My Fellas!

Now it's time to have healthy snack and fresh premium milk tea. My Fellas will be your next best friend. Check the products out!

Cat Valentine's Anti-Gambling Poem

It's one of my favorite scenes from all Sam and Cat episodes. This one is taken from episode #ToddlerClimbing. I wish you guys would stop gambling and.. stop laughing at the poem as well!

Short-stories by Klaus

Check some short stories written by me!

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, September 28, 2014

The Basketball Player

He was so tall and I was so short
Daiki shot perfectly; he was a good player
Three points, dunks, and high jumps; infinite was his energy
Then something hurt him inside; in silence he cried

The court got smaller and he was taller than the sky
Eyes like panther’s; his opponents were within his observation
Perfect strategy he had. The black-red team conquered the war
But something hurt him inside; in silence he cried

I remembered he had once told me
"The one who can only beat me is me" 
But the pain hurt him and it was inside of him
Daiki beat himself; in silence he cried

Brontë in a figure of basketball player
A teacher had once told me that Brontë lost her sisters almost at the same time
Daiki’s mom passed away two weeks ago and his grandpa’s turn was last week
It hurt him inside; in silence he cried

I condoled with him on his mom’s demise
“Thank you, Tetsuya,” replied he
Then a smile on his face—the thorn lies beneath his blanket
I knew he was breaking inside; in silence he cried

Daiki was so tall; he was a good player
Infinite his energy was. He got the eyes of a panther
But the pain brought him on his knee
and I could hear that; in silence he cried

Aku yang ketiga

  • Ada yang senang bermain di luar saat hujan turun, berlarian menerjang rintik hujan, melompat riang di atas genangan air, atau berbaring di rumput hijau dan membiarkan setiap tetes air yang jatuh mengecup wajah. 
  • Ada yang senang untuk tinggal di dalam rumah, bernaung dan berselimut sambil membaca buku dan mendengarkan alunan petikan gitar yang melankolis, dan berteman dengan secangkir coklat panas. 
  • Ada yang terpaksa tinggal di dalam rumah, menikmati hari hujan dengan secangkir coklat panas dan alunan musik melankolis. Terpaksa berselimut tebal meskipun ingin sekali rasanya menelanjangi diri lalu berlari keluar dan menikmati setiap tetes air hujan yang jatuh dari langit. 
Aku yang ketiga. 

  • Ada yang senang berpetualang, mendaki gunung, menjelajahi rimba, dan berkawan dengan alam. Mencicipi segarnya mata air, menghirup udara pagi yang sejuk, menyapa matahari saat ia tiba dan berkesempatan untuk mengantarnya pulang kembali ke peraduannya. Membuat jejak di atas pasir hangat, bermain layang-layang, dan mencium aroma garam. 
  • Ada yang senang berpetualang, mendaki dari satu lantai ke lantai lainnya dengan eskalator, menjelajahi hutan beton, dan berkawan dengan hingar bingar si metropolitan. Mencicipi makanan berkolestrol tinggi, menghirup udara pagi yang menyesakkan, sebisa mungkin menyapa matahari meskipun terhalangi oleh gedung-gedung tinggi dan tak sempat mengantarnya pulang karena berada di dalam ruangan berpendingin udara. Membuat jejak di media sosial, bermain dengan uang dan mencium baunya. 
  • Ada yang ingin berpetualang, mendaki gunung, menjelajahi rimba, atau sekedar membuat jejak kaki di atas pasir yang hangat, mengejar ombak dan menghitung bintang di malam hari, namun terpaksa harus berada di dalam ruangan berpendingin udara, menoleh ke arah jendela dan melihat pemandangan yang sama setiap hari--hutan beton, sekawanan kuda besi, dan bintang-bintang palsu--mereka menyebutnya neon atau LED. Menikmati lukisan Tuhan yang agung melalui foto dan merasakan sejuknya udara pagi melalui cerita-cerita mereka--yang telah berpetualang sebelumnya, yang merupakan petualang sesungguhnya. 
Aku juga yang ketiga. 

Thursday, September 25, 2014

Malam yang berbeda

Tak ada yang berbeda sore ini. Jam menunjukkan pukul empat sore dan akhirnya aku dapat pulang dari kantorku. Kurapikan meja kerjaku. Alat-alat tulis kukembalikan pada tempatnya. Berkas-berkas dan sketsa-sketsa kasar kumasukkan ke dalam folder. Kumatikan komputerku. Kubuat catatan penting mengenai surel yang harus kukirimkan besok dan kutempelkan lembar post-it berwarna hijau muda itu di layar komputer. Kukenakan jaketku dan ranselku, lalu keluar dari kubikelku. Adit, rekan kerjaku, pun sedang bersiap-siap untuk pulang. Ia merapikan meja kerjanya dan setelah itu, bergegas keluar dari kubikelnya. Tak ada yang berbeda sore ini; aku selalu mengalami hal seperti ini. 

Tak ada yang berbeda sore ini. Aku terjebak bersama kendaraan-kendaraan lain dalam kemacetan ini. Suara klakson dan deru mesin kendaraan membuat telingaku sakit. Asap yang keluar dari knalpot bis begitu hitam dan pekat. Setiap kali aku terjebak dan berhenti di belakang bis yang kebetulan menyemburkan asap dari knalpotnya, aku akan menutup mulut dan hidungku dengan tanganku meskipun aku sudah mengenakan masker. Tak ada yang berbeda sore ini; aku berada dalam kepadatan lalu lintas yang sama dan hal ini biasa terjadi. 

