My Fellas!

Now it's time to have healthy snack and fresh premium milk tea. My Fellas will be your next best friend. Check the products out!

Cat Valentine's Anti-Gambling Poem

It's one of my favorite scenes from all Sam and Cat episodes. This one is taken from episode #ToddlerClimbing. I wish you guys would stop gambling and.. stop laughing at the poem as well!

Short-stories by Klaus

Check some short stories written by me!

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, August 19, 2015

Takhayul

Lima belas tahun yang lalu, saat saya masih duduk di kelas satu sekolah dasar, saya masih ingat jelas betapa teman-teman saya menertawakan dan 'memojokkan' saya yang, saat itu, duduk di atas meja. Engké manéh loba hutang (nanti kamu banyak hutang), kata mereka. Saya, yang saat itu tidak paham apa yang terjadi, langsung menepis pernyataan mereka, menegaskan bahwa saya tidak suka berhutang di kantin sekolah dan tidak mau sampai berhutang. Tawa mereka saat itu menghantui saya dan membuat saya, akhirnya, tidak mau duduk di atas meja lagi. Meskipun demikian, dalam hati saya menanyakan hubungan antara duduk di atas meja dengan banyaknya hutang yang dimiliki. Apa hubungannya? 


Superstition, atau takhayul dalam bahasa Indonesia, merupakan salah satu artefak budaya yang, mungkin, paling kita kenal di masyarakat. Berbeda budaya, berbeda juga takhayulnya (meskipun beberapa budaya memiliki takhayul yang kurang lebih sama). Mengenai duduk di atas meja, saat itu saya belum paham bahwa duduk di atas meja dapat membawa banyak hutang merupakan salah satu takhayul. Di keluarga, saya tidak banyak dikenalkan dengan takhayul (mungkin karena kedua orang tua saya juga bisa dikatakan tidak percaya dengan takhayul). Jadi, saat saya tiba-tiba dikatai "banyak hutang" karena duduk di atas meja, saya tidak percaya dan tidak memahami hubungan antara duduk di atas meja dengan banyak hutang. Setelah beberapa lama, akhirnya saya diberi tahu oleh guru saya bahwa teman-teman saya rupanya percaya dengan takhayul tersebut. Guru saya, untungnya, memberi saya "pilihan" untuk ikut percaya atau tidak. Saya memutuskan untuk tidak percaya dan mencari sendiri penjelasan yang lebih masuk akal daripada sekedar ditakut-takuti "banyak hutang." Takhayul merupakan kepercayaan yang, pada dasarnya, dibuat demi kebaikan. Larangan mengenai duduk di atas meja karena nantinya dapat membawa banyak hutang, misalnya, ternyata dibuat karena alasan kesopanan. Terlebih lagi, meja bukan tempat untuk duduk. Toh sudah ada kursi, jadi kenapa masih duduk di atas meja? 

Sayangnya saat itu teman-teman saya tidak tahu alasan sebenarnya mengapa duduk di atas meja dilarang. 

Mungkin kita tahu tentang larangan berdiri atau duduk di depan pintu. Katanya, kalau seseorang duduk atau berdiri di depan pintu, dia akan nongtot jodoh (susah mendapatkan jodoh). Faktanya, larangan tersebut dibuat karena jika seseorang duduk di depan pintu, orang tersebut menghalangi jalan keluar masuk orang lain. Jujur saja, saat tidak pergi ke kampus dan bisa menikmati siang atau sore di rumah, saya senang duduk di depan pintu samping yang menghadap ke taman di depan rumah. Suasana yang tenang serta angin segar yang berhembus membuat saya betah duduk di depan pintu. Ditambah lagi, kucing-kucing komplek yang bertandang membuat saya semakin senang duduk di sana. Depan pintu menjadi spot yang nyaman untuk sekedar bersantai menikmati angin sambil mendengarkan lagu, atau membaca buku sambil bersandar pada frame pintu. Seandainya saya percaya dengan takhayul tersebut, mungkin saya pernah bisa merasakan 'sensasi' nyaman saat duduk sambil membaca buku dan bermain dengan kucing-kucing yang sering mampir ke rumah saya. 

Saya juga ingat saat itu saya sedang pergi tamasya bersama keluarga. Saya ikut mengajak seorang teman sekelas. Saat makan siang di semacam pendopo kecil, teman saya melihat ke arah langit dan tiba-tiba meringis ketakutan. Rupanya ia melihat seekor burung elang yang terbang berputar-putar di langit. Katanya, jika ada burung elang yang terbang berputar-putar di langit, ada seseorang yang meninggal tak jauh dari tempat elang tersebut terlihat. Saya, yang pada saat itu tiba-tiba percaya begitu saja, menebak-nebak bahwa di perjalanan pulang nanti, kami akan melewati rumah yang di depannya terdapat bendera kuning. Pada kenyataannya, sepanjang perjalanan saya tak melihat bendera kuning sama sekali. Teman saya bersikeras bahwa ada seseorang yang meninggal saat saya (akhirnya) memojokkannya dengan berkata bahwa yang ia katakan hanyalah omong kosong. Teman saya tetap percaya dengan apa yang ia percaya, sementara saya akhirnya tidak mempercayai apa yang ia percaya, tapi hal tersebut tidak lantas membuat kami tidak berteman lagi. Kalau boleh saya tebak, sepertinya sampai sekarang ia masih mempercayai hal tersebut. Mungkin juga hal tersebut yang membuatnya cukup takut terhadap burung elang. 

Mengingat burung elang adalah karnivora, saya juga harus waspada terhadap burung tersebut. 

Dunia tanpa takhayul sepertinya kurang seru. Kurang greget. Takhayul menyuguhkan semacam larangan yang, menurut saya, unik. Saat mengetahui satu takhayul, saya biasanya langsung mencari tahu alasan yang logis untuk takhayul tersebut. Larangan membuka payung di dalam ruangan, misalnya, ternyata dibuat demi alasan keselamatan. Ujung-ujung payung yang tajam dapat membahayakan orang jika payung dibuka di dalam ruangan; oleh karenanya larangan mengenai membuka payung di dalam ruangan pun dibuat. Di sisi lain, ada saat-saat dimana takhayul justru, menurut saya, merepotkan. Kepercayaan bahwa membakar kemenyan dapat menangkal hujan, misalnya, justru bagi saya merepotkan dan menyusahkan diri sendiri. Saya ingat betul saat itu adalah hari pernikahan paman saya. Pernikahan diadakan di rumah nenek dari ayah saya. Tetangga-tetangga nenek saya rupanya sangat percaya akan takhayul dan, demi 'menyelamatkan' hari pernikahan paman saya, di pagi hari sebelum resepsi dimulai para ibu memasak di dapur di tengah kepulan asap kemenyan yang menyesakkan. Saat saya melangkah ke dapur untuk mencari kudapan yang bisa saya makan, saya terkejut dengan bau menusuk yang berasal dari sebuah wadah tanah liat kecil. Bau tersebut benar-benar menusuk hidung dan membuat saya cukup trauma sampai sekarang. Pada kenyataannya, hujan tetap turun di sore harinya, meskipun memang tidak sampai begitu mengganggu resepsi pernikahan. 

Ada beberapa hal yang saya 'kecam' dari aksi pembakaran kemenyan di pagi itu: 
  • Asap kemenyan yang begitu banyak dapat berbahaya bagi pernafasan
  • Di pagi hari ada baiknya kita banyak menghirup udara segar yang tak berbau, bukan asap dengan bau yang menusuk
  • Mereka membakar kemenyan sambil memasak di dapur untuk tamu-tamu resepsi. Bukankah asap kemenyan itu bisa menempel pada makanan yang dibuat? Bagaimana jika racun yang terbawa oleh asap itu menempel di makanan? 
Mempercayai takhayul merupakan pilihan. Tapi, jika takhayul yang dipercaya dapat 'menjauhkan' seseorang dari bahaya justru menjadi bahaya tersendiri, mengapa masih dipercaya? Sebagai bagian dari budaya, mungkin mempercayai takhayul sama artinya dengan menjaga budaya itu sendiri. Jika saya tidak percaya pada takhayul, apakah itu artinya saya tidak menghargai budaya saya? Saya rasa ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghargai dan menjaga budaya sendiri, selain mempercayai takhayul. Saya tidak bermaksud untuk menjadi sompral atau sombong, tapi saya menginginkan adanya penjelasan yang logis mengenai kepercayaan-kepercayaan tersebut. Mungkin, kepercayaan bahwa saat ada tiga orang berfoto bersama, orang yang berdiri di tengah akan mati muncul karena ada seseorang yang merasa iri tidak bisa berfoto bersama dan, untuk mengungkapkan kekesalannya, membuat kepercayaan tersebut. Bisa jadi, 'kan? Apakah posisi kita saat berfoto bersama menentukan jatah usia kita? Kalau seperti itu sih, bisa-bisa semua orang tidak mau berfoto bersama. 

Sebagai (setengah) keturunan Tionghoa, saya sangat mengenal takhayul yang satu ini: angka 4. Saat naik lift di mal atau bangunan-bangunan bertingkat, tidak jarang saya melihat tombol lantai 4 digantikan oleh tombol lantai 3A. Selain itu, tombol lantai 13 juga kadang-kadang digantikan dengan tombol lantai 12A. Mengapa bisa seperti itu? 

Bahasa Mandarin merupakan tonal language. Ini artinya, perbedaan nada mempengaruhi makna kata. Dalam bahasa Mandarin terdapat 5 nada yang berbeda untuk setiap kata. Jika diucapkan dengan nada yang berbeda, satu kata yang secara bunyi terdengar sama dapat memiliki makna yang berbeda. Kembali ke masalah tombol lantai lift, angka 4 dalam bahasa Mandarin adalah "Sì" (四). Sayangnya, verba mati dalam bahasa Mandarin adalah "Sǐ" (死). Memiliki bunyi yang sama, mencantumkan angka 4 dapat dianggap membawa kesialan karena angka 4 dalam bahasa Mandarin, jika dibaca dalam nada yang berbeda, dapat memiliki arti yang lain (dalam hal ini, mati). Oleh karena itulah, pada lift dan bangunan seringkali sebutan lantai 4 digantikan dengan sebutan lantai 3A (bahkan ada juga yang melewati angka empat begitu saja, sehingga setelah lantai 3 adalah lantai 5). 


Di gedung fakultas saya, pada lift tidak terdapat tombol lantai 3A; kami menyebut lantai 4 sebagai lantai 4, sebagaimana mestinya. Apakah hal tersebut lantas memberikan kesialan bagi semua pengguna gedung fakultas? Entahlah, tapi (puji Tuhan) selama ini tidak ada hal-hal yang benar-benar buruk menimpa kami sebagai pengguna gedung. Terlepas dari adanya kejadian-kejadian metafisika yang, konon, sering terjadi di lantai 4, penggunaan 'lantai 4' dan adanya tombol lantai 4 di lift tidak sampai membuat gedung fakultas saya mendapatkan kesialan. Mungkin karena mayoritas pengguna gedung fakultas (dosen dan mahasiswa) bukan merupakan keturunan Tionghoa? Entahlah, namun saya, selaku (setengah) keturunan Tionghoa pun tidak percaya dengan takhayul tersebut. Atau mungkin, takhayul hanya 'bekerja' pada orang-orang yang memang percaya pada takhayul tersebut? Katanya, kekuatan pikiran itu sangat besar. 

