My Fellas!

Now it's time to have healthy snack and fresh premium milk tea. My Fellas will be your next best friend. Check the products out!

Cat Valentine's Anti-Gambling Poem

It's one of my favorite scenes from all Sam and Cat episodes. This one is taken from episode #ToddlerClimbing. I wish you guys would stop gambling and.. stop laughing at the poem as well!

Short-stories by Klaus

Check some short stories written by me!

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, April 2, 2015

Pria Kopi

Hujan masih belum berhenti sejak tadi siang. Selama berjam-jam aku melihat titik-titik hujan yang meluncur cepat dari langit seperti ribuan meteor yang sedang menghantam bumi dan memporakporandakan kota ini. Beberapa terpantul di kaca jendela, membuat jejak sebelum akhirnya mengecup manis dedaunan tanaman paku yang ditanam tepat di bawah jendela. Setiap kali ada pengunjung datang, pintu yang terbuka seolah menjadi jalan bagi angin yang bertiup cukup kencang di luar untuk masuk ke dalam kedai dan bermain dengan kabel-kabel lampu bohlam yang menjuntai dari langit-langit, membuatnya berayun pelan seperti ayunan taman kanak-kanak.

Jujur saja aku selalu terkejut saat bel berdenting. Ya, jika pintu kedai dibuka secara otomatis belnya akan berdenting, menandakan bahwa ada pengunjung yang datang atau pergi. Bel kecil itu nampak indah jika dilihat dari jauh, namun menyebalkan saat ia berdenting di saat yang tak tepat, seperti saat aku sedang membaca novelku atau mempertaruhkan hidup dan matiku di Let’s Get Rich. Aku merasa nyaman untuk duduk di bawah bar, bersembunyi dari tatapan para pengunjung yang sedang duduk nyaman di kursinya masing-masing sambil menikmati secangkir kopi panas. Namun jika pengunjung datang, aku terpaksa berdiri dan mau tak mau harus menampakkan diriku di bar, menyapa pengunjung yang datang dan membuatkan pesanan mereka. Duduk di bawah bar seperti berada di dalam iglo di tengah badai salju, atau meringkuk di bawah selimut saat hujan deras di malam hari, atau membaca buku di dalam tenda saat berkemah di pegunungan. Tempat ini merupakan tempat yang paling nyaman untukku, meskipun sempat beberapa kali kepalaku terantuk meja bar saat keluar dari tempat persembunyianku.

“Mas?”

Satu kata tiga huruf itu dilantunkan dengan lembut dari sebuah suara alto yang dengan anggunnya merusak kedamaianku di tempat persembunyianku. Aku segera bangkit dan berdiri, lalu melihat sosok wanita yang berusia sekitar 20 tahunan itu di depan bar. Ia berjalan ke arah meja kasir—secara tidak langsung memberi sinyal bahwa inilah saat baginya untuk berpisah dengan beberapa lembar rupiah yang nantinya akan menetap di dalam mesin kasir. Itu juga merupakan waktunya untuk keluar dari kedai yang nyaman dan hangat ini, bertarung dengan hujan yang nampaknya masih belum menyerah untuk menyerang.

“Café Americano, satu. Affogato, satu. Semuanya jadi dua puluh delapan ribu lima ratus”

Wanita dengan blazer coklat tua dan T-shirt putih Zara itu mengeluarkan selembar uang senilai dua puluh ribu dan selembar uang senilai sepuluh ribu. Keduanya segera masuk ke dalam mesin kasir dan sebagai gantinya, wanita muda itu mendapatkan selembar uang seribu rupiah dan sekeping koin lima ratus rupiah. Setelah menerimanya, wanita tersebut mengucapkan terima kasih—dengan anggunnya dalam suara alto—dan berjalan bersama kekasihnya—beserta kemesraan mereka yang membuatku kesal—menuju pintu. Tepat di saat sepasang kekasih itu membuka pintu, seorang wanita masuk ke dalam kedai. Aku tak sempat kembali bersembunyi di tempat persembunyianku karena wanita itu langsung berjalan menuju bar dan duduk di kursi bar. Apa yang memisahkanku dan wanita itu hanyalah meja bar saja, dengan beberapa toples kaca cantik yang berisi biji-biji kopi dari berbagai jenis. Wanita—mungkin lebih tepatnya kusebut gadis—itu melihatku dan tersenyum kecil. Aku membalas senyumnya seraya memberikannya buku menu. Ia membuka-buka halamannya, sempat terpaku selama beberapa saat di beberapa halaman, lalu kembali membuka halaman yang lain. Seandainya aku dapat membawa jam wekerku dan mengatur waktunya agar pengunjung tidak membuang-buang banyak waktu untuk memilih menu, kurasa akan menyenangkan. Kriiiiiiiiiiiiing! Waktu habis! Silahkan pesan atau keluar dari sini! Sayang sekali hal itu hanya terjadi dalam imajinasiku.

“Aduh, saya bingung,” ujar gadis itu pelan.

“Bingung kenapa, mbak?” tanyaku.

“Bingung pesen apa,” jawabnya.

Aku tersenyum kecil.

“Mbak sukanya apa? Kopi, teh, atau coklat?” tanyaku.

“Suka semuanya,” jawabnya.

“Sekarang lebih pingin minum apa?” tanyaku lagi.

“Mungkin kopi,” jawabnya.

Regulasi yang diberikan untuk semua barista mengharuskan para barista, termasuk aku, menanyakan preferensi minuman pengunjung saat pengunjung tidak dapat menentukan pesanannya. Dengan mengetahui preferensi ini, barista dapat memberikan rekomendasi minuman yang dapat pengunjung pesan. Sialnya, aku seringkali memasukkan preferensiku sendiri sehingga setiap ada pengunjung yang ingin minum kopi tapi tak tahu apa yang harus dipesan, refleks aku selalu menyarankan...

“Espresso Romano?”

Gadis itu terkejut, lalu menatapku.

“Ya udah deh mas. Itu aja,” jawabnya.

Aku pun mulai mengerjakan pesananku. Aroma kopi tercium kuat saat aku membuka kotak berisi bubuk kopi. Aku selalu senang dengan aroma ini. Jika aku tak senang, mana mungkin aku menjadi barista?

“Kalau jam segini sepi ya, mas?” tanya gadis itu.

“Eh?” aku terkejut.

“Ya. Jam segini suka sepi, ya?”

“Hmm... Nggak sih. Mungkin karena hujan”

Air yang kupanaskan telah mendidih. Segera kutuangkan air panas itu ke dalam mesin espresso. Uap air panas mengepul dan mengenai wajahku. Aku sudah biasa merasakan panas di wajahku. Setiap hari wajahku seperti mendapat tiket sauna gratis.

“Kenapa ya ada orang bodoh di dunia?”

Jika semua orang pandai dan cerdik, bukankah akan membosankan?

“Kenapa aku mau aja dibodohi?”

