My Fellas!

Now it's time to have healthy snack and fresh premium milk tea. My Fellas will be your next best friend. Check the products out!

Cat Valentine's Anti-Gambling Poem

It's one of my favorite scenes from all Sam and Cat episodes. This one is taken from episode #ToddlerClimbing. I wish you guys would stop gambling and.. stop laughing at the poem as well!

Short-stories by Klaus

Check some short stories written by me!

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, April 13, 2015

Virus

Adikku berjalan di sampingku dan mengusap pelan bahuku. Ia telah melakukannya beberapa kali hari ini. Mungkin ini sudah ke-sembilan puluh sembilan kalinya Tania mengusap bahuku. Satu kali lagi ia mengusap bahuku, aku akan mentraktirnya sesuatu. Aku bersumpah akan mentraktirnya sesuatu! Tapi hanya jika benar itu adalah usapan ke-seratus yang Tania lakukan.

“Tiga?” tanya Tania saat aku mengambil tiga buah lilin devosi.

“Ya,” jawabku.

“Tumben banyak,” ujarnya.

“Masing-masing satu doa khusus,” jelasku seraya memasukkan uang ke dalam kotak donasi.

Aku masuk ke ruang Pieta dan menyalakan ketiga lilin yang kuambil. Setelah membuat salib, aku duduk di bangku dan mengucapkan doaku dalam hati. Baiklah. Ini untuk lilin yang pertama. Tuhan, tolong bantu aku agar aku bisa menghilangkan rasa tak nyaman atas kebencianku terhadap pria itu. Tunjukkan kebenaran pada pria itu dan buatlah agar pria itu sadar akan perbuatannya. Tolong aku agar aku dapat berbesar hati menerima ujian yang kuterima dan tolong aku agar aku dapat segera melupakan kejadian itu. Buatlah agar aku dapat merasa lebih tenang dan jauhkan aku dari segala kesedihan. Lindungi aku dari orang-orang yang berhati busuk dan bermuka dua. Berikan aku, keluargaku, dan semua sahabat-sahabatku perlindungan dan berkatMu.

“Tuhan, berikan kami semua bantuan dan kemudahan agar kami dapat melanjutkan ke universitas yang kami pilih”

Sial! Doa adikku memecah konsentrasiku. Aku menghela nafas panjang lalu memulai doaku untuk lilin yang kedua. Tuhan, kumohon berikan pria itu petunjuk yang menyadarkannya bahwa apa yang ia lakukan selama ini adalah salah. Berikan ia pelajaran agar ia memahami bagaimana rasanya disakiti dan dikhianati. Buatlah ia merasakan penderitaan yang dialami oleh orang-orang yang ia sakiti, termasuk aku.

“Tuhan, jika sastra Inggris bukanlah pilihan yang tepat, kumohon selalu tuntun aku agar aku dapat mendapatkan pilihan yang tepat. Tuntun juga sahabat-sahabatku agar mereka mendapatkan pilihan yang tepat. Berikan kemudahan di masa mendatang nanti”

Tania berdoa terlalu keras dan itu benar-benar menghancurkan konsentrasiku. Sekarang aku lupa doa ketiga yang ingin kupanjatkan. Ah! Satu lilin lagi. Apa yang ingin kumohon? Uang? Kesehatan? Bukankah aku selalu berdoa untuk kesehatan dan kesuksesanku setiap hari? Baiklah. Untuk lilin ketiga, aku akan berdoa untuk adikku dan teman-temannya.

Dan sesi berdoa pun selesai. Aku dan Tania keluar dari ruang Pieta dan berjalan menghampiri Reyhan dan Ezra yang nampak tengah membicarakan tentang organ pipa tua yang terletak di lantai dua.

“Jadi itu bunyinya gimana?” tanya Ezra.

“Ya pokoknya kalau tutsnya ditekan, nanti ada udara dipompa ke pipa. Bunyi deh,” jelas Reyhan.

“Nggak ngerti. Kok bisa dipompa gitu gimana caranya ya?” Ezra nampak bingung.

“Pakai jet pump,” tukas Tania.

“Emangnya sumur?” jawab Ezra kesal, diikuti oleh tawaku dan yang lain.

Kami pun meninggalkan bangunan utama gereja dan berjalan menuju mobilku yang diparkir tak jauh dari gedung pastoran. Kubuka pintu mobil melalui remote kecil yang kugenggam. Reyhan dan Ezra seperti biasa duduk di belakang, sementara adikku duduk di depan, di sampingku menjadi co-pilot. Mesin mobil dinyalakan dan pemutar musik pun menyala secara otomatis. Aku segera memindahkan lagu saat We Were in Love secara otomatis diputar. Aku muak dengan malam-malam penuh tangisan dan rasa sesak yang membuatku merasa seperti dihukum mati di kamar gas. Aku juga muak dengan lagu-lagu sendu yang secara otomatis diputar di pemutar musikku. Apa maksudnya ini semua? iPodku sedang berkonspirasi dengan alam? Yang benar saja! Mozart’s House mulai mengalun dari speaker mobil. Lagu ini jelas lebih baik daripada lagu sebelumnya yang seolah-olah mengajakku untuk kembali merasakan luka itu.

“Mbak Tara masih bete pasti,” ujar Tania.

“Udah nggak parah seperti kemarin-kemarin,” jawabku, “Toh tadi ‘kan sudah berdoa”

“Orang jahat nanti dibalas sama Tuhan, mbak,” tukas Ezra.

“Ya. Setuju. Supir angkot yang turunkan Rey di tengah jalan juga nanti biar dibalas sama Tuhan,” sambung Reyhan.

Entah mengapa tiba-tiba aku ingin tertawa mendengar ucapan Reyhan. Anak itu seringkali tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuatku ingin tertawa. Dulu kami sempat mengunjungi sebuah gerai minimarket untuk membeli cemilan dan Reyhan melihat Fisherman’s Friend yang dijual di atas meja kasir. Ia lantas bertanya apakah permen itu benar-benar terbuat dari ikan.

“Mbak sabar aja sekarang,” ujar Tania seraya mengusap bahuku. Lagi.

“Mbak udah lebih tenang. Kamu jangan khawatir,” jawabku.

“Mbak, aku udah usap bahu mbak seratus kali. Traktir dong,” ujar Tania tiba-tiba.

