My Fellas!

Now it's time to have healthy snack and fresh premium milk tea. My Fellas will be your next best friend. Check the products out!

Cat Valentine's Anti-Gambling Poem

It's one of my favorite scenes from all Sam and Cat episodes. This one is taken from episode #ToddlerClimbing. I wish you guys would stop gambling and.. stop laughing at the poem as well!

Short-stories by Klaus

Check some short stories written by me!

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Yumm!. Show all posts
Showing posts with label Yumm!. Show all posts

Sunday, March 27, 2016

[Review] Captain's Seafood

Setelah lama tidak update apa pun di sini, post pertama di bulan (atau mungkin tahun ya?) ini adalah ulasan mengenai salah satu restoran boga bahari yang ada di Bandung. Karena kemarin ini saya sibuk dengan urusan skripsi dan tetek bengeknya, baru sekarang deh saya bisa merasakan kebebasan yang selama ini diidam-idamkan. 

Rencananya, hari ini saya mau bertemu dengan teman-teman di kelas Korea. Karena satu dan dua hal, reuni dengan teman-teman itu batal. Saya--yang sudah kagok lapar dan ingin main--akhirnya menghubungi salah seorang teman, sahabat lapar semesta, Bangun dan tanya apakah dia ada waktu luang. Mungkin hari ini memang hari makan seafood semesta. Kami pun akhirnya memutuskan untuk bertemu dan makan siang di salah satu restoran boga bahari di jalan Riau. Captain's Seafood, begitu nama restorannya, adalah restoran boga bahari yang (jangan ditanya lagi) menyajikan pilihan makanan dari hasil laut seperti ikan, cumi, udang, kerang, kepiting, dan rajungan. Buat yang belum pernah datang, restoran ini berlokasi di jalan L.L. R.E. Martadinata (Riau) nomor 217. Restorannya ada di satu row dengan restoran-restoran lain seperti Suis Butcher. Kalau yang suka wisata kuliner, kayaknya perlu main ke daerah situ buat ngenyangin perut. 

Dekorasi yang menyambut tamu. Jadi ingat Jinny, Oh Jinny! | ©2016 Klaus R Dewanto

Ahoy!
Pertama, saya (dan Bangun) mau membicarakan tentang tempatnya sendiri. Captain's Seafood berlokasi di daerah yang strategis dan merupaka surga buat para wisatawan kuliner. Selain itu, jalan R.E. Martadinata atau Riau ini banyak dikunjungi wisatawan, terutama di akhir pekan atau hari libur. Makanya pada jam-jam atau hari-hari tertentu kemungkinan besar restoran-restoran di daerah ini penuh. Untungnya, pas saya datang sama Bangun (sekitar jam 1), restoran masih sepi. Mungkin ramenya di malam hari ya, karena di dalam restoran ada stage untuk penampil. Oh ya, kata yang punyanya (ibunya ramah banget asli!), setiap Jumat dan Sabtu malam ada penampilan band. Jadi, buat yang seneng makan sambil ditemani alunan live music, kayaknya sabi (bisa) lah main dan makan di sini. 

Ada stage untuk penampilan. Sabi lah makan sama pacar sambil denger live music di sini | ©2016 Klaus R Dewanto
Oh ya, kalau Bangun sih tertarik dengan konsep restoran. Mengusung nama Captain, kita disuguhi tema bajak laut di restoran ini. Tema tersebut bisa dilihat dari pemilihan cat tembok, paneling, dan beberapa dekorasi lain yang memperkuat nuansa bajak laut. 

©2016 Klaus R Dewanto

©2016 Klaus R Dewanto

©2016 Klaus R Dewanto
Selain tema, ada satu hal lagi yang saya dan Bangun perhatikan. Restoran ini family-friendly. Saya dan Bangun perhatikan setiap meja itu dilengkapi dengan enam buah kursi, jadi cocok buat makan dengan satu keluarga di satu meja yang sama. Belum lagi dekorasi ruangan bertema bajak laut yang mencolok, bisa menarik perhatian anak-anak. Sayangnya, kami nggak tahu pasti mengenai area merokok dan non-merokok. Hanya saja, di meja tidak disediakan asbak dan ada seating area di bagian depan yang konsepnya semi-outdoor, jadi tebakan saya dan Bangun sih area merokoknya ya disana. 


Udang Telur Asin yang Menggoda Selera
Setelah mengulas tempat, sekarang mari kita bicara tentang makanannya. Sayang sekali saat berkunjung kami nggak memesan menu berbahan dasar ikan. Review-nya jadi kurang representatif dong? Ya nggak juga sih, karena kita memesan menu berbahan dasar cumi, udang, dan kerang. Yeeey! 

Lagipula kami sedang nggak mau makan ikan. Mungkin bosan. Entahlah. 

Apa saja yang kami pesan? 

L-to-R: Cumi goreng tepung, udang telur asin, kerang batik saus Padang | ©2016 Klaus R Dewanto
Untuk makanan, kami pesan cumi goreng tepung, udang telur asin, dan kerang batik saus Padang. Oh ya, for your information aja, semua pesanan kami itu berlabel recommended, meskipun kata Bangun sih cumi goreng tepung bukan menu yang terlalu 'spesial' karena di restoran boga bahari lain pasti ada menu yang sama. Untuk cumi goreng tepung, satu hal yang buat saya pas adalah perpaduan tekstur makanan. Kita semua tahu kalau daging cumi itu chewy alias kenyal. Nah, jujur saja saya paling nggak suka saat daging yang chewy, kayak daging cumi atau kerang, dipadukan dengan coating yang chewy juga (kayak coating tempe mendoan). Di Captain's Seafood, daging cumi dibalut tepung panir, jadi ada perpaduan renyah di luar, kenyal di dalam. Buat saya, perpaduan itu bikin sensasinya seimbang. Untuk bumbu sih, saya sama Bangun setuju gurihnya udah pas, meskipun kami menyayangkan tidak adanya saus khusus untuk menemani si cumi (misalnya, mayonnaise atau saus cocolan lain khas Captain's Seafood). Setelah cumi goreng tepung, kita beralih ke udang telur asin. Nah, ini yang bikin si Bangun ketagihan karena, menurutnya, perpaduan udang goreng tepung dan saus telur asin itu surprising! Sayangnya, saya nggak begitu suka telur asin karena baunya (meskipun tadi saya coba juga dan suka kok). Selain itu, udang gorengnya beneran udang goreng (ya iyalah masa udang bohongan). Maksudnya, daging udangnya tebal dan coating-nya tipis, jadi nggak menipu. Di beberapa restoran kita kadang disuguhi makanan berbalut tepung yang, ternyata, dagingnya kecil tapi tepungnya besar. Kalau di Captain's Seafood, menurut Bangun daging udangnya tebal, jadi nggak 'menipu'. Setelah udang, kita beralih ke kerang. Nah, untuk menu kerang, saya dan Bangun agak kecewa. Yang disayangkan adalah sausnya. Dengan nama saus Padang, saya dan Bangun nggak begitu merasakan spices yang khas Padang. Rasa saus tomat dan saus cabai-lah yang justru lebih kentara. 

Selain makanan, Captain's Seafood juga menawarkan minuman. Yang saya pesan saat berkunjung adalah es cokelat santan. Sebagai penyuka cokelat, minuman itu wajib saya coba. Rasanya? Hmm.. buat saya sih seperti es lilin rasa cokelat dalam bentuk cair. Mungkin karena santannya terlalu banyak, jadi rasa cokelatnya kurang menonjol (tapi overall unik kok, dan bisa jadi alternatif buat es cokelat biasa yang ditambahin krimer atau susu). 