Tak ada yang berbeda malam ini. Hampir seluruh saluran di televisi menyiarkan acara yang serupa, dan aku--pada akhirnya--akan tetap memilih saluran yang sama untuk kutonton; saluran itu menyiarkan film-film kartun berturut-turut selama lima jam. Aku minum dari mug yang sama--mug berwarna coklat tua kesukaanku--dan menikmati minuman yang sama--moka instan dengan tambahan es krim vanilla di atasnya. Tak ada yang berbeda malam ini. Aku menikmati minumanku dan tertawa saat menonton kartun seperti biasanya. 

Tak ada yang berbeda malam ini. Aku menyalakan laptopku dan kembali berkutat dengan pekerjaanku. Biasanya selalu ada pekerjaan yang belum selesai kukerjakan di kantor dan aku terpaksa menyelesaikannya di rumah. Aku mendengarkan beberapa musik akustik untuk menemaniku bekerja dan sesekali membuka akun media sosialku melalui ponselku untuk mengetahui kabar tentang adikku dan teman-teman terdekatku. Tak ada yang berbeda malam ini. Aku sudah terbiasa tidur larut malam karena harus mengerjakan tugasku. 

Namun ada yang berbeda saat aku mematikan laptop dan beranjak menuju tempat tidurku. Aku tak sendirian di kamarku; ada sosok wanita yang duduk di atas tempat tidurku dan bersandar pada kepala tempat tidur, membaca buku novel sambil sesekali membetulkan posisi kacamatanya. Aku naik ke atas tempat tidurku lalu duduk tepat di samping wanita itu. Ia melirikku lalu memberiku sebuah senyuman kecil. Kucondongkan wajahku ke arah wajahnya dan kukecup bibir mungilnya. Ia mencubit pipiku dengan gemas setelah aku menciumnya. 

"Sudah selesai?" tanyanya. 
"Sudah," jawabku, 

Aku mengintip bacaannya. Ia sedang berada di halaman dua ratus enam belas. 

"Belum tamatkah ceritanya?" tanyaku. 
"Masih panjang," jawabnya. 
"Mengantuk?" 
"Ya. Begitulah," 

Ia kemudian melipat ujung halaman yang sedang ia baca untuk menandai bacaannya lalu menutup bukunya. Wanita itu pun melepas kacamatanya. Novel dan kacamatanya kemudian ia taruh di meja samping tempat tidur. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menarik selimut sampai dadanya. Aku ikut merebahkan tubuhku dan menarik selimut sampai ke dadaku. Kumiringkan tubuhku ke sisinya agar aku dapat menatap wajahnya. Ia kembali menyunggingkan sebuah senyuman untukku. Kusentuh pipinya dengan jemariku. Tak ada sepatah katapun yang kami ucapkan, namun kami telah berada sangat dekat dan kini hembus nafasnya terasa hangat di pipiku. Kedua bibir kami saling bertemu dan kami membiarkannya untuk beberapa saat. Tanganku bergerak untuk mendekapnya dan kemudian ia sudah berada dalam dekapanku. Ia milikku. Wanita ini milikku dan ia aman dalam dekapanku. Sebuah bisikkan sampai di telingaku. Suara lembutnya mengucapkan selamat malam untukku. Kubelai rambutnya dan kemudian ia mulai tertidur. Aku tersenyum atas kebahagiaan sederhana yang kurasakan. Sebelum kupejamkan mataku untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah, kuucapkan terima kasih pada Tuhan untuk kebahagiaan yang ia berikan padaku. Tuhan mengirimkan dua wanita hebat dalam hidupku: ibuku, dan wanita yang kucintai ini--ia yang ada dalam dekapanku saat ini. Kepergian ibuku membuat hidupku berbeda, dan kehadiran wanita ini kemudian mengubah kembali hidupku. Ia memberikan warna baru dalam hidupku, membuatnya terasa berbeda--tentunya secara positif. Kegiatanku masih sama. Aku masih melakukan pekerjaan yang sama, bergelut dengan tugas-tugas yang serupa, dan bertemu dengan orang-orang yang sama, tapi wanita ini membuat perbedaan untukku, dan aku menyukai perbedaan itu. Memiliki kedua wanita itu dalam hidupku merupakan sebuah anugrah yang seringkali membuatku meneteskan air mata haru dan bahagia. Saat ini saja aku bahkan dapat merasakan air mata mulai memenuhi pelupuk mataku. 

Aku tak dapat benar-benar tidur meskipun mataku terpejam. Sesekali kubuka mataku dan kupastikan bahwa ia masih berada dalam dekapanku; ia memang masih ada dalam dekapanku. Alia tersenyum dalam tidurnya. Aku tahu saat ini ia sedang nyenyak beristirahat dan itu membuatku lega. Aku akan mendekapnya dan menjaganya. Seperti yang telah kukatakan, ia aman bersamaku. 

Selamat malam. 

Sunday, September 21, 2014

The fault is (not) in Monday

Some of us hate Monday. Some of us love Monday. I can't tell whether or not I hate Monday but sometimes it takes me a long time to decide whether or not I'll enjoy the day after Sunday. In other words, often times I think fundamentally about what will I do tomorrow--on Monday and predict what would happen then. Is there any surprise going to happen on Monday? Would I get scolded by the lecturer tomorrow? Is it going to be a boring day? 