"Oh ya, traktir dong mbak!" sambung Ezra, "Sekarang 'kan novelnya udah terbit dan jadi best-seller"

Rasanya aku ingin mencabut paksa pemutar musik mobil dan melemparnya tepat di wajah Tania. Atau jika tidak, rasanya ingin kutancap gas dalam-dalam lalu melesat melewati seratus kilometer per jam dan menabrak apapun yang menghalangi jalanku. Bagaimana ia bisa tahu tentang sumpah yang kuucapkan asal-asalan saat aku berada di gereja tadi?! Aku bahkan tidak memberi tahunya tentang sumpah itu, namun adikku seolah-olah mengetahuinya. Anehnya lagi, aku tak menghitung berapa kali ia telah mengusap bahuku seharian ini. Lain kali aku tak boleh mengucapkan sumpah yang aneh-aneh di dalam gereja. Mungkin ini teguran dari Tuhan. Oh Tuhan, ampuni aku.

“Gimana kalau kita ke Two Hands Full?” usul Ezra.

“Kemarin udah. Cari tempat lain,” jawab Tania.

“Ke Doppio, yuk!” usul Reyhan.

Aku tertegun sejenak. Doppio adalah kedai yang saat itu kukunjungi, tepat di sore hari setelah aku menyadari semua kebusukan pria itu—pria yang sempat kuberi simpati. Aku merasa begitu hancur saat itu dan aku harus pergi ke suatu tempat dimana aku dapat menenangkan diri. Hujan deras turun dan pikiranku semakin kacau. Saat aku melihat kedai itu dari kejauhan, kuputuskan untuk singgah di tempat itu. Keputusanku tidak salah, karena aku benar-benar menemukan jawaban atas apa yang harus kulakukan untuk menghilangkan perasaan yang menyesakkan itu. Dan barista itu... Demi Tuhan, aku menyukai kedua matanya!

Dan akhirnya aku memarkirkan mobilku di pelataran parkir Doppio. Gerimis sudah turun sejak kami masih dalam perjalanan. Reyhan segera mengenakan hoodie Pull & Bear biru tuanya dan Ezra mengancingkan jaket bisbolnya. Tania mencari-cari sesuatu di bawah jok mobil. Jika ia mencari payung kecil, aku sudah tak menyimpannya lagi di bawah jok mobil.

“Payungnya di bagasi,” ujarku.

“Aduh! Kalau ditaro bagasi, pas hujan sih keburu kehujanan sebelum pakai payung!” gerutu Tania.

“Masih gerimis kecil kok. Reyhan saja yang ambil,” ujar Reyhan seraya membuka pintu mobil dan begitu saja keluar untuk mengambil payung di bagasi.

“Anak baik,” celetuk Ezra, yang tak sempat terdengar oleh Reyhan.

Gerimis kecil ini dapat kami tembus tanpa perlindungan payung, namun payung yang diambil Reyhan tetap kami bawa masuk ke dalam kedai sebagai persiapan jika hujan besar turun dan kami harus kembali ke mobil. Tania sengaja memilih tempat duduk di dekat jendela agar ia bisa menikmati suasana hujan di luar. Aku melihat ke arah bar dan kulihat pria itu kali ini sedang mengurus pembayaran di kasir.

“Terima kasih. Datang lagi ya,” ujarnya kepada pengunjung pria berusia paruh baya yang kini melangkah menuju pintu keluar.

Apakah ia melihatku? Semoga ia tidak melihatku. Tapi ia melihatku dan.. Ya Tuhan! Ia tersenyum padaku! Ya, senyuman itu ia tujukan padaku! Jelas-jelas ia tersenyum padaku! Ayolah, Tara! Apa yang kau pikirkan? Kau sedang bersama adikmu dan dua orang temannya! Jangan sampai mereka curiga padamu! Seorang pelayan mendatangi meja kami dan memberikan kami buku menu. Ini aneh. Ya, ini tidak biasa. Tanpa adikku dan kedua temannya, aku bisa saja langsung berjalan menuju bar lalu duduk disana dan memesan minuman. Biasanya orang yang duduk di bar memesan minuman beralkohol, tapi aku tidak seperti itu. Aku memesan kopi. Kopi pahit. Namun semenjak pria itu mengenalkanku pada cafĂ© miel, aku jadi menyukainya. Aku menyukai cafĂ© miel dan mata pria itu—barista itu.

“Mbak Tara mau pesan apa?” tanya Tania.

Aku terkejut dan baru menyadari bahwa ada seorang pelayan yang telah datang ke meja kami. Benar-benar mata yang menyesatkan. Terlalu lama membayangkan matanya, aku bisa benar-benar tersesat dalam imajinasiku sendiri.

“CafĂ© miel. Kalau makanannya mbak mau pesan pasta e fagioli,” jawabku, “Reyhan mau makan apa? Dibayarin kok tenang aja”

Bocah kecil itu menarik perhatianku. Ia membaca buku menu dengan seksama, sembari sesekali melihat ke arah kami dengan tatapan bingung. Ia membaca lagi buku menunya, lalu nampak dari raut wajahnya bahwa ia telah menentukan pilihan. Namun sebelum ia menyebutkan pesanannya, ia kembali kebingungan dan membaca lagi buku menu yang ia pegang.

“Rey?” tegur Ezra.

“Sebentar,” jawab Reyhan.

“Orang lain udah beres pilih menu loh,” ujar Ezra.

“P-p-puttanesca. Spaghetti alla Puttanesca,” jawab Reyhan gugup.

“Kenapa Rey?” tanya Tania, “Kamu jangan kumat disini”

“Kumat? Dia sakit apa?” tanyaku kaget.

“Reyhan ‘kan punya asma,” jawab Tania.

Aku terkejut mendengar jawaban adikku, namun pikiran tentang pria itu mendominasi isi kepalaku. Pria itu menghilang dari pandanganku saat aku kembali melihat ke arah bar. Kurasa aku tahu dimana ia berada. Setelah semua orang memesan makanannya, aku memutuskan untuk pergi menuju bar dan berpura-pura memesan sesuatu. Kuharap dua dosis kopi tidak akan sampai membuatku sakit. Lagipula jika aku harus sakit karena kopi, setidaknya rasa sakit itu terbayar oleh pertemuanku dengan barista itu yang dulu sempat menyelamatkan hidupku, layaknya Jack Dawson yang menarik kembali Rose DeWitt Bukater ke dek sebelum ia benar-benar melompat dari buritan Titanic. Ah, aku terlalu berlebihan. Sejak kapan aku menjadi dramatis seperti ini?

