ada juga M2U dengan Nemesis yang kalau dilihat-lihat lagi BG videonya punya kemiripan dengan BG video Cherokee karya xxdbxx di Technika dimana kedua video menampilkan objek boneka (I guess it's a teddy bear). Chinese Restaurant punya Memme punya beberapa aspek musikal yang mengingatkan saya sama Over The Rainbow punya Tsukasa (mungkin karena tempo dan synth-lead kali ya). SID-SOUND dengan Cosmical Rhythm mengingatkan saya dengan Say It From Your Heart punya Makou (perhatikan deh riff pianonya).

Teaser 1

Teaser 2

xxdbxx - Cherokee


Classique Party
Munculnya karya-karya classical crossover di Pump 2015 semakin memberikan kebahagiaan tambahan untuk para penikmat dan juga musisi yang bergulat di dunia musik klasik (kalau buat saya sih jadi semacam rejeki anak soleh). Ada Warak dengan Latino Virus yang merupakan versi crossover dari Pathetique Sonata, 3rd movement karya Beethoven (dan di versi Pump sebelumnya kita kenal dengan Beethoven's Virus). Ada Super Fantasy yang merupakan versi crossover dari Fantaisie-Improptu karya Chopin (kalau pemain O2JAM sih pasti kenal dengan Electro Fantasy). Ada juga Requiem yang merupakan karya klasik dengan judul yang sama dari komposer Giuseppe Verdi. 

Awalnya saat saya dengar bergabungnya Paul Bazooka dan M2U ke Pump, saya jadi punya ekspektasi bahwa beberapa musisi lain dari DJMAX juga akan bergabung dan ya.. mungkin menyumbang beberapa classical crossover tunes. Tadinya sih saya ngarep ada La Campanella


Going online
Ayiha! Pump 2015 sekarang terintegrasi dengan koneksi internet. Dengan kata lain, sistem ranking Pump 2015 bakalan kurang lebih mirip dengan sistem ranking di Technika. Tapi tetap saja akan ada fungsi USB kok jadi jangan lupa bawa flashdrive ya sebelum pergi ke arcade

Untuk saat ini sih, karena belum rilis di Indonesia.. 

Mari bersabar menunggu sambil main Fiesta 2. 


Tuesday, October 21, 2014

Oh

Tuesday afternoon was always cold, at least for him. Dimitri went home and no one knew he was sobbing on his way home. He was sobbing, yet no tears fell from his eyes. His heart was hurt, for some bad fellows at school talked bad about him behind his back. So bad that he couldn't believe that the betrayal was so true. Dimitri kept wondering why people were so harsh, and life has been so harsh as well. He was no longer a kid and he knew that. Running away was for cowards and he knew he wasn't a coward. But the pain was pain, and pains hurt. 

Keeping all thoughts by himself, Dimitri didn't find something to yell at. Breaking plates would be useless and punching mirror would never solve his problems and heal his heartache. He could not yell at Demian, nor at Edgar. He could not yell at the whole class, calling them bad bitches and sons of bitches. He dared not to yell at people. He wished he could kill someone but a voice inside his head told him not to do so, yet he realized he should kill someone, or at least hurt someone. He was looking for someone to kill but again that voice told him not to do that. 

Screams were screams, and tears were tears. He turned the tap on and water filled his tub. As it reached two third of the tub, he turned the tap off. He got in and lay with his eyes open, seeing world from underwater. It didn't hurt when a small cutter cut his arms. Water turned red. Tears turned red, and screamed turned bubbles. Everything felt so good. Dimitri wasn't hurt. Everything was fine for him. 

Monday, October 20, 2014

Nesa's Day

Beberapa hari yang lalu, sepupu saya berulang tahun. Beberapa hari yang lalu. Ya, karena saya lupa tanggal berapa tapi yang jelas di bulan Oktober (dan saya malas buat buka Facebook, just to find out his birthday). Sebetulnya ada beberapa orang spesial yang berulangtahun di bulan Oktober dan salah satunya adalah ayah saya yang kemarin sempat merayakan pesta ulangtahun kecil di rumah. Ada nasi kuning tumpeng, ayam goreng, sambal, salad.. 

Sebetulnya post ini akan menceritakan tentang sepupu saya, Nesa. 