Hal menarik lainnya yang saya dan Bangun perhatikan dari makanan adalah ragam bahan dasar yang tersedia. Untuk ikan sendiri, ada beberapa jenis ikan yang tersedia, dari mulai gurame, kerapu, ayam-ayam, dan lain-lain. Pilihannya lumayan banyak, jadi bisa ngasih warna berbeda. Pilihan kerang pun beragam, dari mulai kerang hijau sampai kerang batik (seperti yang kami pesan). Asyik lah kalau misalnya kita mau coba jenis boga bahari yang lain dengan adanya pilihan-pilihan yang lebih beragam. Selain hal menarik, ada juga hal yang disayangkan. Ragam boga bahari yang ditawarkan ternyata berbeda dengan ragam jenis saus atau masakan yang ditawarkan. Untuk menu kerang, misalnya, kami hanya melihat dua menu kerang saus: kerang saus Padang dan kerang saus tiram (loh, kerang pake kerang?). Kalau lebih banyak variasi saus, menurut saya akan lebih menarik lagi. 


Harga?
Ya, tentu saja harga jadi faktor yang memengaruhi proses nyam-marking (bukan benchmarking). Pada awalnya, saya pikir harganya bakalan mahal. Saat masuk dan lihat menu, ternyata menu-menu porsi individu (kecuali kepiting dan rajungan) masih terjangkau, bahkan lebih terjangkau dibandingkan dengan harga menu di salah satu restoran boga bahari lain. Sebagai contoh aja, cumi goreng tepung yang kami pesan, satu prosinya dijual dengan harga Rp 29.000,- saja. Saya jadi ingat ada salah satu restoran boga bahari yang menjual menu cumi yang sama, dengan harga yang lebih mahal (bedanya bisa sampai 10 ribu). Harga menu minuman pun relatif murah. Es cokelat santan yang saya pesan saja satu gelasnya dijual dengan harga Rp 12.000,- saja. Terjangkau, 'kan? Sayangnya, untuk harga kepiting, tidak ada harga pasti karena harganya mengikuti harga pasar. Bagi kami, ini bisa memengaruhi keinginan pelanggan untuk memesan menu berbahan dasar kepiting (fluktuasi harga, guys?). Tapi pas saya tanya, untuk bulan Maret (kurang lebih), harga kepiting per ons-nya adalah Rp 35.000,-. Menu makanan berbahan kepiting dijual dengan harga minimal Rp 70.000,- karena porsi paling kecilnya saja sekitar 2 ons. 


Overall Nyam-marking
Secara keseluruhan, saya dan Bangun mendapatkan kesan yang baik. Pelayanannya cukup cepat dan ramah. Nuansa tempatnya nyaman (ada TV dan Wi-Fi gratis juga). Makanannya pun lezat dan harganya relatif terjangkau untuk kelas restoran boga bahari. Untuk tempat, kami memberi nilai 8 dari 10, dan itu termasuk lokasi restoran. Untuk makanan, secara keseluruhan dan berdasarkan menu yang kami pesan, kami memberi nilai 7,5 dari 10 (nanggung ya skornya?). Terakhir, dari segi harga, kami memberikan skor 3 dari 5 (menengah - terjangkau). Kalau kami ke sana lagi, kapan-kapan akan coba menu ikannya dan kemungkinan akan ada update penilaian. So far sih kami merasa puas makan di sana. Mau balik lagi? Yup. Berani rekomendasikan Captain's Seafood ke orang lain? Yup

Nyam-marking
Ambiance: ★★★★★★★★☆☆ (8/10)
Taste: ★★★★★★★✬☆☆ (7,5/10)
Price: $$$--


Informasi lebih lanjut
Captain's Seafood
Jl. L.L. R.E. Martadinata no. 217
Tel: (022) 227201077
Twitter: @captainsbdg

Tuesday, August 4, 2015

[Review] Bloemen

Minggu lalu saya dan ayah pergi makan siang. Sebetulnya bukan makan siang sih karena jatuhnya jadi sebatas ngemil, tapi ngemil agak berat (loh?). Rencana awalnya memang mau sebatas ngopi sambil ngobrol (mungkin tentang skripsi saya atau hal-hal semacamnya), tapi terus saya bilang ke ayah ada restoran unik bergaya kolonial Belanda dulu di Cipaganti. Walhasil, kami jadi pergi ke restoran itu. 

Bloemen. Nama restorannya adalah Bloemen. Berlokasi di jalan Bosscha no. 45 (pas persimpangan SPBU Cipaganti langsung belok kiri dan belok kiri lagi), Bloemen mencoba menghidupkan kembali suasana jaman kolonial Belanda dulu, Dari mulai desain interior ruangan sampai menu makanan dan minuman yang ditawarkan, makan di Bloemen ini serasa turn back time beberapa puluh tahun yang lalu saat para meneer dan mevrouw sore-sore menikmati teh sambil ngemil kue-kue. 

©2015 Klaus R Dewanto

Teduh
Kesan pertama yang saya dapat pas tiba di Bloemen adalah teduh. Berlokasi di jalan Bosscha yang banyak pohon-pohon besar, serta adanya awning merah marun yang menghiasi teras depan membuat restoran ini terkesan teduh. Meskipun demikian, jarak antara teras dengan tempat parkir yang menurut saya terlalu dekat membuat fasadnya terkesan riweuh, meskipun sebetulnya kalau di area parkir tidak ada banyak kendaraan sih kita bisa melihat dan menikmati keindahan fasad depannya dengan lebih baik. 

Bloemen sendiri dalam bahasa Belanda berarti bunga (or at least something floral). Di bagian depan restoran memang tidak banyak tanaman bunga, tapi di taman belakang dan sampingnya ada, jadi nama tidak menipu. Di teras depan ditanami semacam tumbuhan paku setinggi perut orang dewasa yang menjadi pembatas alami antara teras depan dengan area parkir. Awalnya saya dan ayah mau makan di teras depan, tapi berhubung saat itu cuaca sedang cukup panas, jadi kami memutuskan untuk makan di dalam. Area makan di teras depan dan teras samping menggunakan kursi-kursi rotan warna putih yang mengingatkan saya dengan Café Parisien di kapal pesiar mewah RMS Titanic. 

"Titanic Cafe Parisien" by Robert John Welch (1859-1936), official photographer for Harland & Wolff


Rumah Oma
Bagian dalam restoran didominasi oleh dinding berwarna gading, meskipun pada salah satu sudut ruangan temboknya dicat merah terang (dan jadi focal point yang unik). Lantainya pakai ubin abu-abu tua dan ubin bermotif khas rumah-rumah peninggalan jaman kolonial (dan katanya sekarang susah loh cari ubin itu). Ubin abu-abu tua itu biasa saya lihat di rumah oma saya, jadi ada semacam feeling seperti berkunjung ke rumah oma saat kami masuk ke dalam ruangan. 

©2015 Klaus R Dewanto

Berbeda dengan seating area di teras, di bagian dalam furnitur yang digunakan sedikit lebih modern karena menggunakan kursi-kursi makan kayu yang desainnya cukup kontemporer. Ada juga sofa di beberapa sudut ruangan yang menambah kesan kontemporer pada ruangan, meskipun sebetulnya saya expect something more classic. Lampu-lampu gantung dengan kaca patri menambah sentuhan bohemian tersendiri, kalau kata ayah saya. Foto-foto jaman dulu dipajang di hampir semua sudut ruangan. Ada juga semacam lemari kaca besar yang menyimpan fine china. Selain foto, ada juga beberapa barang antik seperti radio tua dan pesawat telpon yang memperkuat kesan seolah-olah saya benar-benar ada di rumah oma. 

Di teras belakang, di dekat pintu menuju seating area teras belakang, ada sebuah piano upright. Meskipun pianonya tidak nampak jadul (Yamaha tipe-tipe yang cukup baru, mungkin keluaran tahun 2000an awal), tapi keberadaan piano dan foto-foto yang dipajang di atasnya menjadi focal point tersendiri di seating area teras belakang. Piano ini bisa dimainkan. Kebetulan sambil nunggu makanan datang, saya main piano. Keasyikan main piano, saya sampai dipanggil sama ayah karena katanya makanannya sudah datang. Jadi seperti anak kecil yang keasyikan main sampai harus dipanggil ibu atau ayahnya buat makan. 