“Permisi”

Pria itu akhirnya muncul dari bawah meja bar. Aku membalas senyumnya saat ia menyapaku dengan sebuah senyuman. Tangannya nampak menjatuhkan sesuatu, seperti sebuah buku. Ah, tadi pasti ia sedang membaca buku. Aku ingin tahu buku apa yang ia baca tadi.

“Eh, mbak yang waktu itu, ‘kan?” tanyanya.

“Ya. Nggak apa-apa ‘kan datang lagi?” jawabku.

Pria itu tertawa kecil.

“Mau pesan apa? Kopi, coklat, atau teh?” tanyanya.

“Kopi. Saya mau cafĂ© miel. Boleh?” jawabku.

“Boleh. Disini atau dibawa ke meja?” tanyanya lagi.

“Dibawa ke meja,” jawabku.

Apa benar aku mengatakan hal itu? Astaga! Aku baru saja melewatkan kesempatan untuk dapat mengobrol dengan pria ini! Ia tersenyum dan kemudian berbalik, membuatkan pesananku. Aku menghela nafas panjang. Jika aku minum disini, sudah jelas adikku dan kedua temannya akan mencurigaiku. Tapi jika aku kembali ke mejaku, aku melewatkan kesempatan untuk dapat mengobrol lagi dengannya. Aku menyayangkan tidak adanya name tag untuk para barista yang bekerja di kafe ini. Bagaimana aku bisa mengetahui namanya jika ia tak memiliki name tag? Setidaknya jika aku mengetahui namanya, sudah pasti mengobrol akan menjadi lebih nyaman karena aku dapat memanggilnya dengan namanya langsung.

Saat aku kembali, adikku dan kedua sahabatnya sedang berdiskusi. Mereka nampak serius dengan diskusinya dan, saat aku mendengar kata ‘biologi’, rasanya aku ingin berbalik dan menikmati minumanku di bar saja. Ah, tidak! Apa itu biologi? Sudah hampir sekitar lima tahun dan aku tak pernah mendengar lagi kata ‘mitokondria’ dan ‘ribosom’, serta obrolan tentang kromosom. Keinginanku untuk kembali ke bar semakin menggebu-gebu saat Ezra tiba-tiba mengeluarkan buku teks biologi dari dalam tasnya. Tidak! Singkirkan benda itu! Aku sengaja memilih jurusan bahasa Perancis agar aku tak perlu banyak berkutat dengan hal-hal yang berbau matematika dan sains dan kini, buku teks biologi untuk SMA kelas tiga itu ada di hadapanku dan aku merasa seperti Sarah Whittle yang kembali melihat papan Jumanji setelah bertahun-tahun melupakan permainan mengerikan itu.

“Baca ini aja nih, tentang virus,” ujar Ezra.

“Supaya tidak terserang penyakit, harus ada antivirus,” tukas Reyhan.

“Jadi orangnya ditempelin DVD Bitdefender gitu biar nggak sakit?” tanya Tania usil.

“Pakai Kaspersky dong,” jawab Ezra, mengikuti alur percakapan bodoh mereka.

“Aku sih Kowalski,” tukas Reyhan, menyebutkan satu di antara empat pinguin dari Penguins of Madagascar.

“Ya udah aku Kawasaki aja,” jawab Tania, diikuti gelak tawa kedua bocah SMA itu.

Aku meringis pelan dan tak dapat berkomentar apa-apa. Berbicara tentang virus, yang kupikirkan adalah penyakit. Yang kuketahui tentang virus adalah virus membawa penyakit untuk manusia, hewan, dan tanaman. Penyakit. Rasa sakit. Ah, berarti bajingan itu memang seperti sebuah virus. Tidak. Bajingan itu adalah virus itu sendiri. Ia membuatku merasa sakit. Ia menyebabkan penyakit yang membuatku merasa begitu sakit, sampai aku benar-benar merasa seperti lumpuh. Mungkin semua laki-laki adalah virus. Mungkin saja. Pasti tidak adil jika aku mengatakan hal seperti itu. Yang jelas, pria itu adalah virus yang mematikan, yang sempat membuatku benar-benar sakit dan lumpuh. Pria itu pasti mencari mangsa lain dimana ia dapat menempel pada mangsanya lalu membunuhnya.

“Virus bisa digunakan sebagai obat. Kalimat kedua paragraf satu,” ujar Reyhan.

“Oh ya, aku juga udah baca,” tukas Tania, “Jadi katanya, untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh virus tertentu, bisa menggunakan virus juga”

“Maksudnya, semacam virus versus virus?” tanya Ezra.

“Ya. Misalnya nih, virus flu dimatikan dengan cara memasukkan virus anti-flu,” jelas Tania, “Eh, emang ada ya?”

“Aku tahunya virus cinta,” jawab Reyhan.

“Dikalahkannya pakai virus apa?” tanya Ezra.

“Virus.. virus apa ya?” Reyhan nampak kebingungan.

Ah, mungkin ada benarnya jika aku berkata bahwa semua pria adalah virus. Jika aku mengamati obrolan adikku dan kedua temannya, mungkin yang dapat kutangkap adalah ada virus yang baik dan ada virus yang berbahaya. Virus yang baik dapat menjadi obat untuk penyakit yang disebabkan oleh virus berbahaya. Kurasa ini masuk akal. Jika virus berbahaya bisa dilumpuhkan oleh virus baik, maka luka yang disebabkan oleh seorang pria dapat disembuhkan oleh..

“CafĂ© miel”

Minuman pesananku terhidang di atas meja dan pelayan yang melayani kami terkejut saat melihat telah ada secangkir café miel di atas meja kami.

“Mbak pesan dua?” tanyanya.

“Ya. Tadi saya ke bar, pesan lagi,” jawabku.

“Billnya disatukan saja?” tanyanya.

“Ya. Satukan,” jawabku.