Katanya. 

Saturday, August 15, 2015

Lemantun dan Rahim Ibu

Setelah cukup lama vakum dari dunia Soundcloud, hari ini saya mengunggah piano cover dari lagu Jepang berjudul Nada Sousou. Bagi saya, lagu tersebut begitu menyentuh, terutama dari segi lirik. Lagu yang menceritakan tentang seseorang yang mengenang sosok tercinta yang telah pergi mendahuluinya itu ditulis oleh Ryoko Moriyama dan BEGIN, band asal Jepang, namun popularitasnya melejit saat lagu itu dipopulerkan kembali oleh Rimi Natsukawa di tahun 2001. 

Setelah selesai mengunggah lagu, saya sempat melihat-lihat koleksi karya-karya yang saya sukai. Salah satunya adalah lagu berjudul Lagu Ibu, yang merupakan soundtrack dari sebuah film pendek berjudul Lemantun. Lagu tersebut ditulis oleh Gardika Gigih. Diaransemen dengan sederhana, Lagu Ibu berhasil menyajikan nuansa teduh dan menyentuh. Dentingan piano yang melankolis berhasil membuat saya teringat akan masa kecil saya yang, notabene, banyak dihabiskan bersama ibu saya karena ayah saya pada saat itu bekerja di luar kota.



Film Lemantun sendiri belum pernah saya tonton. Film yang disutradarai Wregas Bhanuteja ini menjadi salah satu nominator di ajang XXI Short Film Festival 2015 dan, menurut beberapa sumber, berhasil memenangkan festival tersebut. Salah satu sumber yang saya baca adalah sebuah artikel dari majalah Provoke yang mengupas filosofi lemari dari film tersebut. Lemantun, dalam bahasa Jawa, berarti lemari, dan dalam film ini, lemari menjadi key item yang mengantarkan makna untuk para penonton. Saat membacanya, tiba-tiba saya teringat dengan materi psikoanalisa yang sempat saya pelajari di semester 5 dan 6 kemarin. 


Sinopsis
Lemantun menceritakan tentang seorang ibu yang meminta kelima anaknya berkumpul untuk membagikan warisan kepada masing-masing anak. Tri, anak ketiga, merupakan anak yang bisa dikatakan tidak sesukses kakak dan adiknya. Saudara-saudaranya memiliki kehidupan yang bisa dikatakan mapan. Ada yang bekerja menjadi kontraktor, ada yang bekerja menjadi dokter, ada yang mendalami dunia fotografi, dan lain-lain. Dibandingkan empat saudaranya, Tri hanyalah seorang penjual bensin yang membuka usahanya di depan rumah orang tuanya. Tri bahkan masih tinggal bersama sang ibu dan belum berkeluarga. 

credit: http://jaff-filmfest.org/open-air-cinema-lemantun/

Sang ibu pun mewariskan lemari, satu untuk masing-masing anaknya. Lemari-lemari warisan tersebut merupakan lemari yang dibeli untuk masing-masing anaknya saat mereka lahir. Setiap anak diharuskan untuk membawa lemari tersebut di hari yang sama karena, jika tidak, si ibu mengancam akan memberi denda. Anak-anaknya pun mencari berbagai cara untuk bisa membawa lemari tersebut, tapi berbeda dengan Tri yang, notabene, belum mempunyai rumah sendiri.
credit: http://jaff-filmfest.org/open-air-cinema-lemantun/

Lemari-lemari warisan tersebut memiliki akhir yang, bisa dikatakan, agak ironis. Lemari yang seharusnya menjadi kapsul waktu tersebut ada yang dibiarkan saja tak dipakai. Ada juga yang dijual. Berbeda dengan lemari yang lain, lemari milik Tri justru disimpan dan dirawat. Lemari yang didapat oleh Tri merupakan lemari yang biasa digunakan Tri saat masih kecil dulu untuk bersembunyi. Tri bahkan sempat masuk ke dalam lemari dan diam di sana--sebuah scene yang melankolis. Pada akhirnya, lemari yang diwariskan untuk Tri digunakan untuk berjualan bensin. 


State of Jouissance
Seperti yang saya katakan sebelumnya, artikel yang diterbitkan oleh Provoke tersebut mengingatkan saya dengan materi psikoanalisa yang saya dapatkan di semester 5 dan 6. Psikoanalisa sendiri, seperti yang bisa ditebak dari namanya, merupakan cabang ilmu psikologi, namun juga bisa dijadikan sebagai pendekatan untuk menelaah karya-karya sastra. Menurut Bressler (2007:149), dengan menerapkan teknik-teknik psikoanalisa pada karya sastra, sebuah karya dianggap sebagai mimpi-mimpi si penulis karya yang, di dalamnya, terdapat keinginan dan dorongan-dorongan yang selama ini disembunyikan. Akan tetapi, Tyson (2006:35) berpendapat bahwa pendekatan psikoanalisa tidak dapat efektif membongkar keinginan tersembunyi si penulis karya melalui analisa karakter dalam karya tersebut karena karakter-karakter tersebut bukanlah sosok nyata dan, oleh karena itu, tidak memiliki jiwa nyata yang dapat dianalisa. Meskipun demikian, untuk mempelajari penerapan teori psikoanalisa, kita dapat mencoba menganalisa perilaku karakter dalam karya sastra dengan menggunakan pendekatan psikoanalisa. 

Dalam Lemantun, ada satu scene yang menggambarkan karakter Tri masuk kembali ke dalam lemari. Seperti yang dikutip oleh Provoke, Wregas mengatakan bahwa lemari merupakan gambaran dari rahim. Sejalan dengan ini, di salah satu sesi perkuliahan dosen saya mengatakan bahwa dalam psikoanalisa terdapat sebuah konsep yang disebut sebagai Lustprinzip, atau yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai pleasure principle. Konsep ini berkaitan dengan keinginan yang ada dalam setiap diri manusia untuk mencapai state of jouissance, keadaan di mana manusia selalu merasa puas dan nyaman. Kepuasan dan kenyamanan tanpa batas tersebut didapat manusia saat ia masih berada di dalam rahim ibunya. Bayangkan bayi yang masih berada di dalam rahim ibunya. Saat ia lapar, ia tak perlu bersusah payah mengambil piring, menyendok nasi, atau bahkan mencari uang untuk bisa mendapatkan makanan; makanan bisa ia dapat dari ibunya. Si bayi tidak akan merasa kedinginan karena rahim ibu memberikan kehangatan yang membuatnya merasa nyaman. Tidak ada rasa takut atau ketidaknyamanan yang mengancam; rahim ibu pun menjadi semacam surga kecil. Kelahiran si bayi menandakan akhir dari kenyamanan dan kepuasan tanpa batas yang sebelumnya ia dapatkan. Si bayi kini masuk ke dunia, sebuah tempat baru yang berbeda. Bayi yang baru lahir untuk pertama kalinya merasakan udara luar yang mungkin dingin, tidak sehangat saat ia berada di dalam rahim. Saat ia lapar, ia harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang ia inginkan (kita tahu bayi kalau lapar biasanya menangis). Segala sesuatunya menjadi berbeda. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka muncullah apa yang disebut sebagai kecemasan atau anxiety. 

Kecemasan itu sendiri merupakan 'peringatan' yang menandakan adanya ancaman yang dapat mengakibatkan perasaan tidak nyaman, dan ancaman tersebut dapat datang dari luar (lingkungan sekitar dan orang lain) atau dari dalam (Emanuel, n.d.). Kembali ke Lemantun, sosok Tri mengalami kecemasan yang datang, tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam. Dari luar, karena ia merasakan sentimen saudara-saudaranya yang telah bekerja dan memiliki kehidupan yang mapan terhadap dirinya yang hanyalah penjual bensin dan belum berrumah tangga. Tri juga mengalami konflik batin yang disebabkan oleh perasaan 'minder' karena kondisinya yang belum mapan dan kenyataan bahwa ibunya semakin tua. Pewarisan sesuatu, mau tidak mau, mengingatkan kita akan sebuah kenyataan pahit bahwa setiap manusia akan meninggal. Bagi Tri, pewarisan lemari tersebut bisa saja memicu kecemasan dan ketakutan akan kehilangan sosok sang ibu yang selama ini tinggal bersamanya. Perlu diingat bahwa Tri, sampai usianya yang dewasa itu, masih tinggal bersama sang ibu dan merawatnya. Kita bisa membayangkan sendiri kedekatan antara Tri dan sang ibu. Oleh karena itu, pewarisan lemari tersebut sudah tentu bukanlah sekedar pemberian barang peninggalan bagi Tri; ada peringatan awal terhadap ancaman 'kehilangan sosok yang dicintai' di balik pewarisan tersebut.

Kehidupan yang kurang mapan, belum berkeluarga, serta ketakutan akan kehilangan sang ibu yang sangat disayanginya menjadi ancaman besar yang memberikan Tri kecemasan. Saat kecemasan muncul, secara alamiah seseorang akan menunjukkan apa yang disebut sebagai mekanisme pertahanan diri atau defense mechanism. Mekanisme pertahanan diri merupakan dorongan yang dapat mencegah munculnya pikiran-pikiran atau perasaan yang tidak menyenangkan (McLeod, 2009). Mekanisme tersebut muncul secara otomatis dan bekerja tanpa disadari, seperti halnya sistem imun pada manusia (Vaillant, 1994 dalam Bowins, 2004). Pada tahun 1977, seorang psikiater bernama George Eman Vaillant mengatakan bahwa mekanisme-mekanisme pertahanan diri dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelas, yaitu pathological (primitif), immature (belum matang), neurotic (menengah), dan mature (matang/dewasa). Masing-masing kelas memiliki beberapa jenis mekanisme. Salah satu mekanismenya adalah regresi, yang diklasifikasikan ke dalam mekanisme kelas menengah. Saat seseorang mengalami regresi, ia akan menangani atau menghadapi masalahnya dengan cara yang dilakukannya saat ia masih berada di tahap perkembangan awal (semisal, anak-anak). Masuknya Tri ke dalam lemari seperti memutar kembali waktu saat Tri masih anak-anak dan sering masuk ke dalam lemari untuk bersembunyi. Hal ini semacam menggambarkan regresi yang ditunjukkan oleh sosok Tri sebagai mekanisme pertahanan dirinya dalam menghadapi kecemasannya. Di sisi lain, analogi lemari sebagai rahim ibu juga menyiratkan keinginan Tri untuk bisa kembali ke state of jouissance. Karena tidak mungkin bagi Tri untuk kembali masuk ke dalam rahim ibunya, lemari warisan ibunya-lah yang akhirnya berperan sebagai 'rahim' bagi Tri. 