Espresso ini belum siap, tapi apakah ini sudah waktunya untukku membalikkan tubuhku dan menatapnya lalu menanyakan pertanyaan maha dahsyat itu? Ah, aku selalu menanyakan hal yang sama. Aku selalu melakukan hal yang sama di saat-saat seperti ini. Aku ingin tahu apakah ada pengunjung yang justru menanyakan pertanyaan sakti itu padaku. Ting! Espresso telah siap. Setelah kutuangkan ke dalam cangkir, aku pun membalikkan badanku dan menanyakan pertanyaan sakti itu.

“Ada apa?”

Betapa dahsyatnya efek dari pertanyaan itu sehingga gadis berkacamata itu pun menatapku dengan tatapan yang membuatku iba padanya. Gadis ini perlu kutolong, tapi aku bukan superhero. Astaga! Apa yang harus kulakukan sekarang? Dimana jubahku? Ah, setiap kali datang pengunjung yang mencurahkan isi hatinya pun aku selalu bersikap seperti ini. Aku selalu ingin mengetahui apa yang membuatnya merasa sedih dan kecewa. Terutama gadis ini, aku ingin tahu mengapa tiba-tiba mengalir sebuah sungai kecil di pipinya.

“Kenapa aku bisa dibodohi begitu aja?” tanyanya pelan.

“Setiap orang pasti pernah dibodohi,” jawabku seraya menuangkan susu panas ke dalam espresso.

“Aku ngerasa tolol. Kenapa aku mau dibodohin coba?”

“Memangnya dibodohin sama siapa?”

Gadis itu justru terisak pelan saat aku menanyakan agen pembodohan yang nampaknya telah memporakporandakan hidupnya. Aku menghela nafas sejenak. Kutinggalkan pesanan yang belum selesai kubuat dan segera kusiapkan segelas air untuk gadis itu. Gelas itu kutaruh tepat di hadapannya. Gadis itu berhenti terisak dan nampak bingung.

“Ini apa?” tanyanya.

“Silahkan diminum, mbak. Biar lebih tenang,” jawabku.

Aku kembali mengerjakan pesananku. Ah, kemana botol bubuk kayumanis itu? Iza pasti menaruhnya sembarangan lagi. Lagi. Padahal sudah kubilang padanya untuk menaruh botol bubuk kayu manis di rak rempah-rempah. Akhirnya aku menemukannya, bersanding di samping botol bubuk vanili.

“Selama ini aku coba buat bisa jadi sosok yang bisa nolong dia. Aku tahu dia sosok yang kalau dari luar keliatan kuat, tegar, dan bahkan cuek. Tapi aku tahu pasti hatinya rapuh. Kenapa saat aku coba buat nolong dia, justru dia bikin aku sakit?” jelas gadis itu.

“Sakit? Seperti apa emang?” tanyaku.

“Aku nggak bisa gambarin seperti apa sakitnya. Yang jelas aku ngerasa usaha aku selama ini buat bisa nolong dia sia-sia. Maksudku, rasanya aku nolong orang yang salah. Kenapa dia malah balas semuanya dengan hal yang bikin aku sakit? Sialnya, kenapa aku juga nggak bisa melawan rasa sakit itu?”

“Karena sakitnya nggak keliatan, kamu jadi susah buat ngelawan rasa sakit itu”

“Maksudnya?”

“Misalnya kita ada luka lecet di tangan kita dan kerasa sakit, cara buat melawan rasa sakitnya adalah dengan ngobatin luka itu. Kita tahu bahwa luka itu keliatan, jadi kita tahu pengobatan seperti apa yang harus dilakukan dan dimana si plesternya harus ditempel. Kalau luka batin ‘kan nggak keliatan, hanya kerasa aja. Kita jadi susah buat ngelawannya karena kita nggak tahu luka itu tepatnya ada di sebelah mana dan seperti apa”

“Maaf. A-aku masih nggak ngerti”

“Gini deh. Kalau di malam hari nih, lebih gampang ngelawan perampok yang pakai baju warna kuning cerah atau yang pakai baju serba hitam?”

“Yang kuning cerah sih”

“Kenapa?”

“Karena... kelihatan”

“Kurang lebih kayak gitu maksudnya, mbak”

Kutuangkan satu sendok makan madu ke dalam campuran espresso yang kubuat. Aku tak bisa berharap banyak namun yang jelas kuharap gadis itu menyukai pesanannya dan mengerti apa yang kukatakan. Seringkali aku pun tak mengerti dengan ucapanku. Apa yang kukatakan padanya tadi? Astaga! Belum semenit berlalu, aku sudah lupa dengan apa yang kuucapkan! Noda espresso yang ada pada cawan segera kubersihkan sebelum minuman ini kuhidangkan.

“Kalau ngelawan sakit kayak gitu, gimana caranya?” tanyanya.

“Cari tahu dulu sebab sakitnya apa,” jawabku.

“Yang jelas aku ingin nolong dia dan aku sayang sama dia sebetulnya, tapi aku nggak ngerti kenapa balasan dari dia malah kayak gini,” jelasnya.

“Kalau gitu, menurut saya sih cara ngobatinnya ada dua. Mbak balas dendam dan perlakukan dia seperti cara dia memperlakukan mbak, atau—“

“Atau apa?”

“Trying to let go?”

“Ikhlasin semuanya?”

“Tenang aja, mbak. ‘Kan masih ada Tuhan yang bisa balas perbuatan dia. Mbak percaya ‘kan kalau Tuhan pasti adil? Biar Tuhan yang ngatur semuanya, mbak”

Gadis itu kembali terisak dan, jujur saja, ini membuatku tak nyaman. Tapi itu tak berlangsung lama karena setelahnya ia menyeka air matanya dan tersenyum. Ya, ia tersenyum dan senyumannya begitu ikhlas, seperti seolah-olah ia baru saja merelakan sesuatu dan beban hidupnya hilang begitu saja. Aku tersenyum melihat gadis itu merasa lebih baik. Kuhidangkan pesanan gadis itu.

“Café miel,” ujarku.

“Bukannya tadi Espresso Romano?” tanyanya terkejut.

“Saya berubah pikiran,” jawabku.

“Kenapa?”

“Kalau ada hal yang udah terlanjur pahit, cara buat menikmatinya ya salah satunya dengan bikin hal tersebut terasa lebih manis. Satu shot espresso, susu panas, kayumanis, dan madu”

Kepuasaan melanda diriku, menyerangku dengan perasaan lega dan bahagia dan tak memberiku sama sekali kesempatan untuk menggerutu tentang uap panas yang tadi sempat menerpa wajahku. Ekspresi gadis itu saat meneguk kopinya membuatku merasa tenang. Kekecewaan dan kesedihan yang sebelumnya nampak jelas di wajahnya menghilang begitu saja, seperti menghapus lukisan yang dibuat di atas mainan papan magnet. Dimana ponselku? Aku harus mengabadikan ekspresi itu! Tatapan mataku tiba-tiba menangkap novel Romance of the Three Kingdoms yang tergeletak begitu saja di bawah bar. Ah, aku ingin kembali duduk di bawah bar, menekuk kedua lututku sambil membaca novel tersebut. Seandainya aku bisa membacanya sekarang. Seandainya pengunjung yang datang mau memahami bahwa aku pun ingin beristirahat sejenak.