Kurasa aku adalah seseorang yang saat ini sedang sakit dan perlu segera diobati. Aku mengalami rasa sakit yang disebabkan oleh sebuah virus ganas, virus yang berbahaya yang telah menggerogotiku dan mencoba melumpuhkanku. Namun aku harus bisa berjuang dan bertahan hidup. Aku harus mencari obatnya. Jika aku terkena racun, maka sebelum meminta tolong pada orang lain dan selama aku masih bisa melakukannya sendiri, aku yang akan mencari penawarnya. Aku harus menemukan virus baik yang dapat melawan virus jahat yang menyerangku, dan kurasa aku melihatnya. Aku masih belum tahu apakah ia virus yang baik atau justru virus yang jahat, tapi firasatku mengatakan bahwa ia adalah virus yang baik karena tatapan matanya berkata demikian. Semoga saja firasatku benar. Maafkan aku, Tania, Reyhan, dan Ezra. Aku harus mengobati luka ini.

“Mbak mau kemana?” tanya Tania saat aku berdiri sambil membawa dua cangkir kopiku.

“Mau ke bar,” jawabku, “Mau minum disana aja”

“Loh kok? Nanti makanannya gimana?” tanya Tania kaget.

“Mbak nggak suka kita ngobrol biologi ya?” tanya Reyhan murung.

“Bukan gitu. Mbak memang pengen minum disana. Kalian nggak usah kaget begitu. Nanti suruh aja masnya supaya makanan mbak dibawakan ke bar,” jawabku seraya tersenyum kecil.

Tara Valeria pun berjalan menuju bar, meninggalkan adiknya dan kedua sahabatnya. Pria itu rupanya ada disana, duduk sembari membaca buku. Kukira ia akan bersembunyi di bawah bar, namun ternyata ia duduk dan, saat ia melihatku, ia menaruh bukunya dan tersenyum padaku.

“Jadi minum disini?” tanyanya.

“Ya. Nggak apa-apa, ‘kan?” jawabku.

“Boleh kok. Bebas”

Ini gila. Aku tahu apa yang kurasakan mungkin tak nyata, tapi aku benar-benar menyukai senyumnya dan kedua matanya. Bolehkah kubilang bahwa aku merindukan matanya? Ya! Aku merindukan matanya! Ia mengambil sesuatu dari bawah bar dan kemudian muncul, menaruh satu toples biskuit kecil di samping cangkir kopiku. Aku membukanya dan mencicipi biskuit kecil itu. Apakah ini miniatur Oreo dengan krim Nutella? Mengapa rasanya begitu lezat? Dimana ia membelinya?

“Saya udah baca novelnya,” ujarnya tiba-tiba.

“N-novel?” aku terkejut.

“Ya. Novelnya. Saya suka,” jawabnya.

Aku tersipu. Tanpa perlu melihat cermin, aku berani bertaruh bahwa pipiku memerah saat ini. Pria itu pun nampak gugup. Ia pasti membaca prolognya. Ia pasti membaca bagian itu. Ah, ia sudah mengetahuinya. Semoga saja ia tak marah. Dan memang benar ia tak marah padaku. Ia menjulurkan tangannya padaku, mengajakku bersalaman. Sekarang aku tahu nama virus yang mungkin bisa menyembuhkan rasa sakitku.

“Aldi,” ujarnya.

“Tara,” jawabku.


Dan kami pun berkenalan. 

Saturday, April 11, 2015

That uneasy feeling

Lately I've been feeling uneasy, like something has been following me everywhere. No, it's not about supernatural stuffs. I didn't commit any crimes either. I just, I've been feeling that way, that something has made me feel so uneasy. Or rather, I've been haunted. 

My mom wants me to graduate soon. That's why I was quite depressed back, like three months ago because I had to finish the research proposal when I, actually, still needed more time to refine it. For your information, I submitted my research proposal like a month ago and the department demanded me to revise the proposal so I could continue doing my research. The problem came when they told me that the topic I chose was something difficult and, due to some reasons, I was given options, whether to keep the topic or change it. I ended up deciding to change the topic, which means that I had to start over, yeah, like starting back from the scratch and finding another idea for my research. I came up with the idea of doing research on translation field and my friends said that it was a good idea because they knew I'm a freelance translator and, even, a lecturer who is an expert in translation field supported my decision. 

I joined an internship program starting from February to April. It required me to focus on my tasks. I worked in a group alongside five other girls in a radio station. I went to the radio station where I worked as a member of creative team for a program (almost) every day, from Monday to Friday. I had to leave at four and it took an hour to reach my workplace. I worked for two hours, from 5 to 7. Sometimes they extended the work hour and that was a great pain. It took another one, oh no, two hours to reach home so I spent like two hours on public transportation, sitting and listening to the same playlist every single day. I was really tired I got no much time to even 'touch' and 'make out' with my research proposal. It has been obviously neglected. 

I received an e-mail from WikiHow like one month ago (almost at the same time I started the internship program), informing that I have become a part of translator family for WikiHow, English-to-Indonesian translation. The job offered me great deal of money and I liked it. I like it. I really really like it. I really really really fucking like it. Who doesn't like money? Who doesn't need money? Even if you're a billionaire, it's a bullshit if you say that you don't need money. Without money, you ain't no goddamn billionaire. So I worked my ass off, day and night to translate some articles worth some bucks. I have earned a hundred bucks and I've told myself to work my ass off even harder so I can earn some more. 

I eventually realize that working on the translation project seems like drinking a bottle of Manischewitz. It's so sweet that I can't tell if I'm already drunk or not because I enjoy it so much. Sometimes sweetness makes people oblivious to the real situation. So does job (and money). I realize that I've been so busy working my ass off, day and night, and neglected my research proposal. As I tried to do what I should have done earlier, I felt like I didn't want to do it. I don't want to do it for now because I'm not ready yet. Starting over means I have to learn new theories, find new research objects, and... yeah... basically do everything from the very beginning.It's not a simple and easy thing to do. It's not something that you can do in 5 minutes, like cooking an instant noodle and brewing nice tea. Collecting data and source books are not as easy as collecting beautiful corals while walking on the beach, and the pressure from my parents just make things more difficult for me. 

I kind of need fresh air. I need to relax. I need to retreat for a while, undisturbed. I need to find a place where I can just sit and enjoy fresh air (maybe a secluded beach resort would do). I can't do it in this very kind of condition, as I'm not ready and I (have to admit it) feel a bit lazy to start. The previous tasks from the internship program are not as easy as I thought and I need to improve my translation skill in order to make better translations. Shit why are things so much more complicated when I have reached 20? Sometimes I wish I was still eighteen. Yeah. Maybe things would just be easier for me, though it sounds like things would be just the same. Okay. Whatever. 