Cinta Ibu
Membaca artikel-artikel mengenai film Lemantun membuat saya secara pribadi tersadar akan kenyataan bahwa, terlepas usia saya yang tak lagi bisa disebut anak-anak, saya masih menginginkan dan (akan terus mencari) suasana tenang dan hangat yang diberikan oleh sosok ibu. Lemari warisan yang dimiliki oleh Tri dari ibunya seperti menjadi simbol akan cinta dan kasih sayang seorang ibu yang tak ada akhirnya. Dari Lemantun, saya menangkap pesan bahwa, meskipun suatu hari si ibu akan pergi meninggalkan Tri, ia tidak akan begitu saja meninggalkan Tri. Lemari warisan itu seolah menjadi simbol cinta sang ibu yang tidak akan ada habisnya, serta menjadi 'rahim' di mana Tri dapat menenangkan diri dari kehidupan nyata yang mungkin tidak seindah yang dibayangkan. Singkatnya, jika Tri tidak bisa kembali ke dalam rahim ibunya, ia masih bisa mendapatkan pelukan dari sang ibu. Dan nanti, saat Tri tak bisa lagi mendapatkan pelukan dari ibunya, ada 'rahim' ibunya yang dapat ia kunjungi untuk menenangkan diri. 

Secara pribadi, saya pernah bersembunyi di dalam lemari saat saya masih kecil. Kalau tidak salah, saat itu usia saya sekitar 6 atau 7 tahun. Dulu saya tinggal di rumah peninggalan nenek saya. Rumah antik itu memiliki cukup banyak kamar dan di salah satu kamar terdapat sebuah lemari kayu raksasa. Lemari dua pintu itu memiliki sebuah cermin kaca besar berbentuk oval di salah satu pintunya. Saat pintu bercermin itu dibuka, ada sebuah ruang yang cukup besar yang digunakan untuk menggantung jas atau gaun. Saya dulu sering bersembunyi di dalam lemari itu, biasanya saat takut mendengar suara petir atau dentuman lodong atau meriam bambu yang diarak saat pawai menjelang Hari Kemerdekaan. Setiap saya menutup telinga, ibu saya selalu memarahi saya, memaksa saya agar mau berani menghadapi ketakutan saya. Namun, ada masa di mana saya benar-benar tidak tahan lagi mendengar suara-suara itu. Di saat itu-lah saya biasanya akan bersembunyi di dalam lemari itu dan, setelah beberapa saat, ibu saya akan menemukan saya di dalam lemari itu dan menenangkan saya. 

credit: thankx4stayin

Saya memang belum setua Tri. Saya bahkan belum menonton filmnya. Namun dari pembahasan film Lemantun, saya dapat merasakan apa yang Tri rasakan. Saya rasa kita semua bisa merasakannya, ketakutan akan kehilangan sosok yang disayangi, yang memberikan kita kenyamanan dan ketenangan. Sayangnya, semua manusia akan mati, termasuk ibu kita. Dan pada akhirnya, pembicaraan mengenai kerinduan akan kasih sayang ibu tidaklah melihat berapa usia kita. Terlepas dari kehidupan kita sebagai orang dewasa dan seberapa mapannya hidup yang kita jalani, kita tak bisa mengelak bahwa tidak ada ketenangan dan kehangatan yang dapat mengalahkan ketenangan dan kehangatan yang kita dapat di dalam pelukan seorang ibu. 


Referensi
  • Bowins, B. (2004, Maret). Psychological Defense Mechanisms: A New Perspective. The American Journal of Psychoanalysis, 64(1). Diambil dari http://bowins.com/downloads/psychological_defense_mechanisms.pdf pada tanggal 21 Desember 2014.
  • Bressler, C. E. (2007). Literary Criticism (4th ed.). New Jersey: Pearson Prentice Hall.
  • Emanuel, R. (n.d.). Anxiety. Diambil dari http://www.freud.org.uk/education/topic/10575/subtopic/40014/ pada tanggal 15 Agustus 2015
  • McLeod, S. A. (2009). Defense Mechanisms. Diambil dari Simply Psychology: http://www.simplypsychology.org/defense-mechanisms.html pada tanggal 5 Desember 2014.
  • Tyson, L. (2006). Critical Theory Today (2nd ed.). New York: Routledge.
  • Vaillant, G. E. (1977). Adaptation to life. Boston: Little, Brown [artikel didapat dari http://en.wikipedia.org/wiki/Defence_mechanisms]

Tuesday, August 4, 2015

[Review] Bloemen

Minggu lalu saya dan ayah pergi makan siang. Sebetulnya bukan makan siang sih karena jatuhnya jadi sebatas ngemil, tapi ngemil agak berat (loh?). Rencana awalnya memang mau sebatas ngopi sambil ngobrol (mungkin tentang skripsi saya atau hal-hal semacamnya), tapi terus saya bilang ke ayah ada restoran unik bergaya kolonial Belanda dulu di Cipaganti. Walhasil, kami jadi pergi ke restoran itu. 

Bloemen. Nama restorannya adalah Bloemen. Berlokasi di jalan Bosscha no. 45 (pas persimpangan SPBU Cipaganti langsung belok kiri dan belok kiri lagi), Bloemen mencoba menghidupkan kembali suasana jaman kolonial Belanda dulu, Dari mulai desain interior ruangan sampai menu makanan dan minuman yang ditawarkan, makan di Bloemen ini serasa turn back time beberapa puluh tahun yang lalu saat para meneer dan mevrouw sore-sore menikmati teh sambil ngemil kue-kue. 

©2015 Klaus R Dewanto

Teduh
Kesan pertama yang saya dapat pas tiba di Bloemen adalah teduh. Berlokasi di jalan Bosscha yang banyak pohon-pohon besar, serta adanya awning merah marun yang menghiasi teras depan membuat restoran ini terkesan teduh. Meskipun demikian, jarak antara teras dengan tempat parkir yang menurut saya terlalu dekat membuat fasadnya terkesan riweuh, meskipun sebetulnya kalau di area parkir tidak ada banyak kendaraan sih kita bisa melihat dan menikmati keindahan fasad depannya dengan lebih baik. 

Bloemen sendiri dalam bahasa Belanda berarti bunga (or at least something floral). Di bagian depan restoran memang tidak banyak tanaman bunga, tapi di taman belakang dan sampingnya ada, jadi nama tidak menipu. Di teras depan ditanami semacam tumbuhan paku setinggi perut orang dewasa yang menjadi pembatas alami antara teras depan dengan area parkir. Awalnya saya dan ayah mau makan di teras depan, tapi berhubung saat itu cuaca sedang cukup panas, jadi kami memutuskan untuk makan di dalam. Area makan di teras depan dan teras samping menggunakan kursi-kursi rotan warna putih yang mengingatkan saya dengan Café Parisien di kapal pesiar mewah RMS Titanic. 

"Titanic Cafe Parisien" by Robert John Welch (1859-1936), official photographer for Harland & Wolff


Rumah Oma
Bagian dalam restoran didominasi oleh dinding berwarna gading, meskipun pada salah satu sudut ruangan temboknya dicat merah terang (dan jadi focal point yang unik). Lantainya pakai ubin abu-abu tua dan ubin bermotif khas rumah-rumah peninggalan jaman kolonial (dan katanya sekarang susah loh cari ubin itu). Ubin abu-abu tua itu biasa saya lihat di rumah oma saya, jadi ada semacam feeling seperti berkunjung ke rumah oma saat kami masuk ke dalam ruangan. 

©2015 Klaus R Dewanto

Berbeda dengan seating area di teras, di bagian dalam furnitur yang digunakan sedikit lebih modern karena menggunakan kursi-kursi makan kayu yang desainnya cukup kontemporer. Ada juga sofa di beberapa sudut ruangan yang menambah kesan kontemporer pada ruangan, meskipun sebetulnya saya expect something more classic. Lampu-lampu gantung dengan kaca patri menambah sentuhan bohemian tersendiri, kalau kata ayah saya. Foto-foto jaman dulu dipajang di hampir semua sudut ruangan. Ada juga semacam lemari kaca besar yang menyimpan fine china. Selain foto, ada juga beberapa barang antik seperti radio tua dan pesawat telpon yang memperkuat kesan seolah-olah saya benar-benar ada di rumah oma. 

Di teras belakang, di dekat pintu menuju seating area teras belakang, ada sebuah piano upright. Meskipun pianonya tidak nampak jadul (Yamaha tipe-tipe yang cukup baru, mungkin keluaran tahun 2000an awal), tapi keberadaan piano dan foto-foto yang dipajang di atasnya menjadi focal point tersendiri di seating area teras belakang. Piano ini bisa dimainkan. Kebetulan sambil nunggu makanan datang, saya main piano. Keasyikan main piano, saya sampai dipanggil sama ayah karena katanya makanannya sudah datang. Jadi seperti anak kecil yang keasyikan main sampai harus dipanggil ibu atau ayahnya buat makan. 

©2015 Klaus R Dewanto


Mixed fries dan chocolade mint
Karena niat awalnya hanya sekedar ngopi dan ngobrol dengan ayah, kami tidak pesan makanan yang berat (toh di rumah juga sudah makan). Like father like son, saya pesan chocolade mint seperti ayah saya. Untuk light meal, saya pesan mixed fries dan ayah saya pesan risoles (saya lupa isinya apa). Chocolade mint adalah minuman coklat dingin dengan daun mint yang ikut di-blend bersama coklat. Biasanya kalau pesan minuman chocolate mint, yang digunakan itu kan sirup mint atau ekstraknya, kalau ini justru daunnya langsung dan ikut di-blend dengan minumannya. Walhasil, minumannya terasa seperti ada rasa daunnya (kebayang kan seperti apa rasa daun?), tapi tetap enak kok. Kata ayah saya, rasa mintnya jauh lebih authentic daripada kalau pakai sirup mint. 

Mixed fries dan chocolade mint | ©2015 Klaus R Dewanto

Restoran ini menjual juga steak, tapi berhubung sudah makan ya terpaksa tidak pesan steak. Mungkin lain kali kalau ke sana coba pesan steak deh, and I'll tell you what I think of it, okay? Nah, untuk mixed fries sendiri menurut saya dari segi kandungan gizi, saya dapat karbohidrat dan protein. Karbohidrat saya dapatkan dari dua jenis kentang goreng, shoestring dan potato wedges. Potato wedges-nya sudah berbumbu. Rasanya lumayan, sedikit spicy tapi tidak sampai pedas banget. Untuk level cemilan, porsinya cukup banyak jadi bisa saya bagi dua dengan ayah. Nah, selain goreng-gorengan kentang, ada dua jenis gorengan lain yang turut disajikan bersama gorengan kentang. Yang bentuknya lebih pipih itu ternyata jamur yang digoreng tepung. Tapi jangan bayangkan jamur crispy yang biasa dijual di stan-stan. Saya nggak yakin jenis jamurnya apa, antara jamur merang atau shiitake. tapi yang jelas sensasinya mengejutkan. Dari luar memang renyah, tapi saat digigit ternyata jamurnya masih basah dan sensasi juicy-nya jadi semacam taste twist buat saya. Untuk yang bola-bola itu, ternyata isinya daging sapi yang dihaluskan. Teksturnya lembut dan rasanya cukup lezat. 