“Ada apa?”

Pertanyaan dahsyat itu terlontar dari mulut gadis itu, ditujukan padaku. Ya, padaku. Apakah ini nyata? Apakah ia benar-benar menanyakan hal itu padaku? Selamat, Aldi! Selamat! Seseorang akhirnya melontarkan pertanyaan maha dahsyat itu padamu! Seseorang akhirnya mencoba memahami apa yang kau pikiran! Aku tercekat saat aku hendak menjawab pertanyaan itu.

“Mbak masih lama disini?” tanyaku.

“Sepertinya. Kenapa?” jawabnya.

“Kalau boleh, saya mau lanjut baca novel di bawah,” jelasku.

“Di bawah?”

“Ya. Di bawah bar”

Gadis itu tersenyum kecil. Ia mempersilahkanku untuk kembali berkencan dengan novelku dan bersembunyi di bawah bar. Ia sampai meminta izin untuk melihat tempat persembunyianku, bahkan ingin melihatku membaca novelku di tempat tersebut. Dengan senang hati aku membiarkannya melihat seperti apa tempat persembunyianku. Aku menjelaskan padanya betapa menyenangkannya berada di bawah bar, beristirahat sejenak dari pekerjaan yang cukup menguras tenagaku. Aku membawa beberapa buah novelku ke kedai dan membacanya saat tak ada pengunjung. Ia kemudian berjanji padaku bahwa suatu hari ia akan kembali dan memberiku sebuah novel.


Dan Iza pun kedapatan menaruh botol bubuk kayumanis di rak yang salah. Kali ini Iza menaruh botol bubuk kayu manis di rak gelas—dan itu jelas-jelas salah. Segera kutegur rekan kerjaku yang usianya hanya tiga tahun lebih muda dariku itu.

“Ini jangan ditaro disini! ‘Kan udah ada labelnya!” tegurku.

“Sorry! Buru-buru,” jawabnya seraya menyiapkan pesanan untuk pengunjung.

Aku menghela nafas panjang lalu kembali bersembunyi di bawah bar. Kali ini bukan untuk membaca, namun sekedar mendengarkan lagu. Quiet Nights of Quiet Stars. Petikan gitar yang merdua dan warna suara Olivia Ong yang manis membuatku serasa dininabobokan. Jika ada sebuah bantal dan sebuah selimut, pasti aku sudah tertidur di bawah bar.

“Di, daripada nyumput mendingan baca novel aja,” sahut Iza.

“Udah tamat,” jawabku.

“Ini aku ada novel. Mau baca?” tanya Iza.

Iza membuka tasnya dan mengambil sebuah novel. Novel dengan sampul berwarna biru tua dan bintang-bintang kecil itu kini berada dalam genggamanku. Iza mengizinkanku untuk membawa pulang novel itu dengan sebuah syarat: aku harus menyelesaikannya dalam waktu satu minggu. Satu minggu? Maksudmu satu hari? Aku segera mencari halaman prolog novel ini. Aku selalu senang membaca prolog novel. Rasanya seperti mendengarkan novelis bercerita tentang novelnya secara langsung. Tapi, tunggu sebentar! Tara. Tara Valeria. Sepertinya aku pernah mendengar nama ini. Jika aku tak salah, ia adalah seorang penulis yang baru saja menerbitkan novel terbarunya yang—konon—langsung laris saat hari pertama peluncurannya.

Kalau begitu, ini adalah novel yang laris itu!

Kutemukan halaman prolog tersebut dan segera kubaca. Aku tak pernah sekalipun bertemu dengan novelis-novelis kesukaanku. Aku hanya pernah melihat wajahnya di televisi atau internet. Tara Valeria. Aku pernah mendengar namanya, namun belum pernah melihat wajahnya. Dan kecepatan bacaku berkurang drastis saat aku tiba pada paragraf-paragraf ini:

Aku sempat terpikir untuk berhenti menulis. Aku sempat terpikir untuk berhenti melakukan semua hal yang kusukai. Aku bahkan sempat terpikir untuk mengakhiri semuanya. Setiap orang pasti pernah berada dalam fase seperti itu, bukan? Fase dimana kita benar-benar merasa lelah atas rasa sakit yang kita derita. Terkadang kita mempertanyakan keadilan Tuhan. Apakah Ia benar-benar adil? Tapi Tuhan memang benar-benar adil. Seseorang mengingatkanku tentang hal itu.

Dalam masa-masa sulit seperti itu, selalu ada sosok pahlawan yang setidaknya mau membantumu untuk berdiri saat kau terjatuh. Sosok itu mau mendengarkan keluh kesahmu meskipun ia sebetulnya merasa jenuh. Sosok itu rela melakukan apapun untukmu. Pahlawan itu mungkin bukan berasal dari kalangan sahabat terdekatmu; ia bisa siapa saja dan berada dimana saja, namun yakinlah bahwa ia selalu muncul di saat yang tepat. Sore itu aku pergi ke sebuah kedai kopi dengan harapan bahwa secangkir kopi pahit dapat membuatku melupakan rasa sakit yang kualami karena pria itu. Hujan turun dengan derasnya dan saat itu aku tahu bahwa sore itu akan menjadi sebuah melodrama yang harus kubintangi. Aku telah membintangi cukup banyak melodrama dalam hidupku dan aku cukup lelah dengan kisah-kisah semacamnya. Dan sosok itu pun muncul di hadapanku. Pahlawan itu. Tak banyak yang ia lakukan, namun ia adalah seorang pendengar yang baik yang mau mendengarkan keluh kesahku. Ia juga membuatku menyadari bahwa “jika sesuatu terlanjur pahit, maka berikanlah sesuatu yang dapat menjadikannya setidaknya terasa lebih manis”. Ia bahkan mengajariku untuk merelakan sesuatu, mengikhklaskan apa yang terjadi karena Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Seseorang yang melukaiku akan mendapatkan balasan dari Tuhan—sesuatu yang setimpal, dan aku tak perlu repot-repot memikirkan rencana balas dendam. “Biar Tuhan yang mengatur semuanya”. Itu yang ia katakan padaku. Ia bahkan memberiku segelas air untuk menenangkanku. Hanya segelas air, tapi jika diberikan pada waktu yang tepat maka segelas air dapat menjadi semacam oasis di tengah padang gurun yang tandus. Oh! Jika aku tak bertemu dengannya, mungkin novel ini tak akan pernah ada. 
Ia—pahlawanku bukanlah sosok yang mungkin kau pikir adalah seorang ksatria berkuda, atau pahlawan super dengan kekuatan untuk menghentikan waktu. Ingin tahu seperti apa sosok pahlawan itu? Ia hanyalah pria biasa, mengenakan polo shirt hitam dan celemek berwarna hijau tua. Ia bermain dengan kopi setiap harinya. Wajahnya terkena uap dari air panas yang ia didihkan. Berada di dekatnya seperti menikmati biskuit rasa kopi. Pahlawanku bukanlah pahlawan super, namun ia memiliki kekuatan yang tak dimiliki semua orang. Nada suaranya yang ramah, senyuman yang ikhlas, dan tatapan mata yang antusias membuatku merasa nyaman. Perasaan nyaman itu bukan datang dari senyuman seorang supermodel; perasaan itu datang dari seorang barista yang sering bersembunyi di bawah bar sembari membaca novel, sembari menunggu pengunjung. 
Hidup ini hebat, bukan?