©2015 Klaus R Dewanto


Mixed fries dan chocolade mint
Karena niat awalnya hanya sekedar ngopi dan ngobrol dengan ayah, kami tidak pesan makanan yang berat (toh di rumah juga sudah makan). Like father like son, saya pesan chocolade mint seperti ayah saya. Untuk light meal, saya pesan mixed fries dan ayah saya pesan risoles (saya lupa isinya apa). Chocolade mint adalah minuman coklat dingin dengan daun mint yang ikut di-blend bersama coklat. Biasanya kalau pesan minuman chocolate mint, yang digunakan itu kan sirup mint atau ekstraknya, kalau ini justru daunnya langsung dan ikut di-blend dengan minumannya. Walhasil, minumannya terasa seperti ada rasa daunnya (kebayang kan seperti apa rasa daun?), tapi tetap enak kok. Kata ayah saya, rasa mintnya jauh lebih authentic daripada kalau pakai sirup mint. 

Mixed fries dan chocolade mint©2015 Klaus R Dewanto

Restoran ini menjual juga steak, tapi berhubung sudah makan ya terpaksa tidak pesan steak. Mungkin lain kali kalau ke sana coba pesan steak deh, and I'll tell you what I think of it, okay? Nah, untuk mixed fries sendiri menurut saya dari segi kandungan gizi, saya dapat karbohidrat dan protein. Karbohidrat saya dapatkan dari dua jenis kentang goreng, shoestring dan potato wedges. Potato wedges-nya sudah berbumbu. Rasanya lumayan, sedikit spicy tapi tidak sampai pedas banget. Untuk level cemilan, porsinya cukup banyak jadi bisa saya bagi dua dengan ayah. Nah, selain goreng-gorengan kentang, ada dua jenis gorengan lain yang turut disajikan bersama gorengan kentang. Yang bentuknya lebih pipih itu ternyata jamur yang digoreng tepung. Tapi jangan bayangkan jamur crispy yang biasa dijual di stan-stan. Saya nggak yakin jenis jamurnya apa, antara jamur merang atau shiitake. tapi yang jelas sensasinya mengejutkan. Dari luar memang renyah, tapi saat digigit ternyata jamurnya masih basah dan sensasi juicy-nya jadi semacam taste twist buat saya. Untuk yang bola-bola itu, ternyata isinya daging sapi yang dihaluskan. Teksturnya lembut dan rasanya cukup lezat. 


Untuk ayah saya, ada risoles yang cukup besar dan, ternyata, meskipun berhasil dihabiskan tapi ayah saya cukup kekenyangan. Saya lupa isiannya apa tapi seingat saya sih looks creamy and cheesy (dan itulah sebabnya saya nggak mau nyoba). Risoles disajikan dengan sambal Bangkok. Kata ayah sih lumayan rasanya. Mungkin kapan-kapan saya harus coba juga. 

Bicara tentang harga, range-nya dari mulai belasan ribu sampai puluhan ribu (atau mungkin ratusan ribu ya, saya lupa karena nggak banyak memperhatikan harga-harganya dan lebih fokus ke desain interior restoran). Untuk steak sih harganya di kisaran puluhan sampai ratusan ribu. Yang jelas sih, seingat saya untuk light meal kisaran harganya dari mulai 20 ribu sampai sekitar 30 ribuan. Kalau dibandingkan dengan porsi dan rasa, menurut saya sih cukup worthy harga segitu. Saya lupa harga risoles yang dipesan ayah berapa tapi kalau tidak salah sih di kisaran 20 ribuan juga. Harga minumannya dari mulai belasan ribu hingga 30 ribuan. Range-nya di kisaran standar restoran kalau menurut saya dan kalau dilihat dari kenyamanan tempat, restoran ini worth visiting loh. Sayangnya, saat berkunjung musik yang diputar itu nggak begitu pas dengan suasana. I was expecting something like Nederlands-Oost-Indië songs (semisal lagu-lagunya Wieteke van Dort atau Ben Snijders), tapi ternyata lagu yang diputar genre-nya lebih kontemporer, dari mulai dance sampai brit rock. Mungkin kalau saya berkunjung lagi, saya coba bilang ke pelayan atau manajernya buat lebih menyesuaikan musik yang diputar dengan suasana restoran. 


Overall commentary
Bloemen menyajikan tidak hanya masakan dan minuman ala Indo-Belanda, tetapi juga suasana yang membuat kita seolah dibawa kembali ke era penjajahan Belanda (tapi bukan berarti disiksa ya). Suasana restoran yang tenang dan teduh, serta desain interior yang sangat mencerminkan konsep Indo-Belanda bikin pengunjung nyaman buat berlama-lama disana. Secara keseluruhan harga makanan dan minuman yang ditawarkan juga nggak mencekik. Anak kuliahan boleh lah sesekali makan di sini, karena nggak akan sampai bikin bangkrut juga kok (kecuali kalau sekali pesan langsung habis ratusan ribu). Jaringan wi-fi tersedia di sini, jadi buat ngopi atau ngemil sambil ngerjain skripsi di sini bakalan nyaman banget. 


By the way, itu foto saya dan ayah saat di sana. Maafkan muka kami ya. Saya yang di kiri, ayah yang di kanan. Awas salah orang (loh?). 


Nyam-marking
Ambiance: ★★★★★★★★☆☆ (8/10)
Taste: ★★★★★★★✬☆☆ (7.5/10)
Price: $$$--



Bloemen
Jalan Bosscha no. 45
Ph: 022-2032035

Thursday, July 23, 2015

[Review] CUPS Coffee & Kitchen

Sudah lama nggak bikin review tempat ngopi dan ngadem. Maklum lah deadline terjemahan benar-benar mencekik. Belum lagi revisi skripsi dan PR dari les piano yang masih numpuk. Masih untung ini masih bisa ngemil. 

Jadi sore ini saya dan koko saya pergi ke CUPS Coffee & Kitchen yang berlokasi di jalan Trunojoyo no. 25. Lokasinya menurut saya cukup strategis, terutama kalau kalian sedang atau hobi belanja karena di jalan Trunojoyo dan Sultan Agung ada banyak distro yang bisa dikunjungi. Tapi saran saya sih kalau mau belanja dulu, baru ngopi. Anggap saja singgah di oasis setelah berburu diskon. Awalnya saya memang nggak ada rencana khusus buat datang ke CUPS. Hari ini saya dan koko saya keliling Sultan Agung dan Trunojoyo, singgah dari satu distro ke distro lain, siapa tahu ada kaus atau jaket bagus dan kita bisa beli (angbao lebaran masih ada nih!). Setelah makan siang, mulut masih gatel nih karena ingin minum kopi dan walhasil, mendadak mencari tempat yang dekat untuk ngopi. Koko saya tiba-tiba mencetuskan CUPS karena sebelumnya kami pernah lewat saja, tapi penasaran dengan tempatnya. Maka akhirnya diputuskanlah kami ngopi di CUPS. 


Lokasi dan desain interior bangunan
Terletak di jalan Trunojoyo nomor 25, CUPS Coffee & Kitchen cocok dijadikan rest area buat para shoppers yang kelelahan setelah mengunjungi distro-distro dan belanja. Lokasinya yang berada di distrik distro juga memudahkan saya yang, pada saat itu, harus balik ke Blackjack untuk beli jaket yang akhirnya saya putuskan mau beli. Saya dan koko datang sekitar pukul tiga sore dan cuaca saat itu berawan (which is a good weather to sip some coffee). Kami disambut dengan interior minimalis yang manis. Dinding ruangan utama berwarna abu-abu muda. Lantainya pakai parquet dengan warna coklat tua, cukup kontras dengan dinding. Beam warna hitam juga dibiarkan saja terekspos, menyokong atap dan lantai dua yang merupakan area minum terbuka. 