Untuk ayah saya, ada risoles yang cukup besar dan, ternyata, meskipun berhasil dihabiskan tapi ayah saya cukup kekenyangan. Saya lupa isiannya apa tapi seingat saya sih looks creamy and cheesy (dan itulah sebabnya saya nggak mau nyoba). Risoles disajikan dengan sambal Bangkok. Kata ayah sih lumayan rasanya. Mungkin kapan-kapan saya harus coba juga. 

Bicara tentang harga, range-nya dari mulai belasan ribu sampai puluhan ribu (atau mungkin ratusan ribu ya, saya lupa karena nggak banyak memperhatikan harga-harganya dan lebih fokus ke desain interior restoran). Untuk steak sih harganya di kisaran puluhan sampai ratusan ribu. Yang jelas sih, seingat saya untuk light meal kisaran harganya dari mulai 20 ribu sampai sekitar 30 ribuan. Kalau dibandingkan dengan porsi dan rasa, menurut saya sih cukup worthy harga segitu. Saya lupa harga risoles yang dipesan ayah berapa tapi kalau tidak salah sih di kisaran 20 ribuan juga. Harga minumannya dari mulai belasan ribu hingga 30 ribuan. Range-nya di kisaran standar restoran kalau menurut saya dan kalau dilihat dari kenyamanan tempat, restoran ini worth visiting loh. Sayangnya, saat berkunjung musik yang diputar itu nggak begitu pas dengan suasana. I was expecting something like Nederlands-Oost-Indië songs (semisal lagu-lagunya Wieteke van Dort atau Ben Snijders), tapi ternyata lagu yang diputar genre-nya lebih kontemporer, dari mulai dance sampai brit rock. Mungkin kalau saya berkunjung lagi, saya coba bilang ke pelayan atau manajernya buat lebih menyesuaikan musik yang diputar dengan suasana restoran. 


Overall commentary
Bloemen menyajikan tidak hanya masakan dan minuman ala Indo-Belanda, tetapi juga suasana yang membuat kita seolah dibawa kembali ke era penjajahan Belanda (tapi bukan berarti disiksa ya). Suasana restoran yang tenang dan teduh, serta desain interior yang sangat mencerminkan konsep Indo-Belanda bikin pengunjung nyaman buat berlama-lama disana. Secara keseluruhan harga makanan dan minuman yang ditawarkan juga nggak mencekik. Anak kuliahan boleh lah sesekali makan di sini, karena nggak akan sampai bikin bangkrut juga kok (kecuali kalau sekali pesan langsung habis ratusan ribu). Jaringan wi-fi tersedia di sini, jadi buat ngopi atau ngemil sambil ngerjain skripsi di sini bakalan nyaman banget. 


By the way, itu foto saya dan ayah saat di sana. Maafkan muka kami ya. Saya yang di kiri, ayah yang di kanan. Awas salah orang (loh?). 


Nyam-marking
Ambiance: ★★★★★★★★☆☆ (8/10)
Taste: ★★★★★★★✬☆☆ (7.5/10)
Price: $$$--



Bloemen
Jalan Bosscha no. 45
Ph: 022-2032035

Thursday, July 23, 2015

[Review] CUPS Coffee & Kitchen

Sudah lama nggak bikin review tempat ngopi dan ngadem. Maklum lah deadline terjemahan benar-benar mencekik. Belum lagi revisi skripsi dan PR dari les piano yang masih numpuk. Masih untung ini masih bisa ngemil. 

Jadi sore ini saya dan koko saya pergi ke CUPS Coffee & Kitchen yang berlokasi di jalan Trunojoyo no. 25. Lokasinya menurut saya cukup strategis, terutama kalau kalian sedang atau hobi belanja karena di jalan Trunojoyo dan Sultan Agung ada banyak distro yang bisa dikunjungi. Tapi saran saya sih kalau mau belanja dulu, baru ngopi. Anggap saja singgah di oasis setelah berburu diskon. Awalnya saya memang nggak ada rencana khusus buat datang ke CUPS. Hari ini saya dan koko saya keliling Sultan Agung dan Trunojoyo, singgah dari satu distro ke distro lain, siapa tahu ada kaus atau jaket bagus dan kita bisa beli (angbao lebaran masih ada nih!). Setelah makan siang, mulut masih gatel nih karena ingin minum kopi dan walhasil, mendadak mencari tempat yang dekat untuk ngopi. Koko saya tiba-tiba mencetuskan CUPS karena sebelumnya kami pernah lewat saja, tapi penasaran dengan tempatnya. Maka akhirnya diputuskanlah kami ngopi di CUPS. 


Lokasi dan desain interior bangunan
Terletak di jalan Trunojoyo nomor 25, CUPS Coffee & Kitchen cocok dijadikan rest area buat para shoppers yang kelelahan setelah mengunjungi distro-distro dan belanja. Lokasinya yang berada di distrik distro juga memudahkan saya yang, pada saat itu, harus balik ke Blackjack untuk beli jaket yang akhirnya saya putuskan mau beli. Saya dan koko datang sekitar pukul tiga sore dan cuaca saat itu berawan (which is a good weather to sip some coffee). Kami disambut dengan interior minimalis yang manis. Dinding ruangan utama berwarna abu-abu muda. Lantainya pakai parquet dengan warna coklat tua, cukup kontras dengan dinding. Beam warna hitam juga dibiarkan saja terekspos, menyokong atap dan lantai dua yang merupakan area minum terbuka. 

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto

Untuk seating area, bisa dibilang ada empat area. Area yang pertama adalah area terdepan (paling dekat dengan pintu masuk). Ada split level, naik sedikit, kita sampai di area kedua--ruang utama yang bentuknya memanjang, dengan deretan jendela-jendela kaca di dinding atas sehingga ada banyak cahaya yang bisa masuk ke ruangan. Disini ada lebih banyak meja dan kursi. Selain itu ada juga tempat yang sedikit mojok, di sisi kiri ruangan utama. Yang terakhir, seating area juga ada di lantai dua. Kalau di sana, karena tempatnya di luar ruangan mungkin lebih cocok untuk suasana yang lebih berisik (semisal kalau bawa banyak teman buat ngobrol-ngobrol). Di ruangan utama dan area yang agak mojok, menurut saya sih cocok kalau kita ingin ngopi dengan suasana yang lebih kalem. Tapi kayaknya kalau lagi jam-jam ramai atau weekend sih buat nyari suasana yang lebih tenang agak susah karena banyaknya orang yang datang. 

Yang bikin saya dan koko saya amazed adalah adanya tanaman-tanaman dan props yang berkaitan dengan berkebun. Sisi naturalis saya pun keluar deh saat saya lihat ada beberapa tanaman anggrek yang ditanam di dalam pot tempel di dinding. Ada juga semacam tanaman rambat yang ditanam di dinding kiri ruangan utama (kalau dari arah pintu masuk). Di setiap meja, diletakkan sebuah vas tanaman kecil. Selain itu juga ada tanaman-tanaman semacam sukulen dan kaktus yang ditanam dalam pot-pot kecil. Jadi gatel ingin nyiram tanaman. Yang jelas tanaman-tanaman tersebut menjadi pemanis ruangan utama CUPS Coffee & Kitchen.

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto

Oh ya, saat saya keliling ruangan utama, saya menemukan sebuah pintu yang menghubungkan CUPS dengan Flower Shop yang lokasinya bersebelahan. Namanya juga Flower Shop, yang dijual pastinya bunga. Nah kita bisa pesan bouquet bunga, dari mulai mawar sampai bunga-bunga yang diimpor dari luar negeri. Di sana juga ada beragam pilihan vas yang bisa kita pilih. Selain itu, ada juga semacam display kecil yang memuat mainan dari clay yang menggemaskan! Yay! Habis ngopi, kita bisa beli bunga buat orang yang kita sayangi! Atau mungkin sambil ngopi, diam-diam kita menyelinap ke toko bunga itu, beli satu bouquet bunga terus kembali ke kafe dan kasih surprise buat orang yang kita sayangi. Bisa jadi surprise plan yang kece tuh!

Copyright © 2015 Klaus R Dewanto


Kopi Magic
Karena judulnya ngopi, maka kami harus pesan kopi. Ralat: salah satu dari kami. Berhubung koko saya lebih suka kopi daripada saya, jadi koko saya yang pesan kopi. Sementara itu, seperti biasa saya pesan minuman yang berbahan dasar coklat. Karena kami sudah makan siang, kami pun memutuskan untuk beli light meal saja. 

Koko saya pesan minuman kopi bertajuk Magic. Dari nama turun ke hati, koko saya langsung penasaran dengan minumannya setelah baca namanya. Saya sendiri pesan iced chocolate. Untuk light meal, kami pesan french fries yang disajikan dalam semacam ember berbahan logam yang bagian dalamnya dilapisi oleh semacam kertas. Gemes deh penampilannya. 

Kiri ke kanan: Magic dan Iced Chocolate | Copyright © 2015 Klaus R Dewanto

Untuk rasa sendiri, saya sempat cicipi Magic dan, bagi saya yang bukan penggila kopi, rasa kopinya sangat dominan (ya iyalah). Bittersweet, tapi jatuhnya lebih ke pahit sih (dan itulah kenapa si waiter memberikan gula tambahan). Tapi saat saya coba, ada semacam rasa coklat. Kalau saya bisa tebak, mungkin Magic itu semacam kopi moka. Harusnya koko saya sih yang kasih penjelasan tapi dia sudah keburu tidur jadi.. ya sudahlah. 

Untuk iced chocolate sendiri sih menurut saya oke. Iced chocolate-nya bukan susu coklat (you know what I mean, kan?), dan rasa manisnya juga pas karena saya memang nggak begitu suka yang terlalu manis. Untuk french fries yang kami pesan, dari segi rasa sih lumayan lah ya karena si kentang dikasih seasoning yang bikin rasanya nggak flat atau sebatas asin karena garam aja. Sayangnya karena kami sudah makan siang, kami nggak sanggup buat mencicipi main course. Lha wong perutnya sudah penuh. Tapi semoga saja di lain kesempatan saya dan koko saya bisa kesana lagi dan mencicipi main course-nya (dan tentunya tulisan ini nanti di-update lagi). 

Gimana dengan harganya? Nah, kalau soal harga sih saya dan koko saya sepakat, ada harga ada rupa, meskipun memang urusan rasa sih subjektif. Tapi setidaknya buat saya dan koko saya, rasa makanan dan minuman serta suasana yang ditawarkan cukup lah sebanding dengan harga makanan dan minuman. Magic sendiri harganya Rp 25.000,- per cangkir dan iced chocolate harganya Rp 27.000,- per gelas. Untuk french fries, per 'ember mini' itu harganya Rp 22.000,-. Harga makanan utama seingat saya sih berada di kisaran 30 ribu ke atas (lupa harga paling mahalnya berapa). 