Kini jika boleh aku menanyakan satu hal, pada siapapun termasuk diriku sendiri, aku ingin tahu mengapa tiba-tiba mengalir sebuah sungai kecil di pipiku.

Wednesday, April 1, 2015

Oldies But Goodies

Jadi, sejak kapan ya saya mulai bergelut lagi sama musik tahun 70an dan 80an? Yang jelas sih sejak tadi nonton Charlie's Angels: Full Throttle, saya jadi mendadak mainkan playlist lagu-lagu taun 70an dan 80an. Waktu saya browse di 8tracks untuk cari playlist disko dan pop tahun 70-80an, kebanyakan pakai lagu-lagu yang sama. Dari 4 playlist yang saya dengar, pasti aja ada Born to Be Alive. Rasanya kayak denger iklan Lipton berkali-kali. Kenapa iklan Lipton? Lihat aja nih: 


Saya nggak ngerti kenapa itu banteng tiba-tiba hidup begitu setelah minum teh. Ngeri aja kalau tehnya tumpah ke atas tanah kuburan. 

*mendadak merinding*

Kembali ke topik awal deh. Jadi demam disko 70an itu melanda begitu saja dan music library di ponsel pun mulai dipenuhi lagu-lagu dari era 70an dan 80an. Yang awalnya ngerasa agak ilfil sama lagu jadul, sekarang malah jadi suka. Tapi musik-musik lawas ini saya batasi wilayah genrenya, which means saya cuman suka musik pop dan disko saja. Dan yang baru saya sadari adalah, ternyata disko itu nggak sekedar nari heboh, kayak waktu Natalie nari di pesta reuni sekolahnya di Charlie's Angels: Full Throttle.

Donna Summer
Last Dance
[Charlie's Angels: Full Throttle - cut]


Dari awal saya mulai ngumpulin lagu-lagu disko 70an, saya udah suka sama lagu ini. Apalagi pas tahu lagu ini nongol di Charlie's Angels, saya jadi semangat kalau nonton filmnya. Di film itu, cukup banyak lagu-lagu tahun 70an dan 80an, seperti I Just Wanna Be Your Everything punya Andy Gibbs atau You Can't Touch This punya MC Hammer. Musik sama filmnya cocok aja sih kalau menurut saya. Apalagi filmnya kan nggak melulu action, tapi ada komedinya juga. 

Selain Charlie's Angels, saya juga dapat referensi pop dan disko 70an dari koleksi musik mama saya. Saya dapat Bee Gees sama Samantha Sang. Lumayan kece deh, apalagi Samantha Sang dengan Emotion yang selama ini mungkin kita dengar versinya Destiny's Child aja.

Samantha Sang
Emotion


Ternyata saya lebih suka versi aslinya. Lebih kerasa diskonya dan lebih ramai aja. Kalau versi Destiny's Child kan lebih ke arah R&B, sementara versi aslinya semacam bisa dipakai dansa di disko. Selain Emotion, saya dapat Bee Gees yang I Started A Joke dari koleksi musik mama saya. Nggak terlalu disko sih, lebih ke arah pop, cuman saya suka aja sama aransemennya. 

Ada yang pernah denger Reality punyanya Richard Sanderson? Lagu ini lumayan populer di drama-drama Korea. Pernah denger sih masalahnya ada lagu ini di salah satu drama Korea. Tapi emang sih ini lagu, walaupun temponya lambat, dapet banget deh nuansa 70annya. Semacam lagu pengantar tidur, tapi kadang kalau lagi galau dengar lagu ini ikut galau. Dan informasi aja sih, lirik lagunya nggak galau-galau amat. Malah nggak galau deh. Efek aransemen aja sih ini. 

Richard Sanderson
Reality


Sebenarnya masih banyak sih yang ingin diceritakan tapi berhubung ngantuk, nanti lagi deh sharing tentang musiknya.

Sunday, March 22, 2015

Once upon a dream

I feel like swallowing thorns. Thousands of thorns. They're stuck there in my throat, so my throat bleeds. I can't scream. I can't ask for help. I feel like two black buttons have been sewn to my eyes, blocking my sight. I can't open it. I wish I was able to cry but I am not. My tears are now boiling, like the water of hell. It burns me. I feel like my head is going to explode. I can feel the crack in my skeleton. My brain is dysfunctional. I feel like dying. 

But you wouldn't understand. You would never understand. Crying is not your thing and you hate it when someone's crying. Well I feel like crying but I can't cry, because I don't want you to hate me. Why can't you just stab my back, or cut my throat? I'd die for you, but would you do it for me? You think you know what's happening inside of me, but actually you don't. I don't know what's going on, too. What's happening? Why am I being like this? Why do I hate myself so bad? 

Saturday, March 21, 2015

[Review] Coffee & Small Talk (Part 2)

Sudah lama nggak buat review tempat ngopi yang nyaman di kota kembang ini. Berhubung akhir-akhir ini sedang sibuk-sibuknya ngerjain tugas pembuatan topik dan berita untuk acara ESP sore (saya kan intern yang rajin dan baik), ditambah lagi dikejar-kejar revisi proposal skripsi dan proyek terjemahan, jadilah cukup susah saya buat dapetin waktu untuk ngopi. Beneran ngopi ya, bukan sebatas beli minum di Chatime. Tempat kerja yang berada di kawasan CBD Bandung bikin saya sering banget lewat beberapa kedai kopi yang keliatannya memanggil buat dikunjungi. Baru hari ini lah saya sempet pergi ke salah satu kedai kopi di jalan Cisangkuy, meskipun sebetulnya setiap hari juga lewat Cisangkuy. 

Lewat doang sih.. 

Jadi tadi sore, saya sama koko saya berangkat ke Java Preanger Coffee House. Awalnya saya sama koko saya sempet bingung kali ini mau berkunjung kemana. Maklum lah kita berdua cenderung indecisive, yang ujung-ujungnya selalu bilang 'terserah' (fyi, ada tempat makan di Bandung namanya 'Terserah' dan cocok buat kalian yang suka bilang 'terserah' kalau lagi nentuin mau makan dimana). Kalau untuk urusan tempat ngopi, saya sama koko saya punya standar yang kurang lebih sama. Perbedaannya mungkin di pendanaan. Berhubung saya nggak ditraktir sama koko saya jadi mau nggak mau kalau ngasih pilihan saya harus kasih pilihan yang emang sesuai sama isi dompet saya. Resiko punya koko pelit sih.. 