"There's 104 days of summer vacation and school comes along just to end it"

I admit being frequently unprepared for Monday--the activities I do every Monday. Often times I complain that I need more holiday and it's not once, twice, or thrice happened in my lifetime that.. yeah.. I've ever wished such Thriday or Fraturday or Saturnday does exist. Can we have more days for our weekend? Friday, Saturday, and then Sunday, and then I lie awake at Sunday night, realizing that "Oh geez! I'll have class at 7 tomorrow morning and ich hab' mein Geist im wheresoevercalled-La Isla Bonita verloren!" 

Sorry for my German. I just love doing code-switching. 

Just now I mused on the reasons why I dislike Monday. It confuses me--the fact that I find myself among those who dislike Monday. Do I really dislike Monday? What's wrong with Monday? I remember back in high school I didn't hate Monday because my favorite subjects were scheduled on Monday. The fact that I didn't hate Monday back then struck me. How come I liked Monday back then, but not today? 

So here I'd like to tell you how my Monday is for this semester: 

I have two classes; the first one is scheduled on 7--in the morning--which leads me to a realization that I have to wake up earlier in the morning. I don't really like the first subject--the 7-in-the-morning class due to some reasons (I'm sorry I can't tell the reasons). The next class is scheduled on 10.50 which means that I have free time from 8.40 (as the first class ends at 8.40) to 10.40 and I don't know how I should spend that free time. I have no classes after 12 and since the distance between my house and the campus is quite far, often times I find myself being so lazy to go home--I mean--I just don't want to wait for and halt a cab. I want to be home within a blink. Moreover, Monday means I-realize-that-I've-got-a-bunch-of-assignments-to-do but the problem is I-don't-want-to-do-them and I need me-time which I barely have during the fifth and sixth semester. 

I can say that I have such a boring and monotonous Monday. Every week such things happen over and over again and I just need something new; probably a new lecturer for the first class--the 7-in-the-morning class--would be a good idea (oops I just mention that damn clue). But it doesn't imply that Monday is boring, I mean, in general. As I've told you that back then I liked Monday since my favorite subjects were scheduled on Monday. The fact that back then I liked Monday implies that I--actually--don't dislike Monday in general. I just dislike one specific kind of Monday--the Monday I dislike, of course. But making generalization that Monday is the most terrible day in a week sounds unfair. 

Sometimes the problem is not in the day--Monday; the problem lies in us, in me. Whether I like it or not, Monday is Monday and it will always be. Whether or not I like it, the 7-in-the-morning class does exist and it is there, written in the schedule. Traffic is heavy on Monday and that will never change until people start to drive wisely (or at least use public transportation instead of riding motorcycle or driving car), or at least God blows a special miracle which widens all major roads in the city twice or thrice the normal width, allowing another or two other fast lines. As long as I don't try to explore new places and meet new people, I meet the same people over and over again on Monday (and the rest of the weekdays) and I'll always do. I deal with the typical Monday assignments and I'll always deal. 

In a simple way, the fault is not in Monday. Monday won't really change. The problem lies in us, in me. We're just not prepared to face it. 

Saturday, September 20, 2014

Peperenian

Di dalam tubuh saya mengalir dua darah, darah Sunda dan darah Tionghoa. Meskipun saya sering ribut tentang betapa pentingnya menerima dan memberi angbao, saya sadar akan pentingnya mengetahui undak usuk basa Sunda, terlepas dari sulitnya menghapal satu persatu kosa kata yang ada (sebetulnya dua klausa di atas nggak begitu relevan sih, tapi.. ah ya sudahlah). Intinya sih, walaupun mata saya sipit, tapi saya masih pakai kain iket. Nggak relevan ya? Ya sudah. 

Beberapa hari yang lalu, mama saya pulang membawa beberapa buah buku yang tebalnya mirip tebal textbook untuk matakuliah discourse analysis (oh tidak! Untuk saat ini saya belum siap mendengar nama matakuliah itu!). Buku-buku itu adalah buku Peperenian yang dicetak ulang untuk mama saya bagikan dengan sanak saudara. Saya masih ingat dulu waktu saya SD, saya punya buku Peperenian dengan sampul asli (karena beli), dan nggak ngerti dengan konten buku tersebut. Waktu saya SD, saya diekspos dengan dua bahasa, Indonesia dan Sunda, dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama saya (ralat! Terkadang dengar juga sih kosakata Hokkien, meskipun jarang dipakai dan pada akhirnya jadi nggak fasih). Nah, karena nggak begitu paham dengan bahasa Sunda, maka setiap ada orang bicara pakai bahasa Sunda saya hanya akan mendengarkan dan kalau bisa jawab, saya akan jawab sebisanya. Dulu saya merasa tidak begitu perlu untuk memahami bahasa Sunda, sampai suatu hari saat saya SMA dan kembali ke SD saya untuk bernostalgia, saya ngobrol dengan salah satu guru yang bilang bahwa anak-anak Parahyangan zaman sekarang banyak yang 'diperkosa' oleh zaman, yang menyebabkan mereka semakin jauh dengan artefak budaya Sunda (salah satunya bahasa Sunda). 

Astaga! Kieu-kieu ge pan urang teh turunan Sunda oge.. 

Sejak saat itu saya jadi mulai mendekatkan diri dengan bahasa Sunda, meskipun pada prakteknya masih sering gugup saat bicara dalam bahasa Sunda yang mengikuti kaidah sesuai undak usuk basa Sunda. Oh ya, kalau bicara soal kerumitan bahasa, salah satu bahasa yang rumit untuk dipelajari itu--buat saya--adalah bahasa Sunda. Meskipun bahasa Sunda menjadi bahasa sekunder saya (setelah bahasa Inggris), tetap saja saya masih harus banyak belajar bahasa Sunda karena.. the words you use when talking to elderly people are different to the ones you use when talking to people in your age. Dan itu bukan hanya salah satu masalahnya. Bahasa Sunda itu jauh lebih kompleks daripada bahasa Inggris (menurut saya). Dan kompleksitas bahasa Sunda itulah yang membuat saya bangga bahwa ada darah Sunda yang mengalir dalam diri saya. Bahasa Sunda itu kaya dan saat kita memiliki kekayaan itu--atau menjadi bagian dari budaya yang kaya--then I guess that should be something I could be proud of.