Overall commentary
Secara keseluruhan buat saya dan koko saya, CUPS Coffee & Kitchen merupakan semacam sanctuary saat kami mulai~lapar~mulai~lapar dan mulai haus setelah berburu ke distro sana sini. Lokasinya yang dekat dengan distro-distro (apalagi dari Screamous, Cosmic, dan Babybones) membuat CUPS Coffee & Kitchen ini strategis. Orang nggak perlu jalan jauh buat makan. Parkir motor atau mobil di depan Screamous, terus nyebrang jalan sedikit eh sampai deh di CUPS. 

Desain interior tempatnya kece! Tanaman-tanaman yang ada menambah suasana adem pada desain interior bernuansa rustic. Belum lagi musiknya yang nggak bikin sakit kepala (saya sih berharapnya mereka mau muter mixtape Quiet Storm), ngopi di CUPS jadi lebih nyaman lagi. Waiter dan barista yang ada juga ramah-ramah (saya malah sempat dibantu dicarikan gunting untuk motong label baju). So, kalau ditanya apakah saya dan koko saya mau kesana lagi, jawaban kami adalah ya.

#teamlapar | Kiri ke kanan: saya, koko saya


Nyam-marking
Ambiance: ★★★★★★★★★☆ (9/10)
Taste: ★★★★★★★☆☆☆ (7/10)
Price: $$$--


CUPS Coffee & Kitchen
Jl. Trunojoyo no. 25, Bandung
Opening hours: 10a.m - 10p.m (Minggu-Kamis), 10a.m - 11p.m (Jumat-Sabtu)
Twitter: @CUPSCoffeeShop

Sunday, July 12, 2015

GO-JEK dan curhatan driver GO-JEK

Yaaasss! Dan hari ini untuk pertama kalinya saya menggunakan jasa GO-JEK. 

Awalnya, saya sekedar iseng-iseng unduh aplikasinya dari Playstore. Setelah memasukkan kode referral dari teman saya, akhirnya saya pun dapat saldo gratis 50 ribu di akun GO-JEK saya. Setelah itu, saya justru nggak pakai jasa GO-JEK. Aplikasinya dibiarkan begitu saja, karena waktu itu memang sama sekali belum terpikir untuk menggunakan jasa GO-JEK. Biasanya saya bepergian dengan kendaraan pribadi (mobil) ataupun kendaraan umum, baik angkutan kota maupun ojek konvensional. Selama ini saya sering pakai jasa ojek konvensional langganan saya yang kebetulan mangkalnya nggak jauh dari kompleks. Kenyamanan dan kualitas jasa pangkalan ojek konvensional tersebut, menurut saya, bisa dibilang baik. Kekurangannya adalah, armadanya terbilang sedikit dan sering kali jam kerjanya berubah-ubah. Kadang-kadang jam empat sore masih mangkal, kadang-kadang jam dua sore sudah pada pulang. Dari segi harga, pangkalan ojek langganan itu memang lebih murah dibandingkan pangkalan ojek lainnya yang ada di dekat komplek rumah saya (apalagi dibandingkan sama pangkalan ojek di persimpangan jalan Cihanjuang yang seringkali supirnya ngegetok harga seenak jidat. Setan!). Sayangnya, harga lebih murah tidak berarti ada transparansi harga (apalagi kalau kita nggak nanya harga dari awal), meskipun memang si abang ojek biasanya memberitahu dari awal kalau bakalan ada kenaikan harga. Alasannya biasanya karena naiknya harga BBM. Sayangnya, kalau harga BBM turun, ongkos ojek nggak ikut turun. Angkot juga seringnya gitu. Harga BBM udah turun, ongkos angkot malah makin tinggi. Kadang-kadang nagihnya nggak sopan pula kalau bayarnya kurang. Setan. 

Tampilan antarmuka aplikasi GO-JEK


Pemesanan pertama
Hari ini memang saya ditakdirkan untuk menggunakan jasa GO-JEK. Sebetulnya, waktu itu saya sempat pesan GO-JEK juga, minggu lalu, saat saya harus menghadiri acara buka bersama. Sayangnya, entah karena masalah teknis atau memang kompleks rumah saya yang berada di luar daerah jangkauan GO-JEK (terlepas dari munculnya indikator GO-JEK yang ada tidak jauh dari daerah tempat tinggal saya), aplikasi GO-JEK bilang bahwa pemesanan tidak bisa dilakukan. Asem. Padahal saya lagi buru-buru saat itu. Nah, hari ini saya coba lagi menggunakan aplikasi GO-JEK, pemesanan antar pulang dengan titik awal Simpang Dago. Saya awalnya agak pesimis, kalau-kalau pemesanan nggak akan berhasil lagi karena tujuan saya yang memang jauh dari Dago. Saya takut muncul pemberitahuan bahwa lokasi tujuan saya ada di luar wilayah edar GO-JEK, seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Hal ini juga diperkuat dengan beberapa teman saya yang berpendapat bahwa rumah saya itu kejauhan buat didatangi. 

What's wrong with living in Cimahi sih? At least kita sudah tidak lagi Bandung coret!

Saya pun senang saat diberi kabar bahwa pemesanan saya berhasil dilakukan dan driver GO-JEK sedang menuju Simpang Dago. GO-JEK punya sistem yang sebetulnya mirip dengan kalau kita pesan ojek lewat SMS, di mana kita menghubungi langsung si abang ojek buat jemput kita dari titik awal lalu diantar sampai tujuan. Bedanya, GO-JEK lebih terorganisir dan melalui perantara (aplikasi atau operator). Saat melakukan pemesanan melalui aplikasinya, kita akan disuguhi tampilan peta dengan ikon ojek yang menunjukkan driver terdekat dari tempat kita berada (meskipun driver yang jemput kita nggak selalu driver yang lokasinya paling dekat dengan kita). Menggunakan jasa GO-JEK ini mungkin seperti kalau kita melakukan pesan antar dari KFC. Kita melakukan pemesanan melalui aplikasi, lalu input pemesanan yang kita buat akan disampaikan pada para driver yang lokasinya cukup dekat dengan kita. Kalau ada driver yang lagi vacant dan bersedia jemput kita, akan ada pemberitahuan bahwa pemesanan berhasil dilakukan. Yang lebih bagusnya lagi, menurut saya, si driver akan menghubungi kita, baik lewat SMS dan telpon untuk mengkonfirmasi pemesanan kita. Setelah kita konfirmasi, barulah nanti si driver pergi buat menjemput kita. 

Bayarnya gimana? 

Menurut saya pembayaran ongkos GO-JEK ini transparan. Say goodbye to nawar harga dengan abang ojek sampai berantem! Ongkos yang dikenakan akan bergantung pada jarak yang ditempuh. Apa kita harus ngitung manual jaraknya? Nggak usah! Di aplikasi GO-JEK sudah tersedia kok kalkulator ongkosnya. Kita hanya perlu memasukkan titik awal kita (mau dijemput dimana) dan tujuan kita, dan setelah itu biarlah kalkulator bekerja sama dengan peta untuk menghitung jarak dan ongkos yang harus kita bayar. Metode pembayarannya bisa lewat GO-JEK credit (saldo akun GO-JEK yang dimiliki), cash, atau voucher. 

Apakah kita kena biaya tambahan lainnya? Pajak misalnya? 

Nope! Kalau hasil kalkulasi ongkos kita kena dua puluh lima ribu, ya kita bayar segitu aja. Kecuali kalau mau ngasih tips, ya kasih aja. Saya juga ngasih tips ke driver GO-JEK saya. Oya, di resi konfirmasi juga kita akan dikasih informasi mengenai driver kita. Ya, ada nama dan fotonya untuk mempermudah recognition si driver. Saat kita sudah sampai di tujuan, dari aplikasi akan muncul notifikasi, semacam ucapan terima kasih sudah menggunakan jasa GO-JEK dan minta kita untuk memasukkan rate untuk si driver serta semacam kesan pesan. 


Perjalanannya menyenangkan
Singkat cerita si driver menghubungi saya dan memberitahu bahwa dia sudah ada di lokasi. Saya pun bergegas mencari si driver yang rupanya sudah nunggu di dekat McDonald's. Awalnya agak susah untuk mengenali yang mana driver GO-JEK saya karena saat itu sedang ada banyak orang dan si driver tidak pakai jaket GO-JEK-nya. Setelah menemukan driver dan konfirmasi bahwa saya sudah melakukan pemesanan, sambil saya mengenakan jaket saya, si driver menyiapkan helm dan masker untuk saya. 

This is something conventional ojek drivers rarely do. 

Rupanya ini sudah masuk ke dalam regulasi mereka, bahwa driver harus menyediakan helm dan juga masker untuk penumpangnya, Ojek konvensional seringnya hanya menyediakan helm cadangan, dan kadang-kadang malah nggak menyediakan sama sekali. Sebalnya, saat melihat ada polisi dari kejauhan, kadang-kadang penumpang disuruh turun dan jalan kaki sampai si ojek berhasil melewati pemeriksaan polisi tanpa kena tilang. 

Masker. Menurut saya ini yang keren. Founder GO-JEK memang peduli dengan keselamatan pengguna jasanya, Bukan hanya kepala penumpang yang harus dilindungi, tetapi juga organ dalamnya--paru-paru. Kita pasti sadar betul betapa asap yang keluar dari kendaraan bermotor itu berbahaya buat pernafasan. Semakin banyak kendaraan di jalan raya, semakin banyak polusi yang dihasilkan. Meskipun memang penggunaan masker saja tidak lantas bisa menghindarkan kita dari menghirup asap berbahaya, tapi setidaknya apa yang GO-JEK berikan untuk penumpangnya harus diberikan apresiasi. 

Driver memulai perjalanan setelah memastikan saya sudah siap, sudah mengenakan helm dan masker. Sepanjang perjalanan, si driver banyak ngajak ngobrol saya tentang beragam topik, dari mulai penggunaan jasa GO-JEK sampai geng motor. Tapi memang sih, abang ojek konvensional pun kadang-kadang ngajak saya ngobrol selama perjalanan. Selain itu, pas saya perhatikan cara mengemudinya, driver GO-JEK ini juga nggak membahayakan penumpangnya, but somehow nyetirnya cepat dan lincah. Kalau dibandingkan dengan beberapa abang ojek atau supir angkot yang biasa mereka ulang film Fast and Furious di jalan yang ramai dan hanya memiliki lebar 2 mobil kecil, rasanya lebih tenang pakai jasa GO-JEK. Pernah saya mengalami naik angkot dan duduk di belakang. Cara mengemudi supirnya yang seenak jidat, bikin bahaya pengguna jalan lain, dan ngebut bikin saya nggak tenang. At one point si supir harus mengerem mendadak dan saya pun hampir jatuh dari kursi saya. Sinting! Memangnya dia ngasih asuransi untuk setiap penumpangnya? Saya pun tiba di rumah sekitar pukul sembilan lebih lima belas menit (yah, sekitar dua jam yang lalu lah dari momen tulisan ini dipublikasikan). Saya pesan GO-JEK itu sekitar pukul delapan lebih sepuluh menit, dan menunggu driver sekitar dua puluh menit. Berarti kalau dihitung-hitung totalnya dari mulai pemesanan sampai tiba di rumah itu sekitar satu jam. Untuk perjalanannya sendiri makan waktu sekitar 30 sampai 45 menit. Saya nggak bisa bayangkan kalau saya pulang ke rumah, dari titik awal yang sama, dengan menggunakan angkot. Belum lagi kalau kejebak macet. Kalau seperti itu kejadiannya, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, saya sampai di rumah sekitar pukul sepuluh atau setengah sebelas malam. 