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto

Untuk seating area, bisa dibilang ada empat area. Area yang pertama adalah area terdepan (paling dekat dengan pintu masuk). Ada split level, naik sedikit, kita sampai di area kedua--ruang utama yang bentuknya memanjang, dengan deretan jendela-jendela kaca di dinding atas sehingga ada banyak cahaya yang bisa masuk ke ruangan. Disini ada lebih banyak meja dan kursi. Selain itu ada juga tempat yang sedikit mojok, di sisi kiri ruangan utama. Yang terakhir, seating area juga ada di lantai dua. Kalau di sana, karena tempatnya di luar ruangan mungkin lebih cocok untuk suasana yang lebih berisik (semisal kalau bawa banyak teman buat ngobrol-ngobrol). Di ruangan utama dan area yang agak mojok, menurut saya sih cocok kalau kita ingin ngopi dengan suasana yang lebih kalem. Tapi kayaknya kalau lagi jam-jam ramai atau weekend sih buat nyari suasana yang lebih tenang agak susah karena banyaknya orang yang datang. 

Yang bikin saya dan koko saya amazed adalah adanya tanaman-tanaman dan props yang berkaitan dengan berkebun. Sisi naturalis saya pun keluar deh saat saya lihat ada beberapa tanaman anggrek yang ditanam di dalam pot tempel di dinding. Ada juga semacam tanaman rambat yang ditanam di dinding kiri ruangan utama (kalau dari arah pintu masuk). Di setiap meja, diletakkan sebuah vas tanaman kecil. Selain itu juga ada tanaman-tanaman semacam sukulen dan kaktus yang ditanam dalam pot-pot kecil. Jadi gatel ingin nyiram tanaman. Yang jelas tanaman-tanaman tersebut menjadi pemanis ruangan utama CUPS Coffee & Kitchen.

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto

Oh ya, saat saya keliling ruangan utama, saya menemukan sebuah pintu yang menghubungkan CUPS dengan Flower Shop yang lokasinya bersebelahan. Namanya juga Flower Shop, yang dijual pastinya bunga. Nah kita bisa pesan bouquet bunga, dari mulai mawar sampai bunga-bunga yang diimpor dari luar negeri. Di sana juga ada beragam pilihan vas yang bisa kita pilih. Selain itu, ada juga semacam display kecil yang memuat mainan dari clay yang menggemaskan! Yay! Habis ngopi, kita bisa beli bunga buat orang yang kita sayangi! Atau mungkin sambil ngopi, diam-diam kita menyelinap ke toko bunga itu, beli satu bouquet bunga terus kembali ke kafe dan kasih surprise buat orang yang kita sayangi. Bisa jadi surprise plan yang kece tuh!

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto


Kopi Magic
Karena judulnya ngopi, maka kami harus pesan kopi. Ralat: salah satu dari kami. Berhubung koko saya lebih suka kopi daripada saya, jadi koko saya yang pesan kopi. Sementara itu, seperti biasa saya pesan minuman yang berbahan dasar coklat. Karena kami sudah makan siang, kami pun memutuskan untuk beli light meal saja. 

Koko saya pesan minuman kopi bertajuk Magic. Dari nama turun ke hati, koko saya langsung penasaran dengan minumannya setelah baca namanya. Saya sendiri pesan iced chocolate. Untuk light meal, kami pesan french fries yang disajikan dalam semacam ember berbahan logam yang bagian dalamnya dilapisi oleh semacam kertas. Gemes deh penampilannya. 

Kiri ke kanan: Magic dan Iced ChocolateCopyright © 2015 Klaus R Dewanto

Untuk rasa sendiri, saya sempat cicipi Magic dan, bagi saya yang bukan penggila kopi, rasa kopinya sangat dominan (ya iyalah). Bittersweet, tapi jatuhnya lebih ke pahit sih (dan itulah kenapa si waiter memberikan gula tambahan). Tapi saat saya coba, ada semacam rasa coklat. Kalau saya bisa tebak, mungkin Magic itu semacam kopi moka. Harusnya koko saya sih yang kasih penjelasan tapi dia sudah keburu tidur jadi.. ya sudahlah. 

Untuk iced chocolate sendiri sih menurut saya oke. Iced chocolate-nya bukan susu coklat (you know what I mean, kan?), dan rasa manisnya juga pas karena saya memang nggak begitu suka yang terlalu manis. Untuk french fries yang kami pesan, dari segi rasa sih lumayan lah ya karena si kentang dikasih seasoning yang bikin rasanya nggak flat atau sebatas asin karena garam aja. Sayangnya karena kami sudah makan siang, kami nggak sanggup buat mencicipi main course. Lha wong perutnya sudah penuh. Tapi semoga saja di lain kesempatan saya dan koko saya bisa kesana lagi dan mencicipi main course-nya (dan tentunya tulisan ini nanti di-update lagi). 

Gimana dengan harganya? Nah, kalau soal harga sih saya dan koko saya sepakat, ada harga ada rupa, meskipun memang urusan rasa sih subjektif. Tapi setidaknya buat saya dan koko saya, rasa makanan dan minuman serta suasana yang ditawarkan cukup lah sebanding dengan harga makanan dan minuman. Magic sendiri harganya Rp 25.000,- per cangkir dan iced chocolate harganya Rp 27.000,- per gelas. Untuk french fries, per 'ember mini' itu harganya Rp 22.000,-. Harga makanan utama seingat saya sih berada di kisaran 30 ribu ke atas (lupa harga paling mahalnya berapa). 


Overall commentary
Secara keseluruhan buat saya dan koko saya, CUPS Coffee & Kitchen merupakan semacam sanctuary saat kami mulai~lapar~mulai~lapar dan mulai haus setelah berburu ke distro sana sini. Lokasinya yang dekat dengan distro-distro (apalagi dari Screamous, Cosmic, dan Babybones) membuat CUPS Coffee & Kitchen ini strategis. Orang nggak perlu jalan jauh buat makan. Parkir motor atau mobil di depan Screamous, terus nyebrang jalan sedikit eh sampai deh di CUPS. 

Desain interior tempatnya kece! Tanaman-tanaman yang ada menambah suasana adem pada desain interior bernuansa rustic. Belum lagi musiknya yang nggak bikin sakit kepala (saya sih berharapnya mereka mau muter mixtape Quiet Storm), ngopi di CUPS jadi lebih nyaman lagi. Waiter dan barista yang ada juga ramah-ramah (saya malah sempat dibantu dicarikan gunting untuk motong label baju). So, kalau ditanya apakah saya dan koko saya mau kesana lagi, jawaban kami adalah ya.

#teamlapar | Kiri ke kanan: saya, koko saya


Nyam-marking
Ambiance: ★★★★★★★★★☆ (9/10)
Taste: ★★★★★★★☆☆☆ (7/10)
Price: $$$--


CUPS Coffee & Kitchen
Jl. Trunojoyo no. 25, Bandung
Opening hours: 10a.m - 10p.m (Minggu-Kamis), 10a.m - 11p.m (Jumat-Sabtu)
Twitter: @CUPSCoffeeShop

Saturday, March 21, 2015

[Review] Coffee & Small Talk (Part 2)

Sudah lama nggak buat review tempat ngopi yang nyaman di kota kembang ini. Berhubung akhir-akhir ini sedang sibuk-sibuknya ngerjain tugas pembuatan topik dan berita untuk acara ESP sore (saya kan intern yang rajin dan baik), ditambah lagi dikejar-kejar revisi proposal skripsi dan proyek terjemahan, jadilah cukup susah saya buat dapetin waktu untuk ngopi. Beneran ngopi ya, bukan sebatas beli minum di Chatime. Tempat kerja yang berada di kawasan CBD Bandung bikin saya sering banget lewat beberapa kedai kopi yang keliatannya memanggil buat dikunjungi. Baru hari ini lah saya sempet pergi ke salah satu kedai kopi di jalan Cisangkuy, meskipun sebetulnya setiap hari juga lewat Cisangkuy. 