*immediately wearing iket headband*

Jadi, apa itu buku Peperenian? 

Peperenian itu semacam grammar textbook (kalau saya bisa bilang), tapi lebih dari sekedar itu. Memang sih di buku itu nggak ada rumus untuk membentuk kalimat semacam S + V1 + blablabla and so on and so forth karena secara struktur, urutan item leksikal dalam kalimat bahasa Sunda itu sama dengan kalimat dalam bahasa Indonesia. Contohnya: 

  • ID: Saya (S) akan pergi (V) ke sekolah (Prep.)
  • SN: Abdi (S) bade mios (V) ka sakola (Prep.) 

Meskipun begitu, Peperenian memuat banyak informasi yang pasti bakalan berguna buat penutur bahasa Sunda. Dari mulai undak usuk yang menerangkan kosakata berdasarkan tingkat formalitas dan hierarki sosial, kecap panganteur--kata-kata yang muncul sebelum kata kerja atau kata sifat yang fungsinya untuk memperkuat gambaran kejadian, istilah-istilah waktu, istilah-istilah hierarki keluarga, sampai panyaraman--larangan-larangan melakukan beberapa hal (dan section ini berhasil bikin mama saya ketawa sampai nangis saking lucunya). 

Undak usuk itu apa? Yang itu tadi, seperti yang saya jelaskan, undak usuk itu semacam peraturan (atau lebih tepatnya sih tabel ya) yang menjelaskan tentang kosakata-kosakata yang digunakan dalam percakapan, tapi dengan melihat lawan bicaranya. Misalnya nih, kalau di bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, kita cenderung menggunakan kosakata yang sama saat bicara kepada orang yang lebih tua (misalnya kakek) atau orang yang hierarki sosialnya lebih tinggi, dan kepada orang yang seusia dengan kita atau hierarkinya setara (misalnya kakak atau sahabat). Perbedaannya mungkin lebih di nada bicara dan penggunaan kosakata semacam 'permisi' atau 'maaf'. 

  • To grandpa: "Grandpa, have you heard about the accident?" (Kek, sudah dengar tentang kecelakaannya?) 

  • To Jane: "Hey, Jane! Have you heard about that damn accident?" (Hey, Jane! Kamu udah dengar tentang kecelakaan itu?) 

Secara umum, kosakata yang dipakai saat bicara dengan kakek dan Jane itu sama. Verba (dengar) dan penanda tense (sudah) sama-sama digunakan baik dalam percakapan dengan kakek maupun Jane. Tapi kalau bicara dalam bahasa Sunda, kita akan menggunakan vocabulary khusus yang disesuaikan dengan lawan bicara kita. 

Semisal saya bicara dengan kakak saya (yang saya sudah sangat akrab sekali), menanyakan apakah dia sudah makan atau belum, saya akan bilang seperti ini: 

  • "Eh, maneh geus dahar acan?" (Eh, udah makan nggak?)
Kasusnya berbeda saat saya bicara dengan mertua saya. 

  • "Pa, punten upami bapa tos tuang?" (Pak, maaf apakah bapak sudah makan?) 
Kalau untuk bicara dengan orang yang lebih tua atau hierarkinya lebih tinggi, menurut undak usuk basa Sunda kita akan menggunakan basa lemes keur ka batur (bahasa halus/sopan untuk orang lain). Kalau kita bicara dengan orang tua dan menceritakan tentang diri sendiri, kita menggunakan basa lemes keur ka sorangan (bahasa halus/sopan untuk diri sendiri). Sementara saat ngobrol dengan sahabat-sahabat atau orang yang sudah dekat dengan kita, kita bisa menggunakan basa loma (bahasa akrab) atau kalau di bahasa Korea istilahnya banmal (반말). Di buku Peperenian dijabarkan beberapa kosakata yang dikategorikan menurut kelasnya. Sebagai contoh, penggunaan kata budak (anak) dalam bahasa Sunda akan berbeda menurut lawan bicaranya. Sebagai gambaran, kurang lebih undak usuk basa Sunda itu seperti ini: 

  • budak (anak) = budak (LO) | budak (LS) | murangkalih (LB)
  • carita, nyarita, omong (bicara/bercerita) = carita (LO) | nyanggem (LS) | nyarios (LB)
  • meuli (beli) = meuli (LO) | meser (LS) | ngagaleuh (LB)
  • baju (baju/pakaian) = baju (LO) | baju (LS) | raksukan/anggoan (LB)
  • abus/asup (masuk) = abus (LO) | lebet (LS) | lebet (LB)
  • poho (lupa) = poho (LO) | hilap (LS) | lali (LB)
*LO = basa loma (akrab); LS = lemes ka sorangan (halus u/ diri sendiri); LB = lemes ka batur (halus u/ orang lain)