Dan pilihan pun jatuh pada Java Preanger Coffee House! 

*applause*

Kalau ngeliat dari luar, mungkin terpikir bahwa tempat ini menyediakan minuman kopi dan dessert yang harganya mahal. Maklum lah dari segi bangunan tempat ini kan menggunakan bangunan bekas peninggalan zaman Belanda dulu. Awalnya saya juga agak ragu dan takut malah jatohnya nggak pesan apa-apa gara-gara lagi bokek, tapi memang penampilan bisa menipu (dan dalam hal ini, positif sih jadinya). Tempat yang tenang dan nyaman itu ternyata menawarkan harga yang bersahabat dan nggak bikin asthma saya kumat. Tempatnya cukup besar, dan di lantai atas ada semacam sekolah musik. Waktu saya kesana sama koko saya, sedang ada semacam latihan ensembel biola di sekolah musik itu dan alunan Canon in D sayup-sayup terdengar, menghangatkan suasana. Kalau ngopi nggak pesan kopi itu aneh, kata koko saya. Walhasil, koko saya pesan Italo-style Mocca Pot, yang gambarnya ada di bawah ini.

Italian-style Mocca Pot - IDR 20,000

Disajikan dalam pot dan gelas kecil, Italo-style Mocca Pot harganya cuman dua puluh ribu aja dan itu tahan lama (mungkin karena pahit dan panas kali ya?). Koko saya aja habisin itu minuman dua jam, hitung-hitung nunggu hujan reda juga sih. Gelasnya super imut bikin pengen diculik buat minum kopi di rumah. Bijih-bijih kopi yang ada di atas meja itu bukan dari sananya ya; saya ngambil segenggam dari karung kopi dekoratif yang ada disana *giggling*



Yang ditawarkan di Java Preanger Coffee House nggak hanya kopi aja. Kalau misalnya suka coklat atau teh, pilihan menu minuman coklat dan teh juga tersedia. Saya sih seperti biasa pesannya iced chocolate. Harga minumannya beragam kok, dari mulai belasan ribu sampai yang puluhan ribu juga ada (tapi nggak akan bikin bokek juga sih). Untuk makanannya, dari mulai light meals, appetizers, main courses, sampai desserts juga ada. Pilihan makanannya beragam, dari citarasa Indonesia sampai menu-menu internasional (dan yang dipesan waktu itu hanya gorengan dan kentang goreng). Waktu ke sana, saya pesan kentang goreng dan gorengan sebagai cemilan. Untuk gorengannya ada beberapa pilihan, kayak pisang goreng, tempe goreng, tahu isi, dan lain-lain. Oh ya, harga untuk makanan berkisar dari belasan ribu sampai puluhan ribu (sekitar 70 ribu kalau nggak salah). Siapin duit 100 ribu aja biar aman, meskipun bawa duit 50 ribu juga kalau buat sebatas ngopi dan ngemil udah cukup.

Oya kembali bicara tentang tempat. Java Preanger ini karena menempati bangunan peninggalan zaman Belanda, jadi nuansa 'oma opa' itu kerasa cukup kuat, meskipun udah ada pembaharuan di sana sini. Saya nggak sempat foto tapi kalau kita masuk ke dalam dan duduk di area duduk si sebelah kiri, ceiling si ruangannya mengingatkan saya sama ceiling dek A dan boat deck kapal Titanic (itu loh yang ada kubah kacanya). Meskipun nggak pakai kubah kaca, tapi desain ceiling dan lampunya buat saya sih menyerupai desain yang ada di Titanic. Lampunya pun mirip-mirip gitu, dengan kaca warna putih berbentuk lingkaran cembung.

Grand staircase RMS Titanic. Mbak Rose-nya kemana ya?
Ruangan utama Java Preanger didominasi oleh warna-warna bumi seperti krem, coklat, dan putih. Ada panggung kecil di dekat pantry yang dipakai untuk penampilan band. Saya lupa jadwalnya seperti apa tapi setiap hari itu genre yang dibawakan beda-beda (kapan-kapan kesana lagi deh pas malam-malam biar sekalian nonton penampilan band). Ada semacam rak gantung yang jadi backdrop untuk panggung dan di rak-rak itu terdapat banyak container kaca yang menyimpan biji-biji kopi dan juga pernak-pernik dapur lainnya yang semakin mempercantik area panggung. Oya karena area ruangan yang cukup luas, tempat ini cocok buat dijadiin tempat untuk ngadain pesta ulangtahun. Belum lagi kan ada panggung juga, jadi ya cocok aja kalau mau ngadain pesta dengan penampilan band.



Koko saya centil

Overall, tempat ini bisa jadi alternatif tempat ngopi yang nyaman dan tenang. Suasananya yang oma opa banget jadi nilai tersendiri buat tempat ini. Harga makanan dan minuman yang cukup affordable juga bisa jadi bahan pertimbangan buat berkunjung kesini. Apalagi tempat ini juga kalau malam punya live music, dijamin ngopi bareng teman-teman atau keluarga pastinya bakalan menyenangkan.


Java Preanger Coffee House - Cafe & Resto
Jl. Cisangkuy no. 68
Twitter: @JavaPreanger

Sunday, March 8, 2015

Perang batin

Sudah lebih dari lima kali kuklik tombol refresh pada halaman ini selama sepuluh menit terakhir dan tak ada pemberitahuan untuk pesan baru yang muncul di laman utama surelku. Apakah lebih baik kuhubungi saja contact person yang tercantum di surat terakhir yang kuterima? Atau mungkinkah persyaratanku tak mencukupi? Perang batin yang kualami saat ini sejujurnya membuatku tersiksa. Jika aku diterima, itu artinya selangkah lebih dekat menuju cita-citaku. Jika aku ditolak, itu artinya masih ada kesempatan untukku bisa menempuh pendidikan berikutnya di kampus yang sama dengan kampus yang sahabat-sahabatku pilih. Mungkinkah itu di luar kota atau tetap di Bandung, kesempatan untuk bertemu sahabat-sahabatku akan lebih besar dibandingkan jika aku harus menempuh pendidikanku di negara itu. 

“Hey! Jangan bengong!” 

Teguran kakakku membuatku terkejut. Untung saja Macbook Air yang ada di atas pangkuanku saat ini tak sampai terjatuh. Mas Eza duduk di sebelahku, bersandar dan meluruskan kedua kakinya sambil menikmati coklat panasnya. 

“Mau?” mas Eza menawariku segelas coklat panas. 

“Biar nanti Rey bikin sendiri, mas,” jawabku. 

“Kalau mau ini sekalian mbak buatkan, Rey,” sahutan dari dapur membalas ucapanku. 

“Oh, dibikinin mbak Alia?” tanyaku. 

Kakakku mengangguk pelan. Ia lalu menaruh mug berwarna hijau tua itu di atas meja. 