Lewat doang sih.. 

Jadi tadi sore, saya sama koko saya berangkat ke Java Preanger Coffee House. Awalnya saya sama koko saya sempet bingung kali ini mau berkunjung kemana. Maklum lah kita berdua cenderung indecisive, yang ujung-ujungnya selalu bilang 'terserah' (fyi, ada tempat makan di Bandung namanya 'Terserah' dan cocok buat kalian yang suka bilang 'terserah' kalau lagi nentuin mau makan dimana). Kalau untuk urusan tempat ngopi, saya sama koko saya punya standar yang kurang lebih sama. Perbedaannya mungkin di pendanaan. Berhubung saya nggak ditraktir sama koko saya jadi mau nggak mau kalau ngasih pilihan saya harus kasih pilihan yang emang sesuai sama isi dompet saya. Resiko punya koko pelit sih.. 

Dan pilihan pun jatuh pada Java Preanger Coffee House! 

*applause*

Kalau ngeliat dari luar, mungkin terpikir bahwa tempat ini menyediakan minuman kopi dan dessert yang harganya mahal. Maklum lah dari segi bangunan tempat ini kan menggunakan bangunan bekas peninggalan zaman Belanda dulu. Awalnya saya juga agak ragu dan takut malah jatohnya nggak pesan apa-apa gara-gara lagi bokek, tapi memang penampilan bisa menipu (dan dalam hal ini, positif sih jadinya). Tempat yang tenang dan nyaman itu ternyata menawarkan harga yang bersahabat dan nggak bikin asthma saya kumat. Tempatnya cukup besar, dan di lantai atas ada semacam sekolah musik. Waktu saya kesana sama koko saya, sedang ada semacam latihan ensembel biola di sekolah musik itu dan alunan Canon in D sayup-sayup terdengar, menghangatkan suasana. Kalau ngopi nggak pesan kopi itu aneh, kata koko saya. Walhasil, koko saya pesan Italo-style Mocca Pot, yang gambarnya ada di bawah ini.

Italian-style Mocca Pot - IDR 20,000

Disajikan dalam pot dan gelas kecil, Italo-style Mocca Pot harganya cuman dua puluh ribu aja dan itu tahan lama (mungkin karena pahit dan panas kali ya?). Koko saya aja habisin itu minuman dua jam, hitung-hitung nunggu hujan reda juga sih. Gelasnya super imut bikin pengen diculik buat minum kopi di rumah. Bijih-bijih kopi yang ada di atas meja itu bukan dari sananya ya; saya ngambil segenggam dari karung kopi dekoratif yang ada disana *giggling*



Yang ditawarkan di Java Preanger Coffee House nggak hanya kopi aja. Kalau misalnya suka coklat atau teh, pilihan menu minuman coklat dan teh juga tersedia. Saya sih seperti biasa pesannya iced chocolate. Harga minumannya beragam kok, dari mulai belasan ribu sampai yang puluhan ribu juga ada (tapi nggak akan bikin bokek juga sih). Untuk makanannya, dari mulai light meals, appetizers, main courses, sampai desserts juga ada. Pilihan makanannya beragam, dari citarasa Indonesia sampai menu-menu internasional (dan yang dipesan waktu itu hanya gorengan dan kentang goreng). Waktu ke sana, saya pesan kentang goreng dan gorengan sebagai cemilan. Untuk gorengannya ada beberapa pilihan, kayak pisang goreng, tempe goreng, tahu isi, dan lain-lain. Oh ya, harga untuk makanan berkisar dari belasan ribu sampai puluhan ribu (sekitar 70 ribu kalau nggak salah). Siapin duit 100 ribu aja biar aman, meskipun bawa duit 50 ribu juga kalau buat sebatas ngopi dan ngemil udah cukup.

Oya kembali bicara tentang tempat. Java Preanger ini karena menempati bangunan peninggalan zaman Belanda, jadi nuansa 'oma opa' itu kerasa cukup kuat, meskipun udah ada pembaharuan di sana sini. Saya nggak sempat foto tapi kalau kita masuk ke dalam dan duduk di area duduk si sebelah kiri, ceiling si ruangannya mengingatkan saya sama ceiling dek A dan boat deck kapal Titanic (itu loh yang ada kubah kacanya). Meskipun nggak pakai kubah kaca, tapi desain ceiling dan lampunya buat saya sih menyerupai desain yang ada di Titanic. Lampunya pun mirip-mirip gitu, dengan kaca warna putih berbentuk lingkaran cembung.

Grand staircase RMS Titanic. Mbak Rose-nya kemana ya?
Ruangan utama Java Preanger didominasi oleh warna-warna bumi seperti krem, coklat, dan putih. Ada panggung kecil di dekat pantry yang dipakai untuk penampilan band. Saya lupa jadwalnya seperti apa tapi setiap hari itu genre yang dibawakan beda-beda (kapan-kapan kesana lagi deh pas malam-malam biar sekalian nonton penampilan band). Ada semacam rak gantung yang jadi backdrop untuk panggung dan di rak-rak itu terdapat banyak container kaca yang menyimpan biji-biji kopi dan juga pernak-pernik dapur lainnya yang semakin mempercantik area panggung. Oya karena area ruangan yang cukup luas, tempat ini cocok buat dijadiin tempat untuk ngadain pesta ulangtahun. Belum lagi kan ada panggung juga, jadi ya cocok aja kalau mau ngadain pesta dengan penampilan band.



Koko saya centil

Overall, tempat ini bisa jadi alternatif tempat ngopi yang nyaman dan tenang. Suasananya yang oma opa banget jadi nilai tersendiri buat tempat ini. Harga makanan dan minuman yang cukup affordable juga bisa jadi bahan pertimbangan buat berkunjung kesini. Apalagi tempat ini juga kalau malam punya live music, dijamin ngopi bareng teman-teman atau keluarga pastinya bakalan menyenangkan.


Java Preanger Coffee House - Cafe & Resto
Jl. Cisangkuy no. 68
Twitter: @JavaPreanger

Thursday, September 11, 2014

[Review] Gerobak Kopi Jenggo

Kesukaan saya terhadap minuman coklat telah mengenalkan saya pada budaya ngopi, meskipun secara logika harusnya disebut sebagai nyoklat, instead of ngopi. Naluri saya sebagai penggila coklat (dan minuman kopi) membawa saya ke kedai-kedai kopi dimana minuman coklat disediakan (memang saya kadang pesan menu minuman kopi juga sih). Saya pun terbiasa untuk datang ke kedai kopi, memesan minuman, lalu diam disana menikmati minuman saya sambil mendengarkan musik, baca buku, atau ikut berselancar di dunia maya cari-cari informasi ini itu. 

Terkadang keinginan untuk ngopi ini datangnya tiba-tiba. Yang paling repot itu saat saya sedang berada cukup jauh dari kedai kopi dan tiba-tiba saya ingin kopi. Saya nggak suka membuat kopi sendiri di rumah, kecuali minuman coklat. Tapi kadang-kadang ada rasa malas untuk meracik sendiri minuman coklat, meskipun bahan-bahannya ada dan bisa saya bilang lengkap. Saya punya stok coklat bubuk, brown sugar, krimer, bubuk jahe, sampai batang kayumanis. Sayangnya, mood meracik ini tidak selalu ada. Kemarin-kemarin ini memang saya sempat rajin sekali meracik minuman coklat, sampai-sampai bisa saya bilang setiap hari saya bikin minuman coklat. Namun entah kenapa setelah beres program KKN dan mulai kembali kuliah, saya mulai malas meracik sendiri minuman coklat. Bawaannya ingin 'dibikinin'. 