Selain undak usuk, ada juga kecap panganteur. Kecap panganteur itu kata-kata yang diletakan sebelum satu verba atau kata sifat untuk memberikan gambaran yang lebih kuat tentang satu kejadian. Kalimat "Budak eta lumpat ka imahna" (Anak itu lari ke rumahnya) bisa dibilang secara gambaran tidak begitu spesial; kalimat itu sangat deskriptif. Tapi kalau verba lumpat ditambahkan kecap panganteur sebelumnya, pendengar akan mempunyai gambaran yang lebih spesifik tentang kejadian tertentu (terutama proses terjadinya sesuatu). Saya akan coba gambarkan seperti apa ya fungsinya. Kurang lebih begini: 

  • Budak eta lumpat ka imahna = Saya sebagai pendengar hanya punya gambaran bahwa ada seorang anak yang berlari ke rumahnya dan.. nothing's special about it. 
  • Budak eta berebet lumpat ka imahna = Saya sebagai pendengar akan punya gambaran tentang detik-detik sejak anak itu mulai ambil ancang-ancang sampai akhirnya berlari secepat kilat ke rumahnya, entah karena dikejar anjing atau karena kebelet ingin buang air. 
Atau gambaran lainnya seperti ini: 

  • Tehna teh Ita bahe kana laptopna = Kalimat deskriptif ini ditangkap oleh saya sebagai pendengar sebagai informasi bahwa teh punya teh Ita tumpah ke laptopnya. Kalimat ini fungsinya mungkin lebih ke semacam memberitahu saja tentang insiden yang bersangkutan. 
  • Blok we bahe tehna teh Ita kana laptopna = Sebagai pendengar saya seolah dibawa untuk melihat sendiri detik-detik proses tumpahnya teh punya teh Ita ke laptopnya. Oleh karenanya, saya akan punya gambaran yang lebih 'hidup' tentang kejadian tersebut sehingga kesedihan yang dialami teh Ita akan lebih mudah saya hayati. 
Sampai segini.. Have you realized how rich Sundanese language is? Masih belum? Oke, saya akan kasih tahu lagi konten dari buku Peperenian yang--semoga saja--bisa membuat kita sadar betapa kayanya budaya Sunda ini (budaya-budaya etnis lain pun kaya kok, hanya saja disini kan saya bicara sebagai seorang berdarah Sunda). 

Orang-orang Sunda punya istilah-istilah yang lebih spesifik tentang waktu. Kalau di bahasa Inggris kita mungkin mengenal istilah morning, noon, afternoon, evening, dawn, dusk, atau semacamnya yang menjelaskan tentang satu waktu yang spesifik. Kalau di bahasa Indonesia, kita mengenal istilah pagi, siang, sore, petang, malam, tengah malam, atau fajar. Guess what? Sundanese people have a bunch of terms referring to much more specific times! Contohnya: 

  • Wanci (waktu) janari gede = waktu sekitar pukul 1 sampai 3 malam
  • Wanci janari leutik = waktu sekitar pukul 3 sampai 4.30 (mendekati fajar)
  • Wanci balebat = waktu fajar sudah mulai muncul di ufuk timur (kurang lebih jam setengah 5 pagi)
  • Wanci carangcang tihang = waktu lewat fajar, tapi mata kita masih belum bisa melihat jelas karena terangnya langit masih remang-remang, sekitar pukul 4.30 sampai pukul 5)
  • Wanci haneut moyan = waktu saat sinar matahari terasa hangat dan cocok untuk dimanfaatkan berjemur (terutama jemur bayi), sekitar pukul 7 sampai 8.30 pagi
  • Wanci sareupna = waktu saat langit mulai gelap (sekitar pukul 6 atau 6.30 sore)
  • Wanci sareureuh budak = waktu anak-anak sudah mulai cape karena main dengan kakak-adiknya dan sudah mulai diajak tidur, sekitar jam 8 malam
Those, really. are specific, aren't they? Dan perhatikan penjelasan tentang wanci sareureuh budak. Dari penjelasan itu, saya sadar betapa istilah dalam bahasa Sunda benar-benar menggambarkan budaya dalam bentuk aktivitas (performatif) seperti bermain bersama kakak-adik. Do you know what term in English referring to the moment children getting tired after playing with their siblings? Dan juga, dari istilah itu saya menangkap bahwa dalam keluarga Sunda, sudah biasa bagi kakak adik untuk bermain bersama di malam hari sambil menunggu waktu tidur. Dan hal-hal seperti itu diabadikan dalam istilah waktu di bahasa Sunda. 

Ngerti nggak maksudnya? Bingung ya? Ya sudahlah. 

Tidak hanya penjelasan mengenai waktu, tapi dalam bahasa Sunda pun ada istilah-istilah khusus yang menjelaskan durasi, momen dalam linimasa, serta musim-musim. Kalau di bahasa Inggris kita bisa mengatakan within a blink untuk menerangkan kejadian yang terjadi dalam durasi yang sangat cepat. Kalau di bahasa Sunda kita bisa katakan sakedet netra untuk menjelaskan hal yang sama--satu kejadian yang terjadi sangat cepat. Contoh lainnya: 

  • Sapangejoan = durasi yang lamanya kurang lebih sama seperti durasi orang saat sedang ngejo (masak nasi secara tradisional)
  • Saumur jagong = istilah ini sepadan dengan istilah seumur jagung
  • Sataun landung = durasi satu tahun lebih (entah lebih berapa hari atau bulan)
Bicara tentang linimasa, kita akrab dengan istilah hari ini, sekarang, baru tadi, besok, lusa, kemarin, dan lain-lain. Kalau di bahasa Inggris kita akrab dengan istilah today, tomorrow, the day after tomorrow, yesterday, last week, dan semacamnya. Bahasa Sunda pun punya istilah-istilah seperti itu yang--saya rasa--jauh lebih 'ekstrim' dalam kaitannya dengan spesifikasi waktu. 