Thursday, April 2, 2015

Pria Kopi

Hujan masih belum berhenti sejak tadi siang. Selama berjam-jam aku melihat titik-titik hujan yang meluncur cepat dari langit seperti ribuan meteor yang sedang menghantam bumi dan memporakporandakan kota ini. Beberapa terpantul di kaca jendela, membuat jejak sebelum akhirnya mengecup manis dedaunan tanaman paku yang ditanam tepat di bawah jendela. Setiap kali ada pengunjung datang, pintu yang terbuka seolah menjadi jalan bagi angin yang bertiup cukup kencang di luar untuk masuk ke dalam kedai dan bermain dengan kabel-kabel lampu bohlam yang menjuntai dari langit-langit, membuatnya berayun pelan seperti ayunan taman kanak-kanak.

Jujur saja aku selalu terkejut saat bel berdenting. Ya, jika pintu kedai dibuka secara otomatis belnya akan berdenting, menandakan bahwa ada pengunjung yang datang atau pergi. Bel kecil itu nampak indah jika dilihat dari jauh, namun menyebalkan saat ia berdenting di saat yang tak tepat, seperti saat aku sedang membaca novelku atau mempertaruhkan hidup dan matiku di Let’s Get Rich. Aku merasa nyaman untuk duduk di bawah bar, bersembunyi dari tatapan para pengunjung yang sedang duduk nyaman di kursinya masing-masing sambil menikmati secangkir kopi panas. Namun jika pengunjung datang, aku terpaksa berdiri dan mau tak mau harus menampakkan diriku di bar, menyapa pengunjung yang datang dan membuatkan pesanan mereka. Duduk di bawah bar seperti berada di dalam iglo di tengah badai salju, atau meringkuk di bawah selimut saat hujan deras di malam hari, atau membaca buku di dalam tenda saat berkemah di pegunungan. Tempat ini merupakan tempat yang paling nyaman untukku, meskipun sempat beberapa kali kepalaku terantuk meja bar saat keluar dari tempat persembunyianku.

“Mas?”

Satu kata tiga huruf itu dilantunkan dengan lembut dari sebuah suara alto yang dengan anggunnya merusak kedamaianku di tempat persembunyianku. Aku segera bangkit dan berdiri, lalu melihat sosok wanita yang berusia sekitar 20 tahunan itu di depan bar. Ia berjalan ke arah meja kasir—secara tidak langsung memberi sinyal bahwa inilah saat baginya untuk berpisah dengan beberapa lembar rupiah yang nantinya akan menetap di dalam mesin kasir. Itu juga merupakan waktunya untuk keluar dari kedai yang nyaman dan hangat ini, bertarung dengan hujan yang nampaknya masih belum menyerah untuk menyerang.

“CafĂ© Americano, satu. Affogato, satu. Semuanya jadi dua puluh delapan ribu lima ratus”

Wanita dengan blazer coklat tua dan T-shirt putih Zara itu mengeluarkan selembar uang senilai dua puluh ribu dan selembar uang senilai sepuluh ribu. Keduanya segera masuk ke dalam mesin kasir dan sebagai gantinya, wanita muda itu mendapatkan selembar uang seribu rupiah dan sekeping koin lima ratus rupiah. Setelah menerimanya, wanita tersebut mengucapkan terima kasih—dengan anggunnya dalam suara alto—dan berjalan bersama kekasihnya—beserta kemesraan mereka yang membuatku kesal—menuju pintu. Tepat di saat sepasang kekasih itu membuka pintu, seorang wanita masuk ke dalam kedai. Aku tak sempat kembali bersembunyi di tempat persembunyianku karena wanita itu langsung berjalan menuju bar dan duduk di kursi bar. Apa yang memisahkanku dan wanita itu hanyalah meja bar saja, dengan beberapa toples kaca cantik yang berisi biji-biji kopi dari berbagai jenis. Wanita—mungkin lebih tepatnya kusebut gadis—itu melihatku dan tersenyum kecil. Aku membalas senyumnya seraya memberikannya buku menu. Ia membuka-buka halamannya, sempat terpaku selama beberapa saat di beberapa halaman, lalu kembali membuka halaman yang lain. Seandainya aku dapat membawa jam wekerku dan mengatur waktunya agar pengunjung tidak membuang-buang banyak waktu untuk memilih menu, kurasa akan menyenangkan. Kriiiiiiiiiiiiing! Waktu habis! Silahkan pesan atau keluar dari sini! Sayang sekali hal itu hanya terjadi dalam imajinasiku.

“Aduh, saya bingung,” ujar gadis itu pelan.

“Bingung kenapa, mbak?” tanyaku.

“Bingung pesen apa,” jawabnya.

Aku tersenyum kecil.

“Mbak sukanya apa? Kopi, teh, atau coklat?” tanyaku.

“Suka semuanya,” jawabnya.

“Sekarang lebih pingin minum apa?” tanyaku lagi.

“Mungkin kopi,” jawabnya.

Regulasi yang diberikan untuk semua barista mengharuskan para barista, termasuk aku, menanyakan preferensi minuman pengunjung saat pengunjung tidak dapat menentukan pesanannya. Dengan mengetahui preferensi ini, barista dapat memberikan rekomendasi minuman yang dapat pengunjung pesan. Sialnya, aku seringkali memasukkan preferensiku sendiri sehingga setiap ada pengunjung yang ingin minum kopi tapi tak tahu apa yang harus dipesan, refleks aku selalu menyarankan...

“Espresso Romano?”

Gadis itu terkejut, lalu menatapku.

“Ya udah deh mas. Itu aja,” jawabnya.

Aku pun mulai mengerjakan pesananku. Aroma kopi tercium kuat saat aku membuka kotak berisi bubuk kopi. Aku selalu senang dengan aroma ini. Jika aku tak senang, mana mungkin aku menjadi barista?

“Kalau jam segini sepi ya, mas?” tanya gadis itu.

“Eh?” aku terkejut.

“Ya. Jam segini suka sepi, ya?”

