Monday, February 2, 2015

Melankolia dan Menunggu

Aku mempercepat langkahku menuju pelataran parkir sekolah bersama yang lainnya. Darah masih mengalir dari pelipis sahabatku yang tergeletak tak sadarkan diri di atas ranjang dorong klinik sekolah. Mereka menggotong tubuhnya, memindahkan tubuhnya ke dalam mobil pak Dede, guru olahraga kami. Mobil pun mulai bergerak meninggalkan pelataran parkir. Bersama pak Yana, wakil kesiswaan, pak Dede meninggalkan sekolah untuk membawa Reyhan ke rumah sakit. Anak-anak yang berkerumun untuk melihat apa yang terjadi kembali dengan kegiatan mereka masing-masing, kecuali aku, Gea, Dilla, dan empat orang temanku yang tadi bermain basket bersamaku dan Reyhan. 

"Ayo, Andra," bujuk Robi. 
"Nggak, Rob. Aku mau ke rumah sakit," tolakku. 
"Kamu nggak ngerti juga? Tadi 'kan kamu sampai dimarahi sama pak Dede dan dilarang ikut ke rumah sakit," sambung Stefan. 
"Aku yang bikin Reyhan celaka!" tegasku, "Aku yang nubruk dia waktu dia coba shoot sampai dia jatuh dan kepalanya kebentur!" 

Mataku mulai terasa panas. Di jersey tim basket sekolah yang kukenakan bahkan masih dapat kulihat bekas darah Reyhan. Begitupula di tanganku. Aku menggosok-gosokkan telapak tanganku pada celana basketku. Gea seketika menarik tanganku dan menyeka bekas darah di telapak tanganku dengan saputangannya. 

"Kalau kamu ke rumah sakit dan ketahuan sama pak Dede, bisa-bisa dimarahin lagi kamu," ujar Dilla. 
"Terus kalau ternyata cedera Reyhan serius gimana? Aku harus tanggung jawab dan bilang sama papanya dan mas Reza!" balasku. 

Tak ada yang bisa menghentikanku. Kutarik tanganku dan berjalan menuju motorku yang kuparkir tak jauh dari tempat kami berkumpul tadi. Dapat kudengar teman-temanku memanggilku, mencoba menahanku agar tak menyusul ke rumah sakit, namun aku tak peduli. Segera kukenakan helmku dan kunyalakan mesin motorku. Saat aku hendak memundurkan motorku, Gea berlari ke arahku dan menahanku. 

"Serius kamu mau pergi?" tanya Gea ragu. 
"Kalau misalnya Dilla yang ada di posisi Reyhan dan kamu yang bikin dia celaka, kamu mau diem aja?" tanyaku. 

Gea meringis pelan. 

"Aku ikut kalo gitu," ujarnya. 
"Kamu ga usah ikut. Diem aja disini," larangku. 
"Kamu itu kalo lagi emosi nggak bisa mikir dengan tenang. Kalau ada apa-apa sama kamu gimana?" balas Gea. 
"Ya terus kalau sekarang malah terjadi sesuatu sama kamu saat kamu ikut, nanti gimana?" balasku. 
"Pokoknya aku ikut. Titik!" 

Gea begitu saja naik ke atas motor dan duduk di belakangku. Ia bahkan tak mengenakan helm sama sekali. Aku mematikan mesin motor dan menurunkan standard motor, lalu turun dari motorku. Gea menatapku serius untuk beberapa saat. Kuhela nafas pendek dan aku pun kemudian tertunduk. 

"Aku takut, Ge," ujarku pelan. 