  • Ayeuna = hari ini (semisal hari ini hari Sabtu, tanggal 20)
  • Kamari = kemarin (hari Jumat, tanggal 19)
  • Mangkukna = satu hari sebelum kemarin (hari Kamis, tanggal 18)
  • Isukan = besok (hari Minggu, tanggal 21)
  • Pageto = lusa (hari Senin, tanggal 22)
  • Pageto amat = sehari setelah lusa (hari Selasa dan kesananya)
  • Bieu = baru saja (beberapa detik yang lalu terjadi)
  • Tadi = tadi (lebih lama dari beberapa detik terjadi)
  • Bareto = sudah lama terjadi
  • Baheula = jauh lebih lama terjadi sebelum bareto
  • Engke = nanti
  • Jaga, isuk jaganing pageto = waktu yang akan datang tapi masih lama sekali
Saya nggak bisa menghapal satu-satu istilah itu dan dipakai dalam percakapan sehari-hari. 

Di buku Peperenian ada banyak informasi mengenai istilah-istilah yang berhubungan dengan aktivitas tradisional seperti bercocok tanam dan mencari ikan. Dilengkapi dengan ilustrasi, kita dikenalkan dengan benda-benda yang mungkin kita sering lihat sehari-hari tapi nggak tahu namanya. Dan satu hal yang paling saya suka dari Peperenian adalah section panyaraman. Panyaraman itu semacam larangan-larangan yang berkaitan dengan mitos. Kita mungkin familiar dengan mitos jangan duduk di depan pintu karena nanti nongtot jodo (susah dapat jodoh), atau mitos jangan pelihara kucing hitam karena katanya bawa sial. Nah, di budaya Sunda pun ada mitos-mitos semacam itu. Beberapa yang saya cantumkan di bawah adalah yang menurut saya paling lucu (dan paling bikin mama saya ketawa ngakak). 

  • Ulah heheotan bisi leungiteun beas/uyah = jangan bersiul, takut hilang beras/garam (maksudnya?)
  • Ulah heheotan tipeuting bisi disampeurkeun urang leuweung = jangan bersiul malam-malam, takutnya didatangi orang hutan (orang dari hutan, mungkin semacam buta ijo kah?)
  • Ulah nyiduh sisi hawu bisi loba anak = jangan meludah di sisi hawu (peralatan memasak tradisional Sunda, semacam tungku), takut banyak anak (anybody got any scientific reason for that?)
  • Ulah diuk dina meja bisi loba hutang = jangan duduk di atas meja, takut banyak hutang (jaman saya SD saya suka ditakut-takuti sama mitos ini dan faktanya.. justru orang lain banyak yang ngutang ke saya zz)
  • Ulah dahar pipindahan bisi boga salaki loba = jangan makan pindah-pindah tempat, takut punya suami banyak (tuh, hati-hati buat para wanita jangan sampai makan pindah-pindah tempat hahahaha)
  • Ulah nyeungseurikeun hitut bisi ompong = jangan menertawakan kentut, takutnya ompong (SERIOUSLY?!!)
Kalau mama saya sih bilangnya, panyaraman itu dibuat untuk satu tujuan juga. Misalnya, jangan bersiul saat malam-malam supaya tidak mengganggu orang lain. Hanya saja, si 'supaya' itu diganti oleh hal lain yang sifatnya menakutkan buat anak-anak. Walaupun begitu, menakutkan sih menakutkan tapi kan.. I just don't get it. How come I become ompong immediately after laughing at someone's fart? 

Lucu? Nggak lucu? The fact is.. that I'm laughing right now. 

Buku Peperenian ini memang tidak tebal, tapi ilmu yang ada di dalamnya (termasuk something I find funny like panyaraman) sangat banyak dan saya rasa berguna untuk kita, terutama kita yang memang punya darah Sunda. Peperenian ini menjadi semacam buku sakti yang menjaga budaya-budaya Sunda dari kepunahan. Saya setuju jika orang-orang membaca buku ini karena dengan membaca buku ini, mereka akan lebih memperkaya pengetahuan mereka tentang budaya Sunda yang mungkin belum mereka pahami dengan baik. Saya sadar anak-anak dan remaja jaman sekarang lebih tertarik dengan hal-hal yang berbau teknologi yang datangnya dari dunia barat. Padahal seharusnya mereka juga mau mencoba untuk mencintai budayanya sendiri. Nah, oleh karena itu, saya rekomendasikan buku Peperenian untuk dibaca oleh anak-anak dan remaja, terutama yang keturunan Sunda atau tinggal di tatar Parahyangan. Nggak rugi kok buat mengenal budaya sendiri. Justru akan ada hal-hal positif yang didapat. 

Tah, jadi we urang ayeuna teu boga ide keur nutup post ieu. Bae we kitu geusan ieu teh? Bae we lah nya. Nu penting mah I'm proud of being a Sundanese descent. Kitu we lah nya. Ces heula atuh! 

*nobody doing hi-5 with me*

Nya geus we lah bae. 