*dan itu bukan kode*

#happysingle

Kesukaan saya akan jalan-jalan juga mengenalkan saya pada tempat-tempat (khususnya kedai kopi) baru. Saya mulai tahu ada kafe ini, kafe itu, atau tempat-tempat semacamnya yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi. Rasa penasaran saya mendorong saya untuk datang ke tempat-tempat tersebut dan mencicipi minuman yang ditawarkan, khususnya minuman coklat dan kopi. Puji Tuhan saya nemu beberapa kedai kopi dengan beberapa aspek yang sesuai dengan kriteria tongkrongan favorit ala saya (aspeknya antara lain rasa, tempat, dan harga--khususnya harga). Ya maklum lah.. Dengan status sebagai mahasiswa dan belum punya pekerjaan tetap, suka sensitif cyiin kalo ngomongin duit.. 

Di tengah kebingungan dan kefrustrasian akan memenuhi hasrat ngopi yang terhalang kondisi 'labil ekonomi' (seperti kata si Vicky '21 My Age'), Tuhan mengulurkan tangannya, memapah saya menuju tempat-tempat yang menawarkan minuman kopi (dan coklat) dengan harga yang terjangkau. Salah satu dari tempat-tempat 'heavenly' yang Tuhan tunjukkan pada saya adalah Gerobak Kopi Jenggo


Gara-gara mama beli seblak
Awal perkenalan saya dengan Gerobak Kopi Jenggo ini bisa dibilang unik. Saya nggak tahu menahu tentang Jenggo dari koran ataupun media sebelumnya. Dan meskipun saya punya beberapa teman yang hobi ngopi (dan lebih expert dalam urusan perkopian, termasuk fotokopi silabus), mereka nggak pernah cerita tentang kopi Jenggo (atau mungkin saya aja yang nggak pernah nanya-nanya ke mereka). Suatu hari ceritanya saya sekeluarga mau berkunjung ke rumah tante di Cipageran. Melewati kompleks jajanan Pemkot Cimahi, tiba-tiba mama saya minta supaya kami berhenti sejenak. Rupanya si mama mau beli seblak sebagai cemilan nanti saat tiba di rumah tante. Sambil menunggu mama saya beli seblak, mata saya menangkap sosok gerobak Jenggo yang unik (karena di kiri kanannya kagak ada gerobak kayak begitu). Dan saat melihat tulisan 'Gerobak Kopi Jenggo', saya terpanggil untuk datang dan beli satu menu minuman. 

And that was the first time I met Jenggo

Saya pesan menu Es Coklat Chai, menu minuman coklat dingin yang dipadukan dengan teh melati. Di menu card, setiap menu diberi caption tentang deskripsi menu tersebut. Penasaran dengan perpaduan antara ice chocolate dengan teh melati, saya pun pesan minuman itu. Sebagai penggemar minuman coklat yang sudah bertahun-tahun bergulat dengan dunia minuman coklat, pada pertemuan pertama saya dengan Jenggo, saya bisa menilai menu Es Coklat Chai itu.. well.. 8 out of 10. Or let's say.. 4 out of 5

Ya. 4 dari 5. Skor saya buat Es Coklat Chai, and good impression does long-last. Semenjak itu saya jadi tahu bahwa di daerah Pemkot Cimahi ada Gerobak Kopi Jenggo, and I fell in love with Es Coklat Chai. 


Tinggal 'nyikreuh'
Gerobak Kopi Jenggo ini sudah buka cabang dimana-mana, bahkan di Garut dan Cirebon pun ada. Untuk di Bandung sendiri cabang Jenggo ada di Gatsu, Maranatha, Cicalengka, dan ada lagi yang saya lupa-lupa inget tempatnya (DU juga ada ya kalo gak salah?). Buat yang kuliah di UNPAD Jatinangor pun bisa ikutan #angkatcangkir di Jenggo Nangor. Di Cimahi pun ada dan kalau untuk saat ini--the moment this post is published--lokasinya ada di Jl. Cihanjuang, di pusat jajanan yang ada di dekat Masjid Besar Cimahi Utara, dekat dengan gerbang komplek Nata Endah. 

Kok yang cabang Cimahi pindah? Bukannya di Pemkot? 

Yap, sudah pindah. Awalnya saya dan mas Ezar--kakak saya--kaget waktu datang ke Pemkot dan tiba-tiba gerobak Jenggo sudah nggak ada di tempat yang semestinya. Where has it gone? Dan kami berdua pun merasa kehilangan.. 

Sampai akhirnya saya berangkat les piano dan melihat Jenggo sudah nangkring di lokasi barunya. 

That's awesome! Lokasi barunya sangat dekat dengan kompleks tempat saya tinggal. Dengan kata lain, saya nggak perlu pakai motor untuk main ke Jenggo. Cukup jalan kaki sedikit--nyikreuh kalau kata orang Sunda--dan saya pun bisa menikmati segelas Es Coklat Chai kesukaan saya.


Kopi dan Kisah
Gerobak Kopi Jenggo menawarkan pilihan menu yang cukup beragam, dengan andalan menu minuman berbahan dasar kopi. Ada juga menu minuman coklat dan teh, baik disajikan panas maupun dingin. Pengunjung yang datang bisa memilih untuk duduk di bar, di depan gerobak dengan counter berkursi yang memungkinkan pengunjung untuk menikmati minuman sambil melihat barista menyiapkan kopinya--seperti di warung-warung kopi. Ada juga beberapa meja kursi untuk pengunjung sebagai antisipasi kalau-kalau mini barnya penuh.

Pilihan menu dengan nama yang Indonesia banget dan bahan baku yang menggunakan produk-produk lokal menjadi poin plus buat Jenggo. Di saat orang-orang merasa bangga ketika membeli produk-produk yang luar negeri banget (termasuk mengunjungi kedai kopi keluaran US seperti SB), Jenggo justru dengan bangga menjelaskan di caption menu bahwa mereka menggunakan bahan baku lokal. Hal ini juga bagus karena bisa mendukung usaha lokal untuk bahan-bahan baku yang digunakan, semisal gula, atau coklat bubuk. Untuk rasa, Jenggo pantas untuk dilirik. Bahan baku dengan kualitas baik dan proses pembuatan yang bukan-seperti-nyeduh-kopi-instan-di-rumah tentunya menghasilkan minuman kopi yang punya citarasa baik. Dan dengan kualitas minuman yang baik, pengunjung tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Dengan harga di kisaran 3 ribu sampai 10 ribu rupiah saja, pengunjung bisa menikmati secangkir kopi, sambil ngobrol bersama teman-teman, atau sekedar menikmati suasana malam.


Barista yang ramah serta pilihan musik yang dimainkan (biasanya di kisaran musik-musik yang nyaman didengar seperti classic rock, jazz, bahkan akustik) akan memanjakan pengunjung Jenggo. Dan untuk kasus saya, mengejutkan karena para barista yang bekerja di Jenggo Cimahi rupanya masih mengingat saya sebagai 'yang dulu pernah datang sama kakak dan teman-temannya waktu Jenggo masih di Pemkot'. Pemandangan yang umum ditemukan di Jenggo adalah Jenggoer--sebutan untuk regular customer Jenggo--yang asyik ngobrol dengan barista, sambil ketawa dan bercanda. Dan meskipun bukan regular customer, pelanggan tetap bisa merasakan atmosfer ramah di Jenggo. Saya secara pribadi pada suatu malam pernah ngobrol dengan barista Jenggo dan seorang Jenggoer, dan saya bilang bahwa Jenggo is a place where people can meet, sip some coffee, and laugh together, though they have never met each other before. Ya. Sangat menyenangkan saat saya pulang les piano dan singgah sejenak di Jenggo, memesan minuman favorit saya, dan bisa mengobrol dan tertawa bersama pengunjung yang lain, meskipun saya nggak pernah mengenal mereka sebelumnya.