Umur si Nesa itu sebetulnya lebih muda dari saya, tapi berhubung orangtuanya adalah kakaknya ayah saya mau nggak mau harus nyebut kakak atau mas ke dia, meskipun pada kenyataannya saya manggil dia dengan nama dia, Nesa, atau Agnesa. Katanya sih beberapa hari yang lalu dia ulangtahun. Katanya. Loh, kok? Kalau anda salah satu pengikut atau penggemarnya Nietzsche mungkin akan setuju dengan ucapannya yang bilang bahwa tidak ada fakta, yang ada hanya interpretasi. Maksudnya, semisal si Nesa dikatakan di akte ulang tahunnya tanggal 17 Oktober, itu 'kan realita menurut yang nulis akte atau realita menurut orang yang percaya bahwa dia ulang tahun tanggal 17 Oktober. Kalau ternyata dia sebetulnya bukan lahir tanggal segitu, bagaimana? 

Bingung ya? Emang out of topic sih.. 

Baiklah. Jadi Nesa itu seperti apa orangnya? Yang jelas sih kata teman-teman saya dia seksi, baik, langsing, tinggi, putih, pokoknya lumayan lah kalau buat ikutan girlband. Pada kenyataannya, Nesa adalah sepupu saya dan dia laki-laki (kalau nggak percaya bisa langsung sentil aja apa yang ada di antara selangkangannya) [R-18 ALERT!]. Urusan langsing, putih, dan cantik, ya itu sih gimana pendapat yang melihat mukanya saja. Tapi sejauh ini buat saya kondisi fisik dia bukan jadi masalah; yang bermasalah itu tingkat kesintingannya. Bahkan setelah dia berulangtahun pun dia masih belum menunjukan adanya indikasi perbaikan dari segi psikis. 

Agnesa. Tampak depan

Sebetulnya kalau bicara tentang hubungan darah saya dan Nesa, saya bisa jadiin itu sebagai skripsi saking panjangnya. Kalaupun ada yang melihat saya dan Nesa sedang gila-gilaan di mal atau restoran, yakinlah sumpah inyong mereka tidak akan menyangka bahwa semasa kecil dulu, saya dan Nesa hobinya bertengkar, dari mulai masalah remote TV sampai asal-usul petir yang kata Nesa waktu itu, munculnya karena dewa sedang marah. 

Mungkin dia sejak dulu sudah dicekoki Mahabarata. 


Hobi: Bertengkar
Saya sendiri nggak ngerti kenapa waktu dulu sering sekali bertengkar sama Nesa. Kami berdua memang dulu kalau marah dan saling hina, wih kata-katanya cukup pedas. Apalagi Nesa sih, yang lama tinggal di Kalimantan dan terbiasa keluar masuk hutan untuk berburu. Kebayang dong teriakannya seperti apa, secara jarak dari satu hutan ke hutan sebrangnya yang terpisah satu sungai itu lumayan jauh. Hawa-hawanya, kalau ketemu Nesa itu ingin berantem, ingin gampar dan ingin mukul. Mungkin karena aura dari wajahnya kah? Entahlah, yang jelas aura wajahnya sekarang berubah. Buktinya dia bisa nge-fans sama JKT48 dan AKB48. 

[out of topic]

Jaman dulu yang saya lihat (berarti ini sudut pandangnya saya), saya ini sangat sensitif dan gampang kesal, sementara Nesa ini tempramennya jelek. Setali tiga uang sih sebetulnya. Kami sering bertengkar dan semenjak Nesa masuk SD, tempramennya mulai membaik meskipun kadang masih pundung (apalagi waktu dia nggak saya kasih lihat mainan Tazos hadiah dari makanan ringan, wuih pundungnya..). Tapi sekalinya kami akur, entahlah kami bisa akur banget. Obrolan jadi nyambung dan di beberapa momen, kami bisa ngobrol tentang topik-topik yang serius... semacam politik atau pembagian harta gono-gini (apa sih). Tapi memang betul demikian. Asalkan mood sedang bagus dan ada topik yang cocok, kami bisa akur dan satu pikiran. Sama rasa istilahnya. Kalau Nesa sedang bahagia, saya juga bahagia. Kalau Nesa sedang jomblo, ya itu sih lebokin aja. 

Sejarah pertengkaran masa kecil saya dan Nesa ini sudah melekat dalam pikiran para orangtua. Karena saya lebih dewasa pada saat itu dan nature saya yang menghindari konflik, sebisa mungkin saya sering menghindari pertemuan dengan Nesa saat itu. Setiap ketemu pasti bertengkar. Setiap ketemu pasti bertengkar. Oleh karenanya saat Nesa pindah (lagi) ke Kalimantan, saya sempat merasa tenang karena nggak perlu bertengkar, meskipun dalam hati jujur saja ada yang hilang.. 