“Hmm... Nggak sih. Mungkin karena hujan”

Air yang kupanaskan telah mendidih. Segera kutuangkan air panas itu ke dalam mesin espresso. Uap air panas mengepul dan mengenai wajahku. Aku sudah biasa merasakan panas di wajahku. Setiap hari wajahku seperti mendapat tiket sauna gratis.

“Kenapa ya ada orang bodoh di dunia?”

Jika semua orang pandai dan cerdik, bukankah akan membosankan?

“Kenapa aku mau aja dibodohi?”

Espresso ini belum siap, tapi apakah ini sudah waktunya untukku membalikkan tubuhku dan menatapnya lalu menanyakan pertanyaan maha dahsyat itu? Ah, aku selalu menanyakan hal yang sama. Aku selalu melakukan hal yang sama di saat-saat seperti ini. Aku ingin tahu apakah ada pengunjung yang justru menanyakan pertanyaan sakti itu padaku. Ting! Espresso telah siap. Setelah kutuangkan ke dalam cangkir, aku pun membalikkan badanku dan menanyakan pertanyaan sakti itu.

“Ada apa?”

Betapa dahsyatnya efek dari pertanyaan itu sehingga gadis berkacamata itu pun menatapku dengan tatapan yang membuatku iba padanya. Gadis ini perlu kutolong, tapi aku bukan superhero. Astaga! Apa yang harus kulakukan sekarang? Dimana jubahku? Ah, setiap kali datang pengunjung yang mencurahkan isi hatinya pun aku selalu bersikap seperti ini. Aku selalu ingin mengetahui apa yang membuatnya merasa sedih dan kecewa. Terutama gadis ini, aku ingin tahu mengapa tiba-tiba mengalir sebuah sungai kecil di pipinya.

“Kenapa aku bisa dibodohi begitu aja?” tanyanya pelan.

“Setiap orang pasti pernah dibodohi,” jawabku seraya menuangkan susu panas ke dalam espresso.

“Aku ngerasa tolol. Kenapa aku mau dibodohin coba?”

“Memangnya dibodohin sama siapa?”

Gadis itu justru terisak pelan saat aku menanyakan agen pembodohan yang nampaknya telah memporakporandakan hidupnya. Aku menghela nafas sejenak. Kutinggalkan pesanan yang belum selesai kubuat dan segera kusiapkan segelas air untuk gadis itu. Gelas itu kutaruh tepat di hadapannya. Gadis itu berhenti terisak dan nampak bingung.

“Ini apa?” tanyanya.

“Silahkan diminum, mbak. Biar lebih tenang,” jawabku.

Aku kembali mengerjakan pesananku. Ah, kemana botol bubuk kayumanis itu? Iza pasti menaruhnya sembarangan lagi. Lagi. Padahal sudah kubilang padanya untuk menaruh botol bubuk kayu manis di rak rempah-rempah. Akhirnya aku menemukannya, bersanding di samping botol bubuk vanili.

“Selama ini aku coba buat bisa jadi sosok yang bisa nolong dia. Aku tahu dia sosok yang kalau dari luar keliatan kuat, tegar, dan bahkan cuek. Tapi aku tahu pasti hatinya rapuh. Kenapa saat aku coba buat nolong dia, justru dia bikin aku sakit?” jelas gadis itu.

“Sakit? Seperti apa emang?” tanyaku.

“Aku nggak bisa gambarin seperti apa sakitnya. Yang jelas aku ngerasa usaha aku selama ini buat bisa nolong dia sia-sia. Maksudku, rasanya aku nolong orang yang salah. Kenapa dia malah balas semuanya dengan hal yang bikin aku sakit? Sialnya, kenapa aku juga nggak bisa melawan rasa sakit itu?”

“Karena sakitnya nggak keliatan, kamu jadi susah buat ngelawan rasa sakit itu”

“Maksudnya?”

“Misalnya kita ada luka lecet di tangan kita dan kerasa sakit, cara buat melawan rasa sakitnya adalah dengan ngobatin luka itu. Kita tahu bahwa luka itu keliatan, jadi kita tahu pengobatan seperti apa yang harus dilakukan dan dimana si plesternya harus ditempel. Kalau luka batin ‘kan nggak keliatan, hanya kerasa aja. Kita jadi susah buat ngelawannya karena kita nggak tahu luka itu tepatnya ada di sebelah mana dan seperti apa”

“Maaf. A-aku masih nggak ngerti”

“Gini deh. Kalau di malam hari nih, lebih gampang ngelawan perampok yang pakai baju warna kuning cerah atau yang pakai baju serba hitam?”

“Yang kuning cerah sih”

“Kenapa?”

“Karena... kelihatan”

“Kurang lebih kayak gitu maksudnya, mbak”

Kutuangkan satu sendok makan madu ke dalam campuran espresso yang kubuat. Aku tak bisa berharap banyak namun yang jelas kuharap gadis itu menyukai pesanannya dan mengerti apa yang kukatakan. Seringkali aku pun tak mengerti dengan ucapanku. Apa yang kukatakan padanya tadi? Astaga! Belum semenit berlalu, aku sudah lupa dengan apa yang kuucapkan! Noda espresso yang ada pada cawan segera kubersihkan sebelum minuman ini kuhidangkan.

“Kalau ngelawan sakit kayak gitu, gimana caranya?” tanyanya.

“Cari tahu dulu sebab sakitnya apa,” jawabku.

“Yang jelas aku ingin nolong dia dan aku sayang sama dia sebetulnya, tapi aku nggak ngerti kenapa balasan dari dia malah kayak gini,” jelasnya.

“Kalau gitu, menurut saya sih cara ngobatinnya ada dua. Mbak balas dendam dan perlakukan dia seperti cara dia memperlakukan mbak, atau—“

“Atau apa?”

“Trying to let go?”

“Ikhlasin semuanya?”

“Tenang aja, mbak. ‘Kan masih ada Tuhan yang bisa balas perbuatan dia. Mbak percaya ‘kan kalau Tuhan pasti adil? Biar Tuhan yang ngatur semuanya, mbak”

Gadis itu kembali terisak dan, jujur saja, ini membuatku tak nyaman. Tapi itu tak berlangsung lama karena setelahnya ia menyeka air matanya dan tersenyum. Ya, ia tersenyum dan senyumannya begitu ikhlas, seperti seolah-olah ia baru saja merelakan sesuatu dan beban hidupnya hilang begitu saja. Aku tersenyum melihat gadis itu merasa lebih baik. Kuhidangkan pesanan gadis itu.