Such a friendliness I can't find at major high-end coffee shops in the city.


Dengan seating area yang memungkinkan pengunjung lainnya untuk bisa berinteraksi satu sama lain, Jenggo jadi semacam forum berteman bagi siapa saja--tidak hanya bagi penikmat kopi. Mungkin ada yang tidak terbiasa dengan suasana ngopi ditemani dengan asap rokok, tapi untuk saya sih tidak begitu jadi masalah selama ekspos ke asap rokoknya tidak dalam intensitas yang sangat besar. Dua malam terakhir ini saya datang ke Jenggo dan menikmati malam saya disana. Bersama seorang sahabat, saya datang ke Jenggo tidak hanya untuk bertemu, tapi juga diskusi, baik tentang dunia perkuliahan maupun dunia sastra. And you know it's always fancy to talk and discuss lots of things with your friends over nice coffee. Dengan atmosfer santai yang ditawarkan Jenggo, ritual ngopi sambil ngobrol dan diskusi pun terasa lebih menyenangkan. Still it's kind of surprising for me that I spent less than 2 bucks for two glass of iced chocolate--special iced chocolate, as I used to spend 5 bucks for a glass of iced chocolate--with hazelnut syrup added, tall glass size. And as I realize that Jenggo offers coffee for everyone, why, yes it does. Everyone can drink coffee and everyone deserves nice coffee--with affordable price. Jenggo enables people to sip some coffee with affordable price in such a friendly atmosphere. 

Maaf. Terlalu banyak code-switching saya rasa. Di antara alunan musik cadas klasik dan semilir angin malam, terselip obrolan-obrolan hangat bersahabat, dan aroma kopi yang kuat, dan kepulan tipis asap rokok dengan aromanya yang khas. That's what Jenggo offers; that's what Jenggo has--something which SB or CB doesn't have. Jenggo ini bukan tentang apa yang kamu bawa dan apa yang kamu kenakan. It's neither about what car you own nor what cellphone you have; it's about how people befriend each other, maintaining good relationship through nice talk over coffee. 

Semakin kesini, kok saya jadi lebih puitis ya? Ah, sudahlah.


More information on Jenggo
Gerobak Kopi Jenggo ini buka dari mulai pukul 5 sore sampai pukul 12 malam. Menu-menunya berada di kisaran harga tiga ribu rupiah sampai 10 ribu rupiah. Intinya sih it won't cost you more than 3 bucks kalau ngopi berdua. Untuk rekomendasi menu, kalau menu kopi saya rekomendasikan Es Cokocindo, menu espresso dengan coklat dan susu yang disajikan dingin. Kalau menu coklat, saya rekomendasikan Es Coklat Chai, paduan coklat, susu, dan teh yang disajikan dingin.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Gerobak Kopi Jenggo, silahkan cek linismasa Twitternya di @GerobakJenggo

Kita mungkin sering mendengar frase 'secangkir kisah', dan percayalah, frase itu benar-benar ada. Karena secangkir kopi bukan hanya tentang menikmati minuman panas, tapi juga tentang bertemu dan berkumpul dengan orang-orang terdekat dan berbagi kisah.

Mari kita #AngkatCangkir !

Monday, August 4, 2014

[Review] Coffee & Small Talk

Kalau biasanya saya buat review untuk film atau musik, kali ini review yang saya buat adalah untuk tempat. Ngumpul dan ngopi sudah jadi semacam budaya di Indonesia, baik itu di kota besar maupun di kota kecil. Di kota-kota besar kita bisa dengan mudah menemukan kedai-kedai kopi yang bukan lagi jadi tempat untuk menikmati kopi, tapi juga jadi tempat untuk kumpul bareng sahabat dan keluarga dan bahkan tempat untuk diskusi. Kalau di kota-kota kecil sendiri, yang saya alami, biasanya orang-orang (umumnya bapak-bapak) suka pada ngumpul di warung kopi, menikmati segelas kopi hitam sambil ngobrol dan ngerokok. 

Di Bandung sendiri ada banyak kedai-kedai yang bisa menjadi pilihan untuk tempat nongkrong sambil ngopi dan ngobrol santai. Saya bisa dikatakan orang yang suka nongkrong dan ngopi, meskipun pada kenyataannya saya lebih suka pesan minuman coklat atau teh dibandingkan kopi. Untuk saya secara pribadi, dalam memilih tempat tongkrongan favorit, saya melihat dari tiga aspek: produk (rasa, kualitas, keunikan), tempat (kenyamanan dan kebersihan), dan harga. Memilih tempat ngopi itu bisa dibilang tricky, karena kadang-kadang salah satu atau bahkan semua aspek yang disebutkan di atas gagal lolos tes. Nampaknya agak ribet karena saya harus sebisa mungkin mendapatkan tempat dengan tiga aspek yang berhasil di-checked, tapi kalau nggak begitu ya bisa mempengaruhi kekhidmatan ngopi dan kenyamanan saat bersantai maupun berkumpul bersama sahabat dan keluarga. 

Seminggu terakhir ini saya sudah mengunjungi (dan mengunjungi lagi) tiga kedai kopi di Bandung yang menurut saya cukup recommended. Ketiga kedai kopi itu adalah Wiki Koffie, Society, dan Braga Huis. 


Wiki Koffie
Jl. Braga no. 90, Bandung

photo credit: photobysondhiar

Dengan lokasi yang strategis dan berada di hook, Wiki Koffie bakalan mudah untuk dikenali. Masih mempertahankan eksterior bangunan zaman kolonial Belanda dulu, Wiki Koffie tampil cantik dengan full-length window di tembok sisi luar yang menampilkan suasana di luar untuk pengunjung yang duduk di dalam (dan saya suka kedai kopi seperti itu, dimana saya bisa duduk di dekat jendela dan melihat suasana kota di luar). 

photo credit: personal collection (IG: adverbklaus)

photo credit: Andry S.

Dari namanya aja kita bisa lihat bahwa Wiki Koffie pasti spesialisasinya di kopi. Disini pengunjung ditawarkan oleh beragam menu kopi yang menurut saya cukup eksotis (waktu pertama kesana sama jiejie saya, dia pesan kopi Hawaii yang namanya saya lupa lagi apa dan waktu saya coba memang unik rasanya). Saya sebut eksotis karena beberapa menu kopi punya taste yang unik (saya bukan ahli kopi sebetulnya, but at least I can tell when something tastes so unique). Nggak hanya kopi, Wiki juga menyediakan menu makanan, seperti wafel atau french fries & sausage. Ada juga pilihan menu light meal lainnya buat yang ingin mengisi perut tapi nggak mau makanan berat. 

Kunjungan pertama saya bisa dikatakan dikejar waktu (karena sudah disuruh pulang oleh wo mama), tapi dengan durasi kunjungan yang nggak lama itu saya merasa cukup nyaman untuk ngopi disana. Menempati lot yang luasnya terbatas, pengunjung Wiki Koffie akan dimanjakan dengan suasana hangat. Pilihan furnitur dan beberapa item yang ada disana menambah sentuhan retro buat interior kedai kopi tersebut. Ditambah lagi pencahayaan yang remang-remang hangat (istilah gue..) bikin pengunjung merasa nyaman, meskipun kondisi di luar memang ramai. Meskipun menempati lot yang kecil, Wiki Koffie punya banyak pengunjung (terutama remaja) yang karena banyaknya pengunjung yang datang, bikin tempat itu jadi cukup crowded. Terakhir kali saya kesana, Wiki Koffie mengekspansi areanya sehingga bisa menerima lebih banyak pengunjung. Meskipun begitu, Wiki Koffie seringkali crowded karena saking banyaknya pengunjung yang ada (terutama malam weekend). 