Aku bahkan hampir berbisik saat mengatakan hal itu. Ini pertama kalinya aku membuat seseorang celaka seburuk ini. Sebelumnya saat bermain basket, aku tak pernah sampai mencederai seseorang seburuk ini. Sebatas terjatuh dan mendapat luka lecet di sikut ataupun lutut sudah biasa. Aku sendiri pun beberapa kali terjatuh dan mencederai sikutku sendiri, namun apa yang terjadi hari ini adalah hal terburuk yang pernah kualami selama bermain basket. Aku mencederai Reyhan saat kami bermain basket, 3-on-3 bersama Robi, Stefan, Panji dan Riza. Awalnya kukira luka di pelipisnya tak begitu buruk, sampai Reyhan menangis, mengeluh bahwa ia sempat merasakan sesuatu yang retak di pelipisnya dan akhirnya ia kehilangan kesadarannya saat kami membawanya ke klinik sekolah. Aku takut sesuatu yang lebih buruk akan terjadi padanya. Gea tiba-tiba berdiri tepat di hadapanku lalu memelukku, dan aku akhirnya menangis dalam pelukannya. 

"Aku takut," isakku pelan. 
"Kita semua juga takut, Dra," Gea mencoba menenangkanku. 
"Aku mau ke rumah sakit. Aku mau tahu kondisi dia sekarang" 
"Oke. Kamu bisa nyusul rumah sakit, tapi aku ikut dan kamu pakai jaket kamu dulu" 

Gea mengambil kunci motorku dan menyuruhku mengambil jaketku. Aku berlari cepat menuju lapangan basket dan mengambil tas serta jaketku. Sambil berlari kukenakan jaket dan tasku lalu saat kembali ke pelataran parkir, motorku telah siap. Teman-temanku yang lain nampak ragu, mencoba menahanku sekali lagi. Aku kembali menegaskan pada mereka bahwa aku akan baik-baik saja dan mereka tak perlu khawatir jika aku akan dimarahi lagi. Toh jika aku memang harus dimarahi lagi, aku pantas menerima itu. Bersama Gea, aku pun akhirnya pergi menuju rumah sakit, menyusul pak Dede dan pak Yana yang kurasa sekarang telah tiba di rumah sakit yang letaknya tak jauh dari sekolahku. Setelah memarkirkan kendaraanku, aku dan Gea segera masuk ke lobi rumah sakit dan bertanya pada petugas di bagian informasi tentang pasien yang hari ini masuk. Nama Reyhan Gunadinegara ada di dalam daftar pasien yang masuk ke rumah sakit hari ini dan ia baru saja masuk ke unit gawat darurat. Kondisinya pasti sangat serius. 

"Kita tunggu aja ya dan berdoa semoga lukanya bisa ditangani dengan baik," ujar Gea. 

Langkahku terasa berat. Bersama Gea aku berjalan menuju unit gawat darurat dan di ruang tunggu, pak Dede dan pak Yana sedang duduk menunggu. Pak Dede seketika berdiri dari tempat duduknya dan dengan gusar berjalan ke arahku dan Gea saat ia melihat kami. Pak Yana mengikuti setelahnya. Aku dan Gea dimarahi karena menyusul ke rumah sakit. Tak banyak yang bisa kulakukan selain mendengarkan bentakkan-bentakkan pak Dede padaku dan tertunduk. Gea merangkulku dan mencoba menenangkan pak Dede. 

"Kamu ini susah sekali dikasih tahu! Punya telinga tidak?! Disuruh tunggu di sekolah ya tunggu! Malah keluar sekolah di jam sekolah seperti ini. Bapak juga tahu Reyhan ini teman kamu, tapi aturan tetap aturan! 'Kan sudah jelas kamu dilarang keluar tanpa izin dari sekolah saat jam sekolah masih berlangsung!" 