Friday, September 19, 2014

#20FactsAboutMe

Social media timelines have been flooded with photos hashtagged #20FactsAboutMe. The photos--which are usually selfies--are not spam; people who uploaded the photos are the one who have been challenged to do the #20FactsAboutMe challenge, which is, a challenge to post a selfie (the most gorgeous one would be preferable, of course) and twenty points of facts about the person challenged. I personally find it quite entertaining, and thanks to #20FactsAboutMe photos of my friends, now I know some facts about them (if they consider the points as facts) which I've never known and expected before. I found out that my dad was a mischievous one back then when he was a highschool student.  Koh Zen was.. well.. is actually a tsundere (ke ke ke). Teresa is a DOTA player (and I hardly believed it at first!). Well yeah I got to know my friends better through the challenge and I think it's good and exciting thing to do; it's kind of unique way to know more about a friend. 

My classmate Agistya tagged me in her #20FactsAboutMe selfie and challenged me to do so. I was surprised, but then so excited to do the challenge. I posted a photo of me (with my sister together drinking at J.Co) and mentioned twenty facts about me. So here I'd like to repost the photo and probably, I'll explain something more from each points. 


#20FactsAboutMe

1. I was born into a Sundanese-Chinese family. I got the 'emperor' blood in my vein from my mom since my dad is purely Sundanese. Purely. And oh, hey! I'm closer to my mom than to my dad. Probably it's because my dad is often times busier than my mom and he goes here and there working with his research team so when he comes home my dad and I often times fight over lots of things. 

2. The Chinese surname I got--which, unfortunately, is not inscribed in my birth certificate--is Ng. 

3. I often times complain about my complexion. Since I'm a Chinese descent, I think the issue of skin complexion is quite important for me. Often times I compare my complexion to my Chinese relatives and the result would drive me crazy. My complexion is darker than theirs and sometimes people don't recognize me as a Chinese (yeah and it's happened lots of times). 

4. I watch The Amazing World of Gumball and Phineas and Ferb every night. Well, almost every night. I really am into cartoon shows, especially children cartoon shows like Phineas and Ferb, Adventure Time, and even, Malaysian cartoon Upin & Ipin. It's always a fancy thing to watch cartoon while eating something fanciful like ice cream or bonbons. 

5. I love doing code-switching like hell! I speak some kinds of English: standard English, American English, British English, and Singaporean English. I also speak some languages after my mother-tongue language, Indonesian: Malay, Sundanese, simple daily Hokkien phrases, and some basic Korean, as well as little Japanese and French (and German). Sometimes when I'm talking, I can't find a proper word in the language being used at the time to explain something so I use code-switching in order to mention the proper word for what I'm talking about. Also, I like doing code-switching because.. it's just a fun thing to do. For example:

  • "Why is she so angkaribung?" 
  • "Make it two bucks je la. Wo mei you qian. Okay?" 
6. I'm a chocolate lover. YES! CHOCOLATE! It is, and would always be, a good idea to give me chocolate bars and chocolate cakes for my birthday gift. I love chocolate drinks and usually order it whenever I visit my favorite coffee shops. I'm not an expert in analyzing the taste of chocolate drink but I can tell whether a cup of hot chocolate is good or not, in terms of taste and quality. 

7. I was a masochist. I've posted something about it in the blog a few months ago. It's a fact that most people haven't known--and the fact got them shocked. I used to have a cutter in my pencil case and cut (or let's call it 'slice', since I always felt like slicing chocolate bars when doing it) my arm whenever I felt down and depressed. 

8. I have some alter-egos in me and often times they appear in such a wrong time. 

9. I hate: cheese, bread, vanilla milk, and SNAKES! 

10. I love doing impersonations, especially those of comedians and cartoon charas, either mimicking their expression or imitating their voices. I'm currently impersonating the Indonesian version of Darwin from The Amazing World of Gumball. 

11. I'm an introvert--melancholic one and I get hurt easily. I overthink things and I think I'm a fool--I've been a fool and sometimes I'm so easy to be fooled. Some people say I've been too kind to people but.. is that true? 

12. I write short stories. Whenever I have free time I try to write one or some short stories. Well, they're not cheesy I think. 

13. I play piano, violin, and guitar (a bit). I want to learn flute, drum, and cello anyway. 

14. This is one surprising story of mine: Back then when I was a little kid, my parents told me to save some money so I could buy things I wanted. At that time, I was fond of classic interior designs and I always wanted to have some classic and rich items to place at my home. So I saved some money and with the money I had, I could afford a chandelier and a cuckooclock, and I, really, bought them. My family moved to Bandung in 2006 and my grandma decided to uninstall the chandelier from the parlor of my former house and installed it at her parlor instead. 

15. Wanderlust.. wanderlust.. I always want to go somewhere I've never been. My mind is so full of thoughts of taking vacation, and still, money and time are the main problem. 

16. I'm superstitious. Yes. Have you ever feel like someone is walking right behind you? Wait? Someone? Or.. something? I've heard my piano played by itself in my former house and about five years ago, I heard someone was singing in my living room and I was home alone. Always remember to burn a joss-stick when it's raining. Yea! 

17. This one problem would be quite important: I treat people coldly when I feel like they're not in my small circle of close companions, or when I don't feel like treating him/her warmly. Basically I treat strangers coldly and it's always difficult for me to start a conversation with strangers, for I'm an introvert. But trust me. TRUST ME. Once you're in my circle, you'll find out that I'm a crazy person; I can do crazy things you might have never expected before! 

18. I love plushies. They're mementos from my childhood. I keep Curious George plushie with me. 

19. I love cats.. and dogs as well. They're my furry friend. You may see me playing with cats (even in parking lots). Sometimes I bring a stray cat to the classroom and I've once cried seeing a stray black cat trapped in the third floor balcony of my faculty building. 