“CafĂ© miel,” ujarku.

“Bukannya tadi Espresso Romano?” tanyanya terkejut.

“Saya berubah pikiran,” jawabku.

“Kenapa?”

“Kalau ada hal yang udah terlanjur pahit, cara buat menikmatinya ya salah satunya dengan bikin hal tersebut terasa lebih manis. Satu shot espresso, susu panas, kayumanis, dan madu”

Kepuasaan melanda diriku, menyerangku dengan perasaan lega dan bahagia dan tak memberiku sama sekali kesempatan untuk menggerutu tentang uap panas yang tadi sempat menerpa wajahku. Ekspresi gadis itu saat meneguk kopinya membuatku merasa tenang. Kekecewaan dan kesedihan yang sebelumnya nampak jelas di wajahnya menghilang begitu saja, seperti menghapus lukisan yang dibuat di atas mainan papan magnet. Dimana ponselku? Aku harus mengabadikan ekspresi itu! Tatapan mataku tiba-tiba menangkap novel Romance of the Three Kingdoms yang tergeletak begitu saja di bawah bar. Ah, aku ingin kembali duduk di bawah bar, menekuk kedua lututku sambil membaca novel tersebut. Seandainya aku bisa membacanya sekarang. Seandainya pengunjung yang datang mau memahami bahwa aku pun ingin beristirahat sejenak.

“Ada apa?”

Pertanyaan dahsyat itu terlontar dari mulut gadis itu, ditujukan padaku. Ya, padaku. Apakah ini nyata? Apakah ia benar-benar menanyakan hal itu padaku? Selamat, Aldi! Selamat! Seseorang akhirnya melontarkan pertanyaan maha dahsyat itu padamu! Seseorang akhirnya mencoba memahami apa yang kau pikiran! Aku tercekat saat aku hendak menjawab pertanyaan itu.

“Mbak masih lama disini?” tanyaku.

“Sepertinya. Kenapa?” jawabnya.

“Kalau boleh, saya mau lanjut baca novel di bawah,” jelasku.

“Di bawah?”

“Ya. Di bawah bar”

Gadis itu tersenyum kecil. Ia mempersilahkanku untuk kembali berkencan dengan novelku dan bersembunyi di bawah bar. Ia sampai meminta izin untuk melihat tempat persembunyianku, bahkan ingin melihatku membaca novelku di tempat tersebut. Dengan senang hati aku membiarkannya melihat seperti apa tempat persembunyianku. Aku menjelaskan padanya betapa menyenangkannya berada di bawah bar, beristirahat sejenak dari pekerjaan yang cukup menguras tenagaku. Aku membawa beberapa buah novelku ke kedai dan membacanya saat tak ada pengunjung. Ia kemudian berjanji padaku bahwa suatu hari ia akan kembali dan memberiku sebuah novel.


Dan Iza pun kedapatan menaruh botol bubuk kayumanis di rak yang salah. Kali ini Iza menaruh botol bubuk kayu manis di rak gelas—dan itu jelas-jelas salah. Segera kutegur rekan kerjaku yang usianya hanya tiga tahun lebih muda dariku itu.

“Ini jangan ditaro disini! ‘Kan udah ada labelnya!” tegurku.

“Sorry! Buru-buru,” jawabnya seraya menyiapkan pesanan untuk pengunjung.

Aku menghela nafas panjang lalu kembali bersembunyi di bawah bar. Kali ini bukan untuk membaca, namun sekedar mendengarkan lagu. Quiet Nights of Quiet Stars. Petikan gitar yang merdua dan warna suara Olivia Ong yang manis membuatku serasa dininabobokan. Jika ada sebuah bantal dan sebuah selimut, pasti aku sudah tertidur di bawah bar.

“Di, daripada nyumput mendingan baca novel aja,” sahut Iza.

“Udah tamat,” jawabku.

“Ini aku ada novel. Mau baca?” tanya Iza.

Iza membuka tasnya dan mengambil sebuah novel. Novel dengan sampul berwarna biru tua dan bintang-bintang kecil itu kini berada dalam genggamanku. Iza mengizinkanku untuk membawa pulang novel itu dengan sebuah syarat: aku harus menyelesaikannya dalam waktu satu minggu. Satu minggu? Maksudmu satu hari? Aku segera mencari halaman prolog novel ini. Aku selalu senang membaca prolog novel. Rasanya seperti mendengarkan novelis bercerita tentang novelnya secara langsung. Tapi, tunggu sebentar! Tara. Tara Valeria. Sepertinya aku pernah mendengar nama ini. Jika aku tak salah, ia adalah seorang penulis yang baru saja menerbitkan novel terbarunya yang—konon—langsung laris saat hari pertama peluncurannya.

Kalau begitu, ini adalah novel yang laris itu!

Kutemukan halaman prolog tersebut dan segera kubaca. Aku tak pernah sekalipun bertemu dengan novelis-novelis kesukaanku. Aku hanya pernah melihat wajahnya di televisi atau internet. Tara Valeria. Aku pernah mendengar namanya, namun belum pernah melihat wajahnya. Dan kecepatan bacaku berkurang drastis saat aku tiba pada paragraf-paragraf ini:

Aku sempat terpikir untuk berhenti menulis. Aku sempat terpikir untuk berhenti melakukan semua hal yang kusukai. Aku bahkan sempat terpikir untuk mengakhiri semuanya. Setiap orang pasti pernah berada dalam fase seperti itu, bukan? Fase dimana kita benar-benar merasa lelah atas rasa sakit yang kita derita. Terkadang kita mempertanyakan keadilan Tuhan. Apakah Ia benar-benar adil? Tapi Tuhan memang benar-benar adil. Seseorang mengingatkanku tentang hal itu.