“Lagi cek apa sih, Rey? Dari tadi sibuk banget keliatannya,” tanya mas Eza. 

“Belum ada balasan,” jawabku pelan. 

“Apa? NUS?” 

“Ya” 

“Sabar aja, Rey. Lagi proses namanya”


Mbak Alia muncul dari arah dapur lalu bergabung bersama kami di ruang keluarga. Ia memindahkan channel televisi dan, setelah menemukan channel yang ia sukai, menonton acara televisi sembari menikmati coklat panasnya. 


“Mbak aja dulu dapat e-mail balasan dari Manchester setelah nunggu sekitar dua bulan. Kadang memang lama Rey nunggunya. Bayangkan aja. Yang daftar itu bukan ratusan orang, tapi ribuan bahkan sampai ratusan ribu orang. Pesaing kamu banyak,” jelas mbak Alia. 

“Tuh, denger sendiri, ‘kan? Alia yang udah kuliah di luar aja dulu sempat nunggu berbulan-bulan. Lagian kamu baru submit data kamu kemarin. Nggak mungkin langsung keterima, Rey,” sambung mas Eza. 

Aku menghela nafas sejenak. 

“Sambil persiapan lagi aja kali ya?” tanyaku. 

“Persiapan apa lagi memangnya?” tanya mbak Alia. 

“Bahasa,” jawabku. 

“Bahasa Inggris kamu udah bagus, ‘kan? Sudah ambil TOEFL?” tanya mbak Alia lagi. 

“Dia bareng sama aku ambil tesnya, sekitar enam bulan yang lalu,” tukas mas Eza, “Bagus kok hasilnya dia. Lumayan. Dapet berapa kamu, Rey?”

“Lima ratus dua puluhan. Lupa,” jawabku pelan. 

“Segitu sudah bagus, Rey,” balas mbak Alia, “Kamu berapa, Za?” 

“Lima ratus empat puluh tiga dong!” jawab kakakku bangga, “Aku ‘kan lebih jago daripada si Rey. Ya nggak, Rey?” 

Aku memajukan kedua bibirku. Hanya mendapat dua puluh poin lebih tinggi saja bangganya seolah-olah ia baru terpilih sebagai presiden. 

“Eh, lupa! Mbak ‘kan bikinin kamu coklat panas juga. Ada di atas meja makan. Ambil aja sendiri ya,” seru mbak Alia. 

“Ah, masih muda udah pikun,” goda mas Eza. 

“Pikun pikun juga kamu nikahin,” balas mbak Alia jahil. 

Aku tersenyum mendengar candaan kakakku dan istrinya. Kutaruh Macbook Air kakakku di atas meja lalu melangkah menuju ruang makan untuk mengambil coklat panasku. Suara tangisan bayi terdengar dari arah kamar kakakku saat aku hendak meneguk coklat panasku. Mbak Alia nampak bergegas menuju kamar tidurnya lalu kudengar ia menenangkan si kecil Dira yang terbangun dari tidurnya. Duduk sendiri di ruang makan, aku menikmati coklat panasku sembari menatap jam yang ada di dinding. Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa cepat atau lambat aku akan melepaskan atribut putih abu yang selama tiga tahun ini melekat padaku. Padahal rasanya baru kemarin aku, Andra, Gea dan Dilla berbaris di lapangan itu lalu berkenalan dengan orang-orang baru. Rasanya juga baru kemarin aku duduk bersebelahan dengan Ezra, berkenalan dengan Evan saat berlatih drama dan membuat prakarya dari botol plastik bekas bersama Tania. Kuambil ponselku dan jemariku mulai bergerak di atas layar sentuh. LINE. Pesan baru. Adriandra Wilander. Kuketikkan pesanku di box pesan. 
“Lagi apa, Dra?”
Pesan itu terkirim. Aku meringis pelan. Kuketikkan lagi sesuatu di box pesan, lalu kublok pesan itu dan kusalin sebelum kukirimkan pada Andra. Aku pun beranjak menuju chatbox lainnya. Dilla Shani. Ezra Rashid. Evan Siregar. Gea Kamila. Tania Vinsensia Winata. Pada setiap box pesan kutahan klik dan muncul pilihan untuk operasi tempel pesan yang tersalin. 
“Gimana kabarnya? Missing y’all”
Aku menghela nafas sejenak. Kemudian kuketikan kembali di tiap masing-masing chatbox. 
“Missing y’all to death. Serius. Lama nggak jumpa dan main. Kapan kalian ada waktu kosong? Ingin ketemu dan makan bareng”
Kutaruh ponselku di atas meja lalu kembali meneguk coklat panasku. Mas Eza kini masuk ke kamarnya dan ikut menenangkan Dira yang masih menangis. Bayi berusia empat bulan itu begitu mirip dengan ibunya, namun senyum yang ia miliki diwarisi oleh ayahnya. Aku sering menjaga si kecil Dira saat kakakku dan istrinya pergi dan saat aku bersama Dira, aku merasa seolah-olah aku sedang melihat diriku dalam versi bayi. Dira selalu tenang saat bersamaku. Ia tak rewel, hampir tak pernah rewel saat bersamaku. Aku pernah membaringkan tubuhku begitu saja di tempat tidur dan aku lupa bahwa Dira berbaring tak jauh dariku. Ia terguncang saat aku berbaring dan aku panik saat menyadarinya. Kukira ia akan menangis namun nyatanya ia justru tersenyum kecil dan berusaha untuk tertawa. 
“Rehaaaaan! Kangen!” 
Dilla yang pertama membalas pesanku. Aku tersenyum membaca pesannya yang ia sambung dengan serangkaian stiker karakter Hatsune Miku. Aku mengetikkan pesan balasan untuknya. 
“Sama! Aku juga kangen.. pake banget! Kabar kamu gimana? Oh ya, udah ada kabar tentang penerimaan di universitas pilihan kamu?” 
Ponselku bergetar. Pesan lainnya baru saja masuk. 
“Doctor Drey! Aku iseng-iseng kemarin kirim lamaran ke Hits!” 
Aku tersenyum membaca pesan Ezra. Jika ia diterima, maka mimpinya menjadi penyiar radio akhirnya tercapai sudah. Aku tahu selama ini Ezra berusaha keras untuk dapat merealisasikan mimpinya. Ia sering berlatih, berpura-pura membawakan sebuah acara radio dan aku tahu ia memiliki bakat itu. Saat aku dan Ezra pergi dengan Evan yang mengendarai mobil, Ezra akan duduk di seat depan di samping Evan, menyambungkan ponselnya dengan perangkat audio mobil Evan dan berpura-pura membawakan acara request di radio dengan memainkan lagu-lagu dari ponselnya. 
“Traktir ya kalau diterima! Eh, lagi sibuk apa aja?” 
Ponselku kembali bergetar. 
Evan Siregar
9.26
PM - Rey lagi dimana?
Aku meringis pelan. 
Reyhan Gunadinegara
9.27
PM - Di rumah. Bang Evan dimana? Lama nggak ketemu nih
Ponselku bergetar sebanyak tiga kali. 
Tania Vinsensia Winata
9.27
PM – Oppa! Kangen! Aku lagi sakit. Dari tadi siang meriang :(
9.27
PM – Lama nggak ketemu ya. Hiks
9.27 PM – Lagi apa?
Aku melanjutkan obrolanku dengan empat orang sahabatku yang membalas pesanku. Belum ada balasan dari Gea dan Andra. Jujur saja ini membuatku tak nyaman. Aku benar-benar ingin tahu kabar mereka. Sudah hampir dua minggu aku tak mengunjungi sekolah dan selama itu pula aku tak bertemu dengan sahabat-sahabatku. Masing-masing dari kami sibuk dengan urusan kami, mempersiapkan pendaftaran universitas atau aktivitas-aktivitas lainnya. Ezra mengajakku bertemu dengannya lusa untuk minum kopi dan mengobrol dan segera saja aku menyetujui ajakannya. Dilla pun akan ikut bertemu nanti lusa. 
“Evan nggak bisa ikut. Dia lagi gamang, lagi nggak mau diganggu dulu beberapa hari ini” 
Aku meringis pelan. 
Reyhan Gunadinegara
9.36
PM – Aku khawatir sama bang Evan. Aku pengen bantu dia tapi aku takut salah bertindak. Nanti malah kalau gitu bikin keadaan tambah buruk.
Ezra Rashid
9.37
PM – Kamu buat sekarang diem dulu aja sambil pantau kondisinya. Dia lagi nggak bisa diganggu jadi buat saat ini jangan lakukan apapun dulu. 
Reyhan Gunadinegara
9.37
PM – Dipikir-pikir jahat ya orang itu. Bang Evan udah baik sama dia, tapi malah dibalasnya begitu. Pasti sakit hati lah diperlakukan begitu.
Tangisan Dira mulai mereda. Tak lama kemudian kakakku keluar dari kamarnya lalu menangkap tatapan mataku padanya. Ia mengangkat kedua bahunya dan tersenyum kecil. 