Pak Dede baru berhenti memarahiku setelah pak Yana menengahi. Pak Yana menasehatiku untuk beberapa menit dan setelahnya, bersama pak Dede, turun ke lantai dasar untuk mengurus prosedur rawat inap bagi Reyhan. Kami segera duduk dan menunggu. Kukenakan hood jaketku agar Gea tak perlu melihat wajahku saat ini. Aku kesal karena dimarahi habis-habisan oleh pak Dede, namun aku tahu aku memang pantas mendapatkan itu. Pak Dede juga menyudutkanku, membuatku merasa bersalah dengan mengatakan bahwa seharusnya aku bermain lebih hati-hati. Aku meringis pelan. Hari ini memang hari burukku dan kurasa keadaan akan semakin bertambah buruk bagiku karena ponselku berdering dan nama Reza Gunadinegara muncul dilayar ponselku. Aku tahu mas Reza pasti akan menanyakan tentang kecelakaan yang menimpa adik satu-satunya dan aku tak bisa menyembunyikan apapun darinya.

"Andra? Kamu lagi di rumah sakit Bungsu kah? Gimana keadaan terakhir Reyhan? Kenapa dia bisa sampai cedera gitu? Tadi mas ditelpon sama pihak sekolah katanya Reyhan masuk rumah sakit. Pihak sekolah coba telpon ayah tapi katanya ayah nggak bisa dihubungi"

Gemetaran tanganku memegang ponselku. Aku mulai terisak pelan.

"Maafin Andra, mas Reza," ujarku pelan.
"Kenapa, Dra? Ada apa? Kamu jangan bikin mas bingung," tanya mas Reza.

Dan aku pun akhirnya menceritakan semuanya, bagaimana insiden itu dapat terjadi. Aku dan teman-temanku ingin bermain basket 3-on-3 dan membutuhkan satu orang lagi untuk bermain. Robi melihat Reyhan berjalan keluar dari kelasnya dan memanggilnya, mengajaknya untuk bergabung. Awalnya aku tak yakin bahwa Reyhan akan ikut bermain karena selama ini Reyhan tak begitu berminat pada olahraga tim tapi kenyataannya, ia berlari ke lapangan, melepas hoodie Superdry biru tuanya dan menaruhnya di dekat tas-tas kami dan ikut bermain, bergabung bersama Robi dan Stefan sebagai satu tim. Gerakannya tak segesit kami yang memang berlatih basket setiap minggu, namun ia begitu enerjik dan menikmati permainan. Saat ia melompat dan mencoba memasukkan bola ke ring, aku mencoba menahannya, melompat untuk mendorong bola dari tangan Reyhan. Lompatanku lebih tinggi dari lompatannya dan tubuhku menabraknya. Reyhan terjatuh dan kepalanya menghantam lantai cukup keras. Ia sempat memekik dan mengaduh kesakitan. Kami segera menghampirinya dan darah mulai muncul di sekitar kepalanya. Aku dan yang lain membantunya untuk bangun dan saat itu darah telah mengalir dari pelipisnya, cukup deras hingga darah itu mencapai leher dan pundaknya. Ia mengaduh kesakitan, memberitahu kami bahwa ia merasakan sesuatu yang retak di kepalanya dan setelah itu ia jatuh pingsan. Kami memberitahu pihak sekolah dan mereka segera membawa Reyhan ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Kronologi itu kuceritakan dengan perjuangan yang cukup berat; aku terbata-bata, sesekali terisak dan bahkan terkadang suaraku terlalu pelan sehingga mas Reza harus memintaku untuk berbicara lebih jelas lagi. Tak ada jawaban dari seberang selama beberapa saat hingga akhirnya suara mas Reza kembali terdengar. Aku begitu takut jika mas Reza akan marah besar padaku. Aku tahu Reyhan adiknya satu-satunya dan ia--kami semua--pernah hampir kehilangannya. Kecelakaan ini pasti membuatnya sangat panik dan takut jika sampai kecelakaan ini akhirnya merenggut adiknya.

"Namanya juga musibah. Kita nggak ada yang tahu, Dra. Kamu juga pasti nggak sengaja 'kan nubruk Rey? Mas ke rumah sakit secepatnya dan tolong kamu tunggu disana ya. Kalau ada apa-apa langsung telpon mas," ujar mas Reza mengakhiri percakapan di telpon.