Dalam masa-masa sulit seperti itu, selalu ada sosok pahlawan yang setidaknya mau membantumu untuk berdiri saat kau terjatuh. Sosok itu mau mendengarkan keluh kesahmu meskipun ia sebetulnya merasa jenuh. Sosok itu rela melakukan apapun untukmu. Pahlawan itu mungkin bukan berasal dari kalangan sahabat terdekatmu; ia bisa siapa saja dan berada dimana saja, namun yakinlah bahwa ia selalu muncul di saat yang tepat. Sore itu aku pergi ke sebuah kedai kopi dengan harapan bahwa secangkir kopi pahit dapat membuatku melupakan rasa sakit yang kualami karena pria itu. Hujan turun dengan derasnya dan saat itu aku tahu bahwa sore itu akan menjadi sebuah melodrama yang harus kubintangi. Aku telah membintangi cukup banyak melodrama dalam hidupku dan aku cukup lelah dengan kisah-kisah semacamnya. Dan sosok itu pun muncul di hadapanku. Pahlawan itu. Tak banyak yang ia lakukan, namun ia adalah seorang pendengar yang baik yang mau mendengarkan keluh kesahku. Ia juga membuatku menyadari bahwa “jika sesuatu terlanjur pahit, maka berikanlah sesuatu yang dapat menjadikannya setidaknya terasa lebih manis”. Ia bahkan mengajariku untuk merelakan sesuatu, mengikhklaskan apa yang terjadi karena Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Seseorang yang melukaiku akan mendapatkan balasan dari Tuhan—sesuatu yang setimpal, dan aku tak perlu repot-repot memikirkan rencana balas dendam. “Biar Tuhan yang mengatur semuanya”. Itu yang ia katakan padaku. Ia bahkan memberiku segelas air untuk menenangkanku. Hanya segelas air, tapi jika diberikan pada waktu yang tepat maka segelas air dapat menjadi semacam oasis di tengah padang gurun yang tandus. Oh! Jika aku tak bertemu dengannya, mungkin novel ini tak akan pernah ada. 
Ia—pahlawanku bukanlah sosok yang mungkin kau pikir adalah seorang ksatria berkuda, atau pahlawan super dengan kekuatan untuk menghentikan waktu. Ingin tahu seperti apa sosok pahlawan itu? Ia hanyalah pria biasa, mengenakan polo shirt hitam dan celemek berwarna hijau tua. Ia bermain dengan kopi setiap harinya. Wajahnya terkena uap dari air panas yang ia didihkan. Berada di dekatnya seperti menikmati biskuit rasa kopi. Pahlawanku bukanlah pahlawan super, namun ia memiliki kekuatan yang tak dimiliki semua orang. Nada suaranya yang ramah, senyuman yang ikhlas, dan tatapan mata yang antusias membuatku merasa nyaman. Perasaan nyaman itu bukan datang dari senyuman seorang supermodel; perasaan itu datang dari seorang barista yang sering bersembunyi di bawah bar sembari membaca novel, sembari menunggu pengunjung. 
Hidup ini hebat, bukan?


Kini jika boleh aku menanyakan satu hal, pada siapapun termasuk diriku sendiri, aku ingin tahu mengapa tiba-tiba mengalir sebuah sungai kecil di pipiku.

Wednesday, April 1, 2015

Oldies But Goodies

Jadi, sejak kapan ya saya mulai bergelut lagi sama musik tahun 70an dan 80an? Yang jelas sih sejak tadi nonton Charlie's Angels: Full Throttle, saya jadi mendadak mainkan playlist lagu-lagu taun 70an dan 80an. Waktu saya browse di 8tracks untuk cari playlist disko dan pop tahun 70-80an, kebanyakan pakai lagu-lagu yang sama. Dari 4 playlist yang saya dengar, pasti aja ada Born to Be Alive. Rasanya kayak denger iklan Lipton berkali-kali. Kenapa iklan Lipton? Lihat aja nih: 


Saya nggak ngerti kenapa itu banteng tiba-tiba hidup begitu setelah minum teh. Ngeri aja kalau tehnya tumpah ke atas tanah kuburan. 

*mendadak merinding*

Kembali ke topik awal deh. Jadi demam disko 70an itu melanda begitu saja dan music library di ponsel pun mulai dipenuhi lagu-lagu dari era 70an dan 80an. Yang awalnya ngerasa agak ilfil sama lagu jadul, sekarang malah jadi suka. Tapi musik-musik lawas ini saya batasi wilayah genrenya, which means saya cuman suka musik pop dan disko saja. Dan yang baru saya sadari adalah, ternyata disko itu nggak sekedar nari heboh, kayak waktu Natalie nari di pesta reuni sekolahnya di Charlie's Angels: Full Throttle.

Donna Summer
Last Dance
[Charlie's Angels: Full Throttle - cut]


Dari awal saya mulai ngumpulin lagu-lagu disko 70an, saya udah suka sama lagu ini. Apalagi pas tahu lagu ini nongol di Charlie's Angels, saya jadi semangat kalau nonton filmnya. Di film itu, cukup banyak lagu-lagu tahun 70an dan 80an, seperti I Just Wanna Be Your Everything punya Andy Gibbs atau You Can't Touch This punya MC Hammer. Musik sama filmnya cocok aja sih kalau menurut saya. Apalagi filmnya kan nggak melulu action, tapi ada komedinya juga. 

Selain Charlie's Angels, saya juga dapat referensi pop dan disko 70an dari koleksi musik mama saya. Saya dapat Bee Gees sama Samantha Sang. Lumayan kece deh, apalagi Samantha Sang dengan Emotion yang selama ini mungkin kita dengar versinya Destiny's Child aja.

Samantha Sang
Emotion


Ternyata saya lebih suka versi aslinya. Lebih kerasa diskonya dan lebih ramai aja. Kalau versi Destiny's Child kan lebih ke arah R&B, sementara versi aslinya semacam bisa dipakai dansa di disko. Selain Emotion, saya dapat Bee Gees yang I Started A Joke dari koleksi musik mama saya. Nggak terlalu disko sih, lebih ke arah pop, cuman saya suka aja sama aransemennya. 

Ada yang pernah denger Reality punyanya Richard Sanderson? Lagu ini lumayan populer di drama-drama Korea. Pernah denger sih masalahnya ada lagu ini di salah satu drama Korea. Tapi emang sih ini lagu, walaupun temponya lambat, dapet banget deh nuansa 70annya. Semacam lagu pengantar tidur, tapi kadang kalau lagi galau dengar lagu ini ikut galau. Dan informasi aja sih, lirik lagunya nggak galau-galau amat. Malah nggak galau deh. Efek aransemen aja sih ini. 

Richard Sanderson
Reality


Sebenarnya masih banyak sih yang ingin diceritakan tapi berhubung ngantuk, nanti lagi deh sharing tentang musiknya.