20. I'm in love with... Peranakan cuisine! Well I love Singaporean cuisine as well like.. Chicken with lemon sauce, eh?

So that's all the #20FactsAboutMe written by me, based on the facts about me, of course. Now I dare whoever reading this post to do the same.

Have a good evening, everyone!

Sunday, September 14, 2014

Merindu Sendiri

Aku tak menceritakannya pada mereka. Aku ingin, tapi aku tak bisa. Mungkin lebih tepatnya aku takut. Aku takut mereka tak akan peduli, atau mungkin tak mau peduli. Tapi aku terlanjur tenggelam dalam melankolia yang membabi buta--sudah cukup lama--dan ini cukup menyiksa. Serangan melankolia itu terasa seperti berada di atas sebuah perahu cadik yang tiba-tiba tergulung oleh ombak mematikan setinggi sepuluh kaki, membalikkanmu, membuat kepalamu berada di bawah permukaan. Apa yang bisa kulakukan saat melankolia itu membuatku merasa seperti itu? Di bawah permukaan, tanpa udara, dan tanpa pertolongan; aku harus berusaha agar aku dapat tetap bernafas tapi kau tahu tak mungkin manusia bernafas tanpa udara, dan aku tak punya perlengkapan; aku tak punya persiapan untuk menghadapi melankolia semacam itu. 

Ia. Mereka. Mereka mungkin tak tahu--atau tak mau tahu--tentang apa yang selama ini menghantuiku. Ada sesuatu yang mengikutiku, lalu memelukku dari belakang, membuatku sesak dan menginfusi rasa gamang yang akan mengenyahkan rasa nyaman dalam diriku. Ada hantu yang selama ini membuntutiku, mencoba menggodaku, menguji seberapa kuat mentalku, seperti kumpulan kumulonimbus yang menggelitik tubuh pesawat, mengajak kepala-kepala yang berada di dalam kabin untuk berkawan dengan turbulensi. Tapi turbulensi bukanlah kawan yang sebenarnya, dan aku lelah dengan apa yang selama ini mengekor di belakangku. 

Ia datang dan pergi tiba-tiba; tanpa kabar ia menyisipkan kegelisahan pada satu momen dalam hidupku, lalu menghilang sebelum aku benar-benar dapat menemukan dan membunuhnya. Ia selalu mengingatkanku tentang satu--mungkin beberapa--masa yang ada dalam linimasa hidupku, yang mungkin tak bisa kusalin-tempel pada satu titik di masa depan di linimasa hidupku. Dalam masa-masa itu, ada wajah-wajah yang sampai saat ini masih kuingat baik; ekspresi bahagia yang terukir saat makan siang dan sorot mata lelah yang nampak saat matahari mulai bergerak kembali ke peraduannya. Dalam masa-masa itu, ada tangan-tangan yang kotor berlumpur, wajah-wajah dengan noda cat warna-warni, dan poni rambut dengan air yang menetes dari ujung helainya pada satu hari hujan itu. 

Apa yang selama ini mendekapku, naik ke punggungku dan memaksaku untuk menggendongnya benar-benar jahat. Masa-masa itu--kau tahu memori-memori itu--disuntikkan dan muncul dalam benakku pada waktu-waktu yang tak kuduga. Apa yang ia inginkan dariku? Menyiksaku dengan menembakkan momen-momen indah itu saat aku tak berdaya dan tak punya apapun untuk menghidupkan kembali momen-momen itu? 

Dan aku takut untuk berteriak, meminta pertolongan pada mereka. Mereka bilang itu biasa. Mereka bilang sangat wajar untuk merasakan hal seperti itu. Tapi "Itu biasa" dan "Semua akan baik-baik saja" tak serta merta membuatku merasa lebih baik. Aku seringkali merasa seperti ini dan kali ini--saat aku takut untuk memberitahu mereka apa yang kurasakan--aku menelan bulat-bulat rasa pahit dari apa yang orang-orang sebut 'kerinduan'. Oh, mereka tak tahu betapa pahit dan menyebalkannya perasaan ini, yang sering tiba-tiba menikamku dari belakang dan membuatku tak berdaya. 

Aku takut mereka menganggapku gila, atau terlalu perasa; tapi ini sungguhan. 

Aku tak bisa berbuat apapun saat apa yang orang-orang sebut sebagai 'rasa rindu' menyerangku, mendekapku sangat erat, dan membuatku ingin berteriak kencang, melepas belenggu yang menyesakkan itu. Wajah-wajah itu, dan suara tawa menggelegar, dan isak tangis pelan, dan aroma dedaunan di kebun, dan bau tajam cat minyak.. Ayolah, apa lagi? Semua hal-hal itu adalah apa yang pernah terjadi pada suatu masa di linimasa hidupku yang kini berevolusi menjadi peluru-peluru mematikan yang berhasil menembus pertahananku. Apa aku berlebihan jika kukatakan bahwa air mataku adalah darahku, dan kini aku kehabisan darahku, namun peluru-peluru itu masih tetap menghujam dan rasa sakit itu masih tetap terasa? 

Mereka tak tahu. Mereka mungkin tak tahu. 

Oh! Betapa aku merindu sendiri, merasakan kesakitan itu sendiri karena aku tak berbagi rasa sakit itu dengan mereka. Mungkin mereka akan menolaknya jika kuminta mereka mengambil sedikit rasa sakit itu, atau mereka punya pertahanan yang lebih baik--dan seharusnya aku memiliki pertahanan yang lebih baik. Merindu sendiri; karena "Semua akan baik-baik saja" tak selalu membuat segalanya terasa lebih baik. 

Aku memang sedang merindu, jadi mohon maafkan.