Jadi, setengah jam dari Simpang Dago ke Cimahi, dengan traffic khas malam minggu? BIG YES!


Curhatan driver GO-JEK
Seperti yang saya bilang, driver GO-JEK mengajak saya mengobrol tentang beragam topik. Nah, salah satu topik yang diangkat adalah tentang rasa takut yang dia alami sebagai driver GO-JEK. Kita mungkin pernah lihat beberapa artikel berita tentang para abang ojek konvensional yang memprotes keberadaan GO-JEK yang mereka rasa 'merebut' rejeki mereka. Beberapa bahkan dengan terang-terangan membuat spanduk yang bertuliskan larangan bagi driver GO-JEK untuk masuk ke wilayah edar mereka. Buat saya, perilaku abang ojek konvensional yang seperti itu adalah sebuah ketololan. 

Driver GO-JEK saya, kang Agus, menyebutkan alasannya mengapa dia nggak pakai jaket GO-JEK (waktu itu dia pakai biker jacket yang bikin saya bingung buat mengenali driver saya). Sebelum menjemput saya, kang Agus sempat cerita ke saudaranya tentang rasa takut yang dia alami. Takut diserang abang ojek lain lah, atau diancam, atau dikejar, dan sebagainya. Akhirnya saudaranya menyarankan dia untuk pakai jaket lain, selain jaket GO-JEK. Kang Agus minta maaf karena penampilannya sempat menyulitkan saya untuk mengenali kang Agus. Saya, yang merasa bahwa itu bukan masalah besar, tentu saja memaafkan dan memahami situasi yang kang Agus hadapi. 

Selain tentang jaket, kang Agus juga sempat tanya apakah rute yang diambil melewati beberapa perumahan dengan pangkalan ojek di depannya. Saya bilang saya nggak melewati rute semacam itu (sebetulnya bisa saja sih, tapi saya tolak karena tidak mau sampai kang Agus kena masalah). Kang Agus pun kembali bercerita bahwa dia agak was was kalau melewati beberapa daerah, terutama depan kompleks perumahan yang biasanya ada pangkalan ojek. Kang Agus takut abang ojek konvensional yang mangkal tersebut marah dengan keberadaan GO-JEK dan melarang dia masuk, atau mungkin melakukan tindakan yang lebih berbahaya. Meskipun memang kang Agus mengenakan biker jacket, identitas kang Agus sebagai driver GO-JEK tidak lantas hilang begitu saja karena helm penumpang yang dia berikan pada saya ditempeli stiker GO-JEK. Saya jadi ikut merasa was was karena kalau sampai ada oknum jahat yang mengincar GO-JEK, saya sebagai penumpang ikut kena. Untunglah sepanjang perjalanan tidak sampai ada kejadian buruk. 

Kang Agus juga sempat tanya tentang apakah daerah Cimahi aman. Saya bilang sejauh ini yang saya tahu sih aman. Kang Agus rupanya mengkhawatirkan juga tentang adanya beberapa geng motor yang kalau malam Minggu biasa nangkring di jalan utama kota Cimahi. Saya coba jelaskan sama kang Agus bahwa sejauh ini saya nggak sampai mengalami hal buruk terkait adanya geng motor atau melewati geng motor yang sedang nangkring. Ditambah lagi saya rasa kepolisian Cimahi juga sudah bertindak lebih tegas untuk melawan geng-geng motor yang anarkis. Ketakutan kang Agus terhadap geng motor juga bikin saya jadi was was dan khawatir karena setelah mengantar saya, dia akan langsung pulang ke Ujung Berung. Ujung Berung! Rumah kang Agus di Ujung Berung, tapi jangkauan antar GO-JEK-nya bisa sampai Padalarang. Dari ujung ke ujung, saya membayangkan betapa capeknya kang Agus. Saya pun memberitahu rute menuju Bandung yang saya rasa aman, baik aman dari gangguan atau ancaman oknum-oknum ojek konvensional maupun risiko dicegat geng motor. 


Empati
Mendengar cerita kang Agus, saya merasa empatik sama kang Agus dan juga para driver GO-JEK lainnya yang mungkin memiliki ketakutan dan kekhawatiran yang sama dengan kang Agus. Kemunculan GO-JEK memberikan kemudahan tersendiri bagi para pengguna jasa kendaraan umum. Gimana nggak? GO-JEK menawarkan jasa antar jemput, bahkan pengiriman dan pembelian barang, dan pemesanan layanan bisa dilakukan lewat sentuhan saja. Mau pesen ojek sekarang nggak perlu repot-repot jalan ke pangkalan, atau telpon ke nomor pribadi abang ojek konvensional. Dengan satu aplikasi, pemesanan ojek bisa kita lakukan, lengkap dengan informasi titik jemput dan tujuan, identitas driver, kalkulasi ongkos, serta metode pembayaran. Selain itu, pelayanan yang diberikan juga mencakup konfirmasi pemesanan, serta prosedur keselamatan untuk penumpang, seperti diberikannya helm dan masker. 

Sayangnya, ada pihak-pihak yang menentang keberadaan GO-JEK ini. Mereka menganggap bahwa GO-JEK mengambil rezeki mereka dan menjadi ancaman bagi eksistensi ojek-ojek konvensional. Pihak-pihak inilah yang, di beberapa artikel berita, memberikan ancaman bagi para driver GO-JEK. Driver GO-JEK pun jadi nggak bisa bekerja dengan tenang, karena takut dengan ancaman yang bisa membahayakan mereka. Nah, perilaku oknum-oknum tersebut apakah hanya merugikan GO-JEK saja kah? Bagaimana dengan pengguna jasa GO-JEK yang sudah menunggu untuk dijemput, tapi akhirnya nggak dijemput karena driver GO-JEK dicegat oleh oknum-oknum tersebut dan disuruh pergi, sehingga nggak bisa menjemput pelanggan? Bagaimana dengan penumpang GO-JEK yang jadi ikut kena sasaran oknum-oknum yang mungkin bersifat anarkis? 

Sebagai pengguna jasa, saya punya hak untuk mendapatkan pelayanan yang baik. Walaupun itu sebatas naik angkot atau ojek, tetap saja disitu saya menggunakan jasa mereka, membayar mereka dengan harapan saya mendapatkan pelayanan yang baik. Misalnya, ada sebuah restoran yang memberikan pelayanan yang buruk kepada pelanggannya, apakah pelanggan yang datang mau balik lagi? Kemungkinan nggak, 'kan? Beda dengan restoran yang memberikan pelayanan yang baik untuk pelanggannya. Si pelanggan akan merasa puas dan kemungkinan besar akan kembali lagi, dan mungkin merekomendasikan restoran itu ke keluarga atau rekan-rekannya. Hal yang sama juga, bagi saya, berlaku untuk jasa kendaraan umum. Sejak kena getok harga, saya berhenti menggunakan jasa ojek konvensional yang mangkal di pertigaan jalan Cihanjuang. Saya berani blak-blakan saja sebut tempatnya karena memang perilaku oknum-oknum abang ojek (tidak semua ya begitu ya, harus diingat) yang dengan beraninya main getok harga untuk jarak tempuh yang bahkan kurang dari satu kilometer. Selain getok harga, sikap yang kurang sopan pun bikin saya semakin enggan untuk menggunakan lagi jasa ojek konvensional tersebut. Saya bahkan sekarang pun mulai menghindari penggunaan jasa angkot Cimahi-Ledeng. Bukan sekali dua kali saya mengalami ketidakadilan dari si supir dan juga koordinator angkot yang maksa harus mengangkut penumpang dengan beban yang melebihi daya angkut kendaraan. Apakah saya kebagian tempat duduk sedikit sampai kadang-kadang jatuh, atau ditagih ongkos lagi sampai pernah tangan saya ditarik paksa oleh supirnya dan sikut saya kena spion, yang jelas pelayanan seperti itu bukanlah pelayanan yang saya harapkan. 

GO-JEK sejauh ini menurut saya memberikan pelayanan yang lebih baik, meskipun ojek konvensional langganan saya pun memberikan pelayanan yang baik juga. Kalau begini, nggak salah kalau saya lebih memilih GO-JEK. Jangan salahkan juga orang-orang kalau mereka pindah dan menggunakan jasa baru yang memberikan pelayanan lebih baik. Kita bayar karena kita ingin pelayanan yang baik. Saat orang-orang mulai beralih ke GO-JEK, apakah itu artinya GO-JEK mengambil rezeki mereka? Menurut saya sih nggak. GO-JEK deserves it. Kalau mereka memberikan pelayanan yang lebih baik dan orang-orang suka, ya wajar lah. Lalu maksud dari 'merebut rezeki orang' itu apa? Itu hanyalah excuse dari oknum-oknum yang merasa terancam dengan kehadiran GO-JEK. Mereka seperti merasa tersaingi dengan para driver GO-JEK yang bisa dapat penumpang. Sejauh ini saya belum mendengar berita driver GO-JEK melakukan kekerasan pada abang ojek konvensional. Justru saya pernah dengarnya driver GO-JEK yang jadi sasaran ancaman. Untuk bisa bersaing dengan GO-JEK, ojek-ojek konvensional harus mau meningkatkan kualitas pelayanan mereka. Coba mulai dari transparansi harga dan cara mengemudi yang aman. Penumpang itu manusia loh, bukan benda mati. 

Kesan pertama saya tentang GO-JEK? Bagus. Saya puas dengan pelayanannya. Saya harap di pemesanan berikutnya saya bisa mendapatkan pelayanan yang sama bagusnya, atau bahkan lebih baik lagi. Dan kalau ditanya apakah saya akan menggunakan jasa GO-JEK lagi, jawaban saya adalah YA. 



PS: by the way, ini kode referral saya, siapa tahu mau dapat saldo gratis 50 ribu: 543069643

Thursday, July 9, 2015

Penerbangan pagi

Koper terakhir telah selesai kusiapkan. Koper itu kuletakkan tepat di samping koper besar berwarna biru tua dan backpack American Tourister hitam. Kutaruh windbreaker jacket Superdry-ku di atas koperku agar aku tak lupa mengenakannya nanti. Kulihat ke arah lemari pakaianku yang kini setengah kosong. Seolah tak percaya, aku membawa pergi setengah isi lemariku. Aku menyisakan beberapa pakaian di lemariku, dengan anggapan bahwa aku tak perlu membawa terlalu banyak pakaian saat aku kembali ke sini untuk berlibur. Toh lagi pula aku masih bisa mengenakan kaus kakakku yang ia tinggalkan di lemari pakaiannya. Sekarang aku mulai memahami apa yang kakakku rasakan. Mungkin seperti inilah rasanya meninggalkan rumah. Perbedaannya hanyalah jarak saja. Kakakku masih tinggal di kota yang sama, sedangkan aku tak hanya pindah kota, tetapi juga pindah pulau, bahkan pindah negara. Aku perlu pintu kemana saja, sekarang juga! Pasti senang rasanya jika ada pintu kemana saja. Jarak jauh pun tak menjadi masalah. Aku tak perlu mempersiapkan pakaian sebanyak ini. Aku masih bisa tinggal di rumah meskipun kampusku berada di negara tetangga.