“Kalau nanti kamu punya anak, pasti kayak gitu juga,” ujar mas Eza. 

Kuteguk habis coklat panasku lalu kutaruh ponselku di atas meja. Aku terpaku menatap langit-langit ruang makan. Beban mulai terasa bertumpuk di pelupuk mataku. Meringis pelan, aku pun bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menuju halaman belakang rumah kakakku. Aku duduk di bangku kayu yang menghadap ke arah taman belakang dan kolam ikan koi. Pencahayaan yang diatur sedemikian rupa membuat halaman belakang rumah kakakku nampak mewah di malam hari. Terdapat pula lampu-lampu yang di pasang di dinding kolam ikan koi sehingga aku masih dapat dengan jelas melihat pergerakan ikan-ikan itu di malam hari. 

“Ngapain, Rey?” 

Aku berbalik. Kakakku telah berdiri di belakangku sembari memeluk Macbooknya. Ia lalu menghampiriku dan duduk di sampingku. Macbook itu ia taruh di atas pangkuannya. 

“Kamu kenapa?” tanya mas Eza. 

“Nggak kenapa-kenapa,” jawabku. 

“Mas juga tahu pasti ada apa-apa sama kamu,” ujar mas Eza. 

Aku membetulkan posisi dudukku. 

“Rey lagi kesepian,” ujarku pelan. 

“Kangen teman-teman kamu?” tanya mas Eza. 

Aku mengangguk pelan. Kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaket windcheater Superdry yang ayah belikan untukku. 

“Mereka sibuk,” jawabku singkat, dengan penekanan pada kata kedua. 

“Wajar. Pasti lagi sibuk urus untuk kuliah,” balas kakakku. 

“Sampai sama sekali nggak ada waktu buat Rey?” 

“Bukan begitu. Mereka juga ‘kan punya prioritas—apa yang harus dilakukan lebih dulu” 

“Apa mereka nggak sadar kalau Rey diterima di NUS itu artinya akan lebih susah lagi mereka ketemu Rey? Apa mereka nggak sadar kalau Rey akan tinggal jauh? Bahkan Gea sama Andra pun nggak balas pesan Rey. Apa mereka mulai lupa sama Rey? Kalau Rey diterima, Rey ingin sebelum Rey pindah dan susah untuk ketemu dan kumpul bareng mereka Rey bisa menikmati waktu bersama mereka. Perpisahannya memang buat sementara, tapi Rey ingin mereka tahu kalau bertemu untuk kumpul setelah Rey pindah itu nggak segampang yang dikira. Rey pengen kangen-kangenan sama mereka” 

“Jangan egois. Jangan memaksa orang buat menjadikan kamu prioritas” 

Aku meringis pelan. Mungkin kakakku ada benarnya. Kurasa memang nasibku saja untuk tidak sesibuk sahabat-sahabatku yang lain sehingga di saat aku membutuhkan kehadiran mereka, mereka sedang berkutat dengan kesibukan mereka dan belum memiliki waktu untukku. 

“Kalau Rey pindah ke Singapura, mas bakalan gimana?” pertanyaan itu terlontar tiba-tiba. 

Kakakku mengernyitkan dahinya. Matanya terus menatap halaman belakang yang ada di hadapannya. 

“Sebenernya mas ingin bilang sesuatu ke kamu. Mas ingin bilang kalau kamu nggak akan betah disana karena kamu bakalan tinggal sendiri. Kamu nggak bisa naik MRT sendiri. Kamu nggak jago bahasa Mandarin. Ngobrol sama oma aja kamu malah bingung sendiri. Kamu kikuk kalau harus ada di tempat baru. Kamu nggak jago berteman sama orang baru. Pokoknya kamu nggak akan betah tinggal di Singapura,” ujar kakakku. 

“Kenapa mas Eza bilang gitu?” tanyaku. 

“Sengaja supaya kamu nggak perlu pindah dan lanjut kuliah di Singapura,” jawabnya. 

“Are you going to miss me?” 

Mas Eza meringis pelan. 

“Kepikiran tentang kamu mau kuliah di luar negeri aja sudah bikin mas nggak bisa tidur,” jawabnya, “Kamu tahu, ini situasi yang dilematis. Di satu sisi, mas dukung cita-cita kamu. Mas yakin kalau kamu bakalan selangkah lebih dekat dengan cita-cita kamu kalau kamu kuliah di NUS. Kamu juga bakalan lebih berkembang. Tapi di sisi lain, mas nggak mau kamu pindah dan tinggal disana. Mas nggak mau kamu pergi jauh”

“Tapi sebetulnya belajar biola bisa di Indonesia juga nggak kalah bagus, ‘kan?” tukasku. 

“Disana kamu bakalan lebih berkembang. Rey, coba ingat lagi. Kamu sendiri ‘kan yang waktu itu memutuskan untuk coba daftar?” jelas mas Eza. 