*muntah air raksa*


Si Bolang
Jaman SD, Nesa ini bisa dibilang si bolang--bocah petualang. Nesa lebih banyak terekspos dengan dunia luar dan hidup di alam ketimbang saya yang semasa SD menghabiskan 80% kesehariannya di lingkungan perkotaan. Selama beberapa tahun sempat Nesa dan keluarganya tinggal di rumah nenek (dari garis ayah) saya. Rumah nenek berada di satu desa yang, menurut saya sih, nanggung untuk dibilang desa. Dibilang desa tapi jalan raya beraspal sudah banyak dimana-mana, tapi dibilang kota juga (saat itu) belum banyak public spots dan tempat nongkrong (walhasil anak-anak gawl jaman dulu banyak nongkrong di pinggir jalan, atau di pinggir jembatan dengan sungai super lebar di bawahnya, atau di pinggir jalan di samping areal persawahan). Kebetulan sekali di bagian belakang rumah nenek itu ada kebun yang cukup luas dan nyambung dengan hutan bambu. Setiap saya datang, seringkali saya lihat Nesa baru pulang dari kebun-kebun itu, atau sedang melakukan apapun di kebun di rumah nenek. Oh ya, rumah nenek bisa dibilang besar dan rumahnya berbentuk bungalow, dengan tanah yang besar digunakan untuk taman dan kebun. Kalau saya datang, biasanya muncullah dari balik semak-semak daun cincau si Nesa, dengan telanjang kaki atau pakai sendal jepit dan kulit yang terbakar cahaya sang mentari. 

Meskipun jarang terekspos dengan alam, saya pernah nge-bolang dengan Nesa. Mungkin lebih tepatnya saya dan Nesa ikut ayah saya memancing di kolam-kolam pemancingan di tengah hutan. Keluarga kakek saya bisa dibilang berkecukupan (puji Tuhan) sehingga punya cukup banyak kolam-kolam ikan yang ada di tengah hutan. Salah satu kolam yang paling dekat dari rumah jaraknya cuma beberapa ratus meter dan tepat di samping kolam itu, ada sebuah kolam kecil dengan air bersih (entah sumbernya dari mata air pegunungan atau apalah, tapi yang jelas airnya bersih). Di area kolam kecil itu (nggak bisa dibilang kecil juga sih sebetulnya karena bisa dipakai berenang bolak-balik) ada pula bak-bak air untuk mandi atau mencuci pakaian yang biasa digunakan oleh anggota keluarga atau warga sekitar. Biasanya saat ayah saya mancing, saya sama Nesa berenang di kolam kecil itu. Sebetulnya kolamnya nggak begitu dalam tapi ayah saya selalu mewanti-wanti supaya saya berenang di pinggirannya saja. Air kolam yang jernih dan segar (karena cuaca di desa tempat tinggal nenek itu panas) pastinya mengundang anak-anak untuk bermain air dan berenang. Tenggelamlah saya dan Nesa di euforia kolam kecil. 

Sekarang kalau saya ingat-ingat lagi, kolam kecil itu jadi mengerikan di benak saya. Dengan kedalaman yang saat itu sekitar satu  jengkal lebih tinggi dari tinggi saya, dibatasi oleh sebuah tebing berlumut di satu sisinya dan dengan alas bebatuan hijau, kalau ingat dulu pernah menyelam disana saya jadi ngeri sendiri. Saya jadi terbayang salah satu episode Supernatural di season pertama dimana ada satu arwah yang membalas dendam dengan menenggelamkan orang-orang di sebuah danau. 

Saya aja mungkin ya yang terlalu paranoid


Kuliah
Sebelum Nesa kuliah, saya hanya bisa ketemu saat libur lebaran atau liburan apapun dimana Nesa main untuk berkunjung. Tapi sekarang setelah Nesa kuliah, kami bisa ketemu kapanpun asalkan janjian, atau saat si Nesa disuruh ayah saya untuk datang ke rumah (biasanya karena ada beberapa hal semacam kasus penculikan atau pemerkosaan yang memposisikan Nesa sebagai pelakunya). 

Sekarang si Nesa kuliah di Telkom dan ambil jurusan desain.. Desain apa ya? Yang jelas sih memang jurusan yang dia pilih sesuai dengan passion dan bakatnya. I might be careless to say this but, tadinya saya nggak nyangka ternyata dia hobinya ngegambar. Lha wong dulu dia hobinya main ke kebun, dan sekarang dia mainannya sudah drawing pen, aplikasi visual editing, dan semacamnya.. Keren kalau menurut saya yang memang nggak jago menggambar, dan saya senang aja lihat dia bisa ambil jurusan yang memang sesuai dengan passion dia sejak awal. 