“Reyhan?”

Aku melirik ke arah pintu. Ayah berada di ambang pintu, melihat apa yang sedang kulakukan di kamarku. Ia sepertinya baru saja selesai melaksanakan solat Subuh karena ia masih ada peci hitam di atas kepalanya.

“Buku-buku yang penting sudah dibawa?” tanya ayah.

Aku mengangguk pelan.

“Itu kok biola belum dimasukkan ke tempatnya?” tanya ayah lagi.

Aku melirik ke arah meja belajarku, dimana kutaruh biolaku begitu saja di atasnya. Aku menghela nafas pendek kemudian bergegas memasukkan biolaku dan penggeseknya ke dalam tasnya. Kuperiksa kembali kelengkapannya. Penggesek cadangan, damar, dan senar cadangan sudah ada di dalam tas. Buku-buku partitur sudah kumasukkan di tas terpisah.

“Kalau sampai ketinggalan nanti repot,” ujar ayah, “Apalagi biola ‘kan akan jadi senjata kamu nanti di perkuliahan.”

“Ya, ayah,” jawabku pelan.

Ayah kemudian pergi dan kini tinggal aku sendiri di kamarku. Astaga! Hanya dalam waktu beberapa jam saja aku sudah akan berada jauh dari kamarku. Aku akan merindukan kamarku. Aku akan merindukan semuanya. Tiba-tiba aku teringat ada seseorang yang harus kutemui untuk kuucapkan salam perpisahan. Setengah berlari aku menuju dapur dan melihat keluar melalui jendela dapur. Ah! Syukurlah aku melihatnya di luar! Sosok Alan nampak sedang duduk di kursi kecil di dekat jemuran pakaian. Kubuka pintu dapur dan, bertelanjang kaki, aku menghampirinya. Alan kemudian melihatku. Bibirnya yang pucat membentuk sebuah senyuman kecil.

“Alan, sedang apa?” tanyaku.

“Duduk saja,” jawabnya.

Aku pun duduk di sebuah tembokan pendek yang dulunya ayah gunakan untuk menyimpan pot-pot tanaman besar. Alan ikut duduk di sampingku. Ia memperhatikan wajahku dan menepuk bahuku. Pada awalnya, tangannya terasa sangat dingin, namun berangsur-angsur terasa hangat.

“Hari ini berangkat?” tanya Alan.

“Ya. Sekarang tinggal menunggu mas Eza buat antar ke bandara,” jawabku.

“Viool dibawa juga?” tanyanya.

“Ya. Kalau tidak dibawa, nanti tidak bisa apa-apa disana,” jawabku.

“Aduh. Tidak bisa dengar jou main viool lagi,” sesalnya.

Mataku mulai terasa sembab. Rasanya aku tak ingin meninggalkan rumah ini. Aku tak ingin pergi! Aku ingin disini saja! Tolong batalkan penerbangannya dan buat surat pengunduran diri untukku! Sayangnya sudah terlambat untuk mengatakan bahwa aku ingin melanjutkan sekolahku disini saja. Aku tak mau meninggalkan semuanya.

“Wees niet bedroefd. Reyhan, wees niet bedroefd,” ujar Alan pelan.

Aku menyeka air mata di sudut mataku.

“Dank je, Alan,” ujarku pelan, “Ik zaal je missen.”

“Ik zaal je missen, ook.”

Kudengar klakson mobil dari arah depan rumah. Mas Eza pasti sudah tiba. Aku pamit pada Alan dan masuk kembali ke dalam rumah. Ayah baru keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah ruang tamu. Ia nampak rapi, seolah-olah sudah siap untuk mengantarku ke bandara. Tapi aku adalah cerita yang lain. Kurasa aku belum siap, belum siap secara mental. Sambil membuka pintu ruang tamu, ayah berseru padaku untuk bersiap-siap dan berganti baju. Dengan malas kuganti pakaianku dan kukenakan windbreaker jacket-ku yang di Singapura nanti tak akan ada gunanya. Jujur saja cuaca pagi ini memang sangat dingin. Kurasa ini karena hujan lebat turun kemarin malam.

“Rey udah siap?” kudengar suara kakakku dari arah ruang tamu.

“Sudah. Koper-kopernya masukkan saja ke bagasi,” jawab ayah.

Aku tak mau melihat wajah kakakku! Aku tak mau melihatnya saat ini! Aku tahu jika aku melihatnya, aku akan semakin tak sanggup untuk pergi. Kudengar langkah kaki yang berjalan ke arah kamarku. Aku harus melakukan sesuatu, mungkin bersembunyi atau berpura-pura mencari sesuatu di dalam lemariku agar aku tak harus melihat kakakku. Sosok mas Eza pun kemudian masuk ke kamarku, menyapaku, mengambil koper-koperku dan membawanya keluar untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Saat itu aku sedang pura-pura mencari sesuatu di dalam lemari pakaianku yang sudah setengah kosong. Mas Eza pun kembali lagi ke kamar, namun kali ini memanggilku.

“Rey?” panggilnya.

“Ada apa?” jawabku.

“Lagi ngapain?” tanyanya.

“Nyari sesuatu,” jawabku.

“Sesuatu? Ada yang ketinggalan? Bukannya semua udah kamu masukkan? Lemari kamu sampai sudah kosong setengahnya begitu.”

Aku terdiam. Percuma aku berbohong karena kakakku pasti tahu aku sudah memasukkan semua yang harus kubawa ke dalam koperku. Kukira kakakku akan mengatakan hal yang membuatku semakin tersudutkan, namun ia justru hanya menyuruhku bergegas dan meninggalkanku di kamarku. Kini aku sendirian di kamarku. Kututup pintu kamarku dan kusandarkan punggungku pada pintu kamar. Kupandang kamarku sekali lagi. Semuanya telah rapi, siap untuk kutinggalkan. Bantal, guling, dan selimutku telah tertata rapi. Tak ada buku-buku yang tergeletak begitu saja di atas meja belajarku. Semuanya sudah rapi. Kuseka air mata di pipiku. Cat tembok kamarku, bau kayu lemari pakaian, retakkan pada cermin, serta gorden berwarna coklat tua. Aku akan merindukan ini semua.

“Reyhan, ayo kita berangkat sekarang,” sahut ayah dari luar kamarku.

Aku pun kembali menyeka air mataku. Sebisa mungkin aku berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja di hadapan ayah dan kakakku. Mbak Alia tidak ikut mengantarku ke bandara. Mungkin ia tak tega jika harus membawa si kecil Dira pergi pagi-pagi sekali, hanya untuk mengantarku. Toh lagipula aku sudah berpamitan padanya kemarin sore. Aku bahkan berkali-kali mencium dahi Dira dan memeluknya, berjanji padanya bahwa saat aku pulang untuk berlibur, aku akan membawakannya mainan. Aku tak sempat melihat dapur dan ruang keluarga karena ayah telah berdiri di ambang pintu depan, bersiap-siap untuk menutup pintu. Segera kukenakan sepatuku dan setengah berlari menuju mobil. Sengaja aku duduk di seat belakang agar aku tak perlu bersebelahan dengan kakakku. Bagaimana jika tiba-tiba aku menangis lagi dan kakakku melihatnya? Mobil bergerak mundur, keluar dari pelataran. Aku sempat melihat lagi Alan, kini berdiri di dekat pohon mangga sambil memperhatikan kami. Aku benar-benar akan merindukannya. Ia pasti akan semakin kesepian setelah aku pergi. Toh selama ini yang bisa melihatnya hanya aku.

Kami pun pergi menuju bandara. Mas Eza mengendarai mobil dalam kecepatan yang cukup tinggi untuk mengejar waktu. Check-in dilakukan satu jam sebelum penerbangan. Segala sesuatunya nampak terburu-buru, seolah-olah aku harus segera tiba di bandara secepat mungkin. Itu artinya akan semakin cepat aku berpisah dengan ayah dan kakakku. Aku tak ingin pergi! Aku ingin pulang saja!

“Kalau mau beli sarapan di pesawat, beli saja,” ujar ayah.

“Nanti aja, yah, kalau udah sampai di Singapura,” jawabku.

“Atau kamu beli aja cemilan apa gitu buat dimakan di pesawat,” sambung kakakku.

“Rey bawa biskuit di tas,” jawabku pelan.

Menyebut kata ‘biskuit’ saja rasanya sulit sekali. Aku benar-benar tak boleh banyak bicara. Jika tidak, suara isakan itu akan kembali terdengar dan akhirnya ayah dan kakakku tahu bahwa aku sedang menangis. Kenapa aku begitu cengeng? Ini benar-benar mengesalkan! Jalanan yang lengang membuat perjalanan terasa begitu cepat. Perjalanan dari Tamansari menuju bandara pun dapat ditempuh dalam waktu kurang dari setengah jam. Ini juga karena mas Eza mengemudi dalam kecepatan tinggi. Jujur saja aku selalu takut jika mas Eza mulai mengebut. Setelah mobil terparkir, mas Eza dan ayah membantuku membawakan koper-koper dan tasku. Gila! Aku harus membawa dua buah koper dan satu buah backpack! Belum lagi biolaku! Apa yang akan kulakukan setibanya di Changi nanti? Mencari porter untuk membawakan barang-barangku? Ah, yang benar saja!

“Nanti coba minta tolong seseorang untuk bawakan koper-koper dan tas kamu ke taksi,” ujar ayah.

“Mungkin ada porter yang bisa bantu kamu, atau kamu pakai troli aja sampai taksi,” sambung mas Eza.

Aku mengangguk pelan. Kini kami telah berada di selasar luar bandara. Jam menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit. Itu artinya aku harus segera melakukan check-in. Tak ada banyak waktu untuk mengobrol lebih lama dengan ayah dan kakakku. Aku harus segera masuk. Ayah memelukku, cukup lama karena aku sempat terisak pelan dalam pelukannya. Ia mengusap kepalaku dan berpesan padaku untuk selalu menjaga diri. Dan dalam momen itu, aku akhirnya melontarkan kalimat yang kurasa tak selalu kukatakan pada ayah secara langsung.

“Reyhan sayang ayah,” ujarku terbata-bata.