Beban di pelupuk mataku tak dapat kupendam lagi. Kedua tanganku gemetaran dan untunglah keduanya berada di dalam saku jaketku sehingga kakakku tak perlu melihatnya. Namun kakakku tahu aku terisak pelan. Ia menepuk pundakku dan mengusap kepalaku pelan. 

“Yang kangen nggak cuman kamu kok. Mas sama ayah juga pasti bakalan kangen,” ujarnya. 

“Rey malu. Mas jangan lihat Rey,” ujarku pelan. 

“Kenapa mesti malu? Mas sendiri sedih sebetulnya karena kamu mau pergi ke Singapura” 

“Rey kesal. Kenapa Rey selalu nangis di saat kayak gini?” 

“Mas juga nangis, kok” 

“Bohong” 

“Nangis. Dalam hati” 

Aku menyeka air mataku. Bukan hanya kakakku yang berfikir bahwa situasi ini dilematis. Ini juga situasi yang dilematis bagiku. Selangkah lagi aku mencapai cita-citaku untuk lebih mendalami musik dan menjadi bagian dari orkestra. Itu artinya, aku harus meninggalkan keluargaku dan sahabat-sahabatku. Aku harus tinggal di tempat baru, bertemu dengan orang-orang yang belum pernah kukenal sebelumnya, yang mungkin tak seramah mereka yang kukenal disini. Aku akan menjalani hari-hari yang berbeda dan melakukan kegiatan yang berbeda. Aku tak perlu kerepotan mengasuh si kecil Dira saat kakakku dan istrinya bekerja, namun itu artinya aku pun tak dapat bermain dengannya, melihatnya tumbuh menjadi balita yang manis.

“My only little brother” 

Kakakku kemudian merangkulku. Aku masih tertunduk, mencoba mengendalikan emosiku. Aku tak boleh selalu menangis di saat-saat seperti ini. Aku tak boleh terlihat lemah, meskipun sejujurnya itu hal yang tak kusukai—berpura-pura kuat di hadapan banyak orang. 

“Semua juga pasti bakalan rindu sama kamu. Mas juga gitu kok. Tapi karena mas sayang sama kamu, mas dukung keputusan kamu. Kamu sudah memutuskan untuk coba daftar, sekarang kamu jalani aja. Bikin orang-orang yang sudah dukung kamu bangga sama kamu. Oke?” 

Aku mengangguk pelan. Bangkit dari tempat dudukku, aku masuk ke dalam rumah dan melangkah ke kamar mandi. Kukunci pintu kamar mandi kemudian kubasuh wajahku di wastafel. Mataku nampak merah karena menangis dan jujur saja ini membuatku kesal pada diriku sendiri. Semoga saja mbak Alia tak perlu melihat mataku. Cukup kakakku saja yang tahu bahwa aku tadi sempat menangis. Keluar kamar mandi, aku disambut oleh seruan kakakku yang menggema di langit-langit ruang keluarga. Ia menaruh Macbooknya di atas meja kopi lalu setengah berlari menghampiriku dan memelukku erat selama beberapa detik. Ia mengguncang-guncangkan bahuku dan mengacak-acak rambutku, kemudian kembali memelukku. Akhirnya setelah beberapa ronde pelukan dan acak rambut, kakakku mulai reda dari euforianya. 

“Mas tadi cek Macbook dan ternyata akun e-mail kamu belum di-sign out. Maaf mas jadi lihat inbox kamu dan mas lihat ada pesan baru dari NUS,” ujar mas Eza antusias. 

Aku tertegun sejenak. Keringat dingin mulai mengucur. 

“Selamat, Reyhan! Kamu lolos tes pertama! Mas bangga sama kamu!” 



Kutelan air liurku. Aku tak tahu apakah aku harus bergembira atau bersedih.

Monday, March 2, 2015

Scrambled eggs

That one annoying moment when you're hungry and you head into your kitchen only to find out that you have nothing else to cook or, as in my case, heading into the dining room only to find the leftovers on the table and you don't want to eat them because you already had the same meals last night. It's a problem for me because I have no vast skills in cooking and I rarely cook, though I can't deny loving cooking somehow. I don't have any idea how to deal with the herbs and spices and I don't want to cook something complicated (that's why I buy packs of pasta with instant sauce). Well there are times when I really have to cook something because buying meals from the outside means another spending for the month. It's actually not a really good idea to buy meals from the outside while there's only ten bucks remaining in your account. 

I've come up with the idea of cooking scramble eggs since two months ago. It was another boring morning and I woke up late, only to find nothing on the dining table so I really had to either cook or buy something to eat. I hadn't withdrawn any money and I had only little cash with me. Moreover, buying meals from the outside wasn't a really good idea so I headed into the kitchen and found some eggs in the refrigerator and there was that Aha! moment with Aha! voice whispering me to cook scramble eggs. The problem was I didn't know the recipe but thanks to Google, I finally had the recipe and started cooking. 

If you go to Google and search for a perfect recipe of scrambled eggs, you'll get tons of result that you could choose. I went to this and learnt how to make a perfect scrambled eggs for my breakfast. It turned out pretty good and I liked it. Now, whenever I feel hungry and I have only little cash with me, I'll just head into my kitchen and cook scrambled eggs. 

credit: Exercise expertise

I've modified the recipe anyway because--well you have to know that--I don't like full cream milk, well I mean, vanilla-flavored milk. I only like chocolate milk and don't ask me the reason why because this might sound weird but any other milk flavors beside chocolate taste so weird for me. Is it just me who thinks that way or..? 

My recipe for scrambled eggs goes like this: 
- 1 large egg (because 2 large eggs would be too much for me)
- 3 tbsp cream
- a knob of butter
- a pinch of salt
- half tsp sugar
- a pinch of garlic powder

Basically the steps are just the same as those you could find in websites: whisk the eggs, cream, a pinch of salt together. Add sugar and garlic powder and whisk again until all the ingredients are mixed well. By the way, I use cream powder--like the one you have for coffee or chocolate. Add 3 tsp of cream to 3 tbsp of hot water and stir it well. You can pour the cream to the eggs mixture afterwards. Why adding garlic powder? Hey, dude! Spice your life up! 

Done with the mixture? Now heat a small frying pan for a minute and melt the butter. Pour the egg mixture and let it sit for 20 seconds. You can stir and lift the mixture (well basically you scramble it, lightly) and then let it sit again and stir and lift again. When you have the perfect color and texture, it means that your scrambled eggs are ready to serve. I eat my scramble eggs with rice and add a pinch of pepper to make it spicy. It'd be a bit different when you don't add cream or milk into the mixture. When you add cream or milk, the texture would be softer and the color would remain yellow (at least the bright-yellow-ness won't just go away.. which means happiness *LOL*)

I've tried adding mixed herbs into the mixture and it tastes so Italian. I could taste oregano and basil in every bite, though the texture became a bit different but it wasn't bad. I enjoyed my meal.

So, why can't you just try making scramble eggs for your meal today?