Entah aku harus bersyukur atau justru merasa semakin bersalah, yang jelas reaksi mas Reza mengejutkanku. Aku menceritakan obrolanku dengan mas Reza pada Gea dan ia pun terkejut karena mas Reza tak memarahiku ataupun menyudutkanku. Ia menggenggam tanganku dan mengusapnya pelan.

"Mas Reza aja nggak sampai marah, 'kan? Kamu jangan khawatir lagi. Lagian aku tahu kok mas Reza pasti paham situasinya," ujar Gea.
"Ya. Puji Tuhan deh mas Reza nggak sampai marah-marah kayak pak Dede," jawabku.

Gea melepaskan genggaman tangannya. Ia lalu menatapku dan menyeka air mataku.

"Kamu tuh keliatan aneh kalau nangis," ujarnya.
"Kayak nggak pernah lihat aku nangis aja sebelumnya," jawabku kesal.

Gea tersenyum kecil.

"Dra, keluarga kamu ngomongin aku nggak setelah aku pulang dari makan malam di rumah kamu?" tanyanya.
"Pas Natal?"
"Ya. Aku gugup banget waktu itu. Takutnya dianggap aneh"

Aku menggeleng.

"Nggak ngomongin yang aneh-aneh. Kata mama, dress merah marun kamu bagus," jawabku.
"Serius? Aku kira aneh loh. Soalnya kalau lihat di cermin sih kayak aneh," ujar Gea tak percaya.
"Beneran. Kayaknya kamu harus sering main ke rumah dan belanja bareng sama mama," jawabku.
"Mama yang bilang?" tanya Gea lagi.
"Nggak sih, cuma usul aku sih kamu kapan-kapan belanja bareng sama mama," jelasku.
"Kamu nggak ikut?"
"Ah, kalian kalau belanja pasti lama"

Aku dan Gea tertawa kecil.

"Kalau keluarga kamu sendiri gimana? Ngomongin aku nggak setelah aku pulang?" tanyaku.
"Pas Lebaran?" tanya Gea.

Aku mengangguk.

"Nggak. Mereka biasa aja. Waktu kita makan bareng, mama sempet bisik ke aku. Katanya kemeja yang kamu pakai bagus," jawab Gea.
"Itu 'kan yang kita beli bareng," ujarku, "Ingat 'kan waktu itu aku minta kamu temenin aku cari kemeja yang pas buat main ke rumah kamu pas Idul Fitri"
"Ya. Terus macet di jalan jadi kita buka puasa di McDonald's," tambah Gea.

Aku tersenyum kecil. Kugenggam tangan Gea dan kuusap pelan. Gadis itu lalu menaruh kepalanya di pundakku. Tak ada yang berbicara setelahnya selama beberapa saat. Aku tahu Gea pasti sedang memikirkan sesuatu dan kurasa aku tahu apa yang ia pikirkan. Dalam hubungan yang kujalani bersamanya, ketakutan terbesar kami adalah perpisahan karena perbedaan kami. Sejauh ini keluargaku menerima Gea dengan baik. Begitu pula keluarga Gea yang menerimaku dengan hangat. Mama pernah membelikan bolero untuk Gea dan saat aku berkunjung ke rumah Gea, ibunya menyuruhku untuk menginap disana karena saat itu sudah larut malam dan ibunya khawatir jika terjadi hal yang buruk padaku. Orangtua kami bahkan pernah bertemu dan mereka berteman baik, namun aku masih takut jika dibalik keramahtamahan dan pertemanan mereka, ada hal yang tak bisa mereka terima--hubungan kami yang lebih lanjut.