Kalau bicara soal harga, pada awalnya saya juga nebak-nebak budget yang harus saya siapkan buat ngopi di tempat ini. Dan ternyata, kita nggak perlu ngerogoh kocek terlalu dalam untuk ngopi disini. Harga makanan dan minuman disini cukup terjangkau. Waktu saya kesana, dengan duit dua puluh ribu saya sudah bisa pesan satu menu kopi yang eksotis. Kalau mau sama makanan, menurut saya sih bawa lima puluh ribu sudah cukup, dan masih dapat kembalian dengan jumlah yang lumayan kok. 

Terlepas dari tempat yang seringkali crowded oleh banyaknya pengunjung, Wiki Koffie menawarkan beragam menu kopi buat para penggemar kopi dengan harga yang terjangkau. Interior bangunan yang nyaman dengan sentuhan retro bakalan bikin ritual ngopi jadi lebih menyenangkan. 


SOCIETY Coffeehouse & Bar
Jl. Trunojoyo no. 8, Bandung

photo credit: personal collection

Meskipun baru berdiri di tahun 2014, Society nggak kalah saing dengan kedai-kedai kopi lainnya di kota Bandung. Berlokasi di jalan Trunojoyo, Society menempati lot yang strategis dimana jalan Trunojoyo sudah terkenal sebagai distrik fesyen dengan deretan distro-distro di sepanjang jalannya, jadi memungkinkan untuk jadi tempat beristirahat sejenak bagi para penggila belanja pakaian. Nggak hanya itu, Society juga letaknya tepat berseberangan dengan kompleks sekolah St. Aloysius, yang juga letaknya dekat dengan pusat perbelanjaan Riau Junction. 


photo credit: personal collection

Society, yang bersebelahan tepat dengan Mischief store, menawarkan pilihan menu kopi sebagai menu andalannya. Dari mulai capuccino sampai affogato ada di daftar menu. Turut hadir pula menu turunan dari kopi seperti pilihan frappe dan menu-menu kopi dengan tambahan liquor seperti Kahlua. Untuk yang nggak suka kopi, ada juga pilihan minuman teh dan coklat. Nggak hanya minuman, disini juga ada menu light meal yang lumayan bisa mengganjal perut kalau lagi lapar. 

Untuk tempat sendiri, Society hadir dengan interior bernuansa rustic. Pengunjung akan disambut oleh ekspos bata bercat putih yang mendominasi ruangan dan lantai parket. Sebagai dekorasi ada beberapa wall art seperti tulisan "Smells Like Teen Spirit" yang mengingatkan kita sama band Nirvana, dan beberapa poster yang digantung di dinding yang menambah kesan retro. Untuk seating area sendiri karena memang tempatnya terbatas jadi untuk seating area dalam ruangan bisa dibilang harus cepat-cepat kalau mau dapat tempat. Meskipun begitu ada ekspansi seating area ke bagian depan kedai, dan ada beberapa meja untuk outdoor seating area. Pembatas antara Society dengan Mischief adalah full-length glass wall yang memungkinkan pengunjung Mischief yang lagi belanja ngintip ke area kedai kopi, maupun sebaliknya. 

Kalau untuk harga sendiri, Society masih bisa dibilang terjangkau. Kalau buat saya secara pribadi sih harga standar kafe lah, dengan range dari belasan ribu sampai puluhan ribu. Overall, dari aspek produk, tempat, dan harga, Society masih masuk list rekomendasi saya untuk tempat nongkrong. Ditambah lagi lokasinya yang berada di distrik belanja fesyen, Society jadi semacam oasis buat para shoppers yang ingin rehat sejenak sambil menikmati secangkir kopi setelah lelah belanja. 


Braga Huis
Jl. Braga no. 47, Bandung

photo credit: Yudi S.

Kalau bicara tentang wisata di kota Bandung, saya rasa jalan Braga sudah nggak asing lagi di telinga kita sebagai salah satu ikon kota Bandung. Jalan yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda ini nggak hanya terkenal karena sejarahnya sebagai pusat hiburan untuk masyarakat jaman kolonial dulu, tapi juga beberapa tempat di jalan Braga yang menawarkan petualangan gastronomi bagi pengunjungnya. 

Salah satu tempat di jalan Braga yang munculnya sih bisa dibilang lumayan baru tapi menawarkan atmosfer yang berbeda adalah Braga Huis. Dengan eksterior yang cukup mencolok (waktu Braga Huis belum buka, jendela-jendela dan pintunya biasa dijadikan spot untuk foto-foto), Braga Huis bakalan gampang untuk ditemukan. Letaknya yang juga berada di tengah jalan Braga (bukan ditengah jalan ya, maksudnya di pusat) menjadikan lokasinya cukup strategis karena kemungkinan dilewati banyak orang. Dengan fasad bata ekspos warna putih, dan jendela dan pintu kayu warna coklat tua, Braga Huis nampak cantik dan menarik pengunjung. Awning yang ada di atas jendela dan pintu menambah kesan klasik, dan sentuhan Prancis untuk eksteriornya. 

photo credit: personal collection

Seperti Society, interior Braga Huis menawarkan kesan rustic, dengan bata ekspos bercat putih dan paneling warna coklat gula yang mendominasi interior ruangan inti. Pencahayaan dengan warna putih keemasan menambah kesan hangat sekaligus mewah. Ada beberapa poster yang ditempel di dinding yang memperkuat kesan klasik dan 'jadul'.

photo credit: Rasya U.
photo credit: Kiki W. 
Kalau tentang menu sendiri sih, menurut saya sih standar menu kafe. Pilihan menu minuman dari kopi, teh, coklat, sampai minuman beralkohol pun ada. Disini juga ada pilihan makanan, dari mulai light meal, main course, sampai dessert. Kalau untuk harga, lagi-lagi saya harus bilang harganya standar kafe, dimana harganya bermain di kisaran belasan ribu sampai puluhan ribu (terutama untuk makanan). Kalau bicara pelayanan, waktu saya kesana sih tidak ada sesuatu yang spesial, kecuali saat saya dan sepupu saya minta seating di sofa-sofa yang ternyata nggak boleh ditempati kalau pengunjungnya hanya satu atau dua orang. Kami terpaksa duduk di kursi kayu, sementara di saat yang sama saya lihat ada pengunjung yang datang hanya sendirian duduk di sofa. Kalau harapan saya sih ke depannya pelayanannya harus lebih ditingkatkan lagi karena Braga Huis dari aspek tempat dan makanan sudah mumpuni. Meskipun ada nilai minus di aspek pelayanan, saya masih memasukkan Braga Huis ke list rekomendasi saya. 


Overall commentary
Secara keseluruhan sih untuk saya ketiga tempat di atas bisa dikatakan memuaskan, ditinjau dari tiga aspek yang saya usung, yaitu produk, tempat, dan harga. Meskipun beberapa tempat nampaknya punya masalah dari segi ukuran lot yang terbatas, atau crowd yang mengurangi kenyamanan, atau pelayanan yang kurang memuaskan, ketiga tempat tersebut tetap menawarkan keunikan tersendiri buat pengunjungnya, baik dari segi produk maupun tempat. Untuk tempat, sebut saja Braga Huis dan Society menawarkan atmosfer rustic yang nyaman dan hangat untuk pengunjungnya, sementara Wiki Koffie menawarkan ragam minuman kopi dengan harga yang terjangkau, yang sudah pasti menggiurkan bagi para pecinta kopi. 

Dari segi harga, ketiganya hadir dengan range harga yang berbeda. Harap diingat bahwa semua penilaian yang ada di review ini sifatnya subjektif. Dengan kata lain, apa yang menurut saya affordable belum tentu begitu buat orang lain, dan juga sebaliknya. Terlepas dari itu, semoga review ini bisa memberikan gambaran tentang tiga tempat yang saya rekomendasikan di atas. 

Let's sip some coffee!