Seharusnya post ini jadi semacam tulisan selamat ulang tahun buat Nesa, tapi saya jatohnya malah bikin mini-biografi tentang si Nesa. Mungkin judulnya "si anak kebon", karena gelar "si anak singkong" sudah diambil dan "si anak betawi" sudah terlalu melekat pada sosok si Doel. Jadi, at last, selamat ulang tahun yang ke dua puluh berapa entahlah, Agnesa Aji Wijaya. Semoga ekspektasimu tercapai di tahun ini dan segera mendapatkan zodoh sesuai dengan kriteria yang dicanangkan oleh Veno (atau semoga langgeng dengan Veno? atau.. ya baiklan terserah). Cepat lulus dan selalu sukses. IP lo naikin, Nes! 

Kebacanya malah birthday happy. Gak ngerti ah ini susunannya gimana sih

Nih, gue kasih kue virtual buat lo, Nes. Cara makannya sih diulik-ulik sendiri aja, yang jelas dihabisin ya. Habisin sama lilin-lilinnya juga! Mubazir loh kalau nggak habis. Nanti dimarahin Allah loh kalau buang-buang makanan. 

Sunday, October 12, 2014

My mom laughed after watching this video

So I got this video and decided to show it to my mom. 


After watching the video mom's expression was like..


Okay. The video is so funny and I admit it. I bet the girl has just found an epiphany or something. The girl's expression is so serious that I can't handle my laughter like seriously. 

Thursday, October 2, 2014

Klaus, please close the door after Miroslav Klose and Santa Claus come in

I think I'm having a quarter-life crisis. 

Oh, did I just say that--I mean--did I just type that? Yes, I did and sure I typed it. I could see it in the first line of the post. I'm having a quarter-life crisis. Quarter-life. In search of identity and self-esteem I've found that conflicts lie between myself and society and in other times I have to fight with myself since there is a conflict in me. I've also realized that trivial things are sometimes so potential to cause (maybe not so great but) significant problems. Well it's just like you realize how a cute yellow banana peel could lead people to their death. 

So what's my problem? 

Well it's actually a simple thing, not really bothering yet shaking me like riding wooden roller coaster fifty times a day. It's about my nickname and I'm pretty sure I have a nice name and there's nothing wrong with "Klaus" but in other occasion there are moments involving the matter of name that make me question myself like..


Most of times when I introduce myself to new people, I mention my name and they would be like.. 


Yes, I am! What's wrong with the name "Klaus" that people think of it as something strange, like they never hear the name even once in their lifetime? Often times I have to say it twice or thrice to make them sure that I, did, say Klaus. Actually it's not a really big problem, for I realize that such name is quite strange and rare. I bet there are just a few people named Klaus living in my city but probably more in the country so that's why the name becomes rare, strange, and unique at the same time. When people know me, they'll call me Klaus which means that they recognize my name. There's no problem regarding my name when I speak of the way people call me or address me in oral conversation but the problem regarding my name mostly lies in the way people write my name. 

Back when I was a freshman, people knew my name and called me properly. But once people came to the moment when they had to write down my name, there the problem was. A classmate has once texted me and it seemed like he didn't know how to spell my name so instead of typing Klaus as K-L-A-U-S he typed it as C-L-A-U-S-E. In other time, a friend who studied German texted me and addressed me as K-L-O-S-E and I was like H-W-H-A-T-?-?


I bet she texted a wrong person. 

When I was in Kuala Lumpur my auntie took me to KLCC and I found Starbucks. There I ordered my favorite drink and, just like what they do here in Indonesia, the barista asked me for my name so I mentioned it. Guess what? He didn't get it and thought that my name was Cloud. 

CLOUD? I am Cloud Strife? 


There's nothing wrong with my name but the way people spell it sometimes becomes a problem for me. The name is Klaus and it's spelled K-L-A-U-S. When people misspell the name, it could be something funny that I can laugh at every time I remember the moment but sometimes they do it in such a formal situation and I'd be like "Seriously?" Some have even misspelled my name, resulting on a very big question about my identity. 

"Am I Santa Claus?" 

Oh please! My name is Klaus and it's spelled K-L-A-U-S. Don't spell it as C-L-A-U-S because I'm not Santa. Don't spell it as C-L-A-U-S-E because my name is a proper noun and it's not a clause since my name does not contain a verb and to make a clause, my name has to at least have a subject and a verb. Don't spell it as K-L-O-S-E because I don't play soccer. Well just.. don't misspell my name. 

Again. It's spelled K-L-A-U-S. Klaus, in German spelling.