Ini adalah tahun terakhir kami di sekolah dan itu artinya hubungan yang kujalin bersama Gea telah berjalan lama. Jika kami bisa mempertahankan ini sampai kuliah nanti, maka bukan tak mungkin kami bisa melanjutkan ke hubungan yang lebih serius. Aku tahu ini terdengar konyol dan terlalu dewasa untukku, namun jika ada sesuatu yang layak untuk dipertahankan, mengapa dilepas begitu saja? Tanpa perlu kukatakan padanya Gea tahu bahwa aku menyayanginya dan aku tak perlu meragukan perasaannya padaku. Aku ingin mempertahankan perasaan ini--hubungan ini. Kurasa aku tak sanggup jika perjalanan yang telah kutempuh sejauh ini bersama Gea harus berakhir begitu saja hanya karena perbedaan itu. Gea meringis pelan dan membetulkan posisi kepalanya di bahuku. Tangan kiriku merangkulnya dan tangan kananku menggenggam salib yang menggantung di leherku. Aku tak ingin melepas keduanya dan aku takut jika cepat atau lambat aku harus melepas salah satunya. Aku tak ingin sikap keluargaku berubah padaku dan Gea jika aku melepaskan tangan kananku, tapi jika kulepaskan tangan kiriku aku yakin pasti hidupku takkan lagi sama dan mungkin saja segalanya akan terasa begitu berat bagiku karena aku kehilangan teman perjalananku yang selama ini ada bersamaku. Aku ingin menggenggam keduanya dan mempertahankan keduanya. Aku tak bisa membuat Gea untuk melepas apa yang ia pegang teguh selama ini dan jika aku melakukannya, sudah pasti aku akan menjadi orang yang paling egois di dunia ini karena telah membuatnya kehilangan apa yang ia miliki selama ini hanya agar ia dapat menjadi milikku. Gea sendiri yang pernah mengatakannya padaku bahwa ia tak akan melepas apa yang ia genggam, yang ia kenakan lima kali setiap harinya. Ia tak ingin jika tangan dan wajahnya tak tersentuh oleh segarnya basuhan itu, atau jika dahinya tak menyentuh lantai untuk menyembah dan mengingat Dia yang Maha Kuasa.

Pada titik ini aku merasa hidup begitu berat. Aku tahu kejadian yang menimpa Reyhan dan melibatkanku adalah hal yang harus kupertanggungjawabkan. Namun ada sesuatu yang mungkin hanya dirasakan olehku dan Gea yang benar-benar membuatku kami merasa bahwa hidup memang tak adil. Ya, memang tak adil. Terkadang ada hal-hal dalam hidup yang membawaku pergi jauh dari apa yang ingin kuraih, merobek mimpi-mimpiku menjadi potongan-potongan kecil yang pastinya akan sulit untuk kusatukan kembali. Tahun-tahun kebersamaanku dengannya diisi dengan banyak cerita yang sangat berkesan, namun tetap saja tak dapat kupungkiri bahwa selalu ada melankolia semacam ini yang melanda, membabi buta menyerangku, menyesakkan, melumpuhkanku, membuatku tak berdaya. Aku ingin bersamanya. Aku hanya ingin bersamanya, namun aku tak yakin hidup mengizinkanku untuk dapat bersamanya. Bukan sekali dua kali aku bertanya, mengadu pada Tuhan. Ribuan, atau mungkin puluhan ribu pertanyaan keluar dari mulutku, kutanyakan padaNya, sambil berharap bahwa Ia akan membisikanku jawabannya. Aku tak mendapat bisikan itu. Aku belum mendapatkannya.

Dari arah yang berlawanan, mas Reza muncul, terengah-engah melihat ke arahku dan Gea. Ia menghampiri kami. Kami berdua bangun. Mas Reza meringis pelan lalu mengacak-acak rambutku.

"Ayolah, Andra. Itu 'kan musibah. Kamu nggak perlu merasa bersalah begini," ujarnya.

Aku tertunduk. Perasaan bersalahku berhasil menutupi melankolia yang perlahan membunuhku. 

0 comments:

Post a Comment