Ayah kembali mengusap kepalaku, kemudian ia melepaskan pelukannya. Kini aku harus menghadapi kakakku yang, saat melihatku menangis, telah menyiapkan saputangannya. Ia yang menyeka air mataku. Aku tak bisa menahan air mataku lagi. Aku terisak hebat saat mas Eza memelukku. Bahkan saat mas Eza menyuruhku untuk berhenti menangis dan mencoba melepaskan pelukannya, aku menahannya. Ini pertama kalinya aku pergi jauh dan tak akan kembali dalam waktu yang lama, meninggalkan rumah dan keluargaku. Tentu saja ini bukan hal yang mudah, terutama karena selama ini aku terbiasa bersama ayah dan kakakku. Selain itu, kakakku juga menjadi sosok yang paling dekat denganku, terutama setelah kepergian ibu. Saat mas Eza belum menikah, ialah sosok yang setiap harinya menemaniku belajar, mengobrol, dan bermain. Aku seringkali mengunjunginya di kamarnya, menjahilinya saat ia sedang mengerjakan tugas atau sekedar bermain Dota. Mas Eza pun terkadang masuk ke kamarku, memecah konsentrasiku saat belajar karena ia banyak bicara tentang hal-hal yang konyol, dan pada akhirnya tertidur di tempat tidurku dengan laptop yang masih menyala. Bagaimana bisa aku melupakan hal-hal itu, yang selama bertahun-tahun kujalani?

“Reyhan, kamu harus udah check-in sekarang,” ujar mas Eza.

“Rey nggak mau pergi,” ujarku pelan.

“Nanti telat. Ayo masuk sekarang,” tegas mas Eza.

“Rey masih—“

“Jangan cengeng! Masuk sekarang!”

Aku terkejut. Kakakku membentakku di depan umum. Aku pun melepaskan pelukanku dan menyeka air mataku. Akhirnya kulihat wajah kakakku. Matanya nampak merah dan sedikit berair, tapi ia tak mau menunjukkan padaku bahwa ia sedang sedih saat ini. Tanganku masih gemetaran saat aku mencoba membawa kedua koperku dan mulai berjalan menuju pintu masuk ke dalam bandara. Ayah dan mas Eza mengantarku, dan berhenti saat aku mulai memasuki titik pemeriksaan. Kutunjukkan paspor dan tiket pesawatku pada petugas, sementara semua barang bawaanku masuk ke dalam mesin pemeriksaan.

“Nanti mas Eza sesekali  berkunjung ke sana. Kalau ada apa-apa selalu berkabar ya!” seru kakakku.

Aku berbalik dan melihat kakakku. Ia tersenyum kecil. Kubalas senyumannya dan aku pun kembali berjalan.
Kini aku telah berada di dalam bandara, di antara orang-orang yang tak kukenal. Aku benar-benar sendirian sekarang, tanpa ayah dan kakakku. Segera kulakukan check-in sebelum aku benar-benar terlambat. Meskipun aku sangat ragu bahwa aku bisa melewatinya sendiri, aku tetap harus melakukannya. Aku benar-benar tak mau membuang banyak waktu. Semua prosedur segera kulakukan dan aku pun akhirnya berjalan sendiri menuju ruang tunggu. Ada banyak orang di sana dan aku benar-benar merasa kikuk. Kukeluarkan ponselku dan kuperiksa pesan-pesan yang masuk. Teman-temanku rupanya mengirim pesan-pesan perpisahan padaku. Yang benar saja! Kalian ingin aku menangis sekarang? Di tengah keramaian seperti ini? Aku pun membalas pesan mereka satu persatu dan ada kesedihan tersendiri saat kukatakan pada mereka bahwa dalam waktu beberapa jam lagi nomor ponselku sudah tak dapat mereka hubungi, namun aku berjanji aku akan memberitahu mereka nomor ponsel baruku segera setelah kudapatkan kartu seluler baru di Singapura.
Gea Kamila 
5.28 AM - Tenang aja, Rey. Kita masih tetap bisa komunikasi kok. Semangat!


Adriandra Wilander 
5.29 AM - Masih ada LINE kok. Tenang aja. Take care ya disana. Cepet pulang :(

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Terdengar pengumuman bahwa seluruh penumpang penerbangan menuju Singapura telah dapat naik ke pesawat. Kukenakan kembali backpack-ku dan ikut mengantri bersama penumpang lain untuk dapat turun dari ruang tunggu dan masuk ke pesawat. Aku pun kembali sadar aku semakin jauh dari ayah dan kakakku. Mereka mungkin telah kembali pulang. Mereka mungkin sudah berada dalam perjalanan menuju Tamansari. Ayah mungkin nanti akan bersiap-siap untuk kembali bekerja, begitu pula kakakku. Sahabat-sahabatku saat ini mungkin juga sedang bersiap-siap untuk menyambut hari ini. Mereka juga pasti sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk kehidupan baru mereka sebagai seorang mahasiswa, sama sepertiku. Dua orang pramugari menyambutku, menyapaku dengan ramah. Sepuluh. Ah, sepuluh! Sepuluh F! Setelah menemukan nomor tempat dudukku, aku pun menaruh tasku di bagasi atas tempat duduk. Yang kubawa hanyalah pemutar musikku dan headphone. Syukurlah aku mendapat tempat duduk di sebelah jendela. Setidaknya aku memiliki sesuatu yang dapat kulihat, meskipun hanya awan-awan saja. Matahari terbit akan menjadi pemandangan hebat yang kudapatkan di penerbangan pagi ini. Ya, ini karena selama ini aku tak pernah benar-benar memperhatikan matahari terbit.

Seorang anak laki-laki seusiaku menyimpan tasnya di bagasi atas, kemudian melihat ke arahku. Dari ekspresinya, sepertinya ia ingin duduk di sebelah jendela. Oh, apa daya! Kursi ini milikku! Akhirnya ia hanya tersenyum kecil dan duduk di sebelahku. Ia sempat mencoba melihat ke luar jendela, namun akhirnya ia nampak kecewa. Kurasa ia belum bisa melihat pemandangan yang ingin ia lihat, atau mungkin ia tak bisa melihat ke luar dengan jelas. 

“Mau tukeran tempat duduk?” pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulutku.

“Eh? Nggak kok. Nggak usah,” jawabnya.

“Nggak apa-apa. Kayaknya mas mau duduk di dekat jendela,” ujarku.

“Di sini aja. Nggak apa-apa,” jawabnya seraya tersenyum kecil.

Aku membalas senyumnya. Ya sudah kalau memang tidak mau duduk di dekat jendela! Aku baru saja hendak mengenakan headphone-ku dan memutar musik saat anak itu menanyakan sesuatu padaku.

“Liburan?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan.

“Kuliah. Maksudku, baru mau kuliah. Semester satu,” jawabku.

“Wah? Sama dong! Kuliah dimana?” tanyanya.

“NUS, tapi di konservatorium musiknya,” jawabku.

“Sama! Aku juga di NUS, tapi ambil bahasa Inggris,” jawabnya.

Aku tersenyum kecil. Ini benar-benar kebetulan. Aku duduk bersebelahan dengan seorang anak yang juga melanjutkan studinya di NUS. Apakah ia juga mengalami apa yang kualami? Apakah ia merasa sedih karena harus berpisah dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya disini? Anak berkacamata itu kemudian menyodorkan tangannya padaku.

“Kita belum kenalan. Rendra,” ujarnya.

“Reyhan,” jawabku seraya membalas jabatan tangannya.

Rendra mengernyitkan dahinya dan tersenyum kecut. Aku merasa ada yang aneh. Apa jawabaku salah? Atau mungkin, cara menjawabku kurang tepat? Rendra nampak terkejut saat aku menyebutkan namaku. Kurasa tak ada yang salah, kecuali jika ia mengetahui sesuatu yang mungkin menurutnya aneh. Rendra terus mengajakku mengobrol. Pada awalnya aku merasa kikuk. Aku jarang sekali berada dalam situasi seperti ini. Lebih tepatnya lagi, aku tak banyak bicara pada orang-orang yang tak kukenal baik, bahkan saat bersekolah dulu. Namun, sikap Rendra yang terbuka dan ramah membuatku akhirnya merasa nyaman untuk mengobrol dengannya. Ia menjadi teman perjalanan yang menyenangkan dan untuk sejenak, aku lupa dengan perpisahan melankolis yang kualami.

“Reyhan, langitnya bagus!” ujar Rendra seraya menunjuk ke arah jendela.

Aku melihat keluar jendela dan kagum dengan pemandangan yang kulihat. Di bawah kami adalah hamparan awan putih, dan matahari yang baru terbit nampak keemasan, tidak begitu menyilaukan. Cahayanya masuk melalui jendela dan menerpa telapak tanganku yang dingin. Ada semacam ketenangan yang kurasakan setelah aku melihat pemandangan tersebut, seperti ada suara yang memberitahuku bahwa aku akan baik-baik saja. Mungkinkah itu ibu? Aku tak tahu pasti, namun yang jelas aku merasa jauh lebih tenang sekarang. Ya, aku memang sedih karena harus berpisah dengan keluarga dan sahabat-sahabatku, namun ada sesuatu yang meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku takut aku tak dapat berteman dengan baik, dan pada akhirnya aku menjalani kehidupanku di Singapura sendirian. Aku juga takut tak dapat beradaptasi dengan lingkungan baruku. Tapi sekarang ketakutan itu mulai menghilang. Aku bisa menjalaninya. Aku harus bisa.

“Jangan-jangan kita tetangga asrama?” tanya Rendra tiba-tiba.

“Who knows,” jawabku seraya tertawa kecil.

"Aku di PGPR. Kamu dimana?" ujar Rendra.

"Serius? Aku curiga kamar kita sebelahan," jawabku kaget karena, tanpa kuberitahu Rendra, aku pun tinggal di PGPR. 

Sepanjang perjalanan, aku jadi tak mendengarkan musik. Aku mengobrol bersama Rendra. Banyak hal yang membuat kami terkejut, dan kami banyak tertawa sepanjang perjalanan. Rendra bersekolah di SMAN 3, namun anehnya, meskipun masih berada dalam satu kompleks yang sama dengan sekolahku, aku tak pernah melihatnya. Kami mengenang banyak hal tentang masa-masa sekolah, termasuk penjual mie baso di dekat sekolah kami yang terkenal karena rasa makanannya yang lezat. Hal yang paling membuatku terkejut adalah saat kami berdua akhirnya sadar bahwa kami didaftarkan di taman kanak-kanak yang sama. Rendra berjanji akan membawa foto bersama murid taman kanak-kanak dan memintaku menunjukkan diriku di foto tersebut. Aku ingat foto itu, foto bersama dengan murid-murid yang lain. Ada cukup banyak anak di kelasku. Aku saja bahkan tak dapat mengingat semuanya.

Awalnya aku benar-benar tak siap dengan perpisahan ini. Sejujurnya, aku memang masih belum siap. Meskipun aku senang mengobrol dengan Rendra, jujur saja masih ada keinginan untuk kembali pulang. Tapi ternyata penerbangan pagi ini tak seburuk yang kubayangkan. Aku tak benar-benar sendiri. Ya, setidaknya aku punya teman mengobrol selama di pesawat. Setidaknya aku telah mengenal seseorang yang nanti akan tinggal di asrama yang sama denganku, dan mungkin kami akan bertetangga. 

Kurasa inilah awal dari perjalananku yang sebenarnya.